Lahirnya Sang Buah Hati

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Mei 2017
Lahirnya Sang Buah Hati

BAB 1

            Pukul 03.00. Aku ingat sekali waktu aku menemani proses persalinan cecek ku, bersama suaminya dan adikku. Jam 03.00 setelah melewati persalinan yang cukup hebat dan lama akhirnya Jabang bayi itu keluar. Kulitnya bewarna hitam manis seperti ayahnya, matanya persis seperti ibunya, dan yang paling khas adalah hidungnya, sesuatu yang mungkin kopian dari kakeknya.

            Aku melihat sang ayah menggendong bayinya lantas perlahan mendekatkan bayi itu ke ibunya. Air mata ibunya turun, mungkin hari itu menjadi hari paling bahagia bagi kedua pasangan tersebut.

            Bayangkan enam tahun sudah, enam tahun lamanya setelah mencoba menempuh segala cara dan pengobatan, akhirnya yang mereka inginkan terwujud. Seorang putra, yang benar-benar proyeksi dari kedua orang tuanya.

            Tangan adikku yang baru berumur 6 tahun mencengkramku kuat, mungkin ini pertama kali baginya melihat kejadian seperti ini. Di mana kebahagiaan tumpah ruang di sebuah ruangan berukuran 3x3. Aku hanya tersenyum kepadanya, yang tanpa aku sadari, air mataku juga turun.

            Esoknya diadakan pesta besar-besaran. Kambing dipotong, nama diberikan. Kenduri besar yang mengundang seluruh kampung. Kuah kari kambing khas Aceh disiapkan dengan banyak. Semua senang, hari yang membahagiakan.

            “Jadi gimana perasaanmu sekarang Sulton?” tanya pak keuchik kepada Sulton yang wajahnya terus dipenuhi kebahagiaan. “Nama apa yang kau berikan untuknya?”

            “Senang sekali pak, aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya” katanya dengan wajah yang berbinar. “Mengenai nama, aku menamakannya Cut Agam.”

            “Pintar sekali kau beri nama anakmu, dari mana kau dapat inspirasi.”

            “Dari mimpiku tadi malam pak.”

            Mutia keluar dari dalam rumah dan membawa anaknya mendekati ayahnya. “Liat ini ayah kamu Agam, ganteng seperti kamu ya.”

            Sulton langsung mengelus kepala bayinya. Ia menatap mata bayi yang mirip seperti Bundanya. Mata yang sangat menyejukkan.

            Sore itu aku berada di bagian masak-memasak. Di provinsi Aceh sudah menjadi tradisi jika kaum wanita akan fokus di dapur selama acara kenduri. Memasak makanan, menyiapkan dan menghidangkannya. Posisi ku hari ini duduk  di depan beulangong besar, mengaduknya perlahan-lahan dan memastikan bumbu tercampur dengan rata.

            Peluh keluar dari keningku, kuah ini benar-benar panas. Kuah kambing khas Aceh yang dimasak dengan bumbu yang terdiri dari berbagai rempah-rempah. Mengaduknya selama kurang lebih satu jam agar bumbu tercampur merata.

            “Cutda.”

            Aku menoleh dan tampak wajah orang yang sudah lama tidak kulihat. “Amat?”

            “Iya cutda.” katanya. Ia langsung menyalami tangan kananku yang tidak memegang sendok kuah.

            “Udah lama ga liat kamu. Gimana kabar sehat?”

            “Alhamdulillah.”

            Amat anak lelaki dari Yahngoh, sepupuku yang umurnya hanya berjarak 3 tahun denganku. Ia tinggal di Medan lantaran Yahngoh bertugas disana sebagai Pegawai negeri Sipil.

            “udah lama sampe? Mana Yahngoh?”

            “Yahngoh didepan lagi ngobrol ama Cek Sulton.”

            “Oh, kalau Bundanya Amat dmana?

 “Bunda ga ikut cutda beliau ada tugas keluar kota.”

            Sudah lama aku tidak berbincang seperti ini dengannya, terakhir kali seingat aku ketika ia baru berumur 5 tahun. Saat itu ia masih sangat kecil, tingkahnya masih kekanak-kanakan dan nakal. Namun sekarang sangat berbeda, ia kini terlihat sebagai seorang anak yang jauh lebih dewasa dibanding dulu.

            “Masak apa cutda?” ia bertanya padaku.

            “Oh ini.” Kataku sambil melihat ke arah kuah kambing. “Si kameng. Biasa kalau ada kenduri memang begini.”

            “Udah lama ga makan si kameng,”

            “Itu ambil kursi duduk.”

            “Ia cutda,” katanya bergerak mengambil kursi tersebut.

            Inilah kampungku Empetrieng, desa yang terletak di Aceh Besar, berada di kecamatan Pekan Biluy. Di kampung ini penduduk masih menjaga adat istiadatnya, mulai dari kenduri, pesijuk, dan berbagai kegiatan agama dan adat lainnya. Semua berjalan indah di desaku, andai aku bisa berharap, aku ingin selamanya berada disini.

            Siang  ini orang-orang masih sibuk berbicara dan bersilaturahmi. Laki-laki dengan rokok dan kopinya di depan. Sedangkan wanita berada di dalam rumah sambil duduk di atas ambal. Sebagian wanita lagi yang masih tergolong saudara dan tetangga berada di dapur menyiapkan makanan.

            Bertemu Amat membuatku lupa waktu, kami mengobrol banyak hal. Tanpa sadar kuah sudah  matang  dan siap dihidangkan.

            “Allahuakbar, allahuakbar.” Adzan berkumandang, aku yang sudah selesai mengaduk pergi ke luar untuk melihat keadaan di teratak depan. Sedangkan Amat sudah minta izin untuk ke mesjid. Di luar aku melihat sebagian lelaki sudah beranjak dari tempat duduknya menuju Mesjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah Cecekku, sebagian lagi masih asik mengobrol di halaman.

            Aku menuju toilet untuk mengambil wudhu dan langsung  masuk ke kamar serbaguna, kemudian shalat Dzhuhur. Tuhan jika boleh berharap, aku ingin kedamaian ini selalu menjadi  milikku, doaku selepas shalat.

            Acara hari itu  berjalan sukses. Semua sanak keluarga dan tetangga di kampung kami datang. Ada yang membawa hadiah untuk pasutri berbahagia ini, ada juga yang memberikan amplop. Semua tidak menyangka bahwa Cut Agam, anak yang hari ini didoakan oleh seluruh sanak saudara dan tetangga, akan memiliki kisah hidup yang berat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 64