Di Paruh Waktu

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Juli 2017
Di Paruh Waktu

"Untuk rencana pembukaan cabang baru, aku serahkan seluruhnya kepadamu. Masalah perizinan, tempat dan lain sebagainnya kau yang atur. Serahkan berkas laporannya kepadaku maksimal satu minggu sejak hari ini. Aku rasa, sudah sepantasnya kau terjun untuk hal ini." Kataku penuh percaya.

Dalam ruang kerja yang berukuran kurang lebih 7 x 5 meter, aku duduk berhadapan dengan Yuda, orang kepercayaan sekaligus asisten pribadiku. Kami hanya terhalang sebuah meja kantor berukuran sedang yang permukaannya terbuat dari batuan alam, orang-orang biasa menyebutnya batu marmer. Sebuah foto berukuran 30R yang menampilkan wajahku dalam situasi sangat resmi terpampang lugas tepat dibelakang kursi kerjaku. Jam dinding klasik yang menggantung di sudut kanan ruangan mengabarkan bahwa waktu telah berada pada pukul 11.30. Sementara itu, udara sejuk yang diiringi wewangian beraroma lavender telah menguar menyelinapi indera penciuman kami berdua.

"Tapi Uda..." Jawab Yuda, sedikit gugup.

"Sudahlah Yud, aku tak mau terlalu dipusingkan dengan hal semacam ini. Lagi pula, aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari. Dan aku rasa, ini bukanlah hal yang terlalu sulit bagimu." Sergapku.

Yuda sedikit menurunkan pandangannya ke arah tumpukan berkas-berkas penting di atas meja. Dadanya terlihat naik turun tersebab tarikan nafas panjang. Sementara itu, dalam perspektif yang lain, aku tahu betul bahwa ini adalah sebuah kepercayaan yang tak murah. Atau bahkan, ini semacam perjudian nasib sebuah perusahaan. Tapi meskipun demikian, aku sama sekali tidak meragukannya lagi. Sebab,  tidak ada sedikitpun keraguan untuk orang yang benar-benar aku percaya.

"Jika sudah tidak ada yang ingin disampaikan lagi, kau boleh pergi." Kataku, lagi.

Yuda masih tertunduk. Dahinya berkerut. Sementara nafasnya masih naik turun dalam ritme yang stabil.

"Baiklah Uda. Permisi..." Katanya, sembari mengangkat bokongnya dari kursi.­

Sepanjang langkahnya menuju pintu, Yuda tampak lunglai, kepalanya terus menunduk. Sebenarnya ini adalah kabar baik, tapi entah kenapa aku seolah memberi kabar yang membuatnya risau dan menimbulkan rasa cemas yang begitu hebat. Ah Yuda, sebuah awal memang selalu terasa berat dan menghawatirkan. Tapi aku rasa, yang dibutuhkan saat ini hanyalah sebuah keyakinan dan keberanian. Satu hal lagi, dia perlu tahu bahwa aku tak akan mungkin sembarang memberi kepercayaan semacam ini kepada orang yang asal-asalan. Ah, barangkali memang tak ada lagi rasa percayaku kepada orang-orang di perusahaan ini selain kepadanya. Kalaupun ada, mungkin memang tak akan sebesar ini. Sebab tak bisa aku pungkiri bahwa sejarah telah mencatat betapa banyak aku berhutang budi padanya. Kalau saja dia tidak terus setia berada disampingku, mungkin kisahnya tak akan sampai seperti ini. Ah sudahlah.

Perlahan, Yuda mulai lenyap di telan pintu.

Tidak lama berselang, aku segera bangkit dari kursi kerjaku. Berjalan mendekati cermin yang menempel di sisi dinding ruangan. Perlahan, aku mulai memeriksa detail penampilanku dari kepala hingga kaki. Tak lupa pula, aku pun memperhatikan penampilan rambut dengan seksama. Sebab, bukankah mahkota 'Sang Raja' harus selalu terlihat mempesona? Bukankah aku harus selalu terlihat rapih dan berwibawa di hadapan rakyat-rakyatku?

Akhirnya, dengan langkah penuh wibawa, aku keluar ruangan dibalut wajah serius dan tatapan yang tajam.

"Selamat siang Pak." Ucap beberapa staff kantor yang secara kebetulan melintas di depan ruanganku. Mereka menundukkan kepala dan berhenti sejenak tepat dihadapanku.

"Selamat siang." Balasku sembari tersenyum ramah ke arah mereka. Lalu aku sedikit menganggukkan kepalaku, sebagai isyarat untuk mempersilahkan mereka kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Mereka pun berlalu dari hadapanku.

Sementara itu, aku terus menyaksikan langkah mereka dengan sangat telaten, mencermati cara mereka berpakaian, dan bahkan aku pun mencoba mengingat galar gelar yang mereka ajukan kepadaku semasa dulu, demi bisa bergabung di perusahaanku. Ah, semuanya orang hebat dan berpendidikan. Sarah, wanita cantik dengan gelar Sarjana Ekonomi. Farhan Bustomi, seorang profesional muda lulusan Magister Bisnis dari Universitas terkemuka di Negeri ini. Jesela, wanita pintar dengan tinggi semampai hasil blasteran Inggris-Manado yang sangat bergembira ketika mengetahui bahwa dirinya diterima di perusahaan ini. Tapi, mereka hanya profil sebagian kecil saff yang aku miliki. Aku masih punya banyak staff dengan lulusan Universitas terkemuka dan orang-orang profesional dengan prestasi yang sangat membanggakan lainnya. Meskipun begitu, semuanya menaruh hormat kepadaku. Ah! Betapa beruntungnya aku. Pemuda kampung tak berpendidikan.

"Mmmmm... Pak Parto!" Ucapku seketika.

Seorang pria tua dengan perawakan kurus yang sedang menyapu lantai di ujung lorong secara tergesah menyandarkan sapu dan pengkinya ke sudut dinding. Lalu, langkahnya sigap menuju ke arah sumber suara, ke arahku. Sepertiga tubuh bagian atasnya mendadak condong ke depan. Sementara itu, kedua tangannya dijadikan satu dan diposisikan menutupi area kemaluannya.

"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tawarnya. Matanya menatap penuh ke arah bawah.

Ah terus terang saja, sebenarnya aku tak terlalu suka diperlakukan seperti ini. Apalagi, hal ini dilakukan oleh orang yang berusia jauh lebih tua dariku. Tapi barangkali, ini adalah semacam simbolis rasa hormat seorang anak buah kepada boss nya. Atau mungkin juga, ini adalah semacam tradisi mutlak, bahwasannya setiap orang akan berpura-pura manis di hadapan atasannya. Entahlah.

"Tolong belikan saya nasi padang untuk makan siang." Kataku, sambil menyodorkan selembar uang pecahan seratus ribu rupiah kepadanya. "Kembaliannya, Bapak ambil saja." Sambungku.

Mendengar perintah dan pernyataanku, wajah si pria tua mendadak sumringah. Barangkali baginya, ini seperti sebuah gelegar petir di siang bolong.

"Terima kasih banyak Pak..." Timpalnya. Kedua tangannya meraih uang dari tanganku dengan sangat hati-hati dan perlahan."Kalau begitu, saya permisi dulu pak." Lanjutnya. Kemudian berlalu pergi.

Aku tersenyum. Tersenyum untuk sebuah kemenangan, untuk sebuah dendam lama yang begitu membatin.

Langkahku berlanjut menyusuri badan kantor. Melihat kedatanganku, orang-orang sejak dari kejauhan terlihat mulai berdiri dan membenahi diri mereka masing-masing. Mereka mendadak membungkuk dan memasang senyuman terbaiknya untukku. Ah begitu beruntungnya aku. Seorang pemuda desa yang tak punya sanak saudara, tapi begitu dieluh-eluhkan oleh orang-orang pintar metropolitan. Menjadi Tuan di negeri orang. 

Aku tersenyum ramah membalas salam mereka, meskipun tak satu persatu. Tapi, aku cukup tersanjung melihat tingkah anak buahku yang begitu menaruh hormat kepadaku.

"Rena, ini cuma soal waktu" Bisikku pada diriku sendiri.

Aku terus bergerak mengelilingi kantor untuk memasuki setiap ruangan yang ada. Tiba-tiba langkahku harus terhenti di sebuah lorong panjang yang berfungsi sebagai jalan utama. "Ahmad Ranum Sibaweh", aku membaca judul besar pada secarik sampul majalah wirausaha yang terbingkai rapih dan menggantung di dinding lorong. Pada sampul majalah yang dibingkai manis itu, terpampang fotoku dengan pakaian rapih dan senyum yang lebar. "Sukses karena sebuah lara!" Aku tersenyum melihat kutipan yang dijadikan sub judul pada majalah tersebut.

Aku tertawa sendiri, bahkan terbahak. Seolah menertawakan nasibku sendiri di masa lalu, yang sampai sekarang masih selalu aku jadikan dendam sebagai pelecut semangatku. Tak ada yang menyenangkan ketika hidup sebagai orang melarat. Tak ada yang membahagiakan ketika rasa cinta yang begitu besar harus dihianati oleh iming-iming materi.

"Rena, ini Cuma soal waktu. Seharusnya kau menunggu!" Bisikku pada diriku sendiri.

Aku bergegas meninggalkan lorong utama. Pantofel kulitku kembali mengetuk-ngetuk lantai secara perlahan dan konstan. Semburat wajahku masih tampak sumringah, tersebab tawa tak terhenti baru saja aku lepaskan di badan lorong. Lalu, aku menuju pintu masuk utama kantor. Dua orang resepsionis berparas ayu di balik meja terpergok sedang menggoreskan gincu di bibirnya. Lantas aku berhenti sejenak. Keduanya kebakaran jenggot setelah mengetahui kedatanganku dari arah samping. Lalu, mereka meletakkan gincunya ke laci meja, untuk kemudian berdiri menghadapku dengan tergopoh, "Se... Selamat siang Pak." Ujar mereka berdua sembari membungkukkan badan. Sementara salah seorang dari mereka, tiba-tiba secara perlahan dan diam-diam menurunkan roknya yang terlalu naik ke atas.

"Hari ini saya sedang tidak ingin kedatangan tamu. Siapapun dan darimana pun. Terkecuali..... Rena. Kalian mengerti?" Kataku separuh melongok ke arah pintu masuk.

"Baik pak." Jawab mereka serentak.

Aku kembali ke ruang kerjaku dengan perasaan yang mengganjal. Ada sebuah kerinduan yang urung di utarakan tersebab sebuah lara yang mendalam. Barangkali, inilah luka terhebat yang pernah aku derita sepanjang hayatku. Entahlah, sejauh ini memang belum ada sebuah penawar yang mampu melarutkan lara ini secara permanen.

Aku membuka pintu. Seketika itu pula, aroma lavender kembali menampar penciumanku secara brutal. Beberapa tumpuk map berisikan laporan pekerjaan yang harus aku tandatangani sudah mengantri dia atas meja kerja. Menyebalkan memang, tapi aku justru tersenyum melihatnya.

Aku berjalan menuju meja kerja. Lalu, aku singkirkan seluruh tumpukan map itu ke sebuah filling cabinet yang berada di sudut ruangan. Entah bagaimana caranya, aku mendadak malas dan memutuskan untuk istirahat bekerja. Aku mendadak malas untuk tanda tangan dan memberikan perizinan dalam bentuk apapun. 

Maka aku mengendurkan dasi, menyingsingkan lengan baju, dan melepas kancing bagian kerah. Lalu, aku mendaratkan tubuh ke kursi kerjaku. Aku naikkan kedua kaki ke atas meja kerjaku. Tak apa-apa. Sebab tak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada aku dan setumpuk kenangan masa lalu yang kini, entah bagaimana caranya tiba-tiba kembali berhamburan di kepalaku.

"Ini cuma soal waktu" Gumamku sekali lagi.

  • view 67