SYTDT - Secret Admirer

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Februari 2016
SYTDT - Secret Admirer

Pernah mendengar kisah tentang ksatria berkuda yang jatuh hati pada seorang Putri? Atau pernahkah membaca sebuah cerita klasik tentang seorang Pangeran yang diam-diam selalu mengamati gerak-gerik seorang gadis di ujung desa? Beauty and The Beast? Atau mungkin Pungguk Yang Merindukan Rembulan?

Barangkali beberapa kisah dari negeri dongeng memang sengaja dibuat semenarik mungkin agar dapat mencuri hati penikmatnya. Bahkan, beberapa kisah dibuat sangat mengharukan agar siapa saja ikut larut dalam isi cerita yang disampaikan. Dan barangkali masih banyak sekali kisah cinta nyata di dunia ini yang belum pernah dituliskan oleh penulis manapun, belum pernah diceritakan oleh pendongeng manapun, dan juga belum pernah difilmkan oleh sutradara manapun.

?

***

?

Seminggu setelah berpapasan dan melakukan sebuah kontak mata yang dipenuhi dengan rasa emosional tidak biasa dengan Dia, aku tiba-tiba kembali terbayang wajahnya. Ada sesuatu yang secara mengejutkan selalu melintas di kepalaku. Sesuatu itu perlahan memaksaku untuk sesegera mungkin melihat kembali paras wanita yang?mampu memberi sebuah letupan di dalam hatiku. Untuk melihat helai rambutnya, lengkung bibirnya, sendu matanya, semuanya. Sesuatu itu terus memaksaku untuk memastikan bahwa Dia sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Sebanarnya, aku tidak mau terus-menerus berada pada perasaan yang tidak jelas seperti itu. Cepat atau lambat, aku harus segera bergegas pergi meninggalkan bayangan-bayangan aneh yang setiap hari selalu mengganggu lelap tidurku. Maka setiap kali berjalan menuju pintu Lobby untuk keluar istirahat kerja, aku selalu berusaha mematenkan pandanganku. Aku berusaha agar tidak kembali berjumpa dengannya. Agar lama-kelamaan bayangan wajahnya yang selalu berhamburan di kepalaku menjadi semakin memudar di telan waktu.

Tapi pada suatu waktu, ketika aku sedang bergegas menuju pintu Lobby, entah bagaimana caranya aku luput dari upaya yang sedang aku rencanakan. Dengan pandangan yang seolah mencuri, aku diam-diam menyimpan sebuah keinginan. Sejak dari kejauhan, aku sudah mengakurasikan jarak pandangku untuk melihat ke arah toko tempat Dia bekerja. Namun, aku tak melihatnya sedang berdiri di depan toko. Sepi... Tak ada siapa-siapa di depan sana. Hanya ada barisan sepatu-sepatu model baru yang tersusun rapih di balik dinding kaca dua arah yang begitu kinclong.

Asaku belum menemui ujungnya. Aku terus berjalan dengan tatapan yang tidak lurus ke depan. Mata dan kepalaku seperti membenci arah kakiku melangkah, timpang dan berseberangan. Ada sedikit kecemasan yang mulai membuih anganku. Tapi tak berlangsung lama. Sebab semua keraguan, ketidak pastian, dan bayangan-bayangan mendadak bertekuk lutut tatkala mataku menemui kehadirannya sedang berdiri di balik monitor kasir, jauh di kedalaman toko. Rambutnya masih terkuncung seperti hari-hari kemarin. Matanya seperti tak pernah sayu ditelan waktu. Kaos polo berwarna biru tua masih melekat erat tubuhnya. Sementara jam tangan analog hitam yang melingkar di lengan kirinya masih setia menemani kesendiriannya. Aku terus memperhatikannya sampai aku benar-benar berlalu dari hadapannya. Ada sepi di kedua telingaku. Ada semacam gerakan yang mendadak melambat di setiap kedip mataku.

Saat itu, aku benar-benar sudah tidak dapat membendung lagi gejolak rasa yang aku punya. Barangkali, itu semacam sebuah haluan yang tak bisa dikendalikan lagi dengan cara apapun. Hari demi hari berlalu. Entah energi macam apa yang tiba-tiba tertanam dalam diriku sehingga di setiap harinya aku merasa begitu bersemangat. Detik-detik begitu cepat berguguran. Sementara jarak antara fajar dengan senja terasa begitu cepat untuk dijamak.

Setiap hari aku tak pernah alpa memperhatikannya. Saat aku melintas di depan tokonya, maupun ketika Dia sedang berjalan menuju toilet. Nampaknya aku telah benar-benar kehilangan konsentrasi dalam bekerja. Sebab tanpa disadari, aku jadi sering berdiri di depan pintu tempat kerjaku. Berpura-pura menghampiri salah satu rekan kerjaku yang bertugas di depan pintu untuk menyambut para tamu. Alih-alih mengajaknya untuk berbicara, padahal mataku lebih fokus memperhatikan toko sepatu di seberang.

Tak jarang aku menyaksikan Dia sedang berdiri manja di depan toko. Menyembunyikan kedua tangannya di belakang pinggul, seperti anggota paskibra dalam keadaan istirahat di tempat, tentunya dalam situasi dan keadaan yang jauh lebih rileks. Dia juga sering menyandarkan tubuh bagian belakangnya ke tembok. Senda gurau adalah hal paling pokok yang selalu Dia lakukan bersama teman-temannya. Senyumnya selalu pecah ditengah kebisingan suara-suara.

Bagiku, senyumannya seperti sebuah todongan senapan di kepalaku. Yang menyebabkan aku harus bertekuk lutut di hadapannya. Tak bisa berkutik secuil pun karena khawatir jika itu akan dapat memberikan ancaman yang lebih besar lagi untukku. Barisan gigi-giginya yang rapih selalu terlihat ketika senyumnya menghangatkan orang dihadapannya. Tapi tunggu dulu, aku baru sadar bahwa ternyata Dia masih punya satu tai lalat lagi di bawah bibir sebelah kanan. Dan barangkali itu yang selama ini membuat senyumnya manis. ?

?

? ? ? ? ? ? ? ?Bersembunyi di balik tirai
? ? ? ? ? ? ? ?Memandang jalan
? ? ? ? ? ? ? ?Gadis kecil ingin ke luar
? ? ? ? ? ? ? ?Menantang alam?

? ? ? ? ? ? ? ?Bersembunyi ia di dalam
? ? ? ? ? ? ? ?Mengintai ruang
? ? ? ? ? ? ? ?Gadis kecil merangkai kapal
? ? ? ? ? ? ? ?Melipat jarak

? ? ? ? ? ? ? Tapi di sana hujan
? ? ? ? ? ? ? Tiada berkesudahan
? ? ? ? ? ? ? Tapi di sana hujan turun membasahi semua sudut kota
? ? ? ? ? ? ? Hapus tiap jejak jalan pulang

? ? ? ? ? ? ? Berangkat di atas kapal kertas
? ? ? ? ? ? ? Menggantungkan haluan
? ? ? ? ? ? ? Menambal, menyulam, menghindari karam

? ? ? ? ? ? ? Berangkat di atas kapal kertas
? ? ? ? ? ? ? Bersandar ke layarnya
? ? ? ? ? ? ? Di antara suka, di antara duka

Banda Neira - Di Atas Kapal Kertas?

?

Ketika jam kerja, Dia selalu menguncung rambutnya dengan sangat rapih. Sementara ketika baru datang ataupun sepulang kerja, Dia lebih suka menggerai rambutnya yang ikal bergelombang. Membiarkannya bersahutan tertiup angin. Tapi jika boleh memilih, aku lebih suka ketika melihat rambutnya sedang dalam keadaan terkuncung.

Aku tahu jika Dia tidak begitu pandai menguncung rambut. Dan aku rasa, Dia bukanlah tipe perempuan yang rela menghabiskan banyak waktu untuk mengatur rambutnya hingga terlihat semenarik mungkin. Sebab jika aku lihat, penampilan rambutnya selalu sederhana. Setiap hari Dia hanya mengucung rambutnya menggunakan karet rambut berwarna hitam menjadi satu arah kuncungan. Tak ada gaya istimewa yang Dia lakukan untuk membuat rambutnya tampak luar biasa. Semuanya serba sederhana. Tapi meskipun begitu, aku selalu saja tertarik dengan rambutnya.

Entahlah. Sejak SMP, aku memang selalu memiliki suatu ketertarikan yang lebih terhadap setiap perempuan dengan rambut? terkuncung. Sejak kecil aku selalu membayangkan bahwa pada suatu hari nanti, ketika dewasa kelak, aku akan jatuh hati pada perempuan dengan rambut yang terkuncung. Sebenarnya, Dia sedikit menyerupai sosok perempuan yang sejak dulu perannya selalu aku rangkai dalam imajinasiku. Tapi meskipun begitu, aku tidak pernah merasakan benar-benar jatuh hati terhadapnya. Aku rasa, rasa yang aku dapat darinya masih sebatas kekaguman belaka. Seperti yang sudah aku bilang, bahwa cinta butuh sebuah proses. Cinta perlu melihat ke kedalaman, apapun itu.

Namun, tanpa Dia sadari, setiap saat aku selalu mengakrabi senyumnya dari kejauhan. Setiap kali sedang berdiri di depan toko, aku selalu memerintahkan kedua bola mataku melirik 38 derajat ke arah kiri, untuk merekam semua gerak-geriknya. Berharap besar bahwa Dia akan menyadari semuanya, lalu menoleh ke arahku untuk kemudian melontarkan sebuah senyum perkenalan. Sebab, bukankah tidak ada cara berkenalan paling baik dan indah selain yang diawali dengan sebuah senyuman manis dari masing-masing keduanya. Tapi apa boleh buat, jarak pandang menjadi sebuah penghalang besar untuk mataku dan mata Dia bisa saling bertemu. Meskipun sebenarnya posisi tempat kerjaku dan tempat kerja Dia hanya bejarak tidak lebih dari seratus meter. Namun dunia nyata dan dunia cinta selalu saja memiliki segala perbandingan yang tak beratuan. Segalanya tentang Dia selalu saja terasa seperti berpuluh-puluh kilometer jauhnya.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan besar kembali hadir dalam kepalaku. Bahwa aku adalah seorang penderita miopia, yang jika tidak memakai kacamata, dunia akan terlihat buram dan semu. Namun meskipun begitu, aku bisa sangat jelas memperhatikan segala gerak-gerik Dia di setiap harinya meskipun tanpa kacamata. Aku mendadak merasakan seperti memiliki sebuah mata dalam kondisi normal ketika sedang diam-diam memperhatikan Dia dari kejauhan. Bahkan, aku seperti memiliki sebuah radar khusus untuk mendeteksi kemana pun Dia akan mengarahkan kakinya untuk melangkah.

Berbulan-bulan aku terus memperhatikannya dalam diam. Aku selalu mencari tahu apapun tentang Dia. Seperti ada sebuah kesenangan tersendiri ketika sedang diam-diam mencari tahu segala sesuatu tentangnya.

Aku mulai tahu jadwal jam kerja di tokonya. Di sana ada 3 macam shift kerja. Pertama adalah Shift Opening, yang dimulai dari jam 08.30 sampai jam 16.30. Kedua adalah Shift Middle, dimulai dari jam 12.00 sampai jam 20.00. Ketiga adalah Shift Closing, dimulai dari jam 13.00 sampai tutup toko, kira-kira jam 21.00, atau lebih. Namun, Shift Middle hanya diberlakukan pada Week End saja. Sementara pada Week Day hanya diberlakukan dua macam Shift, yaitu Shift Opening dan Shift Closing. Sedangkan untuk urusan jadwal libur kerja, aku tidak begitu mengetahuinya. Tapi yang jelas, segala pekerjaan yang berada pada kawasan Mall selalu tidak memperbolehkan karyawannya untuk libur di hari Sabtu dan Minggu. Itu sudah menjadi seperti sebuah ketetapan umum.

Dengan demikian, jika sejak pagi aku belum melihat kehadirannya, aku sudah bisa memastikan bahwa saat itu Dia mendapat jadwal kerja Shift Closing. Maka ketika waktu menunjukan kira-kira pukul 12.30, aku segera berdiri di depan pintu tempat kerjaku. Lalu, aku selalu melihat beberapa derajat ke arah utara dari tempatku berdiri untuk menanti langkah kakinya. Aku selalu bersemangat ketika menantikan kedatangannya. Dia selalu datang dari arah pintu utara dengan mengenakan sweater hitam kesukaannya. Tak lupa, Dia juga selalu menggantungkan tas berwarna cokelat di bahu kanannya, serta mengaitkan helm berwarna merah pada siku tangan kirinya. Sementara itu, rambutnya yang tergerai selalu bersahutan secara perlahan terhembus angin.

Terlepas dari kebiasaanku yang selalu memperhatikan seluruh tingkah laku dan kebiasaannya dari kejauhan, aku masih punya kesibukan lainnya dalam mengamati segala bentuk tindakan Dia di luar jam kerja. Perlu diketahui bahwa diam-diam aku selalu mengamati setiap langkah kakinya yang malu-malu. Aku sering menguntit langkah kecilnya yang terkadang tak tentu arah. Menyaksikan kuncungan rambutnya yang terkadang miring sebelah. Menyaksikan caranya memakaikan sepasang sepatu di kedua kakinya. Memperhatikan kepalanya yang sering menunduk untuk memperhatikan layar handphone ketika sedang berjalan.

Aku tahu bagaimana cara Dia melompat untuk menghindari genangan air di tepi jalan. Aku tahu cara Dia melindungi tubuhnya dari terik matahari. Aku tahu cara Dia melontarkan senyum pada seseorang yang tidak begitu Dia kenal. Aku juga tahu cara Dia merapihkan poninya yang terkadang menutupi mata.

Aku tahu jika Dia adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara. Aku tahu jika Dia lebih suka Ironman dibandingkan Batman. Aku juga tahu jika Dia lebih suka minum teh dibandingkan susu ataupun kopi. Dia lebih suka kangkung dibandingkan bayam. Dia suka memakai jam tangan. Masha And The Bear. Sering ngebut di jalan. Sering kehilangan karet rambut. Dan heeey... Ternyata aku sebelas hari lebih muda dari Dia. Aku dan Dia lahir pada bulan yang sama, dan tahun yang sama pula.

Dia suka Reza Rahadian. Sammy Simorangkir. Taylor Swift. Dan ah, Aku tidak bisa membayangkan ketika Dia bernyanyi sembari melakukan tarian-tarian kecil di dalam kamar. Saat Dia berusaha meluapkan semua amarah dan ego yang ada pada dirinya.

?

??????????????? Cause the players gonna play, play, play

? ? ? ? ? ? ? ? And the haters gonna hate, hate, hate

??????????????? Baby i?m just gonna shake, shake, shake

??????????????? Shake it off???????????

?

? ? ? ? ? ? ? ? Heartbreakers gonna break, break, break

??????????????? And i think it?s gonna fake, fake, fake

??????????????? Baby i?m just gonna shake, shake, shake

??????????????? Shake it off, shake it off

Taylor Swift - Shake It Off

?

Dia tidak begitu cantik. Dia tidak juga tinggi. Putih memang. Masih banyak sekali perempuan di luar sana yang jauh lebih cantik darinya. Dia menarik? Ya, aku akui. Sebab dari sekian banyak perempuan yang pernah aku jumpai, Dia menjadi satu-satunya perempuan yang mampu membuatku bertingkah layaknya seorang detektif.

Aku seperti terkagum dengan apapun yang Dia lakukan. Jika boleh meminta, aku hanya ingin bisa mengenalnya lebih dekat. Tapi apa daya, aku hanya bisa terus berharap. Berharap pada waktu yang tidak pernah bisa memberi kepastian. Berharap pada angin yang terkadang tidak tahu arah jalan pulang. Berharap pada air hujan yang hanya bisa menyisakan sebuah genangan di pinggir jalan.

Lalu, aku kembali bingung harus bagaimana. Nyaliku terlalu ciut untuk sekedar menyapanya lewat sebuah senyuman hangat. Asaku memang setinggi langit. Tapi aku perlu sadar bahwa diatas langit masing banyak sekali langit. Bumi memang tak pernah lelah untuk dipijak. Sedangkan hati selalu saja merana ketika tak menemui arah. Tapi, selama darah dalam tubuhku masih mengalir, selama senja masih setia kembali pada ufuk barat, selama langit masih sudi menjadi atap bagi semesta, aku tidak akan pernah risau, meskipun terus berada pada posisi seperti itu. Aku bersedia menjadi seperti pengemis tua yang selalu mengaharap kedua matanya ditatap oleh Tuan dan Puan.

?

Semesta bicara tanpa bersuara
Semesta ia kadang buta aksara
Sepi itu indah, percayalah
Membisu itu anugerah?

Semesta bergulir tak kenal aral
Seperti langkah-langkah menuju kaki langit
Seperti genangan akankah bertahan
Atau perlahan menjadi lautan

Seperti hadirmu di kala gempa
Jujur dan tanpa bersandiwara
Teduhnya seperti hujan di mimpi
Berdua kita berlari?

Banda Neira - Hujan Di Mimpi

?

bersambung...

?

  • view 267