Budaya Jilbab

Muhammad Amin
Karya Muhammad Amin Kategori Agama
dipublikasikan 16 Februari 2016
Budaya Jilbab

Kampus-kampus Indonesia termasuk kampus-kampus yang dianggap terbaiknya sudah teracuni oleh jilbab, bahkan di fakultas tertentu malah seakan wajib karena kalau tidak berjilbab seakan dikucilkan. Stigma ditancapkan tajam oleh lingkungan kepada mereka yang tidak berjilbab.

Tentu memakai jilbab adalah hak dan wajib dihormati, tapi ketika dijadikan peer pressure secara massal, akhirnya banyak yang memakai jilbab walaupun sebenarnya enggan. Bahkan ayam kampus pun sudah terbiasa memakai jilbab agar lebih aman menjalankan profesinya.

Di lingkungan PNS pun sama, peer pressure memakai jilbab sangatlah besar apalagi jika atasannya berjilbab dan atau religius. Bahkan yang liberal atau atheis pun terkadang terpaksa berjilbab.

Budaya jilbab sudah menjadi penyakit, dan penyakit yang diderita massal itu bernama agama.

(sumber gambar :?albahrainfpikundip.wordpress.com)

  • view 222

  • Unyil Tos
    Unyil Tos
    1 tahun yang lalu.
    JILBAB MENURUT BUYA HAMKA (Pendiri/Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), yang ditentukan oleh agama adalah Pakaian yang Sopan dan menghindari 'Tabarruj' berikut adalah kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6 Hal. 295, Jilid 7 Hal. 262, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015), selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31 'Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian, "Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!" Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat. Kesopanan Iman Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur'an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian? Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur'an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan? Al-Qur'an bukan buku mode! Islam adalah anutan manusia di Barat dan di Timur. Di Pakistan atau di Skandinavia. Bentuk dan gunting pakaian terserahlah kepada umat manusia menurut ruang dan waktunya. Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan. Sehingga kalau misalnya perempuan Indonesia, karena harus gelombang zaman, berangsur atau bercepat menukar kebaya dengan kain batiknya dengan yurk dan gaun secara Barat, sebagaimana yang telah merata sekarang ini, Islam tidaklah hendak mencampurinya. Dalam ayat yang kita tafsirkan ini jelaslah bahwa bentuk pakaian atau modelnya tidaklah ditentukan oleh Al-Qur'an. Yang jadi pokok yang dikehendaki Al-Qur'an ialah pakaian yang menunjukkan iman kepada Allah SWT, pakaian yang menunjukkan kesopanan, bukan yang memperagakan badan untuk jadi tontonan laki-laki.' *bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA dgn anggapan yg macam-macam (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai SALAFI WAHABI (yang notabene identik dengan ARAB SAUDI) #HAMKA #MenolakLupa

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    1 tahun yang lalu.
    bagus dong om.. ngefek yang baik baik.