Tentang (misteri) Jodoh

muhammad irfan ilmy
Karya muhammad irfan ilmy Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Tentang (misteri) Jodoh

Hari Sabtu tanggal 27 Desember adalah waktu yang begitu saya tunggu. Kang Fahd Pahdepie (penulis buku perjalanan rasa, rahim, hidup berawal dari mimpi dan rumah tangga) kembali akan datang ke Bandung sebagai pemateri talkshow novel terbarunya berjudul ?Jodoh?. Pertemuan bersama penulis favorit menjadi agenda wajib yang harus diikuti?setidaknya untuk diri saya sendiri. Akan ada sesuatu hal yang baru merasuki hati sebakda pematerian usai dan diskusi berakhir. Kita (saya) pulang dengan senyum yang tersungging dan rasa penasaran yang telah terpuaskan.

Behind the scene menghadiri talkshow buku jodoh

Di hari yang sama sebenarnya saya tengah mengikuti kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (P2M) di himpunan saya?himpunan mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI. Tempatnya di desa Banjarsari, Pangalengangan Kabupaten Bandung. Secara otomatis saya harus memperhitungkan waktu untuk bisa sampai di Kota Bandung sebelum jam 14.00 WIB (karena acara talkshow-nya jam segitu). Akhirnya ketika teman-teman DPM lain pulang siang hari (karena ada acara makan-makan di rumah teman di Pangalengan), saya harus pulang duluan. Merelakan kesempatan makan bersama yang sensasinya tentu selalu istimewa bagi saya. Tapi, memilih adalah konsekuensi bagi manusia yang secara fitrah jasadnya tak bisa dibagi-bagi. Ada di dua?atau lebih?tempat secara bersamaan.

Saya pulang lebih dulu bersama Rizka Rudiansyah (Ketua Tutorial UPI 2015) karena dia berencana mau pulang ke Majenang Jawa Tengah nanti sorenya. Katanya mau istirahat dulu untuk persiapan perjalanan jauh berjam-jam. Akhirnya saya tiba dengan selamat di kontrakan pada pukul + 12.00 WIB. Saya berangkat ke lokasi talkshow (Gramedia Merdeka) sekitar pukul 13.40 WIB dengan Dhafa (teman satu kontrakan).

Acara talkshow

Sudah hampir 30 menit berlalu dari jadwal yang seharusnya dimulai acara talkshow buku jodoh. Namun, kang Fahd tidak kunjung muncul. Ada yang bilang kalau ia terjebak macetnya jalanan kota kembang. MC?yang belakangan saya baru tahu kalau namanya Nira?mencoba mengisi kekosongan waktu yang ada. Ia mencoba menanya kepada para peserta tentang makna jodoh menurut perspektif masing-masing. Beberapa peserta yang berani, diganjar dengan hadiah berupa payung berwarna merah. Peserta yang mencoba menjelaskan definisi jodoh ada yang menyebut bahwa jodoh adalah pasangan?bagi laki-laki adalah perempuan, begitupun sebaliknya?yang membuat kita tenang dan nyaman ketika bersamanya. Ada pula akang-akang yang dengan berlaga serius menjawab ?jodoh itu, kamu? sambil melihat ke arah teh Nira. Riuh sorak sorai peserta talkshow membahana di tempat berlangsungnya acara. Dasar gombal.

Setelah menanti cukup lama akhirnya sang pembicara tiba juga. Para peserta sontak melihat ke arah belakang, tempat di mana kang Fahd berdiri. Tepat di depan lift. Saya kira, para peserta bersorak kegirangan dengan ekspresi masing-masing demi merayakan datangnya kang Fahd. Termasuk saya juga sebenarnya. Kang Fahd langsung berjalan setengah berlari menuju tempat yang telah disediakan.

Teh Nira memainkan perannya sebagai pemandu acara dengan sangat lihai. Ia mulai bertanya-tanya hal-hal ringan terkait pribadi sang penulis novel jodoh. Nampaknya ia memiliki jam terbang yang tinggi dalam hal per-MC-an. Setidaknya saya dan teman saya bisa sedikit menekan rasa kesal atas keterlambatan yang terjadi.

Kang Fahd dengan gayanya yang khas dia?santai, humoris, cool, smart?mulai berbincang perihal kehidupan pribadinya seperti nama dirinya yang kurang familiar di tempat dia lahir. Pernah ketika kecil dulu petugas pembuat akta kelahiran bingung dengan nama Fahd bahkan salah malah menyebutkan Fahad. Itu hanya sebagian dari risiko dari pengambilan keputusan yang anti mainstream.

Selanjutnya, perihal penggunaan nama pena Fahd Djibran di beberapa buku yang ditulisnya adalah karena latar belakang tertentu. Waktu masih muda kang Fahd mengirim tulisan?saya lupa apakah cerpen, puisi, atau opini?dengan nama penulis Fahd Pahdepie. Tapi tulisannya tidak kunjung dimuat. Lalu digantilah nama Pahdepie menjadi Djibran. Mungkin ini terinspirasi dengan nama Gibran pada nama belakang Kahlil Gibran. Penggunaan kombinasi huruf ?Dj? menggantikan huruf ?G? adalah untuk membedakan supaya tidak sama persis 100%. Lalu ini sukses membuat orang-orang bertanya apakah antara kang Fahd dan Kahlil Gibran ada hubungan saudara atau tidak. Padahal mungkin ini hanya keisengan saja yang pada akhirnya tetap mencuri perhatian banyak orang.

Pematerian dari kang Fahd

Di bagian ini saya hanya mengutip perkataan kang Fahd (yang saya rekam) dan saya tulis kembali dengan beberapa pengubahan tanpa mengganti esensi. Pematerian sekitar 1,5 jam terlalu panjang jika dituliskan semuanya. Berikut kutipannya:

Ditengah beragam definisi tentang takdir dan nasib. Setelah kita menelaah beragam literatur?dari segi agama ataupun budaya?menyatakan bahwa takdir itu tidak bisa diubah. Sementara nasib bisa. Takdir berasal dari bahasa arab, dari akar kata qadara yaitu ukuran-ukuran. Hal yang mengandung prinsip sebab akibat. Misalnya hukum gravitasi. Ketika kita melempar sesuatu ke atas, maka sudah pasti benda yang dilemparkan tersebut akan kembali ke bawah.

Takdir adalah ukuran-ukuran atau titik-titik kemungkinan. Atau kita dapat memahaminya sunatullah. Jumlah titik kemungkinan yang diciptakan Tuhan itu bertriliunan, bahkan tak terbatas. Misalnya saja kita hendak mengikuti sebuah acara, itu adalah titik ukurannya. Tapi dilain sisi ada kemungkinan lain, semisal kita nyetir mobil ugal-ugalan, tiba-tiba kecelakaan. Pada akhirnya kita tidak jadi menghadiri acara yang dimaksud. Semua titik yang sudah dieksekusi itu jadilah nasib. Hal yang sudah terjadi tidak bisa diubah, kecuali apa yang akan terjadi di masa mendatang. Lalu apa kaitan semunya itu dengan jodoh? Jodoh adalah cara kita untuk mengeksekusi titik-titik kemungkinan itu. Yang tidak bisa diubah itu adalah waktu. Waktu tak ubahnya sungai yang terus mengalir dari hulu ke hilir. Tapi, pada intinya kita tidak bisa mengulang waktu. Jodoh itu bergantung pada cara kita mengalir bersama-sama di aliran waktu itu dan cara kita memutuskan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Jadi, kalau saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada isteri saya sejak saya kecil belum tentu kita berjodoh. Karena bisa saja pada waktu itu saya memutuskan kemungkinan yang lain. Bisa saja waktu itu saya tidak mengikuti perasaan jatuh cinta pada Rizqa, biarin aja lah ngga penting deh. Saya coba sama yang lain saja.

Pada saat orang sudah menikah, cinta itu bisa naik turun. Bisa timbul rasa tidak percaya, timbul keraguan. Itu adalah sesuatu hal yang wajar. Tapi, tidak serta merta ketika kita tidak mencintai pasangan kita, kita tidak berjodoh. Itulah sebabnya banyak orang yang sudah kadung bercerai karena berpikir tidak berjodoh, tapi setelah bercerai, sebenarnya masih ada rasa sayan. Bisa balikan lagi ngga yah? Dan kelanjutan dari cinta itu tergantung pada bagaimana kita membuat keputusan-keputusan dalam menjalaninya.

Bagi yang tertarik minta video rekamannya nya bisa hubungi saya. Memang tidak semuanya saya video karena cangkeul megangin kamera. Tapi lumayan bagi yang tidak berkesempatan datang ke acaranya.

Foto bareng dan book signing

Di setiap agenda bedah buku, seminar, atau talkshow dan sejenisnya saya selalu ingin mengabadikan momen bersama para pemateri. Waktu tak bisa diulang kembali begitupun momen yang menyertainya. Setidaknya dengan berfoto bersama lalu menguploadnya ke media sosial?IG, Tumblr, FB atau twitter?kita dapat mengenangnya lebih lama. Atau sekadar menyimpannya di folder tertentu di laptop untuk kemudian pada suatu saat foto tersebut ditengok kembali. Begitupun dalam acara ini. Tidak saya sia-siakan untuk berfoto dengan pemateri yang merupakan salah satu penulis favorit saya. Bahkan saya bela-belain beli lagi (karena sudah punya) hanya sebagai tiket untuk berfoto dengan penulisnya. Padahal nyatanya untuk bisa berfoto tidak harus bawa buku juga bisa. Ini beberapa koleksi foto saya bareng kang Fahd:

?

Acara selesai. Kita pulang dengan isi kepala yang kembali luber dengan motivasi dan inspirasi, setidaknya bagaimana bersikap dalam menanti dan mengupayakan menjemput jodoh di ruang tunggu yang dipunya. Menuliskannya lewat media blog menjadi salah satu ikhtiar untuk membuat saya mengingat apa yang telah saya tangkap di kepala. Terakhir, untuk yang belum baca novel jodoh, saya sarankan untuk segera membelinya di toko buku terdekat. Rasakan sensasi senyam-senyum sendiri, melting, merasa kalau itu adalah kisah kita sendiri, dan beragam pengalaman tak terjelaskan yang hanya bisa dirasakan ketika dialami sendiri. Selamat memperkaya perspektif kita tentang makna jodoh. Selamat berpiknik melalui media buku yang unik.

Wallahu A?lam Bi al-Shawab.

Diselesaikan di Cikondang-Cineam

4 Januari 2016

*Sumber gambar: dokumen pribadi

Tulisan ini bisa juga dibaca di sini

  • view 133