Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 12 Juni 2016   15:36 WIB
First Date

 

 

 BAB3 Arman Side (First date)

                Hubunganku dengan Mirna hanya sebatas di dunia maya. Dari line pindah ke path dan akhirnya facebook. Jika malam aku sedang tengkurap di depan leptopku dan dia online, maka aku langsung memulai chat dengannya “apa kabar” kalimat yang biasa digunakan.

“Baik kak.”

“Lagi dimana?”

                “Di kosan aja kak hehe.”

                “Masih dinas di ujung berung?

                “Masih besok terakhir.”

                Sebenarnya bagi diriku ada perasaan bosan dan ingin memulai ketingkat yang lebih tinggi, seperti nonton bareng atau sekedar makan malam. Namun kalian  pasti tau alasannya aku tidak berani. Ya benar, trauma akan hubungan yang lalu lah alasannya. Aku  masih belum bisa lepas dari rasa ketakutan akan hubungan yang berjalan sementara. Mungkin ketakutan itu  berlebihan melihat aku dan Desna baru sekali bertemu, aku juga tau ini berlebihan namun in tidak baik. Trauma kadang  kala membuat kita berpikir irrasional.

                But, I think its time to me to take a new step, with a new one. Aku putuskan hari itu untuk berani mengajaknya berkencan walaupun hanya melalui chat facebook. Hari ini hari jumat dan besok malam minggu, aku harap dia libur di hari sabtu dan minggu sebagaimana juga aku yang sdang berada dalam stase kecil.

Desna

Ya kak?

Besok kosong gak?

Kosong kenapa gitu?

Masuk lagi hari apa?

Senin

                Yes, ternyata aku mendapat berkah hari ini. Dia mempunyai waktu kosong yang pas denganku.

Mau jalan gak?

Kemana?

Nonton

Dimana?

PVJ

Nonton apa gitu?

Kura-kura ninja udah nonton

Wah belum kak

                Sip, berkah kedua hari ini, ia belum menonton film itu sama juga denganku. Sepertinya kalau kami menonton film itu berdua akan menjadi seru. Memang sih film romantic lebih cocok untuk meningkatkan chemistry yang ada, tapi film action keren sepertinya juga boleh.

Yuk nonton aku traktir

                Ia membaca pesanku dan agak lama membalas, sepertinya ia sedang berpikir, dan aku tidak tau apa yang ada dipikirkannya.

Boleh kak, bener kan ditraktir J

Iya J

Asikkkkk, y udah kak aku bobo dulu ya udah malam. Besok kakak line aja aku tapi aku ga bisa nonton malam banget, takut pulang telat.

Sore aja mau?

Boleh kak.

Ok

Iya kak, aku of duluan ya, Assalamualaikum

                Ternyata semesta benar-benar mendukungku, apakah ini sepertinya sesuatu yang memang disiapkan untukku dari sang Maha Cinta? Hemm, aku tidak perlu berspekulasi banyak. Hubungan sebelumnya juga diawali dengan hal-hal yang manis namun akhir pahit selalu ada diujung.

                Aku merebahkan diriku yang tadinya dalam posisi tengkurap, melihat langit-langit kamar. Terlihat sudah berdebu tampaknya sudah waktunya untuk dibersihkan. Aku kembali melihat handphone dan di wallpaper ada gambar Desna memakai seragam perawatnya yang bewarna putih. Aku diam-diam mengambilnya dari facebook.

                Desna terlihat sangat indah dengan seragamnya. Aku telah melihat semua foto yang ada, dan foto dengan seragam memang yang pling cocok dengannya. Sepertinya Tuhan menciptakan dia memang untuk menjadi perawat. Asisten para dokter, dan asistenku, semoga.

                Mengangkat diri dari kasur dan berjalan perlahan ke arah kulkas. Kulihat cemilan coklat sereal sudah tinggal dua. Dan cocacola, minuman favoritku tinggal satu kaleng lagi. Sepertinya aku harus membeli yang lain besok di Carrefour PVJ, sekalian saja sepulang nonton dengan Desna.

                Aku mengambil satu-satunya coca cola yang tersisa lalu menutup kulkas. Di atas kulkas masih terpasang foto Nina, mantan pacarku yang meninggalkan kesan paling mendalam buatku. Kami berpacaran dua tahun. Bahkan aku yang menganggap ia yang terakhir untukku telah memperkenalkannya kepada ayah dan ibu. Namun aku ingat sekali lagi malam itu. Ia menceritakan bahwa ia tidak bisa bersamaku lagi. Dengan alasan yang menurutku sangat aneh dan enggak banget.

                “Aku ga bisa lagi sama kamu.”

                “kenapa kamu ngomong gitu.”

                “Aku mau kita putus.”

                `”Lohh kenapa? Aku rasa tidak ada masalah diantara kita. Tolong beritahu alasannya.”

                “Aku tidak yakin bisa membahagiakan kamu.”

“hah alasan apa itu? Mana mungkin cuma itu.”

                “maaf kita tidak bisa lanjut.”

                Dan itu kalimat terakhir dia sebelum menutup telponnya. Sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu dan berkotak dengannya. Sms ku tidak pernah dibalas, teleponku diangkat. Chatku tidak dibaca. Dan dia suskses menghilang dalam hidupku sambil memberi kan pertanyaan besar di kepalaku. “kenapa?”.

                Setelah dengan Nina aku berpacara dengan Lila sesuatu yang kuanggap hanya sebagai pelarian. Hanya 2 minggu lalu Lila meminta putus dan aku pun mengiya-iyakannya saja. Jujur aku belum bisa move on dari Nina.

                Kalian bayangkan saja selama 2 tahun aku selalu meihat wajah itu. Aku selalu menunggunya didepan pintu rumah ketika kami ingin kencan bareng, dan akhirnya semua berakhir dalam sebuah percakapan telpon yang hanya berdurasi  5 menit.  Namun walaupun begitu entah mengapa aku belum bisa memindahkan fotonya yang ada di atas kulkasku. Semua kenangan indah bersamanya selalu keluar ketika aku melihat foto itu, yang kadang kala membuat aku malamnya bermimpi tentang dia. Namun well, tidak ada gunanya memikirkan itu lagi. Sekarang yang harus kupikirkan cukup Desna.

                Aku yang sedang duduk di kasur mengucapkan basmalah lalu langsung meneguk coca cola itu. Minuman favortiku sejak aku kelas 2 smp.

                Aku perhatikan handphone, membuka foto Desna lagi di profil line, senyum-senyum sendiri lalu aku tertidur.

                ****

                “Bagusnya yang ini atau itu riz?”

                “yang itu aja Man.” Kata Fariz sambil menunju sebuah polo shirt bewarna biru.

                Fariz memang bisa diandalkan saat seperti ini. Ia merupakan orang yang sangat stylist. Di kampus saja jika menggunakan kemeja ia selalu memasukkannya kedalam celana dan menggunakan tali pinggang yang pas untuk baju dan celananya. Aku yang cenderung sederhana dalam penampilan harus banyak belajar darinya.

                Aku mengambil baju itu dan melihatnya sebentar, kucium aromanya untuk memastikan kencan pertama kami benar-benar sempurna.

                “oke kayaknya yang ini bagus deh.”

                “Iya bagus.”

                Aku yang sudah mengenakan kaos dalam bewarna putih langsung memakai poloshirt itu. Dan terasa pas sekali di badanku. Aku pergi kecermin dan berkaca, melihat seluruh badanku di permukaan cermin. Fariz melihatnya dan memberi acungan jempol, menandakan dandananku sudah sempurna.

                Hape aku berbunyi, aku mengambilnya dari atas kasur, dan membacanya, ada pesan dari Mirna.

Kak udah siap-siap?

Udah.

                Aku membalasnya lalu mirna tidak membalas lagi, kulihat jam ada di pukul 2.30. Setengah jam lagi di waktu yang dijanjikan untuk bertemu. Aku ambil sunblock yang sudah lama tak terpakai dari laci mejaku dan mengoleskannya di wajah. Hari ini aku harus sempurna’ bathinku’.

                Fariz masih duduk di sudut kamarku da mengamati gerak-gerikku. Aku tidak tau apa yang ada dipikirannya saat ini.

                Sentuhan terakhir parfum yang kubeli di Century mall BIP. Kusemprot 4 kali di seluruh baju, lalu aku berbalik arah ke Fariz, “Gimana?” Aku bertanya.

                Fariz duduk diam dan megacungkan jempolnya.

                Aku berjalan pelan keluar kamar diikuti Fariz lalu aku mengunci pintu kamarku. “Sukses ya.” Kata Fariz.

                Di perjalanan hatiku berdebar-debar tak karuan. Dia yang kutemui di rumah sakit dua bulan lalu kini akan terlihat lagi di hadapanku. Aku bingung untuk bersikap seperti apa. Dan semoga jantungku tidak berdebar-debar seperti waktu itu.

                                Aku memarkir motor lalu langsung menuju ke Blitz. Langkahku kupercepat karena aku sudah tidak sabaran untuk kembali melihat Mirna. Aku melihat jam tanganku masih kurang sepuluh menit dari waktu yang ditentukan, semoga Mirna sudah tiba bathinku.

                Dan aku terdiam ketika ku melihat gadis dengan jilbab bewarna pink, hidung mancung, serta bulu mata yang lentik berdiri menatap ke bawah sambil bersandar di dinding. Ia menggunakan baju yang menurutku cewe banget, baju yang aku tidak terlalu paham itu jenis apa, yang pasti warnanya hijau. Hatiku kembali tak karuan, bahkan lebih tidak karuan dengan pertemuan pertama kami.

                “Desna?”

                Aku menyapa ia yang dari tadimenengok kebawah, ia menengadah lalu melihat mukaku.

                Ia tersenyum.

                “Udah lama nunggu?”

                “Belum kak hehe.”

                Suaranya masih seperti saat di Hasan Sadikin, indah dan merdu.

                “Yuk pesan tiket.”

                Kami berjalan beriringan namun tidak bersentuhan. Tingginya setinggi kupingku, lumayan ideal untuk ukuran wanita dengan badan bagus dan ramping. Kami menuju tempat membeli tiket dan aku melihat Ninja Turtle akan mulai setengah jam lagi.

                “Teenage Mutant Ninja Turtle untuk 2 orang mbak.”

                “Mau kursi mana mas?” kata mbak-mbak kasir itu memperlihatkan denah kursinya.

                “Itu aja H7- H8.”

                “Baik mas.”

                View yang menurutku cukup baik, tidak terlalu kedepan juga tidak terlalu kebelakang.

                “Kak kita Ashar dulu yuk.’

                “Yuk.” Aku tersenyum kepadanya. Dan aku tidak mengerti apa yang terjadi hari ini, apakah ini malapetaka atau keberuntungan saat aku berbalik badan aku melihatnya.

                Tidak ada yang berubah, persis sama seperti yang dulu. Bibir yang tebal, hidung yang pesek namun menggemaskan, kulit yang sangat cerah dan putih. Rambutnya pun sama masih menggunaka ikat ekor kuda. Sesaat tubuhku terasa lemas dan bergetar. Ya itu dia, Lila. Kini dia dihadapanku.

Karya : Muhammad Shanan Asyi