Critical Seventeen

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Mei 2016
Critical Seventeen

BAB 1 Arman

                Membaca merupakan hal favoritku. Bukan karena kita diberikan kepada sebuah informasi yang menawan, namun lebih dari itu. Membaca membawa kita kepada sebuah dunia baru, dunia yang katanya hanya milik imajinatif pengarang. Tapi aku tidak terlalu peduli, semakin sering aku membaca semakin sering aku memahami.

                “kamu sudah mandi?” Lagi-lagi aku mendengar suara imajinatif itu. Suara yang biasanya muncul ketika jam setengah 6 pagi. Sesuatu yang membuatku merasa bergairah dan bersemangat menjalani hari. Mulai dari pendidikan spesialis hingga sekarang.

                Namanya Bunga, bagiku ia memang merupakan bungaku. Pertemuan kami bukan pertemuan biasa menurutku. Ini melebihi semua drama cinta yang ada di film-film korea maupun jepang. Masih ingat benar aku pagi itu ketika aku berjaga malam di klinik Mitra Kasih. Seorang wanita berusia sekitar 21 tahun datang membawa adiknya yang sedang demam tinggi. Aku yang kebetulan belum tidur ketika itu langsung masuk ke ruanganku dan meminta perawat membiarkan pasien ikut masuk. Ia membawa adiknya ke kursi pasien.

                “Kenapa ibuk?” Sapaku pelan.

                “begini dok, adik saya demam tinggi. Dan sekarang dia mengeluh sangat lemas, tadi saya ukur suhunya 39 derajat.”

                “baiik silahkan naik ke kasur pemeriksaan.”

                Aku mengambil stetoskop dari atas mejaku dan menuntun adiknya untuk naik ke kasur. Aku meraba keningnya dan terasa sangat panas. Detak jantungnya coba kudengarkan dan meningkat. Bising ususnya normal aku mencoba mengukur tekanan darah dan hasilnya 130/80. Naik sedikit sepertinya efek dari demamnya.

                “Ada batuk-batuk dan dahak?”

                “Ada dok.” Sebut ibu itu yang kutahu selanjutnya namanya adalah Bunga.

                Aku kembali menuntun mereka duduk dikursi.

                “Sepertinya ada infeksi bakteri di saluran nafasnya buk, saya akan beri penurun panas dan antibiotic. Ini resepnya dan selanjutnya ambil di depan ya.”

                Itu pertemuan pertama kami, aku tidak terlalu ingat malam itu. Yang kuingat dia wanita cantik berkerudung ungu. Jika aku boleh mengangumi ada satu hal yang sangat kukagumi darinya, garis hidungnya tegas dan mancung. Itu membuat kesan lebih baik dengan dagunya yang lancip. Namun pertemuan malam itu tidak berarti apa-apa. 3 hari kemudian baru semuanya mulai memasuki tahap yang dikatakan orang “destiny”.

                “Dokter Arman?” Aku yang sedang melihat minuman dingin di mini market dikejutkan dari belakang. Aku memalingkan wajah dan ternyata..

                “Iya ibu bunga ya.”

                “Iya bagaimana kabarnya dok?”

                “Baik Alhamdulillah. Ibu bagaimana? Adiknya udah sehat?”

                “Sudah dok obatnya berjalan dengan baik, hehe.”

                Ia tersenyum manis, senyumnya adalah senyum terbaik yang pernah kulihat saat itu. Jujur aku selalu mengamati senyum orang-orang, dan beberapa senyum artis yang menurutku indah adalah senyum dari Marshanda dan Bunga Citra Lestari, namun senyumnya kala itu ‘made my day’.

                Kami membayar belanjaan berbarengan dan mengobrol ringan di luar mini market. Entah mengapa waktu itu langkah kami enggan menjauh. Sesuatu yang kata orang sering disebut dengan ‘kenyamanan’.

                “Bagaimana rasanya jadi dokter dok?”

                Iya bertanya lagi-lagi dengan senyum indahnya dan wajah yang sedikit memerah.

                “Ya begitu senang Alhamdulillah bisa membantu orang-orang.”

                “Aku dulu juga mau menjadi dokter.” Ia melanjutkan.

                “Oh ya lalu?”

                “Aku tidak lulus tesnya.”

                “Oh hahahha itu memang sulit, competitor selalu banyak.”

                Ini sudah kesekian kalinya aku mendengar orang tidak lulus kedoteran karena gagal di tes, itu hal lumrah menurutku, mencoba menjadi dokter bukanlah hal  yang mudah.

                “Boleh tau umur ibu bunga berapa?”

                Aku bertanya dengan senyum ringan.

                “Baru 21.”

                “Oh hehe.” Ternyata umurunya tepat seperti apa yang kubayangkan.

                “berarti boleh aku panggil  dek bunga dong?”

                “hahaha terserah dokter.” Wajahnya tersipu malu.”

                Beberapa saat setelah dia pamit aku tanpa sengaja dan reflek menahan tangannya “Anu boleh minta nomer hapenya?”
                “Ia menoleh ke arahku dengan wajah yang jauh lebih memerah dari sebelumnya.”

                “Bo-boleh dok.”

                Semua pun menjadi indah waktu itu, seperti ada music yang mengiriku saat itu. Dan pada saat itu juga aku mendapatkan nomor hapenya dan semua berlangsung sangat cepat setelahnya. Sampai akhirnya kami sah bersama secara halal menurut ketentuan-Nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2 Mawar

                Ya hari ini adalah hari paling berbahagia untukku. Aku terpilih masuk klub bola voli SMA. Awalnya sih aku hanya  mencoba-coba setelah melihat pertandingan bola voli di televise. Namun lama kelamaan ini menjadi hobiku. Dan ini mungkin juga membuat diriku yang tinggi, sesuatu yang sering kuanggap sebagai kekuranganku menjadi bermanfaat.

                Sore itu Dodi membagikan brosur lembar penerimaan anggota klub voli baru. Aku yang sedang menata buku untuk pulang langsung merasa ‘exiting’.

                Bener deh, mending kamu ikut.” Dodi terus mencoba meyakinkanku.

                “Hmmm. Tapi aku gay akin akan lulus test.” Kataku kepada sahabatku itu.

                “Ya coba aja dulu, siapa tau kamu kepilih. Badan kamu kan bagus, cocok untuk bermain voli.”

                “Hmmm gimana ya.” Aku berpikir sejenak dan memutuskan. “baik aku akan ikut.”

                “Horeee.” Dodi mengangkat tangannya kegirangan.

                “Yuk pulang, kataku.”

                “Ayuk.”

                Aku berjalan ke tempat parker motor, dan naik dibelakang dodi setelah ia lebih dahulu naik motor,. Kami sudah satu sekolah sejak SD dan rumah kami berdekatan,  itu yang membuatku sering pergi dan pulang bareng dengannya.

                “mawar.”

                “ia?” Tanya Dodi ketika kami masih di atas motor.

                “Bagaimana dengan kisah asmaramu? Kamu belum menentukan siapa yang cocok untuk menjadi pacarmu?”

                “Hahahaha ada-ada saja pertanyaannya. Memang ada yang mau sama aku?”

                “Hmmm.” Dodi terdiam sejenak. “Perlu aku sebutkan siapa saja orang yang diam-diam mengagumimu?’

`’hhmm tidak perlu sekarang seperting\ya Dod, aku masih mau focus pada SMA ku saja. Aku harus bisa belajar baik agar aku bisa masuk jurusan psikolog univ negeri antinya.”

                “Hahaha kamu masih menyimpan cita-cita itu rapat-rapat ya.”

                “tentu.”

                “Tapi aku rasa kamu bisa jadi psikolog yang baik.”

                “Kenapa kamu berpikir begitu?” Aku bertanya heran kepada Dodi

                ‘Yang curhat sama kamu banyak dan mereka selalu senang jika curhat denganmu.”

                “hehe ia Alhamdulillah kalau gitu.” MEemang benar sih anak-anak sepertinya ketagiahn curhat denganku, jika hari ini curhat. Maka besoknya mereka melanjutkan lagi untuk curhat. Aku senang dengan sikap mereka, walau aku pernah menanykana kenapa memilih curhat denganku dan tidak dengan yang lain. Jawaban yang keluar ‘kumu humble dan cerdas’.

                Selanjutnya setelah itu kami tidak melanjutkan obrolan. Motor sampai di rumahku, aku turun lalu Dodi melanjutkan perjalananya menuju rumahnya.

                “Assalamualaikum ma.”

                Salam seperti biasa kuucapkan ketika masuk pintu rumah.

                “eh anak mama udah pulang. Bagaimana hari ini disekolah lancer?” Kata Mama yang baru saja mucul dari dapur.

                “Lancar ma. Ma…”

                “Iya?” mama sepertinya tau aku ingin mengungkapkan sesuatu.

                “aku mau masuk grup Voli boleh?”

                “Hmmm, grup voli sekolah?” Tanya Mama dengan agak heran terhadap permintaanku

                “Ya.” Kataku semangat.

                “Kamu sanggup? Tapi mama gam au prestasi kamu dskolah jadi jeblok kok.”

                “Insya Allah aku sanggup ma, menyeimbangkan semuanya.”

                Mama ampak berpikir dengan jawabanku.

                “ya kalau kamu memang sanggup mama tidak punya hak untuk melarang.”

                “Yeee makasih ma.” Aku emmeluk mama dengan pelukan hangat.

                Ya sudah sana ganti baju masuk kamar.

                “Ia mama cantik, kataku seraya mencium pipi mama.”

                Aku berjalan perlahan-lahan menuju kamar di rumah yang luas itu. Tanganku memegang knop pintu lalu membuka pintu, kubuka ruang bewarna pink itu. Warna cat yang tidak pernah berubah sejak kelas satu SMP. Sudah berkali-kali kamar ini dicat ulang namun dengan warna yang sama, pernah Mama menanyakan apa alsanku menyukai warna pink, jawabanku hanya satu ke mama. “Bukannya warna pink itu indah ma.”

                Aku merebahkan diri di kasur, melihat langit-langit kamar yang sudah agak berdebu dn terlihat ada sedikit sarang laba-laba di sudut kamar. Sepertinya aku harus menyuruh bi Ijah untuk membersihkan kamarku. Tapi nanti saja mala mini aku mau terlelap, selelapnya.

*****

                Ya semua anak baru ayo kumpul.” Kak Doni berteriak tegas kepada kami yang sedang memukul bola di lapangan. Aku yang mendengarnya langsung mendekatinya dan berbaris rapi dengan anak-anak lain. Kira-kira ada sekitar 20 orang yang mendaftar menjadi timbola voli dan biasanya yang diterima setiap tahunnya hanya 10 orang.

                “Ya perkenalkan nama saya Doni. Saya yang akan menyeleksi kalian hari ini. Saya harap semua sudah siap. Tidak semua dari kalian akan lulus, kami hanya mengambil sebagian yang menurut kami kompeten dan berbakat.” Aku deg degan. “Kamu, ikat tali sepatumu.” Kak Doni menunjuk ke arahku, aku melihat kebawah dan benar terlepas. Sepertinya aku memang harus mengikatnya dulu.

                Baik kita mulai dari passing melingkar ya.

                Semua membentuk lingkaran saat itu. Bola diberikan oleh kak Doni dan kami mulai memukul perlahan. Dari kejauhan aku liat Dodi sedang menatapku didepan kelas. Aku melambaik kepadanya. Ia membalasnya dengan senyuman.

                Bola pasing jarang jatuh, sepertinya semua yang ikut latihan ini punya kemampuan yang bagus. Persainganya benar-benar ketat. Aku harus bisa semampunya.

                Bola mengarah ke arahku. Dan aku emmeukulnya namun melambug tinggi dan keluar lingkaran.

                Aku melakukankesalahan aku takut bisa tidak lulus, aku liat kea rah kak Doni dan tampak dia sedang ebrbicara dengan senior cewe lain sambil meliha ke arahku, apa aku tidak akan lulus?

                “baik cukup!”

                Kak doni berteriak.

                “Yak sekarang kita latihan servis.

Semua pun berjejer di daerah servis, dan aku mengambil tempat di paling belakang. Satu persatu mulai menservis ada yang masuk, ada yang keluar, serta menyentuh net. Kini giliranku. Aku mencoba memukul dan, bola melambung jauh. Aku sepertinya mulai kehilanga harapan.

                Selanjutnya tos, lalu smash. Di tahap smash aku melakukan dengan baik.

                Lalu latih tanding, setelah itu semua dikumpulkan dan langsung diberikan penumuman.

                “Baik kalian semua ada 20 orang kan? Kami memutuskan hanya 10 orang yang akan terpilih. Jadi bagi yang tidak lulus jangan berkecil hati dan tetaplah bermain voli.

                Oke yang lulus

“Gebi, marsha, Tira, Wina, Nina.”

                Namaku belum ada

“Puput, Siti, Sri,

                Masih belum ada, sepertinya aku tidak akan lulus, sudah pupus semua harapanku.

“Dana”

Tinggal seorang lagi, ya sudahlah.

                “dan Mawar.”
Apa! Aku, lulus? Benarkah aku lulus? Bagaimana mungkin. Aku melakuka banak kesalahan.

                “Baik untuk yang tidak lulus jangan berkecil hati, bagi yang lulus kita bertemu lagi besok. Disini.”

                Saat aku yang sedang bahagia berbalik arah dan ingin kembali ke ruang ganti baju. “Mawar.”

                Kak Doni mmanggilku.

                “Ia siap kak.”

                “Kamu tau eknapa kamu lulus?”

                “Hemm tidak kak, malah saya tadi sudah pupus harapan.”

                “Hemm ya, kemampuanmu memang belum sebanding dengan yang lain, namun ada satu kelebihan, badanmu yang tinggi dan powermu yang kuat. Itu bisa jadi kelebihan buatmu, kamu akan kami latih untuk menjadi smasher SMA 23. Kamu akan kami latih habis-habisan, apakah kamu siap?”

                “Siap kak!.” Teriakku.

                “Baik silahkan pulang dan kembali besok.

                Aku berjalan perlahan kea rah keras dengan hati yang sangat berbahagia. Disana terliha Dodi tersenyum menyambutku. “Selamat ya.”

                “Makasih udah nungguin.”

                “hehe ga  apa.”

                “Baik tunggu aku ganti baju dulu ya.”

                “Oke.”

                Setelah ganti baju, aku merasakan pusing sesaat, mungkin karena terlalu lelah. Ya sepertinya begitu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3 Arman

 

                Adalah kebahagiaan bisa bertemu dengan mawar. Banyak orang yang mengatakan cinta akan datang dengan sendirinya pada waktunya. Aku tidak tau anggapan itu benar atau salah. Namun memang pertemuanku dengan Mawar sesuatu yang tidak kurencanakan sebelumnya. Di hari nomer handphonenya kudapati. Aku langsuung berbalas pesan dengannya setiap hari. Setiap saat ak tersenyum ketika dia membalas. Seolah-olah dia sendiri yang berbicara. 2 Minggu setelahnya aku mencoba untuk menelponnya.

                Awalnya tidak diangkat. Aku ragu apakah kedekatan kami saat ini hanya dianggap teman olehnya sehingga ia emmutuskan untuk tidak mengangkat teleponku.

                Aku coba mnelpon sekali lagi, menunggu sekitar 5 detik, lalu..

“Assalamualaikum.”

                Suara lembut terdengar dari telepon genggamku.:

“I.... iya halo, assalamualaikum.” Jawabku

                “hehe tumben nelpon biasanya sms.”

                “Ia udah bosan sms-an.” Kesenangan berlipat muncul di benakku karena kami bisa berbicara seerti ini.

                “Maaf ya tadi aku ke wc jadi gak angkat.”

                “Ga apa kok. Lagi apa?”

                “Baru  selesai masak makan malam.”

                “Ohhh enak kayanya ya, buat dimakan sama keluarga ya?”

                “Iya semuanya makan hehe.”

                “Buat aku kapan.” Kataku mulai menunjukkan gombal sekaligus kode.

                “Hmmm kapan yaaa, hehe, nanti atuh kalau udah waktunya.”

                “Waktu apa?” Aku mencoba menjuruskan.

                “hehe pikir aja sendiri.” Katanya

                “hmmm hehe.”

                ‘Today she made my day again’ bathinku.

                “Sendirinya lagi apa?”

                “Baru pulang praktek.”

                “Banyak pasiennya?”

                “Lumayan ada 20.”

                “Banyak dong dapat uangnya,”

                “Ah kamu dasar haha.” Memang sih dokter cenderung dikaitkan dengan uang dan kekayaan. Tapi kita harus menyadari bahwa niat kita ketika memberikan resep dan mengobati pasien adalah tulus mengabdi. Anggaplah uang hanya sebagai hadiah.

                “Mawar.”

                “Iya?” Dia menjawab dan aku merasakannya ia menjawab sambil tersenyum di ujung sana.

                “Usia aku udah 25?”

                “Iya kan udah pernah kasih tau.”

                “Oh iya ya.”

                “memang kenapa gitu?”

                Hatiku berdebar tak karuan mendengar pertanyaan darinya. Tapi aku harus memberanikan diri. Akhir-akhir ini mama selalu menanyakan jodoh dan calon menantnya dan sepertinya sudah saatnya untukku agar buat pilihan. Bukan hanya pacaran yang identik dengan remaja dan dosa, tapi lebih dari itu. Aku harus memberanikan diri untuk mengajak ke hal yang lebih serius. Hal yang halal.

                “Hmmmm.” Aku berpikir panjang. Adalah tidak jantan menurutku jika aku hanya melamar via telepon. Jadi akiu putuskan untuk mengajaknya ketemu saja besok.”Besok malam kamu ada waktu? Aku mau ajak kita ketemu lagi.

                “Besok ya, Insya Allah bisa.”

                “Baik nanti dikabari lagi ya. Udah dulu ya, aku mau istirahat dulu hehe agak lelah baru pulang praktek.”

                “Iya hehe.”

                “ssalam buat keluarga ya.”

                “Iya.”

                “Assalamualaikum”

                “Waalaikum salam.”

                Setelah menutup teleponnya aku langsung buka leptopku menghubungkannya dengan modem agar terhubung ke global network dan mencari di google tentang cincin perhiasaan apa yang indah. Banyak foto-foto batu berkilauan, namun sejauh yang kulihat. Tampaknya saphire yang paling istimewa. Aku memutuskan untuk mencarinya besok k toko perhiasan.

                Esok paginya aku mencari-cari ke toko perhiasan dan melihat sesuatu yangv sangat berkilau. Batu saphire yang paling bagus di toko itu kelihatannya. Birunya seperti kilauan permata yang sangat berharga. Namun aku belum tau harganya, yang membuat aku menanyakannya hal itu setelahnya.

                “Berapa harga yang itu mbak?”

                “Ini 6 juta mas.”

                Hmm 6 juta ya. Bukan harga yang terlalu tinggi menurutku untuk sebuah batu cincin saat lamaran. Harga yang tepat dan pas dikantong akku rasa. Walauun ini akan menghabiskan sebagian tabunganku, tapi mungkin tidak apa. Karena momen berarti harus dihargai dengan seuatu yang juga berarti.

                “Itu saphire ya mbak.”

                “Iya saphire.”

                “Saphire dari negara mana?”

                “Ini batu asli inggris, cincin pengikatnya emas.”

                “Ada diskon gak mbak?”

                                “Ada, diskon 3 % untuk debit mandiri.”

                Untunglah aku punya kartu kredit mandiri, sehingga harganya bisa lebih turun. Aku membelinya segera dan melihat saphire itu ditaruh dalam kotak cincin merah. Indah sekali, aku tidak tau bakal diterima apa tidak, namun aku sudah siap. Jika lamaranku ditolak, ya berarti batu ini tidak akan ersemat di jarinya.

                Aku keluar toko dengan kegirangan saat itu.

                “Dokter Arman ya.”

                Tidak mungkin suara ini

`               “Bunga.”

                “Sedang apa disini.”

                “eeeee.”

                “habis beli cincin? Buat siapa?”

                “ehhhhhh.”

                “Boleh aku lihat?”

                “I... iya silakan.” Pikiranku sudah kacau dan tak karuan saat ini.

                Bunga membuka berlian dari kotaknya dan ia takjub dengan cincin saphire biru yang sangat berkilau itu.

                “buat....”

                Pikiranku bergerak cepat. Aku langsung duduk ala pria-pria dalam film drama romantis barat. Rasa maluku ku uang jauh-jauh ketika itu. Lalu aku berkata. “Ini cincin buat kamu maukah kau jadi istriku.”

                “Bunga menutup muutnya yang ternganga dan matanya terlihat menangis.”

                “Aku mau.”

****

                Setelah pernikahan kami aku pernah menanyakan padanya alasan ia menerimaku pada lamaran dadakan itu. Jawabannya hanya tiga kata. Nyaman, tampan, dan serius.”

                Ketika aku menanyalan apa maksudnya, ia melanjutkan. “Aku sudah sangat nyaman dengan kamu, dengan cara kamu berbicara dan cara kamu bersika di depan wanita. Lalu kamu tampan, walaupun itu bukan priritas utama dariku untuk memilih lelaki namun aku anggap itu hanya bonus. Dan kamu serius. Aku benci dengan pacaran putus, pacaran putus. Aku lebih memilih menolak lelaki yang mengajakku pacaran dan memilih pria yang melamarku”

                “Namun kamu juga cinta dan suka padaku kan waktu itu?”

                “Kalau itu sudah pasti dong.”

                Setahun setelah pernikahan kami aku memutuskan untuk mengambil residensi IPD (Sekolah dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam. Untuk sejahteran dan memperluas ilmu aku memutuskan untuk mengambil spesialisasi. Mawar yang waktu itu hamil 3 bulan juga setuju.

                Semua berjalan dengan baik, setlahnya. Aku berhasil menjadi residen yang tamat paling cepat dengan nilai tertinggi. Maha Suci Tuhan yang memberikan kecerdasan buatku. Dan anakku yang pertama seorang pria yang kuberi nama Harrison, sesuai nama penulis buku textbook penyakit dalam telah berumur 4 tahun ketika itu.

                ****

Rabu 23 Mei 2004 Istriku mengajakku untuk menonton pertandingan final voli SMA sekota Bandung. Dulu istriku juga seorang atlit volis seko9lah, jadi dia mengajakku untuk bernostalgia akan masa-masa ia masih menjadi atlit sekolah.

Harrison tidak ikut karena dia ada les bahasa Inggris, jadi hanya aku dan istriku yang duduk berdua,  berpacaran.

Kami belum punya anak lagi saat ini. Sempat aku berpikir Harrison akan menjadi anakku satu-satunya. Namun aku tau itu salah. Ada keinginan di hati ini untuk memberikan Harrison seorang adik cewek yang lucu untuk dia jaga dengan baik.

                Aku dan istriku duduk di podium sambil mengemil opcorn yang di jual di luar gor. Terlihat para atlit Voli SMA sudah berbaris dan bersalaman. Semuanya cantik, namun ada satu hal yang lebih menarik erhatianku. Wanita yang paling tinggi disitu. Ia memiliki alis tiis, bibir bewarna pink yang kecil dan mungil serta bulu mata yang lentik. Saat itu juga aku tau harus mendukung tim yang mana.

                “Baik para hadirin.” Komentator mulai berbicara. “Kita akan segera memulai pertandingan antara SMA 3 Bandung melawan SMA 23 bandung.”

                Bola di servis oleh pemain dari SMA 3 dengan sangat baik. Berhasil di tahan oleh pemain sma 23. Di oper lalu di tos ke atas namun seertinya agak terlalu tinggi tapi. Orang yang kutau anamnya Mawar dari belakang bajunya, yang sedikit menarik perhatianku itu memukul bolanya dengan kuat. Smashnya sangat kuat dan sulit unutk di blok. Aku takjub, istriku menganga.

                “Pa, itu pa. Untuk ukuran atlit SMA smash dia itu menakjubkan. Benar-benar powerful dan cepat.”

                “ia ma.”

                “Cantik lagi.”

                “aku terdiam.”

                SMA 23 unggul banyak poin. Smash mawar sangat susah diblok. Mereka mulai frustasi, sedangkan sma 23 dan pendukungnya makin semangat. Setiap pukulan Mawar masuk, tepuk tangan makin kencang. Namun ada pemain sma 3 yang berusaha membloknya malah terkena bola di kepala ia terjatuh.

                Semua penonton ribut, reflek dokterku langsung datang. Aku melihat tidak ada bantuan medis, sepertinya tidak ada dokter atau perawat yang mendampingi permainan ini. Aku mencoba turun podium setelah meminta izin istriku, turun kelapangan sambil berkata ‘saya dokter’ dan melihat korban yang terbaring lemah tak sadarkan diri.

                Aku cek nafasnya, lalu nadinya. Tidak ada gangguan pada vital signnya. Aku cek leher dan vertebranya, kakinya, tidak ada fraktur. Lalu aku lihat bagian kepalanya yang terkena bola, tidak terlihat adanya hematom atau tanda pendarahan.

                “Sepertinya hanya gegar otak ringan. Semuanya baik-baik saja tapi kita harus mencegah hal buruk yang bisa terjadi, sebaiknya dibawa ke rumah sakit dulu untuk di foto apakah ada pendarahan di kepalanya, lalu biar di monitor tanda vitalnya.”

                Saat itu semua terlihat mendengarku, dan aku baru sadar ada yang melihatku lekat-lekat. Mawar matanya menatapa seperti terpaku dan tertancap padaku. Aku melirik dia, ia membuang tatapannya.

                Mungkin inikah’ ah aku sudah punya istri bukan saatnya kagum dengan wanita lain. Setelah korban dibawa ke rs dengan ambulan. Pertandingan dilanjutkan dengan sma 23 sebagai pemenang. Dan aku tidak tau apakah ini hanya perasaanku saja, terlihat sekali-kali mawar menatapku ke ara podium untuk melihatku.

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4 Mawar

                “Jadilah orang yang bermanfaat Mawar.”

                Ia berkata demikian sambil mengelus-ngelus rambutku. Aku terus menangis di pangkuannya, kepalaku kubenamkan ke pahanya.

                “Banyak orang hidup di dunia tapi mereka kehilangan arah. Smua orang memiliki tujuan dan untuk itu butuh aturan. Ibu mu memarahimu karena dia ingin mendidikmu untuk tidak ceroboh. Memang vas itu tidak terlalu mahal namun tidak segala sesautu bisa diukur dengan materi bukan? Vas itu kakek yang belik saat rumah ini pertama di bangun.”

                “Ingat Mawar seburuk-buruknya orang adalah orang yang membuat kerusakan, dans ebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat.”

                Pikiranku melayang-layang ke masa lalu saat melihat foto nenek. Sosok perempuan tua berambut putih dan berbadan kurus itu memang sangat membuat candu padaku. Ia setiap harinya bisa meredakan tangisanku dan membuat hatiku hangat dengan nasehatnya.

                Aku ingat sekali hari dimana ia kubangunkan.

                “Nek bangun nek udah pagi, kok tumben ga bangunin Mawar.:”

                “Nek...... bangun nek.”

                Aku merasa sedikit cemas melihat nenek yang susah dibangunkan walaupun aku telah mengupayakn  yang terbaik.

                “Ma nenek udah duubangunin tapi ga mau bangun dan ga gerak.”

                Kataku memanggil mama yang sedang menyiapkan sarapan pagi.

                Mama mematikan kompor dan langsung berlari ke kamar nenek, wajahnya terlihart sangat cemas. Aku makin gusar.

                “Ma, bangun ma.” Mama menggoyang-goyangkan badan nenek.

                “Ma...!!!.”

                Mama kembali ke ruang keluarga mengangkat telepon dan langsung menelpon klinik terdekat dari rumah kami.

                10 menit kemudian datang ambulan yang membawa seseorang bapak dengan jas putih. Aku pernah melihatnya beberapa kali pada saat aku sakit. Mama memanggil orang berjas putih it dengan sebutan dokter.

                Dokter itu tampak mengecek mata nenek dengan senter, meraba leher nenek. Lalau ia menggeleng.

                “Saya turut berduka cita bu, Innalillahi wa Inna ilaihi rajiun. Beliau sudah tidak ada.”

                “Mamaaaa.” Aku melihat mama menangis ke dada nenek sambil mengenggam baju nenek. Ayah baru datang setelahnya karena mendengar keributan. Ia sudah memekai baju kantor dan melihat apa yang terjadi saat itu. Ia langsung membaca situasi, wajahnya terlihat sedih. Ia menggosok punggung mama sambil berkata “Biar Ma, Ibu sudah diangkat Tuhan. Insya Allah Khusnul Khotimah. Biarkan dia istirahat dengan tenang.”

                Apa maksudnya nenek diambil tuhan? Pikirku yang waktu itu masih berusia 6 tahun.

                Aku menarik-narik baju mama. “Nenek kenapa ma!.”

                Mama yang dari tadim terus membenakan kepalanya ke dada ennek mendekapku.

                “nenek meninggal sayang  katanya rilih dan pelan.”

                Meninggal, sesuatu yang kuingat ketika melihat ayah menonton berita di televisi. Kata itu sering terulang. Dan aku juga beberapa kali mendengar kalimat itu keluar dari TOA mesjid. Beberapa hal itu cukup untuk membuatku mengerti apa itu meninggal.

                “Maaaaa, kenapa nenek meninggal ma.”

                “Allah sayang dengan nenek sayang.”

                Aku lalu menangis sejadi jadinya. Salah satu orang yang kusayangi telah meninggal. Orang yang semua kalimatnya membuat atau menjadi insirasiku saat ini.

                ****

                “Mawar perkembanganmu baik.” Kata kak Doni setelah latihan hari ini.

                “termikasih kak.” Jawabku sambil menunduk

                “Kalau kamu tetap seperti ini kita bisa memenangkan kejuaraan.”

                “Inysa Allah kak saya akan berusaha. Kataku sambil tersenyum.”

                Biasanya aku ingin berlama-lama di dalam lapangan voli, namun aku tau Dodi selalu menungguku setelah pulang latihan. Ia tidak memiliki kegiatan ekstrakurikular sehingga dia menungguku sambil main Playstation di rental dekat sekolah. Aku sudah mengatakan tidak perlu menngguku, namun dia tetap mengulang kalimat ‘ini tanggung jawabku’ aku hanya bisa terdiam melihat pernyataan darinya.

                Di luar aku sudah melihat Dodi menungguku sambil mengisap rokok. Tangan kanannya memegang rokok dan tangan kirinya masuk kantong. Ia melakukan itu sambil menngadah ke atas. Dodi memang sahabat yang baik dan aku menyayanginya, hanya sebagai sahbat tentunya. Ada satu yang kubenci dari orang itu, kebiasaannya merokok. Berulang kali aku menasehatinya namun selalu saja masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ia mengatakan suatu saat akan berhenti namun kapan?

                “Aku ditampar ayah War.” Ketika ia menelponku malam-malam. Ayahnya memergokinya sedang merokok bersama temannya di sebuah warung. Dan waktu itu aku menasehatinya karena aku menganggap ini momen yang tepat untuk merubahnya, namun, tidak ada yang berubah.

Aku pernah mendengar kalimat “Once you go black”, You never come back yang aku lupa entah ini kalimat dari siapa. Yang jelasdia telah mengisap rokok dan rokok itu telah memperangkapnya sambil mengisap balik nyawanya.

                “Selesai?” ia mematikan rokoknya sambil menatapku. Ia tau sekali aku ttidak suka melihatnya merokok.

                “ia udah jawabku dengan senyum.”

                “yuk pulang.”

                “ayuk” aku membalas lagi.

                Kami berjalan bersama tanpa kata-kata. Aku sebenarnya bingung dengan sahabatku yang satu ini. Mengapa ia begitu setia menganggapku sebagai sahabat. Aku selalu berpikir jangan-jangan dia punya perasaan padaku. Namun pikiran it kubuang jauh-jauh karena tidak ingin melihat realita yang demikian. Dan aku harap itu benar, kami hanya sebagai sahbat. Tak lenih dan tak kurnag dari itu.

                Ia menaiki motornya dan aku dibelakangnya lalu motor membawa kami ke rumah kami, yang letaknya bersebelahan.

                Aku sampai di rumah dan Dodi menuju rumahnya. Hari itu rumah kosong, aku langsung masuk ke kamar.

Dimana ma aku mengirim sms kepada mama

Lagi belanja sayang, ada apa?

Ga ada apa-apa ma rumah kosong aja aku kira pada kemana. Ma minggu depan pertandingan pertamaku mama mau nonton?

Boleh sayang Insya Allah mama nonton. Kalau mama sedang enggak sibuk kami akan nonton berdua dengan papa, tapi kayayknya papa bakal sibuk minggu depan hehe

Ia ma. Makasih ma

Mama tidak membalas lagi. Aku benamkan mata dan tertidur.

****

                What first love make you feel? Semua orang pernah jatuh cinta. Dan semua orang jga punya yang naman ya ‘first love’. Namun di usiaku yang sudah 17 tahun ini aku belum menemukan sesuau yang membuat hatiku bergetar. Terkadang aku iri dengan anak perempua lain yang bisa dengan bahagia dan nikmartnya bersenang-senang dengan pacarnya. Saling bermesraan, tertawa bercanda. Namun hal itu sulit terjadi padaku. Namun ini bukan mengartikan aku tidak laku, banyak yang mendekatiku namun aku abaikan. Beberapa bahkan berani menmbakku namun kutolak secara halus. For me first love is something that make you feel in different dimension for first time, something that make heaven fallen from sky to tour space

                Namun hari it semua berbeda. Aku tidak tau siaa dia. Di laga final bola voli saat aku memukul smash ke wajah lawan dan lawan itu terjatuh. Disitu pertama kali ahtiku bergidik. Aku merasakan sesuatu yang tidak biasa, berdebar namun nyaman. Dan it daatang dari seseorang, lawan jenisku, seorang pria. Punggungnya tegap dan ia memakai kaos bertuliskan angka2 dibagian depan. Kaos itu bewarna abu dan membentuk seperti bentuk pundaknya yang lebar. ‘when it come at first time, time will stop in a few second’. Itu kalimat yang kudapat dari Dara, sahabat kelasku yang berasal dari Aceh. ‘an d i fel it now.’ Time really stop for me.’

                Ketika waktu kembali berjalan aku melihat orang itu mengecek tubuh orang kena ukulanku. Dia memegang di beberapa bagian. Lalu seperti memeriksa nadi di lehernya.

                “Mungkin Cuma gegar otak, segera panggil ambulan dan bawa ke rumah sakit. Tidak ada masalah dengan tanda-tanda vitalnya.”

                Apa itu tanda-tanda vital? Namun aku tidak terlalu peduli dengan kalimat yang pengertiannya itu tidak aku ketahui. Aku lebih tertarik pada kenyataan bahwa saat ini aku merasakan cinta pertama ku. ‘something what people call first love, actually i feel it’.

                Sepanjang pertandingan fokusku terganggu, aku jadi sekali-kali melirik kepadanya. Aku melihat ada wanita disampingnya yang mungkin itu istrinya. Itu sejenak membuat hatiku sakit, namun aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Terkahir aku melirik dia dia sedang mengangkat telepon, dan lirikan berikutnya dia bersama wanita di sebelahnya tidak ada lagi. Aku merasa kehilangan sesuatu, namun aku bisa fokus kali ini. Untunglah aku masih bisa menjaga performanceku dan kami menang. Di saat kak Doni dan teman-teman mengangkat piala dan merasakan euforia kemenangan. Alu merasakan hal yang lain, aku merasakan cinta.

                               

 

  • view 176