Conjuring

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juni 2016
Conjuring

 

BAB 4 Mirna Side (Conjuring)

                Hari ini aku bahagia,  benar-benar  bahagia. Rasanya moodku berubah seratus persen. Ia penyebabnya, anak baru yang datang dari medan dan duduk di kursi sebelahku yang kebetulan kosong, aku lah orang yang pertama kali ia ajak berkenalan. Aku jadi sedikit GR . Wajar saja ia adalah cowok berwajah tampan dengan bau badan yang khas. Aku bisa menciumnya dengan jelas karena aku duduk tepat disebelahnya. Haruskah hal ini aku syukuri?

                Dan yang membuatku jadi jauh lebih senanglagi karena sepulang sekolah sore ini ia menawarkan untuk pulang bersama. Sesuatu yang mungkin  bidadari pun sulit  untuk menolaknya.

                Kami berjalan melewati sebuah taman didekat sekolah. Taman yang kalau disiang hari  banyak anak-anak bermain. Taman itu lengkap, ada plosotan, ayunan, bahkan ada patung-patung pahatan yang indah.

                “mereka bahagia sekali ya.” Delon berkata padaku ketika kami baru melewati taman tersebut.

                “Ya benar.” Aku menjawabnya dengan senyum yang sudah kuusahakan seindah mungkin.

                “Aku jadi ingat ketika aku kecil, taman meruapakan tempat favoritku. Disana aku bisa merasakan kehangatan dan kesenangan bermain dengan teman-teman seusia.”

                Aku banyak menjawab dan hanya jadi pendengar. Sepanjang jalan Delon terus menceritakan masa kanak-kanaknya yang tanpa sadar kami telah sampai di halte bus. Delon telah membuat waktu serasa cepat padaku. Aku bahagia hari ini, dan mungkin  untuk pertama kali, setelah 4 bulan. Alex, lelaki sialan itu bisa hilang dari pikiranku.

                Aku pulang dengan perasaan bahagia, dan malamnya aku hanya menulis dua kata di buku diari hari ini. MOVE ON. Kata itu kutilis dengan huruf capital dan besar. Ini menandakan sudah saatnya aku move on dari lelaki yang telah tega menghianatiku.

                Sekarang aku kembali bisa melihat masa depan, setelah sebelumnya masa depan terasa gelap untukku. Aku kembali bisa mengatur dan mentata ulang kembali diriku. Cita-citaku, yaitu menjadi seorang sastrawan beken yang novelnya bisa sampai meraih Nobel. Muluk memang, namun aku harus bisa, itu yang kumau.

                Hari ini aku datang kesekolah, dan aku rasa aku datang terlalu cepat. Mungkin karena aku bersemangat untuk jumpa dengan Delon. Dan hari itu pertama kali aku tau. Ketika aku melihatya dari kaca kelas, Delon sudah duduk disitu. Apakah ia selalu datang sepagi ini? Aku lihat dia sedang membaca-baca buku biologi.

                Aku masuk perlahan, Delon melihatku ia tersenyum

                “Tumben pagi sekali kamu datang.”

                “Hehe ia hari ni kepagian.” Jawabku malu-malu. “Kamu selalu datang sepagi ini?” Aku lanjut bertanya.

                “Hmmm , ya begitulah.” Katanya

                “Kamu suka biologi ya.”

                Delon menutup buku yang dipegangnya, lalu duduk dengan rapih.

                “Ya aku suka ilmu alam, aku igin menjadi seorang dokter.”

                “Kenapa kamu ingin jadi dokter?” Kataku yang kini sudah duduk di kursi depan meja Delon.

                “Hmmm.” Delon terlihat berpikir sejenak lalu dia melanjutkan.

                “Aku dulu pernah kecelakaan hebat, seluruh tulangku patah. Aku ingat benar malam itu aku sangat takut dan menderita. Namun ada seorang ibu dokter yang cantik bagai malaikat dimataku. Ia menenangkan aku yang sangat gusar. Lalu mengobatiku dengan ilmunya dan senyumnya. Aku ingin terlihat seperti itu di mata orang lain.”

                “Aku yakin kamu bisa.” Aku berkata kepada Delon.

                “Hehe kenapa kamu bisa bicara seperti itu.”

                “Karena aku yakin seseorang bisa meraih mimpinya asalkan dia berdoa dan berusaha. Aku beri contoh, apa beda BIll Gates dengan seorang pengemis? Tidak ada. Sama-sama bermata dua, bermulut satu,  lahir dari seorang ibu, dan memiliki jiwa. Yang membedakan hanya Bill Gates, bermimpi dan ia berusaha mewujudkan mimpinya sedangkan seorang pengemis memilih untuk meminta-minta apa yang menurutku sangat tidak menghargai  kehidupan.”

                Delon terlihat terdiam sejenak. “Kamu pintar ya.” Ia kembali berkata sambil tersenyum. Dan aku kini menjadi tersipu malu.

                ****

                `Malam ini aku akan nonton bersama Delon. Delon mengajak nonton di Mall BTC biar harganya lebih terjangkau kantong. Dia cowo hemat, benar-bear tipeku. Film yang kami nonton malam ini adalah film Horror. Film yang sedang naik daun. Conjuring. Aku awalnya menolak tapi Delon berkata ‘kalau kamu ketakutan tenang aja ada aku.”. Rayuan gombal itu berhasil merubah pikiranku.

                Aku menunggu di depan 21 BTC, dan sudah lima belas menit lewat dari waktu yang dijanjikan. Delon belum juga terlihat. Aku menelponnya dan tidak diangkat.

                Aku mulai khawatir terjadi sesuatu sampai ia menyentuh pundakku dari belakang. Aku melihat kebelakang dan tampak wajahnya ter engah-engah.

                “Habis dari mana? Kok telat?” tanyaku.

                “Maaf banget tadi di jalan ada tabrakan jadi macet parah.”

                “hmm oh ya? Gmana ada yang meninggal?”

                “Alhamdulillah tidak ada hanya luka-luka kecil.” Delon mengatur nafasnya yang masih kecapaian sepertinya ia berjalan dengan sangat cepat ketika turun dari angkotnya. “Yuk pesan takutnya telat.”

                Dan seperti yang dikatakan teman-temanku. Film ini emang ‘horror banget’. Aku terkejut berkali-kali berteriak berkali-kali, sedangkan Delon dengan kalemnya melihat tanpa ada ekspresi takut. Pria ini benar-benar berani. Satu lagi checklist pria idamanku terisi oleh orang ini. Dan aku yang sudah tidak tahan dan tidak berani mencoba duduk mendekat ke arah delon. Delon membalasnya dengan mengenggam tanganku. Rasa takutku berkurang, berubah manjadi rasa cinta. Tuhan tolong aku, pria ini benar-benar special.

                Sepulang dari situ aku seperti biasa kembali ke bukuku. Buku diariku tempat aku curhat. Aku menulis banyak sekali, tentang apa yang terjadi hari ini, dan juga tentang bagaimana perasaanku saat ini. Aku bisa tersenyum manis hari ini, aku tertidur pulas. Semoga Delon  hadir dalam mimpiku.

 

 

 

  • view 78