Belajar Memaafkan

Muhammad Amin
Karya Muhammad Amin Kategori Renungan
dipublikasikan 04 April 2018
Belajar Memaafkan

Di sebuah negeri antah berantah, ada sebuah kerajaan yang berdiri dengan megah. Raja dan ratu memiliki beberapa pegawai kerajaan yang sangat dibanggakan. Suatu hari, salah satu pegawai, sebut saja Nirah. Ia diberi tugas oleh sang raja untuk membuat jamuan makan untuk rakyatnya. Nirah pun meminta bantuan pegawai yang biasa memasak untuk mempersiapkan segala halnya.  

Tetapi, petugas memasak rupanya tidak membantu setulus hati. Mereka merasa tidak pernah mendapat jatah makanan yang mereka masak sendiri. Akhirnya beberapa bahan-bahan makanan yang harusnya dimasak untuk rakyat, dimasak dan dimakan sendiri oleh petugas memasak. 

Awalnya Nirah biasa saja. Ia tak pernah curiga pada siapa pun. Tetapi, menjelang jamuan makan, ia baru sadar kalau bahan-bahan yang dibutuhkan kurang. Hal ini tidak biasanya terjadi. Ia pun berjalan-jalan di tempat memasak jamuan dan menemukan beberapa bahan yang sepertinya sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia hanya berprasangka baik, mungkin saja ini memang bahan-bahan dapur yang dibeli sendiri. 

Beberapa saat kemudian, salah satu petugas memasak bilang, 

"Nirah, kemarin saya mengambil beberapa bahan yang digunakan untuk jamuan." Petugas memasak itu menyebutkan beberapa bahan yang diambilnya. Nirah masih tidak percaya mendengarnya. Bagaimana bisa petugas memasak rela mengambil jatah jamuan rakyatnya. Itu mirip korupsi dalam lingkup sempit. Nirah sedikit marah sambil sedikit mengomel dalam hati. 

Nirah mengadukan hal itu kepada raja, juga kepada ratu. Keduanya ternyata juga sudah cukup lama memendam rasa ingin berbicara banyak dengan petugas memasak. Ratu berpikir bahwa petugas memasak akhir-akhir ini susah diatur. Kalau tidak mau bekerja di sini, cari kerajaan lain saja yang mau menerimamu. Atau ia bisa berjualan makanan sendiri di luar istana. Menjadi rakyat biasa. 

Oleh hulu balang, Nirah diminta meminta maaf kepada petugas memasak yang telah mengambil bahan-bahan jamuan tersebut. Tetapi Nirah tak mau melakukannya. Lagipula apa salahnya sampai harus meminta maaf. Petugas memasaklah yang seharusnya meminta maaf padanya. Hatinya masih panas. Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Nirah selalu menghindari daerah tempat memasak. 

Hulu balang mencoba mengklarifikasi kabar yang didengarnya dari Nirah. Hulu balang lantas menyampaikannya kepada Nirah dan memintanya untuk tidak berbicara kepada raja dan ratu. Sebab katanya, sebagai pegawai kerajaan, kita harus pandai menampatkan diri. Petugas memasak itu berbeda kasta dengan kita. Maka, cobalah pintar-pintar menempatkan diri. Sesekali meminta maaf meski bukan salah juga tak mengapa. Mungkin saja pernah ada kesalahan di masa lalu yang belum sempat dimintakan maaf. 

Dari kejadian tersebut, Nirah belajar untun mudah memaafkan. Ia ingat sebuah sabda bahwa bagi siapa saja yang memaafkan kesalahan saudaranya, bahkan sebelum diminta, ada jaminan surga baginya. Ia ingin memperoleh surga itu. Ia pun berusaha untuk terus menjaga hatinya terus suci, tak terkotori sifat dengki, iri juga marah. 

#renunganmalam #03042018 #memaafkan #fiksi #day93

  • view 15