NOVEL HARIAN 1

Muhammad Shanan Asyi
Karya Muhammad Shanan Asyi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
NOVEL HARIAN 1

SEASON I (is anything have live than Pluto live?)

                “Kehidupan yang membunuh sukma? Itukah yang kau inginkan Doni? Bodoh sekali dirimu.”

Ada satu masa dimana aku percaya bahwa mentari tak selamanya berbentuk mentari, kadangkala ia menyerupai segitiga bahkan menyerupai bulan sabit. Sayangnya itu hanya ada dalam dasar pikiranku yang tak berujung.

                “              Kau dengar aku Doni? Kau tidak lebih dari seonggok sampah.”

                Aku juga percaya bahwa manusia memiliki kekuatan yang tak terbatas. Tapi mungkinkah? Vertebra manusia bisa memecah sebuah satuan global berbentuk bulat yang katanya tercipta jutaan tahun melalui proses tata surya.

                “Mengapa kau diam? Kau pikir ini semua hanya mimpi? Aku nyata dihadapanmu!”

                Dan orang yang berteriak dan menganggap orang lain sampah mungkin mereka lah sampah sebenarnya.

                Aku tidak boleh diam, harus ada cara, harus ada cara untuk keluar dari ruangan berbentuk kubus tak beratap ini.

                “Doni? Kau mau lari? Kau pikir kau bisa mengalahkan kecepatanku?”

                Ingat hukum Newton 1, aksi reaksi, jika ada aksi sebesarnya maka akan ada reaksi yang sama. Bahkan mungkinkah reaksi menjadi lebih besar daripada aksi? Aku bingung.

                TAKK

                Hampir saja kena, aku harus mencari jalan untuk kabur.

                “Kau tau DONI?! Ajalmu sudah tiba.”

                Aku tak terpengaruh aku tau akan menang. Mungkin jalan disana yang akan memimbingku.

                “Awwww.”

                Salah bukan ini. Aku ingat apa katanya. Ia berkata ikutilah jalan paling terang dari yang terterang. Maka kau akan melihat sesuatu yang sangat terang.

                “Doni jangan kabur, mau lari kemana kau.”

                Jalan terang? Apakah  itu? Bagaimanakah itu? Jalan paling terang. Hemm apakah disana? Sebelah kiri dari bilik ke tiga. Itu tempat dimana cahaya berpendar lebih terang dalam bola mataku. Baik kesana.

                “Kau mau kabur kesana? Hahhaa. Percayalah padakuy, jalan itu buntu.

                Mau buntu atau tidak aku tidak peduli, aku yakin disana. Disana lah jalan paling terang.

                “Sudah kukatakan ini buntu, kini kau terjebak. Mau kemana lagi?”

                Bagaimana bisa, bukankah ini jalan paling terang. Tak mungkin seorang Venor bisa berbohong. Bukankah mereka yang disebut perantara manusia dan Tuhan.

                “Hahahahha habis kau.”

                atau ada maksud lain dibalik kata Venor? Apa? Ayo berpikir, kamu bisa Doni.  Berpikir,  jangan diam dan melamun.

                TAKK

                Dia pikir sebuah benda kecil bisa menjatuhkanku? Aku hidup sudah tiga abad dan sedikit kekacauan tidak akan membunuhku.

                Apa itu? Jangan yang dimaksud jalan paling terang. Aku mengerti!.

                “Mau kemana kamu? Arghhhhhh. Tidak, jangan kesana tidak.!”

                A...... a..... ku akan ma....

 

****

                27 century ahead, In a room called Sinclair, Winter in Pluto.

“Bunga ini mekar indah.”

“Kamu suka bunga itu?”

“Ya aku suka.”

“Bagiku kamu lebih indah dari bunga itu.”

“Hahaha, tidak mungkin.”

“Haha iya.”

                Kamu tau Lila aku suka kamu, suka sekali. Aku selalu heran dengan apa yang kamu lakukan waktu itu. Kamu memberi makan bagi singa salju yang lapar. Dan aku selalu berharap menjadi singa salju itu. Taukah kamu di abad ini bahwa kenagan terindah yang bisa muncul pada diri manusia adalah cinta, dan kau cnta pertamaku yang kuharap jadi cinta terakhir. Aku tak tau itu mungkin atau tidak, aku hanyabisa berkata semoga.

                “Neru lihat.”

Bunga yang ia angkat itu berkibar dan berkibas indah. Aku tau dan tidak mengerti.

                Sudah saatnya masuk ke rumah nanti ayah akan marah. Tapi aku masih ingin bersamanya, bagaimana ini?

                “Lila. Bolehkah aku masuk kedalam rumah?”

                “Boleh tapi kau janji akan menemuiku lagi disini esok?”

                “Ya aku janji.”

                Kelingking kami berkait dan aku tau bahwa hati kami juga berkait.

                Aku selalu heran dengannya. Dengan sosok yang aku panggil ayah itu. Di malam yang dingin ia terus saja melihat bintang-bintang bersama cerutunya. Sebenarnya apa gunanya, bagiku bintang-bintang itu tidak lebih dari seberkas cahaya yang timbul akibat panas berlebihan. Memang sebenarnya pa yang dipikirkan ayah? Apa yang diidam-idamkannya? Haruskah aku bertanya?

                “Ayah.”

                “Kamu tau Neru, bintang itu adalah sesuatu yang paling indah. Ia cahaya yang hadir dari sebuah proses yang panjang. Dimana energi dikeluarkan dalam bentuk panas yang tajam. Namun ada yang aneh, itu tidak habis, sebagaimana bentuk energi yang katanya kekal. Itu didapat dari ilmuwan yang bernama Colorado. Ilmuwan terhebat dari desa Nurkaha, itu yang memberikan kenyataan dan membuat terciptanya banyak penemuan baru di planet kita.”

                Aku bingung dengan ayah, aku hanya memanggilnya dan ia langsung menjawab pertanyaanku. Mungkinkah ia bisa membaca pikiranku?

                “Aku tidak membaca pikiranmu. Aku hanya menebak isi kepalamu.”

                Aku makin terkejut.

                “Kau tahu, banyak orang dan ilmuwan kita yang khawatir, adakah kehidupan selain di pluto. Ada sebuah planet ke 3 dari matahari yang bernama bumi. 20 tahun  yang lalu seorang ilmuwan dikirim kesana. Ia bernama Majesty. Dia adalah orang yang diberi kepercayaan untuk meneliti planet yang terlihat hijau itu. Bagaimana bisa planet itu bewarna berbeda dibandingkan dengan planet lainnya. Setelah ia diberangkatkan dengan roket tercanggih pluto pada saat itu, semua kehilangan kontak dengannya. Tidak ada kabar sama sekali, dan setelah orang-orang mulai melupakannya dan menganggapnya mati. Sebuah bola bulat yang terdiri dari titanium jatuh di gunung Erasmus. Setelah dibuka ternyata isinya adalah majesty, seseorang yang tidak kembali selama 30 puluh tahun.”

                Aku mendengar dengan khidmat apa kata ayah, belum pernah aku mendengar cerita ini.

                “Setelah ia sadar, ia mengatakan bahwa di planet itu tidak ada kehidupan. Yang ada hanya sebuah daratan yang bewarna hijau dan disertai dengan es biru.”

                ?

                “Sejak saat itu semua orang yang percaya padanya yakin kalau kehidupan hanya ada di planet kita ini.”

                “Terimakasih ayah.”

                Sudah saatnya aku tidur.

               

                ****

               

  • view 97