SYTDT - Segelas Es Jeruk Nipis

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2016
SYTDT - Segelas Es Jeruk Nipis

Waktu itu musim kemarau panjang. Di siang hari, matahari terasa sangat terik. Suhu udara mencapai angka rata-rata hingga 34 derajat celcius pada setiap harinya. Di sana sudah cukup lama tidak turun hujan. Kondisi seperti itu sudah terjadi selama kira-kira dua sampai tiga bulan terakhir. Rumput di area sekitar masjid terlihat semakin layu. Sementara daun-daun dari beberapa pepohonan sudah mengering, bahkan ada beberapa yang sudah sampai jatuh terhembus angin.

?

***

?

Di dalam ingatanku, masih terekam sangat jelas peristiwa-perisiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Aku masih bisa memutar ulang kejadian itu secara detail dalam kepalaku kapanpun aku mau. Aku ingin kembali merasakan sensasi sebuah nafas yang tertahan. Atau barangkali hanya sekedar menyaksikan waktu yang seolah berhenti berputar untuk beberapa saat

Selepas shalat Ashar, aku segera menuju kantin belakang masjid untuk sebuah makan siang yang terlambat. Waktu itu udara masih terasa sangat terik. Debu-debu saling berterbangan terhempas angin secara perlahan. Sebuah kantong plastik hitam terbang tidak terarah di ujung jalan.

Aku berjalan dengan tergesah. Tangan kiri aku posisikan berada di depan wajah untuk menghindari mataku melakukan kontak langsung dengan matahari. Sementara tangan kanan, sengaja aku simpan di belakang pinggul. Aku masih menggunakan jaket abu-abu tua kesukaanku. Sementara dari kejauhan, beberapa teman terlihat sedang menyantap makanannya sembari mengobrol antar satu sama lain. Aku segera menuju ke arah mereka dengan mata yang sedikit menyipit.

Sesampainyaa di kantin. Aku segera memesan makanan.

?Bu, aku pesan nasi ayam, pake sayur ya.? Kataku kepada Bu Titin.

?Mmmm.. Ambil sendiri saja. Kayak bukan langganan saja.? Balas Bu Titin segera. Kemudian tersenyum.

?Oh yasudah, aku ambil sendiri ya.? Kataku kemudian.

Setelah selesai mengambil makanan, aku segera duduk di meja bagian luar yang sedikit terkena sinar matahari. Waktu itu kondisi kantin memang ramai, seperti biasanya.

Beberapa saat kemudian, Desi anak perempuan Bu Titin yang setiap hari selalu membantu Bu Tititn di kantin bertanya kepadaku.

?Mau minum apa A?? Tanyanya sembari membersihkan remah-remah di meja sebelah.

?Oh iya, aku seperti biasa Des, Es Teh saja.? Kataku.

?Tunggu sebentar ya.? Kata Desi sambil mengangkat beberapa piring kotor.

Aku segera menyantap makananku. Sementara teman-teman yang lain telah selesai makan dan sudah ingin beranjak pergi.

?Gelora, kita duluan ya.? Ucap salah seorang temanku. Kemudian mereka pergi meninggalkanku yang baru saja menyantap beberapa suap nasi.

?Oh, iya.? Kataku sambil mengunyah makanan.

Tidak lama berselang, ketika aku sedang menyuapkan nasi ke mulutku. Dari kejauhan aku meihat Dia berjalan perlahan bersama dua teman perempuannya. Entahlah, aku mendadak jadi grogi tidak karuan.

?Permisi, ini minumnya.? Kata Desi tiba-tiba dari arah samping.

?Oh iya Des, makasih.? Kataku.

Aku segera meneguk Es Teh pesananku.

Perlahan tapi pasti, langkahnya yang malu-malu telah mengantarkannya tepat di depan kantin. Kemudian Dia segera menuju kantin Cemara Udang milik Bu Titin. Ah, aku jadi kikuk. Aku meneguk minumanku dengan tergesah, sembari memerintahkan kedua bola mataku untuk melirik ke arahnya.

Lalu Dia melintas di hadapanku.

Aku terus memperhatikan gerak-geriknya dari belakang. Udara di dalam kantin memang terasa sangat panas. Dia terlihat beberapa kali mengusap keringat yang mengalir di dahinya. Dia juga sesekali terlihat mengibaskan telapak tangan kanannya pada area sekitar wajah untuk menciptakan sebuah angin tambahan.

Beberapa saat kemudian, Dia kembali keluar dari dalam kantin Bu Titin dengan kantong plastik hitam dan handphone Blackberry Gemini putih di tangan kirinya. Sementara itu, di tangan kanannya terdapat minuman berwarna hijau tosca yang dia genggam dengan kelima jarinya, sambil sesekali di minum secara perlahan dengan sedotan. Dan aku, lagi-lagi harus salah tingkah ketika Dia kembali melintas di hadapanku.

Aku terus memperhatikan langkah kakinya sampai tubuhnya benar-benar menghilang dari hadapanku. Sementara itu, aku masih berada disana. Duduk di kursi kantin untuk menghabiskan sisa makanan sekaligus berteduh dari panas matahari yang begitu menyengat kulit.

Aku tidak menyangka bahwa selama ini aku dan Dia selalu makan di kantin yang sama. Tapi anehnya, baru kali itu aku melihat kehadirannya. Sebab selama ini, aku tidak pernah menemukan sebuah momen dimana aku dan Dia bisa bertemu di tempat itu. Barangkali, selama ini aku tidak begitu memperhatikan sekitar. Atau mungkin juga, karena Dia yang terlalu singkat untuk berada di lingkungan luar. Entahlah.

***

Keesokan harinya, selepas shalat ashar, aku kembali menuju kantin belakang masjid seperti biasanya. Tapi kali ini ada alasan lain yang aku inginkan dari tempat itu. Aku berharap bisa kembali bertemu dengan Dia. Syukur-syukur, aku bisa berada satu meja makan dengannya. Aku tak bisa membayangkan betapa gugupnya aku jika hal itu benar-benar terjadi. Entah hal bodoh apa yang akan aku lakukan jika benar-benar bisa melihatnya sedang makan dari jarak dekat.

Tapi, lagi-lagi aku tidak tahu tentang apa yang sedang aku lakukan. Aku tidak punya sedikitpun alasan mengenai keinginanku yang satu ini. Tapi yang jelas, ada sesuatu yang menarik ketika aku sedang diam-diam memperhatikannya. Ada seperti sebuah rasa penasaran yang terus menerus menyeru dalam pikiranku. Jujur saja, aku tertarik pada aktivitas yang satu itu.

Setelah beberapa menit menunggu di meja kantin bagian luar. Apa yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang, walaupun dengan sedikit terlambat. Aku kembali mendapati kedatangan Dia bersama teman-temannya di kantin Bu Titin ketika aku sedang makan. Tiba-tiba Dia melintas dengan sangat mengejutkan tepat dihadapanku. Aku langsung pura-pura sibuk dengan telpon genggamku. Entahlah, aku tidak pernah berani melihat ke arah matanya. Aku selalu merasa deg-degan ketika berada dalam jarak dekat dengannya.

Kemudian, dipikiranku mendadak muncul beberapa kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi beberapa saat lagi.

Pertama; Sudah pasti Dia dan teman-temannya akan duduk satu meja denganku. Sebab, meja yang lain sudah terisi penuh oleh pelanggan-pelanggan Bu Titin yang sedang makan. Hanya tersisa beberapa kursi di meja yang sedang aku tempati yang masih kosong. Aku sudah merasa berada di atas angin.

Kedua; Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri tentang di kursi manakah Dia akan duduk. Di sampingku? Atau dihadapanku?

Aku mendadak cengar-cengir sekaligus deg-degan bukan main. Aku coba menarik nafas dalam-dalam, kemudian aku hembuskan secara perlahan. Aku berusaha memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku mencoba mengontrol keseluruhan diriku.?

Tapi ternyata semuanya berjalan diluar perkiraanku. Tiba-tiba Dia kembali melintas dihadapanku dengan kantong plastik hitam dan minuman berwarna hijau tosca di kedua tangannya. Sama persis seperti kemarin. Lalu, Dia kembali pergi meninggalkan kantin.

Aku kecawa, tentu saja. Tapi di dalam hati, aku juga tertawa malu. Aku menertawakan diriku yang percaya diri dengan begitu berlebihan.

Tapi sejak saat itu, aku jadi mulai sedikit tahu tentang beberapa kebiasaannya. Selepas ashar, Dia selalu datang ke kantin Bu Titin bersama teman-temannya untuk membeli nasi bungkus lengkap dengan kerupuk dan minuman berwarna hijau tosca. Dia juga selalu sibuk dengan telpon genggamnya.

Diam-diam, aku mulai suka dengan warna minuman yang selalu Dia beli dari kantin Bu Titin. Ada seperti semacam daya tarik yang Dia tularkan lewat minuman itu kepadaku. Ah, entah bagaimana caranya rasa penasaranku terhadap Dia menjadi semakin meningkat di setiap harinya. Rasa penasaran itu semakin tumbuh berantai dan mengakar dalam rasaku yang selalu penasaran. Setiap hari, selalu ada hal baru yang harus aku ketahui dari apa yang menjadi kebiasaannya.

Hari demi hari berlalu. Aku jadi rutin menunggu kehadiran Dia di kantin Bu Titin. Aku selalu meluangkan waktu istirahat lebih lama untuk sekedar duduk di meja kantin bagian luar demi bisa melihat kedatangan Dia sejak dari kejauhan. Aku jadi lebih suka keluar istirahat seorang diri. Karena aku tidak mau ada satu orang pun yang tahu tentang kebiasaan baru yang beberapa hari belakangan sedang aku lakukan.

Aku selalu menyaksikan pemandangan yang hampir sama tentang Dia di setiap harinya. Aku selalu mengakrabi langkah kakinya di bawah terik matahari, merekam seluruh ekspresi wajahnya, menyaksikan semua kebiasaannya, dan masih banyak lagi. Sampai pada akhirnya, waktu telah mempertemukan aku dengan Dia pada posisi yang sangat dekat, tepat dibelakangnya.

Sore itu.. Setelah makan, aku masih menunggu kedatangan Dia di meja kantin. Tapi, waktu istirahatku sudah hampir habis, sementara Dia belum juga datang. Jadi aku memutuskan untuk segera kembali ke tempat kerja.

Aku segera menghampiri Bu Titin yang sedang sibuk melayani beberapa pelanggannya yang sedang memesan makanan. Aku ingin membayar makanan yang baru saja aku makan. Suasana kantin Bu Titin yang sedang ramai, membuatku harus sedikit mengantri.

Tiba-tiba Dia bersama teman-temannya datang dengan mengejutkan dari belakangku, kemudian berdiri di sampingku. Aku terkejut bukan main, tentu saja. Lalu, aku segera mundur beberapa langkah untuk memberi ruang pada mereka. Ah, sebenarnya aku hanya tidak sanggup untuk berada di sampingnya. Aku selalu merasakan sebuah sensasi panas dingin ketika berada di dekatnya. Ini memang terdengar begitu berlebihan. Tapi ini benar-benar aku alami ketika aku berada di dekatnya.

Melihat ada sebuah ruang yang aku berikan, Dia dan teman-temannya segera mengisi ruang kosong yang sudah aku sediakan. Waktu itu, Dia jadi berada tepat dihadapanku

Ah, pemandangan macam apa ini? Aku berada pada jarak yang sangat dekat dengannya. Aku tepat di belakangnya. Aku bisa melihat dengan sangat jelas bulu-bulu halus di lehernya. Aku pun bisa melihat alur rambutnya yang tekuncung dengan rapih. Aku bisa melihat keberadaan tai lalat di pangkal lehernya. Aku bisa melihat keringat yang mengalir lembut dari kulit kepalanya. Aku bisa mencium aroma tubuhnya. Aku bisa melihat keseluruhan dari dirinya.

Sial, Dia benar-benar membuatku melayang jauh ke angkasa. Aku kembali menyaksikan waktu yang berhenti berputar. Dan seluruh suara kebisingan yang ada, seolah redam ketika Dia bersuara.

?Bu, aku pesan nasi, lauknya ati ampela sama sayur ya.? Ucap Dia kepada Bu Titin.

?Bikin tiga Bu.? Sambut salah seorang temannya.

Setelah itu, Dia segera mengambil seikat kerupuk yang berada di samping kiri etalase dagangan Bu Titin.

?Teh Dira minumnya Es Jeruk Nipis kan?? Tanya Desi kepadanya.

?Iya, esnya sedikit. Bikin tiga juga ya. Tidak usah dibungkus plastik.? Balasnya.

Waktu itu, untuk pertama kalinya aku mengetahui namanya. Dira, nama yang manis, semanis senyumannya. Aku juga jadi tahu tentang minuman berwarna hijau tosca itu. Ternyata minuman yang selama ini dia bawa adalah Es Jeruk Nipis.

Beberapa saat kemudian, minuman pesanannya jadi.

?Teh Dira, ini minumannya? Kata Desi.

?Iya Des, makasih ya.? Balasnya.

Kemudian, Dia segera meminum minuman itu secara perlahan. Sangat perlahan.. Ah, lagi-lagi aku harus menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat jantungku berdegup dengan kencang. Sungguh, aku bisa melihat dengan sangat jelas saat-saat ketika bibirnya yang merah merona bersentuhan langsung dengan ujung sedotan berwarna putih. Ah, ini kacau. Aku seperti terbang jauh mengawang-awang ke langit lepas. Aku merasakan diriku tidak sepenuhnya sedang berada di sana pada waktu itu. Aku merasa bahwa sebagian dari diriku sedang berada di tempat yang lain, terbang bebas bersama angin yang merambat secara perlahan. Dan waktu kembali berhenti berputar, namun kali ini dalam jangka yang cukup lama. Tentu saja.

Beberapa saat kemudian, aku segera tersadar. Aku membenarkan posisi tubuhku, ekspresi wajahku, jaketku, semuanya. Aku telah merasakan bahwa keseluruhan dari diriku telah kembali pada kondisi normal. Dan aku masih berada tepat di belakangnya. Menyaksikan Dia sedang membayar makanan pesananannya. Setelah itu, Dia dan teman-temannya kembali pergi meninggalkan kantin. Pergi dari hadapanku.

?Gelora mau bayar?? Tanya Bu Titin kepadaku.

?Eh, iya Bu. Tapi aku mau pesen minum lagi. Es Jeruk Nipis satu, dibungkus ya.? Jawabku.

?Boleh. Tumben minumnya Es Jeruk Nipis?? Tanya Bu Titin, sekali lagi.

?Mmmmm... anu... Aku ingin coba ganti menu minuman. Lama-lama bosan juga setiap hari minum Es Teh terus. Iya kan, Des?? Kataku.

Desi tersenyum ke arahku. Kemudian kami semua tersenyum.

Setelah selesai membayar semuanya. Aku segera bergegas meninggalkan kantin. Aku kembali menuju ke tempat kerja sembari menikmati segelas Es Jeruk Nipis yang baru saja aku beli. Aku berajalan dengan santai sambil menugaskan otak kananku untuk berusaha mengulang kembali beberapa adegan penuh emosi yang beberapa menit lalu baru aku alami. Aku jadi cengar cengir tidak karuan. Seperti tidak sadar bahwa waktu itu panas matahari sedang sangat terik. Aku terlihat seperti seorang pemabuk yang sedang berjalan dengan pikiran yang kosong. Dan sejak saat itu, aku mulai jatuh cinta pada Es Jeruk Nipis.

?

bersambung...

  • view 199