BAB 23 Arman Side

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juli 2016
BAB 23 Arman Side

BAB 23 Arman Side

                Aku pikir dia seorang gadis, makanya akhir-akhir ini aku mendekatinya. Dan aku tidak tau tentang kisah kehidupannya hingga Dinda memberitahuku tadi. Dan sekarang aku didalam mobil bmwku menuju kesana dengan perasaan kacau.

                Is still appropriate for me to get her?

                Padahal kemarin aku telah memberitahu mama. Aku mengatakan bahwa aku sedang mencoba mendekati seorang wanita, mama senang mendengarnya dan mendukungku. Aku pun jadi lebih sering berdoa disehabis shalatku untuk mendapatkannya. Aku sangat senang ketika dia mulai membalas smsku dan menyebutku ‘kak’ aku rasa semua akan baik-baik saja. Memang terlalu berlebihan namun imajinasiku terlanjur liar. Aku sudah berpikir dia akan menerimaku yang mengejarnya lalu kami akan menikah dan ia akan memberiku keturunan. Namun kata-kata Dinda tadi membuat semuanya pecah.

                Aku sampai didepan rumah sakit namun aku melewatinya dan berbelok ke sederhana lalu tembus ke setiabudi. Aku bingung apakah aku masih harus menjenguknya ke rumah sakit. Di setiabudi mobilku berhenti tepat di tempat kecelakaan dulu, kecelakaan yang membuatku tak sadar dan membuat Desna tiada. Aku duduk jam 10 malam ini di depan mobil kembali mengingat Desna, air mataku keluar.

                Desna jika aku boleh meminta saran masih pantaskah dia (mirna) untuk ku kejar? namun dia sudah punya anak. Masih pantaskah dia menggantikanmu?

                Pikiranku dilanda kebingungan berat. Aku melihat kembali jam sudah pukul 22.15. masih perlukah aku ke rumah sakit untuk menjemguknya. Kulihat kembali foto mirna di handphoneku sebagaimana dulu aku melihat foto desna ketika masih berpacaran dengannya. Sulit bagiku untuk mencari pengganti Desna dan Mirna hadir seperti memberi harapan baru, harapan agar mama yang meminta cucu segera terwujud.            Harapan dari hati yang terlanjur sepi.

                Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mobilku ikut meminggir dan kulihat seseorang yang  wajahnya masih tidak jauh berbeda dari 10 tahun silam, masih tidak berbeda ketika kencan terakhirku dengannya.

                “kak?” Nina berkata menyapaku.

                Aku mengelap air mataku.

                “kenapa kamu disini Nina?”

                “Aku tadi jalan tidak sengaja dan tak menyangka aku melihat kau kak.”

                Aku tersenyum. Orang yang tak kusangka datang tiba-tiba terihat.

                Ya dia Nina mantanku yang pernah aku ceritakan, yang membuatku susah  move on. Yang memutuskanku dengan alsan yang tidak jelas. Yang ketemu di Bioskop ketika aku sedang nge date dengan Desna.

                “kamu ngapain disini kak?”

                “Justru aku yang heran kenapa kamu disni.”

                Beberapa saat kami hening lalu Nina melanjutkan berbicara.

                “Kak maafin aku ya waktu itu.”

                Aku hanya terdiam.

                “jujur kak waktu itu aku merasa bahwa kamu memang special kak, aku tak pantas mendampingimu. Bukan karena pria yang kaulihat di mall itu.”

                Aku hanya tersenyum.

                “Bagaimana kabarnya pria itu sekarang?”

                “entah kak aku putus dengannya gara-gara bertemu kau malam itu. Ia menjadi bertanya-tanya tentang kamu kak, dan sejak saat itu kami berantam dan hubungan pun menjadi renggang.”

                Aku tersenyum lagi.

                “Jadi kamu menikah dengan siapa sekarang?”

                Seseorang kak” Nina melanjutkan, “Ia ayah dari anak-anakku. Ia melamarku di atas pesawat kak tempat kami pertama bertemu.”

                Aku lagi-lagi tersenyum “sekarang berapa anakmu?”

                “Alhamdulillah Nina lagi hamil anak ketiga kak.”

                Aku melihat perutnya dan terlihat memang agak membesar.

                “Kakak sendiri bagaimana dengan cewe waktu itu kak? Udah menikah dengannya?”

                “Udah.” Jawabku datar

                “Udah berapa anak kakak sekarang?”

                Aku menunjuk ke jalan. Nina terlihat kebingungan.

                “dia meninggal bersama anak kami yang dikandungnya 5 tahun lalu tepat didepan sana.” Nina terlihat menutup mulut lalu air matanya keluar.

****

                Mobil ku masuk kedalam RSHS, aku memarkirnya di tempat parkir biasa, tempat parkir khusus konsulen. Aku keluar lalu berjalan masuk meallui pintu timur, berjalan dengan perlahan-lahan ke kamar Mirna. Terlihat di sana, di pintu tulisan mawar3, ruang rawat Mirna. Aku menarik nafas lalu menghembuskannya, mengetuk pelan pintu.

                Mama Mirna membukakan pintuku da aku menatap langsung wajah cantik Mirna yang kepalanya sudah gundul. But she still beauty

                Aku berbincang ringan dan seorang menarik tanganku. “mama gak papa kan dok.”

                Apakah ini anaknya? Tampan sekali. “Ga papa kok.” Jawabku tersenyum.

                Aku menjelaskan beberapa masalah kesehatannya kepada Mirna, tentang prognosis pengobatannya lalu meminta izin pulang.

                Hari ini aku penanggung jawab IGD malam, aku melihat sebnentar ke IGd bangsal tindakan medis, visite pasien lalu pulang.

                Di perjalanan aku ingat kembali pernyataan Nina.

                Kamu itu special kak tuhan punya rencana tersendiri buat kamu

                Benarkah special hingga istri dan anakku harus meninggal dalam kecelakaan?

                Orang sespecial kamu akan bertemu orang yang juga special kak

                Benarkah? Kenapa aku bertemu seorang gadis yang sudah punya anak di luar nikah lalu jatuh cinta padanya.

                Kak yakinlah semua yang terjadi dalam hidupmu terjadi karena cinta-Nya padamu

                Itu kalimat terakhir Nina sebelum ia masuk mobil dan berlalu. Nina cinta lamaku yang tiba-tiba kembali muncul dihadapanku.

                Aku sampai dirumah lalu keluar, pintu rumah sudah terkunci, aku keluarkan kunci dari saku dan membukanya. Aku tidak langsung masuk ke kamar namun masuk ke ters belakang. Aku keluarkan sesuatu yang sempat bersamaku sejak remaja namun sudah berhenti sekarang. Aku keluarkan rokok yang baru saja kubeli tadi di minimarket. Menghirupnya lalu menghembuskannya.

                Perih, benar-benar perih semua yang terjadi.

 

               

 

 

  • view 183