Season 3 ( he said his name is Vicky)

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Mei 2016
Season 3 ( he said his name is Vicky)

Season 3

                Pernah suatu malam seseorang yang menjadikan bumi tujuannya terbangun. Ia melihat ke bintang yang ada diangkasa di balkon lantai 2 rumahnya. Malam itu jam sudah menunjukkan pukul 02.00 Satuan Waktu Pluto. Ia coba melihat berbagai bintang dengan rasi yang baru ia pelajari disekolah tadi. Semuanya indah. Ia percaya ini semua dibuat oleh Tuhan, atau bahasa lainnya ‘the creator’. Lalu ia coba melihat sebuah kilauan cahaya disana yang tak berkelap-kelip. Tepat dari situ ia melihat sebuah planet ketiga dari matahari yang bernama bumi. Ia angkat tangannya dan mencoba mengenggamnya. Ia tau suatu hari ia akan kesana bersama Lila untuk melihat misteri dibalik misterius itu. Mereka tidak menanyakan kepada siapapun. Amereka simpan ini semua untuk menjadi rahasia mereka berdua.

                2 Marai 6035

                “Baik sampai sini pelajaran hari ini.” Profesor Narasmus menutup kuliahnya.

                Neru yang sedang duduk dan diam mengirim pesan singkat kepada Lila. Ia mengajaknya untuk pergi ke bukit belakang kelas.

                Ada apa?” Tanya Lila heran. Kamu ingat tanggal berapa ini?”

                “6 Marai? Emang ada apa?”

                “Ini hari dimana kita menjadikan bumi sebagai tujuan kita. Ini hari dimana kita memutuskan untuk menjadi seorang Astronom dan bercita-cita di Univ kita sekarang. Univ terbaik di Pluto.”

                “Oh iya maaf aku benar-benar tidak ingat.”

“Ya tidak apa.”

                “Kamu sudah membuka pengumuman tentang audisi untuk menjadi astronaut?”

                Hah.aku belum mendengarnya.”

                “ini.” Neru memberikan secarik brosur ke Nira. Brosur tentang audisi untuk menjadi astronot ke Bumi.

                “Ini benar/” kata Nira setelah membacanya.

                “Ya.” Neru tersenyum santai.

                “Aaaaaa, mungkin inilah jalan kita menemukan arti dari buku misterus itu.”

                Lila memeluk Doni dengan sangat senang.

                “Hmmm, Ini  dibuka Nix depan ya.” Kata Lila sambil membaca kembali brosurnya.

                “Ya. Kita akan ikut kan?”

                Tentu” Nira tersenyum menatap Neru.

*****

                “Tolonggggg.”

                Aku melihat seseorang berteriak meminta tolong di kegelapan. Tapi aku tidak bisa menemukan sumber suara itu. Dimaa aku harus mencari jawaban?

                “tolong.”

                Sepertinya dari sebelah kananku. Aku terus berlari di ruangan  tak jelas ini. Benar-benar pengang dan sangat gelap. Ada pintu besar, mungkinkah orang itu dibalik pintu itu? Aku berusaha membuka pintunya namun sangat berat. Aku kerahkan seluruh tenagaku. Akhirnya pintu itu dapat dibuka.

                Terlihat seseorang dengan badan sangat kurus di rantai. Mulutnya mengeluarkan darah, tangannya dirantai. Ia seperti terkena penyakit yang sangat hebat.

                Orang itu menengadah dan dia melihatku, matanya seperti penuh berharap. “Tolong aku lepaskan rantai ini, cepat, jika terlambat dia akan melihat kita.”

                “Siapa dia?” Tentu aku bertanya terhadapa pernyataan anehnya.

                “Sesuatu yang sangat mengerikan, yakinlah kamu akan sungguh menyesal jika melihatnya.

                Mulutnya muntah darah lagi, aku langsung bergerak cepat  untuk membebaskannya. Ternyata rantainya dikunci.

                “Ambil kapak didinding itu, putuskan dengan itu.”

                Tanpa berpikir panjang aku langsung mendengar kata pemuda itu. Aku  mengambil kapaknya dan lansung menghujamnya ke rantai itu. Satu rantai terlepas dan tinggal satu lagi.

                “Bawa aku keluar dari sini.” Orang itu berkata dengan sangat lirih.

                Aku bopong dia untuk keluar dari pintu namun tiba-tiba sebuah bayangan hitam terlihat mendekat dari sebelah kiriku. Bayangan iu seperti membawa kengerian yang sangat luar biasa. Aku mencoba menatap bayangan itu dan tiba-tiba ia masuk kedalam bola mataku dengan sangat cepat.

                “Arghhhhh."

****

                Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Aku dan Lila yang telah mendaftar kini berada di aula penyambutan. Disana terlihat banyak sekali orang, jika benar apa kata petugas tadi, jumlah pesertanya mencapai 2 ribu orang. Baik lelaki maupun perempuan, berkisar dari umur 15-25, sesuai perrsyaratan yang tertera di brosur.

                Terlihat orang-orang yang mendaftar punya badan yang baik dan tinggi. Kesehatan mereka juha terlihat prima, dan wajah mereka penuh semangat. Bagaimana  mungkin dari 2000 orang hanya akan terpilih 4 peserta.

                Aku melihat ke wajah Lila dan tampak ia terlihat cemas. Tiba-tiba wajahnya berpaling kepadaku. “Bagaimana ini Neru? Mungkinkah kita lolos?”

                Mendengar pertanyaan itu aku pun tidak tau menjawab apa. Hanya orang-orang special  yang bisa terpilih. Apakah aku special?

                Rame sekali ya.  Tiba-tiba seorang pria di sebelah kananku tampak seperti berbicara yang ditujukan kepadaku.

                “Hmm iya.” Kata aku menjawab sambil tersenyum.

                “Kenalkan aku Vicky, dari desa Netherland.”

                “Wah desa netherland?”

                “Ya.” Ia menjawab dengan tersenyum.

                Desa netherland,  desa yang konon katanya diciptakan Tuhan ketika ia sedang tersenyum, bagaimana tidak, disana tempat dimana udara salju yang paling nyaman, sehingga kadang kita tidak memerlukan jaket yang besar untuk kesana. Lalu desa itu merupakan tempat yang konon katanya jia kita melahirkan disana, maka anak kita akan pintar dan rupawan.  Aku tidak tau itu mitos atau bukan namun aku selalu memiliki keinginan untuk berlibur kesana, namun sepertinya aku Cuma belum punya  kesempatan. Untuk kesana maka aku harus menaiki kereta api selama 8 jam. Pernah suatu ketika aku menanyakan kepada ibu agar kami semua berlibur kesana? Namun ia melarangku.

                “Ya terimakasih sudah dating.”

                Suara muncul dari speaker dan terlihat seseorang  berdiri di panggung tengah aula.

                “perkenalkan saya “Nexi.” Direktur utama Pluto Space Association (PSA). Mungkin kalian sudah tau mengapa kalian disini. Kami akan mengadakan tes  untuk mencari bibit terbaik dari yang terbaik. Dari lebih kurang 2000 orang peserta yang ada disni akan diseleksi hingga terdapat 4 orang peserta yang terdiri dari 2 lelaki dan 2 perempuan untuk menjadi astronaut yang akan diterbangkan ke planet yang paling mungkin juga memeliki kehidupan seperti kita, tentu kalian sudah tau, planet ketiga  dari matahari, BUMI.”
                “Maka dari itu aku harap kalian semua melakukan seleksi dengan sebaiknya dan jika kalian gagal,  berbesar hatilah.”

                “pengarahan akan disampaikan ke ketua panitia tes ini, silahkan Joyce.”

                Tampak seorang ibu-ibu dengan kacamata hitam dan rambut berdiri ke atas naik ke panggung.

                “ya anak-anak/”

                Ia mulqi berucap dengan bibir merah mudanya yang tebal.

                “Selamat dating kami ucapkan sekali lagi. Sekarang coba kalian semua memeriksa dibawah bangku kalian disana ada nomor yang kami tempatkan secara acak. Kalian semua akan dibagi ke 20 grup besar. Kami akan mengambil satu yang terbaik dari setiap grup untuk masuk ke jajaran 20 besar. Semoga  kalian siap ya, terimkasih.”

                Aku dan Lila merogoh k bawah kursi kami, aku di grup 5 dan nira grup 19.

                “Sepertinya grup kita sama.” Tiba-tiba Vicky berkata disebelahku.

                “hah benarkah?” Aku bertanay lalu ia memperlihatkan  kertas bertuliskan angka 5.

                “hehe selamat berkompetisi.”

                Adrenalinku naik, aku rasa orang ini akan sulit dikalahkan  tapi aku  akan tunjukkan bahwa aku bisa menjadi yang terbaik.

  • view 79