NOVEL HARIAN 2

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
NOVEL HARIAN 2

SEASON 2 (THE DISAPPEAR OF LIGHT SHADOW)

                Dahulu kala, pada tahun 2035, seorang raja Pluto berkhutbah dihadapan 2000 Venor. Ia berkata “Musibah akan datang, musibah akan datang.” Awalnya mereka tidak mengerti apa yang dimaksud dengan musibah itu, namun seseorang yang disebut Nareha yang merupakan Venor terbaik mengatakan bahwa ketakutan raja itu berasal dari mimpinya.

                Jujur semua venor ketakutan. Tidak ada yang meragukan antara hubungan Nareha dengan sang creator. Mereka tau ialah perantara terbaik dan paling suci antara hubungan ‘yang diciptakan’ dengan sang creator.

                Kabar pun meluas dan menjadi perbincangan tidak hanya kepada Venor, namun juga seluruh rakyat Pluto. Semua menerka apa yang akan terjadi kepada planet mereka. Apakah sebuah meteor yang besar akan jatuh? Dan membelah planet mereka menjadi sembilan pecahan? Ataukah akan ada wabah virus yang membunuh semuanya satu per satu?

                Di altar peribadatan rakyat Pluto. Yang bentuknya segi 6 dan di pusatnya terdapat sebuuah kristal biru dengan panjang 30 meter yang dianggap batu paling suci. Menurut sejarah, ketika Venia, manusia pertama Pluto diciptakan batu itu sudah ada disana.

                Dan kejadian buruk terjadi 50 hari setelah khutbah raja. Cahaya biru pada kristal yang disebut ‘the one’ itu mati. Redup dan hilang kilauannya. Itulah awal ketakutan seluruh masyarakat. Mengapa kristal suci itu tidak bercahaya lagi. Apa benar ini ada hubungannya dengan khutbah sang raja.

                3 hari berikutnya ada kabar bahwa seminggu dari sekarang akan ada meteor besar yang jatuh. Semua rakyat percaya karena hal itu muncul dari mimpi Nareha . Akhirnya raja berpikir keras tenteng apa yang harus dilakukan, pada hari itu juga dibuatlah sebuah terowongan bawah tanah yang besar, seluruh pria bahu membahu dalam membuat terowongan itu. ‘Armageddon’ akan segera tiba.

                Hari itu pun tiba. Pukul 09.00 satuan jam Pluto semua rakyat sudah berada di ruangan bawah tanah. Beberapa kesatria istana berjaga diluar untuk melihat meteor itu.

                “Semua lihat!” Salah seorang  kesatria berteriak sambil menunjuk ke arah timur. Disana muncul bola merah yang sangat nyata, besar dan siap menghunus. Semua kesatria berlari memasuki pintu terowongan dan menutupnya. Semua berpikir mungkin inilah akhir dari nasib mereka.

                ****

                Neru menutup buku sejarahnya dan tertidur panjang. Setelah ia terbangun ia sadar bahwa tadi ia bermimpi dengan sangat mengerikan. Apa yang ia baca hadir dalam mimpinya.  Ia merasakan sendiri bagaimana meteor itu jatuh dan membuat Pluto rata dengan tanah. Pikiranya kacau dan resah pagi itu. Ia keluar dari kebiasaan minum air di paginya dan kembali membuka buku itu.

                ****

                Meteor meratakan seluruh pluto dengan tanah. Namun untungnya terowongan bawah tanah masih berdiri kokoh. 3 hari kemudian pintu terowongan dibuka dan disana rakyat melihat kehancuran di dunia es mereka. Peradaban mereka tinggal kenagan dan mereka harus membangun peradaban lagi dari awal.

                ****

                (Lila side story)

                Aku tidak tau itu apa. Yang jelas ini sangat aneh. Aku bermimpi berjalan dimalam hari di pabrik SMILE dan melihat sebuah kristal biru yang terang. Mimpi itu terasa nyata. Aku memegang kristal biru itu dan ia seolah bicara padaku. Seolah dia mengatakan ‘tolong aku’..... Aku pun kembali bertanya ‘Bagaimana aku bisa menolongmu?’  Kristal itu kembali berkata, ‘temukan aku’. “Dimana?” Aku kembali bertanya. Lalu aku seperti mendapat sebuah halusinasi berupa gambaran. Gambaran itu menunjukkan sebuah gambaran yang samar akan sebuah bangunan yang berbentuk segi enam.

                Kerasahan memenuhi kepalaku dan aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Disitulah aku coba berbicara dengan orang yang paling kupercaya. Aku menceritakannya pada Neru sore itu di kebun bunga terindah, kebun bungan edelweiss. Neru pun mengatakan tentang buku yang dibacanya.

                “Buku apa itu? Rasanya selama disekolah tidak pernah diceritakan sejarah seperti itu.”

                “Ya, aku juga tidak pernah mendengarnya. Buku ini kutemukan di gudang rumah, ketika aku sedang mencari cincinku yang hilang.”

                “Jadi yang kaumaksud dengan bangunan segi enam itu Altar peribadatan?”

                “Ya, begitulah jika menurut buku yang aku baca.”

                “Lalu kira-kira altar itu dimana?”

                “Aku masih belum tau, apa kau mau mencarinya?”

                “Mau aku ingin.”

                Aku suka tantangan.

 

                *****

                Hari ini Neru berjani akan membawa buku itu.

                “Aku baru sadar ada yang aneh dengan buku ini.”

                “memang apa yang aneh?”

                “Lihat di bagian belakang, ada tulisan yang sulit dimengerti.”

                Hah tulisan ini? Sepertinya aku pernah melihatnya, namun dimana?

LJX KMEVXCB PXWR VL WJLVXC KMEVXCB

                Bagaimana cara memecahkannya? Aku tidak mengerti dengan tulisan ini. Apa yang harus dilakukan untuk memecahkannya? Aku sudah belajar banyak tentang bahasa sandi namun yang seperti ini sama sekali belum pernah kulihat, benar-benar tidak ada pola.

                “Lihat ada tulisan kecil terbalik di sudut bawah kiri cover belakang.”

“Oh ya?” Nero sepertinya belum melihatnya. Ketika kamu membalik disana tertulis.

                Pergilah ke planet ketiga dari matahari, disana kalian akan menemukan jawabannya.

                        Planet ketiga dari matahari? Bukankah itu bumi? Planet ketiga dari sistem tata surya kami yang orbitnya mengitari bumi, memang ada apa disana?

                Aku dan Neru saling berhadapan lalu kami sama-sama mengangguk. Sepertinya aku dan neru berpaham sama, kami akan ke pusta negara untuk mencari tahu tentang “BUMI”.

 

 [sa1]

  • view 125