SYTDT - Teller Bank

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
SYTDT - Teller Bank

Barangkali, bagi kebanyakan orang, Taman Bunga adalah tempat romantis yang banyak sekali menawarkan keindahan, bahkan degupan sebuah jantung yang tertahan. Tapi bagiku, Bank adalah sebuah tempat penuh ketegangan yang dapat melampaui sensasi Taman Bunga manapun.

?

***

?

Di tempat kerjaku, ada sebuah tugas penting yang harus dilakukan setiap hari sabtu. Sekitar jam satu siang, seseorang harus pergi menukar uang pecahan kecil untuk stock kembalian pembayaran. Dan pada waktu itu, aku mendapat giliran jadwal untuk melakukan tugas tersebut.

Siang itu, matahari sedang berada tepat di atas kepala. Suhu udara sedang dalam fase puncak paling panas. Rasanya, berat sekali melangkah keluar untuk berada di bawah terik matahari langsung. Tapi, aku tidak bisa mengelak dari tugas. Ini sudah menjadi sebuah ketentuan wajib yang harus dilakukan. Lalu, aku keluar dari tempat kerja lengkap dengan jaket, tas selempang berukuran kecil dan sarung tangan untuk menghindari panas matahari yang dapat membuat kulitku menjadi bertambah gelap. Kemudian, aku segera bergegas menuju sebuah Bank cabang pembantu yang berada di sebuah Mall di?pusat kota. Satu-satunya Bank yang tetap beroperasi pada hari sabtu dan minggu. Semua orang yang membutuhkan transaksi perbankan pada akhir pekan, selalu datang ke sana. Sudah pasti di sana selalu terjadi antrian yang sangat panjang.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku tiba di tempat tujuan.

?Selamat datang. Silahkan tekan tombol atau tempelkan kartu anda.?

Sebuah mesin parkir otomatis menyambut kedatanganku dengan suara yang sedikit serak. Sementara beberapa motor lain, telah menyusul dibelakangku.

?Terima kasih. Silahkan masuk.? Mesin kembali bersuara ketika aku menekan tombol berwarna hijau. Setelah itu, keluar secarik karcis parkir yang diiringi dengan terbukanya portal yang ada di depanku.

Waktu itu kondisi parkiran lantai dasar sangat penuh. Aku segera menuju tempat parkir lantai berikutnya. Setelah beberapa lama mencari celah yang kosong, akhirnya aku mendapatkan sebuah tempat dia area tengah lantai 3. Aku segera mematikan mesin, kemudian memposisikan motorku agar selaras dengan yang lainnya. Udara di sana terasa sangat lembab. Aku segera bergegas meninggalkan parkiran, kemudian turun kembali ke lantai dasar. Setelah itu, aku berjalan menuju Bank sembari menyeka keringat di dahiku.

Tak butuh waktu lama, aku telah sampai di pintu Bank. Pintu tiba-tiba terbuka. Udara sejuk menampar tubuhku secara perlahan.

?Selamat siang Pak. Ada yang bisa dibantu??

Seorang security penjaga pintu menyambut kedatanganku dengan diiringi sebuah senyuman. Ah, aku tidak suka dipanggil Bapak oleh orang yang jelas-jelas berusia jauh lebih tua dariku. Hey, aku masih sangat muda...

?Teller Pak.? Kataku singkat, kemudian membalas senyumnya yang masih tersisa.

?Silahkan nomor antriannya Pak. Ditunggu sampai nomor Bapak dipanggil ya.? Katanya, sambil memberikan kertas print bertuliskan nomor antrian kepadaku.

?Terima kasih.? Kataku.

Di sana sangat ramai. Orang-orang duduk dengan ekpresi wajah kelelahan sambil sesekali memainkan telpon genggamnya masing-masing. Aku dapat nomor antrian A041. Sementara nasabah yang belum dipanggil berjumlah 22 orang lagi. Aku menghela nafas panjang, kemudian beranjak mencari kursi yang masih kosong. Kemudian, aku duduk di kursi tunggu bagian kiri, barisan ke dua.

Lalu, seketika aku membuat sebuah prediksi sederhana, untuk menebak berapa lama lagi aku akan berada di tempat itu. Lewat sebuah hitung-hitungan sederhana, aku mulai menghitung keseluruhannya.

Di sana tersedia empat teller. Tapi, karena tiba waktu makan siang, jadi hanya ada dua teller yang melayani nasabah. Dua teller lainnya tutup sementara.

Kita pukul rata saja. Jika satu nasabah dilayani dalam waktu 10 menit, maka 22 nasabah akan selesai dilayani meggunakan dua orang teller dalam waktu 110 menit. Itu pun, jika sang teller tidak beristirahat sejenak untuk mengambil nafas panjang. Jadi kira-kira, aku akan duduk di sana dalam waktu tidak kurang dari 2 jam. Sial, ini benar-benar membosankan.

Beberapa kali, aku mulai berganti gaya posisi duduk. Aku juga sesekali memejamkan mata karena rasa kantuk. Tapi tiba-tiba, handphone Sony Ericsson K300i jadulku, yang aku simpan di saku celana bagian kanan bergetar. Rupanya salah seorang teman SMK yang sedang merantau ke luar kota bertanya tentang kabarku lewat sebuah pesan singkat. Aku segera membalasnya. Kemudian terjadi beberapa perbincangan lewat pesan singkat yang lama-kelamaan membuat handphone jadulku mati karena kehabiasan daya baterai. Sial, ini membuatku semakin bosan berada di tempat itu.

Aku masukkan handphone jadulku ke dalam tas. Kemudian, aku keluarkan handphoneku yang satu lagi. Aku berniat untuk bermain game agar sedikit menghilangkan rasa bosan. Lalu, sesekali aku mencoba memperhatikan sekitar. Melihat ke arah belakang, samping, dan depan. Tapi tunggu dulu, ketika melihat ke arah depan, mataku secara sepintas menangkap sosok seseorang yang tidak asing. Maka, aku mencoba mengulang pandanganku ke arah sekitar sekali lagi. Dan benar saja! Aku menemukannya. Dia sedang duduk di kursi tunggu bagian kanan, barisan pertama. Dia adalah Dira.

Sebenarnya masih belum pasti jika Dia adalah Dira. Tapi keyakinanku terlalu egois mengenai hal ini. Beberapa orang selalu menghalangi pandanganku terhadap Dia. Maklum saja, kondisi masih sangat ramai. Tapi aku yakin sekali bahwa Dia adalah Dira. Aku hafal betul bentuk perawakannya. Aku hafal sekali gelombang rambutnya, terlebih waktu itu Dia menguncungnya. Aku terus berusaha memastikan bahwa Dia adalah Dira yang selama ini aku perhatikan.

Ada sebuah detak jantung yang meningkat. Ritmenya jauh lebih cepat dibandingkan sebelum aku melihat sosok itu. Ada apa ini? Kenapa aku jadi mendadak deg-degan?

Seiring waktu berlalu, volume ruangan itu semakin berkurang. Para nasabah bergiliran dipanggil oleh teller, untuk kemudian keluar meninggalkan ruangan. Aku masih memperhatikannya dengan seksama dari belakang. Sementara Dia selalu sibuk dengan handphonenya. Dan entah mengapa, aku merasakan sebuah kegelisahan luar biasa yang aku sendiri tidak tahu disebabkan oleh apa.

Sesaat kemudian, ketika aku sedang terus memandanginya. Tiba-tiba Dia menoleh ke arah belakang sembari sedikit mengibaskan poninya. Ah, dugaanku benar. Dia adalah Dira. Dan entah kenapa, degup jantungku mendadak jauh lebih kencang dari sebelumnya. Nafasku mendadak jadi terengah, dadaku naik turun. Aku bingung harus berbuat apa. Tapi yang jelas, ini adalah sebuah kesempatan emas. Ini adalah momentum yang tepat. Aku harus berbuat sesuatu. Terlebih ketika kedua kursi di samping kanan dan kirinya sudah mulai kosong. Aku harus segera menghampirinya dalam waktu dekat, sebelum ada orang yang duduk di sampingnya lagi.

Lalu, aku mulai menyusun strategi tempur. Aku mulai mepersiapkan kalimat basa-basi, mempersiapkan beberapa kalimat pertanyaan. Semuanya. Bismillah... Aku pasti bisa!

Aku berusaha menetralkan degup jantungku terlebih dahulu. Tapi, semakin aku berusaha menetralkannya, justru degup jantungku semakin kencang. Kedua kakiku sedikit gemetar. Aku selalu berubah-ubah posisi duduk dalam waktu yang sangat dekat. Aaaaaaahh... Ini benar-benar kacau! Apa yang sedang terjadi dengan diriku?

Aku sebisa mungkin berusaha agar orang lain tidak menyadari sikap anehku. Kemudian, setelah sudah sekian lama mempersiapkan diri dan strategi, aku mulai berniat untuk melaksanakan aksiku.

Langkah pertama; Aku akan duduk di sampingnya. Kemudian ketika Dia tersadar dengan kedatanganku, mata Kami pasti akan bertemu dalam posisi yang sangat dekat. Pada momen itu, aku akan melontarkan senyuman terbaikku untuknya.

Langkah kedua; Aku akan bertanya kepadanya. ?Antrian nomor berapa?? Jika nomor antriannya jauh dibelakangku, aku akan segera menawarkannya untuk ikut satu antrian denganku. Tapi, jika nomor antriannya berada di depanku, aku akan pasang muka memelas agar Dia mau memberiku sebuah tawaran untuk berada satu nomor antrian dengannya. Pada intinya, aku harus berada di dekatnya dalam waktu yang cukup lama.

Langkah ketiga; Jika langkah pertama dan kedua sudah berhasil dilaksanakan, Aku harus segera mengajaknya untuk berkenalan. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa membuat sebuah momen tak terlupakan agar Dia selalu ingat denganku.

Namun, ketika aku sudah ingin beranjak pergi ke arahnya, seorang perempuan yang baru masuk ke dalam ruangan dan mengambil nomor antrian, secara tiba-tiba langsung menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya. Sial, ternyata mereka berdua sudah saling kenal. Dan aku baru saja kehilangan sebuah kesempatan emas. Mereka mengobrol sembari menunggu nomor antrian mereka dipanggil. Sementara aku, kembali mengurungkan niatku untuk mendekatinya.

?Antrian nomor A039, silahkan menuju teller 1.? Beriringan dengan panggilan lewat pengeras suara yang terpasang di setiap sudut ruangan, Dira dan temannya segera beranjak dari tempat duduknya. Aku terkejut! Ternyata nomor antrian Dira hanya berjarak satu nasabah dengan nomor antrianku.

?

3 menit berselang...

?

?Antrian nomor A040, silahkan menuju teller 2.??

Aku menoleh ke sekelilingku, dan ternyata tidak ada satu orang pun yang bergerak dari tempat duduknya.

?Antrian nomor A041, silahkan menuju teller 2.?

Nomor antrianku di panggil. Aku segera menuju teller 2 dengan perasaan yang sulit sekali untuk dijelaskan. Ada semacam rasa deg-degan. Ada pula semacam rasa bingung yang menjelma menjadi raksasa.

?Dira makasih ya. Daaaah...? Ucap temannya, kemudian pergi meninggalkannya.

?Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?? Tanya si teller kepadaku.

?Mmmm.. Aku ingin menukar uang Mba.? Jawabku.

Saat itu, di masing-masing teller 1 dan 2 hanya ada Dira dan aku. Dira berdiri di sebelah kiri, sementara aku di sebelah kanannya. Aku grogi bukan main. Degup jantungku kembali meningkat dari sebelumnya. Aku ingin menoleh ke arahnya, tapi terasa sangat sulit sekali. Aku hanya bisa memerintahkan kedua bola mataku untuk menilik secara penuh ke arahnya. Sesekali, aku juga berpura-pura memperhatikan papan peringatan yang ada di sebelah kirinya. Padahal, dalam niat yang lain, aku pun berusaha merekam wajahnya.

"Sebelum meninggalkan counter harap hitung kembali uang anda. Complain setelah meninggalkan counter tidak kami layani." Begitu, kira-kira isi tulisannya.

?Ada lagi yang bisa saya bantu?? Tanya si teller kepada Dira.

?Aku ingin setoran.? Kata Dira, kemudian tersenyum.

Aaaaaaah, suaranya lembut sekali. Telingaku seperti meleleh ketika mendengarnya berbicara. Entahlah, aku selalu suka mendengar suaranya.

?Maaf, ini beritanya apa? Tulisannya kurang jelas.? Teller bertanya sekali lagi kepada Dira.

Lagi-lagi, aku harus mendengar suaranya yang lembut. Ah, cukup. Aku rasa, aku bisa benar-benar jatuh jika terus-menerus disuguhkan yang semacam itu. Aku tak kuasa menerimanya.

Beberapa saat kemudian, Dira telah selesai melakukan setoran. Dia segera pergi meninggalkan teller, kemudian keluar meninggalkan Bank. Aku melihat ke arahnya. Mataku terus memperhatikan langkahnya yang buru-buru. Dari balik kaca, aku hanya bisa menyaksikan kepalanya. Rambutnya yang terkuncung karet berwarna hitam selalu bergoyang ke kanan dan ke kiri seraya langkah kakinya bertambah. Lalu Dira hilang dari hadapanku.

?Ada lagi yang bisa saya bantu?? Kata Teller kepadaku.

?Sudah cukup. Makasih.? Balasku, kemudian pergi meninggalkan Teller.

Security kembali menyambutku, kemudian membukakan pintu untukku.

?Terima kasih atas kunjungannya. Selamat siang. Hati-hati di jalan.? Ucapnya.

Aku tersenyum.

Aku bergegas pergi meninggalkan Bank dengan langkah yang tergesah. Panas matahari kembali menerpa seluruh tubuhku. Aku mencari keberadaan Dira. Sejauh mata memandang, aku sama sekali tidak melihat kehadirannya. Lalu, aku segera menuju parkiran, barangkali, Dira ada di sana.

Di parkiran lantai dasar, aku tidak menemukannya. Lalu, aku naik ke parkiran lantai dua. Tapi, disana juga tidak ada. Aku bingung harus mencarinya ke mana. Sepertinya, Dira sudah keluar dari mall. Maka, aku segera pergi menuju motorku. Aku mulai mengidupkan mesin, kemudian segera menarik tuas gas. Namun tak disangka, ketika aku hendak turun ke lantai 2, aku kembali melihat Dira. Aku melihatnya sedang mengantri turun ke lantai dasar. Ah, aku senang sekali bisa kembali menemukannya. Waktu itu, kondisi parkiran sangat ramai. Ada banyak motor yang mengantri untuk keluar. Pandanganku ter-hadapnya pun tak begitu jelas. Terkadang terlihat, namun sedetik berselang, mulai hilang lagi. Begitu seterusnya...

Ketika aku berada di lantai 2, Dira sudah berada di lantai dasar. Aku harus bisa secepat mungkin menyusulnya. Kali ini aku tidak boleh kehilangan jejaknya.

Di sana, tersedia 3 pintu keluar. Dira berada di barisan pintu keluar nomor 1, sementara aku menguntit di belakangnya. Aku berjarak 4 motor darinya. Aku gelisah bukan main. Aku terus memperhatikannya dari belakang. Kepalaku selalu melongok secara berulang-ulang ke arahnya untuk memastikan bahwa Dira masih berada di depanku. Aku berusaha menghafal motornya. Mencari tahu jenis dan ciri-cirinya. Tapi sial, keadaan di sana lumayan gelap. Sementara aku berada pada jarak yang cukup jauh dengannya. Aku tidak bisa melihat dengan jelas.

Tapi, aku terus berusaha mendapatkan ciri-ciri motornya. Dan setelah beberapa lama berusaha mencari tahu, akhirnya: Strike! Aku mendapatkannya. E 5249 BP, Honda Beat berwarna merah. Lalu, aku segera berusaha menghafalnya. Selama berada dalam antrian, aku terus-menerus menyebutkan Nomor Polisinya secara berulang-ulang dalam hati. Beberapa saat kemudian, Dira sudah berada di loket pembayaran, kemudian pergi dari hadapanku. Sementara itu, aku masih harus menunggu 4 motor lagi untuk bisa menuju ke sana. Sial, aku bisa kehilangan jejaknya.

Setelah beberapa menit berlalu, aku telah sampai di loket pembayaran. Aku segera membayar, kemudian bergegas pergi dari sana. Aku segera menarik gas penuh, bermaksud untuk menyusul Dira yang sudah berlalu beberapa menit lebih dulu. Sebenarnya aku bingung harus pergi ke arah mana. Sebab, Dira sudah benar-benar hilang dari pandanganku. Terang saja, aku telah kehilangan jejaknya sejak beberapa menit yang lalu.

Beberapa jalan telah aku susuri demi menemukan keberadaannya. Tapi semuanya sia-sia. Dira memang sudah benar-benar pergi. Aku tidak berhasil menemukannya. Dia terlalu tangguh untuk sekedar menjadi seorang wanita pengendara motor matic. Aku rasa, Dira adalah seorang pengendara yang hebat. Sementara aku, tetap saja menjadi seorang pendamba yang terus gagal dalam berbagai hal dan kesempatan. Aku rasa, aku terlalu banyak berpikir. Terlalu lama dan bertele-tele...

Sudahlah... Setidaknya, aku sudah mengetahui sebuah hal baru tentang dirinya. Aku tahu motor miliknya. Aku cukup senang dengan itu.

?

bersambung...

  • view 569