Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Januari 2018   18:30 WIB
ATAMOLAN

ATAMOLAN
(Atamolan sedang mengelus-elus kepala Petu yang merupakan kucing peliharaannya. Petu merapatkan badannya ke pangkuan Atamolan. Tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Atamolan bangkit dan menuju sumber suara.)
Atamolan : Oh Bapak Desa! Silahkan masuk!
Bapak Desa : Iya. Terimakasih Atamolan.
Atamolan : Maaf, ada berita apa maka pagi-pagi Bapak Desa ke rumah. (Kaget dikunjungi kepala desa)
Bapak Desa : Begini, Ata. Beberapa hari ini, anak saya Kewa sakit perut. Dia bilang usunya seperti terbelit. Saya sudah beri dia segala macam obat. Saya juga sudah kasih makan dia, daun kejawas. Bahkan kemarin istri saya membawanya ke rumah sakit, namun tidak ada perubahan sampai sekarang. Sakitnhya juga tidak reda-reda sampai sekarang. Kasihan saya punya anak. Apa Ata bisa kasih obat.
Atamolan : Oh, bisa! Bapa Desa tunggu sebentar. (mengisyaratkan Bapak Desa untuk menunggu sebentar) Somi! Somi….! (Memanggil)
Somi : Iya Ata!
Atamolan : Tolong ambilkan air prinho satu ceret di lotang!
Somi : Baik, Ata! Somi berhenti sejenak kegiatannya dan merangkak menuju lantai atas rumah mereka.
(Tidak lama ceret berisi air prinho sudah dibawah turun. Atamolan kembali ke dalam rumah, Sedangkan Bapak Desa masih menunggu di dalam rumah.)
Atamolan : Ini air prinho Bapak Desa. Bapa bisa kasih minum Kewa dua kali dalam sehari. Tapi minum satu gelas. Pagi setelah bangun dan malam sebelum tidur. Kalau sudah habis air prinhonya Bapa Desa bisa bawa kembali ceretnya. Sekaligus sampaikan perkembangan Kewa.
Bapak Desa : Terima kasih, Ata. Berapa saya harus bayar? (meogoh ke dalam saku untuk mengambil uang)
Atamolan : Maaf, Bapa Desa! Saya tidak perlu dibayar. (menolak) Tapi ada syarat yang harus Bapak penuhi!
Bapak Desa : Apa syaratnya, Ata?
Atamolan : Bapa Desa harus kasih mkan 30 anak yatim di kampung ini.
Bapak Desa : Baik Atamolan, (menyanggupi persyaratan itu, lalu meninggalkan rumah atamolan)
(Belakangan ini semua warga kampung terkejut . Sepuluh anak warga kampung meni nggal dunia secaea beruntun, persis dalam satu minggu kejadiannya. Kesepuluh anak itu mati setelah meminum air prinho yang diberikan Atamolan saat berobat. Sehingga kecurigaan dari warga dan mereka merencanakan untuk membunuh atau membakar rumah Atamolan).
Warga : Hei, iblis keluar kamu! Jangan kau sembunyi di dalam rumah. Kamu keluar sudah! Kami semua sudah tau kamu itu siapa.(Teriak para warga di rumah Atamolan yang sedang membawa parang dan obor).
(Beberapa menit menunggu, Atamolan tidak juga keluar dari rumahnya . Bahkan tidak ada samar-samar keluar dari. Akhirnya para warga memutuskan untuk membakar rumahnya. Obor oborpun di layanagkan di atas rumah Atamolan).
Warga : Ayo, bakar terus rumah si pemelihara jin!
Bapa Desa : bakar terus jangan biarkan tersisapun (Memerintahkan warga untuk terus membuang obor di atap rumah Atamolan)
(Keesokan harinya datanglah tiga orang tukag ronda dan polisi)
Polisi : Benar anda istri Atamolan ? (Tanya polisi kepada istri Atamoloan yang bernama Somi)
Somi : (Hanya mengangguk dan tidak mengeluarkan sekatapun)
Polisi : Anda tahu siapa yang membunuh Atamolan?
Pak Dosi : Saya tahu pelakunya! (Seorang lelaki yang berdiri disitu mulai membuka mulut.
(Lelaki itu kemudian menceritakan apa yang sebenarya terjadi, ternyata yang membunuh Atamolan adalah orang-orang suruhan Bapak Desa dua malam yang lalu)
Bapak Desa : Tidak benar! Kami tidak membunuh Atamolan. Kalau kami yang melakukannya buat apa kami mendatangkan polisi ? (Mencoba untuk mengelak dan mencari pembenaran diri)
Pak Dosi : Itu hanya kalian punya cara saja. Kalian melakukan itu supaya orang mengatakan bahwa kalian yang menolongnya.
Warga : Apa untungnya kami dengan membunuh Atamolan ?
Pak Dosi : Kalian semua adalah suruhan Bapak Desa. Bapak Desa sakit hati pada Atamolan. Karena Bapak Desa telah menuduh Atamolan yang telah meracuni anaknya yang saat berobat.
Jadi bapak desa adalah dalang dari semua ini! (Menuduh Bapak Desa dan warga yang telah bekerja sama)
Bapak Desa : Hei hati-hati kalau omong. Saya sama sekali tidak punya dendam dengan Atamolan. (memotong pembicaraan lelaki yang sedang berbicara)
Pak Dosi : Lalu kenapa malam itu Bapak Desa juga ikut membakar rumahnya Atamolan ?
Bapak Desa : Malam itu memang saya ada, tapi saya hanya ikut membakar saja setelah lama kejadian. Saya tidak tahu menahu tentang pembunuhan atamolan.
Pak Dosi : Tapi mengapa siang sebelumnya, Bapa Desa datang ke rumah Atamolan trus marah-marah ? (Terus menerus menyerang Bapak Desa dengan berbagai pertanyaan)
Bapak Desa : Memang, tapi saya dan Atamolan berdamai. Dia sudah menjelaskan kalau bukan dia penyebab kematian anak saya. Saya punya anakn keracunan bersama anak lainnya setelah mereka memakan buah jarak di kebun. (Mencoba menjelaskan kepada Pak Dosi dan beberapa aparat polisi)
Polisi : Baiklah sekarang saya tanya lagi ke istrinya Atamolan. Siapa terakhir bersama Atamolan di rumah ? (Menanyakan kembali kepada istri Atamolan)
Somi : Saya tidak tau. (Dengan suara bebisik dan seperti ketakutan)
(Semenjak saat itu tidak ada yang tahu tentang pembunuhan Atamolan dan peristiwa itu hingga sekarang masih menjadi misteri yang belum terkuak)



Karya : muhamad maaruf