Rahasiakan Cinta Suci Ini

Muhammad Amin
Karya Muhammad Amin Kategori Renungan
dipublikasikan 03 April 2018
Rahasiakan Cinta Suci Ini

Sayang, bila kita dipersatukan dalam ikatan cinta suci ini, mari awali dengan niat karena-Nya. Aku akan mengkhitbahmu segera. Semoga kamu sabar menunggu di sana. Bila khitbah telah dilaksanakan, tak perlulah kita umbar kabar itu ke mana-mana layaknya orang berjualan barang di pasar. Cukup kita rahasiakan di antara dua keluarga besar. Bukankah begitu yang disabdakan Nabi? 
 
Inginku, kita tak perlu berlama-lama mengulur waktu untuk bisa segera akad. Segera tentu lebih baik. Kalau kau tahu, ujian dan cobaan hamba adalah ketika sudah khitbah namun tidak segera akad. Ketika resepsi pun, buatlah sesederhana mungkin. Tak perlu habis uang banyak, yang penting sesuai syariat Islam. Aku pun tak mau ada prosesi adat yang ribet. Aku hanya ingin pernikahan sederhana penuh restu dan berkah. 
 
Tak perlu pula foto pre wedding itu. Kita foto setelah menikah saja. Dan satu lagi, tak perlu dipamerkan ke orang lain. Satu hal yang aku jaga dan semoga bisa terwujud adalah ini. Mengapa? Sebab aku tahu bahwa foto pasca menikah hanya akan membuat yang single semakin panas hati. Maka, rahasiakanlah saja. Biar kita berdua yang tahu foto-foto mesra itu. Tak perlu orang lain tahu.
 
Kelak, ketika janji itu kuucapkan. Akad telah terlontarkan dari lisanku. Sebuah ungkapan yang mampu menggoncangkan semesta. Membuat semesta ikut mengamini doa-doa baik kita di hari bahagia. 
 
Lalu, sambutlah uluran tanganku dengan mesra. Mungkin sesekali ada isak tangis. Bukan isak sesak, tetapi isak bahagia, terharu. Senyuman itu kita lempar bergantian. Dua pandang mata yang kini menjadi halal. Jabatan tangan yang akan saling menguatkan sepanjang jalan terjal kehidupan. 
 
Kau berdiri di hadapanku. Kau sambut uluran tanganku. Kau cium dengan khidmat tanganku. Jujur, ada getaran hebat di sana. Seakan tidak percaya bahwa hari ini terlewati sudah. Benar-benar di luar dugaan. Dahulu, kita adalah dua orang asing yang tak pernah saling kenal. Perkenalan lewat taaruf singkat yang akhirnya berakhir sampai titik ini. 
 
Mulai hari itu, canda bahagia, juga duka nestapa akan kita jalani berdua. Mari saling bertukar cerita, menggenapkan satu sama lain, melengkapi satu sama lain. Jangan ada lagi syak wasangka yang tidak benar. Mari jujur pada diri sendiri. Lupakan masa laluku, juga masa lalumu. Tak perlu diungkit-ungkit lagi di sini. Biarkan masa lalu menjadi sarana memperbaiki diri sepanjang waktu. 
 
Sayang, mari mencintai sepenuhnya, dengan sejujurnya, tanpa ada yang ditutupi. Mari kita saling terbuka satu sama lain. Sayang, terima kasih telah mau membersamai sisa perjalanan hidup yang tentu tidak selalu mulus ini. Oh ya, izinkan juga aku sematkan cincin pernikahan ke jemari manismu itu. Lalu, silangkan jemarimu dengan jemariku. Izinkan kukecup pundak tanganmu dik. Akan kucium juga keningmu sebagai tanda kasih sayangku yang dalam padamu. 
 
Malang, 6 Maret 2018

  • view 46