Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   18:43 WIB
ATAMOLAN

ATAMOLAN

Di sebuah Desa yang berada di pulau Adonara khusunya Desa Lamahala Jaya. Hiduplah sepasang suami istri yang tidak lain suaminya adalah Atamolan atau seorang tabib dan istrinya benama Somi. Ujung selatan desa amat pagi. Atamolan duduk di bale-bale belakang rumahnya. Ia tetap memperhatikan Somi, sang istri tercinta, yang tengah menggoreng jagung. Keduanya saling menyayangi dan sudah berkepala enam. Meski begitu mereka hidup rukun dan saling mengerti satu sama lain. Somi sang isitri selalu menuruti apa kata suaminya. Seumur hidup, ia belum pernah membantah apa kata suaminya laksana seorang pengawal yang patuh terhadap perintah sang raja. Ia takut suaminya akan menceraikannya seperti yang sering tejadi di kampung. Apalagi sampai suaminya mati mendahuluinya. Jika demikian ia harus rela salah satu jarinya dipotong, sebagaimana tradisi di kampung ini. Jari sang janda atau duda harus dipotong mulai dari jari kelinci sampai seterusnya.
Atamolan sedang mengelus-elus kepala Petu yang merupakan kucing peliharaannya. Petu merapatkan badannya ke pangkuan Atamolan. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Atamolan segera bangkit dan menuju sumber suara.
“Oh, Bapa Desa! Silahkan masuk!”
Atamolan mempersilahkan duduk lelaki yang dipanggilnya Bapak Desa itu. Ia kaget sembari menghela nafas yang sudah mulai berat karena usianya yang semakin renta. Sebab tak biasanya, Bapak Desa bertamu. Apalagi pagi-pagi.
“Ada berita apa maka pagi-pagi Bapa Desa ke rumah?”
“Begini, Ata. Tadi malam, anak saya Morik sakit perut. Dia bilang ususnya seperti terbelit. Saya sudah beri dia obat. Saya juga sudah kasih makan dia, daun Kejawas. Tapi sakitnya tidak reda-reda juga sampai sekarang. Kasihan saya punya anak. Apa Ata bisa kasih obat?”
“Oh, bisa! Bapa Desa tunggu sebentar.”
Atamolan lalu kebelakang rumah.
“Somi!”
“Iya Ata!”
“Tolong ambilkan air Prinho satu ceret di loteng!”
“Baik, Ata!” Somi menghentikan sejenak kegiatannya dan merangkak menuju lantai atas rumah mereka.
Tidak lama ceret berisi air sudah dibawah turun.
Ata molan kembali ke dalam rumah. Bapa Desa masih menunggu di dalam rumah.
“Ini air Prinho Bapa Desa. Bapa bisa kasih minum Morik dua kali dalam sehari. Tapi minum satu gelas. Pagi setelah bangun dan malam sebelum tidur. Kalau sudah habis air Prinhonya Bapa Desa bisa bawa kembali ceretnya. Sekaligus sampaikan perkembangan Morik.
“Terima kasih, Ata. Berapa saya harus bayar?”
“Maaf, Bapa Desa! Saya tidak perlu dibayar. Tapi ada syarat yang harus bapak penuhi.”
“Apa syaratnya, Ata?”
“Bapa Desa harus kasih makan 30 anak yatim di kampung ini.”
“Baik Ata, Bapa Desa menyangggupi persyaratan tersebut, lalu meninggalkan rumah Atamolan.
Belakangan ini ada peristiwa yang sangat membuat warga kampung terkejut. Sepuluh anak warga kampung meninggal dunia secara beruntun. Persis dalam satu minggu kejadiannya. Kesepuluh anak tersebut mati setelah meminum air Prinho yang diberikan Atamolan saat berobat. Sehingga Atamolan dituduh warga telah meracuni anak-anak tersebut.
Kabar angin tersebut behembus hingga ke telinga Atamolan dan istrinya. Atamolan tidak lagi didatangi warga untuk berobat setelah kejadian tersebut. Istri Atamolan tak sanggup menahan malu. Ia kadang digosip oleh warga yang ada di kampung itu. Maka dari itu ia memutuskan untuk tidak keluar rumah lagi dan mengurung diri dalam rumah. Sedangkan suaminya Atamolan masih bisa pergi kebun dan menggembalakan kambingnya bersama Petu kucing peliharaannya.
Malam semakin lanjut dan larut. Di rumah salah seorang warga, beberapa warga berunding dan bertukar pikiran. Mereka merundingkan soal kabar yang berhembus itu.
“Kita tidak bisa biarkan persoalan ini terus terjadi.”
“Ya jangan sampai kita semua terjebak dan terbunuh oleh dia.”
“Sebenarnya apa yang dia mau? Hingga dia tega membunuh Morik dan anak-anak yang lain. Apa yang dia inginkan sebenarya.”
“Kalau kemarin kita tidak pergi berobat ke dia, mungkin anak kita tidak mati keracunan, air Prinho yang dia kasih itu Racun.
“Jangan sampai Morik dan anak-anak yang lain dijadikan tumbal?”
“Maksud kamu?”
“Ya, tumbal untuk kasih makan jin. Karena biasanya dia hanya memakai ceret yang berisi air Prinho untuk mengobati berbagai macam penyakit. Air apalagi itu kalau bukan air kencing jin. Dan mungkin sekarang jin sudah meminta tumbal. Makanya anak-anak yang jadi korbannya. Karena tumbalnya adalah Manusia.
“Berarti orang kita yang tewas menjadi makanan jin.”
“Ini tidak bisa dibiarkan. Lama-lama kita semua tewas dan dijadikan makanan untuk jin.”
“Jadi sekarang kita harus buat apa?”
“Sebelum semuanya terlambat dan kita jadi korban, kita bunuh saja si Atamolan.”
“Ini malam juga kita pergi! Sepakat?”
“Sepakat!”
“Sepakat!”
“Sepakat!”
Kata sepakat itulah yang kemudian mengantarkan beberapa warga ke rumah Atamolan malam ini. Diantara mereka ada yang membawa obor dan ada pula yang membawa parang. Sesampai di depan rumah Atamolan mereka menghentikan langkah.
“Atamolan! keluar kamu!”
“Hei, iblis! Jangan kau sembunyi di dalam rumah. Kamu keluar sudah! Kami semua sudah tau kamu itu siapa.”
“Kamu piara jin kan! Karena selama ini kamu sudah obati kami dengan air kencing jin. Dan sekarang jin peliharaanmu meminta tumbal. Anak-anak meninggal karena menjadi tumbal. Dan malam ini kami akan menuntut balas dendam atas kematian anak-anak kami.
“Kalau kamu merasa tidak bersalah maka keluarlah! Keluar dan beri penjelasan pada kami!”
Beberapa menit menunggu, Atamolan tak juga keluar dari rumahnya. Bahkan tidak ada samar-samar suara yang keluar dari rumah.
“Baik kalau kamu tidak mau keluar, berarti pikiran kami benar kamu pelihara jin.”
“Bagaimana semuanya? Kita bakar saja rumahnya, sepakat?”
“Sepakat!”
“Sepakat!”
“Sepakat! Kata para warga tanda menyetujui untuk membakar rumahnya.”
Selang berapa menit kemudian setelah berunding obor-obor yang ada di tangan warga melayang di atap rumah Atamolan. Karena atap rumah terbuat dari alang-alang maka secepat kilat rumah itu terbakar. Api langsung dengan cepat membakar rumah Atamolan.
Somi, istri Atamolan yang baru pulang dan menyaksikan rumahnya terbakar, seketika pingsan. Ia tak sadarkan diri. Dia dibiarkan saja oleh warga yang datang dan tiada yang mendekatinya, apalagi memberikan pertolongan.
Keesokan harinya, rumah Atamolan sudah ambruk ratah dengan tanah. Disekitar terdapat puing-puing bangunan yang telah hangus. Tinggal sebuah gubuk kecil milik Atamolan yang tidak jauh dari rumah yang masih bisa diselamatkan. Dan Somi istri Atamolan, hanya duduk melamun di gubuk tersebut. Ia terlihat lemah tak berdaya, pandangannya kosong mengarah ke barat kampung.
Dari ujung barat kampung warga berhamburan datang. Ada tiga anggota polisi, tiga lelaki tukang ronda, Bapa Desa beserta warga lainnya. Mereka berjalan menuju somi.
“Benar anda istri Atamolan?”
Somi hanya mengangguk dan bibirnya tidak mengeluarkan sepatah katapun.
“Anda tahu siapa yang membunuh Atamolan?”
“Saya tahu siapa pelakunya!” Seorang lelaki yang berdiri disitu mulai membuka mulut. Orang-orang melihat ke arah lelaki yang berbicara tadi.
“Ketiga petugas ronda itu yang membunuh Atamolan dua malam yang lalu. Saya dapat liat dari saya punya rumah yang kebetulan berhadapan dengan rumah Atamolan. Malam itu saya terkejut bangun ketika saya mendengar Petu mengeong-ngeong keras dan tidak seperti biasanya. Karena merasa terganggu, saya mengintip di celah-celah rumah bambu saya. Ketiga orang itu menyeret paksa Atamolan keluar dari rumah.”
“Tidak benar!” Kami tidak membunuh Atamolan. Kalau kami yang melakukan kenapa kami membawa dia ke pos polisi?”
“Itu hanya kalian punya cara saja. Kalian sengaja buat begitu supaya orang mengatakan bahwa kalian yang menolongnya.
“Apa untungnya kami dengan membunuh Atamolan?”
“Kalian semua adalah suruhan Bapa Desa. Bapa Desa sakit hati dengan Atamolan. Karena Bapa Desa yang telah menuduh Atamolan yang meracuni anaknya saat berobat. Dan akhirnya Bapa Desa punya anak meninggal. Jadi Bapa Desa adalah dalang dari semua ini.”
“Hei hati-hati kalau omong. Saya sama sekali tidak punya dendam dengan Atamolan.”
“Lalu kenapa malam itu Bapak Desa juga ikut membakar rumah Atamolan?”
“Malam itu memang saya ada, tapi saya datang ketika rumah Atamolan terbakar.”
“Tapi mengapa siang sebelumnya, Bapa Desa datang ke rumah Atamolan terus marah-marah?”
“Memang, tapi saya dan Atamolan berdamai. Dia sudah menjelaskan kepada saya kalau bukan dia penyebab kematian anak saya. Saya punya anak keracunan sebelum dia kasih air Prinho. Setelah saya ingat ternyata sore sebelumnya saya punya anak pergi ke kebun dengan teman-teman lainnya dan memakan buah jarak. Karena itu mereka keracunan dan meninggal dunia.”
“Baiklah! sekarang saya tanya lagi ke istrinya Atamolan. Siapa terakhir yang bersama Atamolan di rumah?”
“Soge!” suara Somi setengah berbisik. Mulutnya bergetar seperti orang ketakutan.
“Pak Soge, apa bapak tahu pembunuhan Atamolan?”
“Demi leluhur kampung ini, saya tidak tahu siapa pembunuh Atamolan. Memang saya yang terakhir bertamu di rumahnya Atamolan. Dan ketika saya pulang Atamolan masih sempat mengantarkan saya di depan rumah.
“Iya, saya dapat lihat itu, bukan Soge pelakunya, saya dapat lihat dari dinding bambu saya.
“Kalau begitu Atamolan bunuh diri?”
“Tidak mungkin, sebab luka di lehernya adalah bekas gorokan senjata tajam yang kurang lebih setengah lingkaran lehernya. Tidak mungkin luka sedalam itu dilakukan Atamolan sendiri. Pasti ada orang dibelakang Atamaolan yang menggorok lehernya. Itu adalah bukti yang kami dapatkan dari kepolisian.”
“Lalu siapa pembunuhnya?”
“Lalu?”
Suara-suara itu kemudian bergema riuh diantara kerumanan orang-orang yang berada disitu. Hingga terdengar sampai ke pelosok-pelosok Desa.


Karya : muhamad maaruf