SYTDT - Di Bawah Senja

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
SYTDT - Di Bawah Senja

Suasana masih tetap saja membosankan seperti biasanya. Aku masih menyaksikan orang-orang lalu lalang tanpa tujuan yang jelas. Beberapa cleaning service mondar-mandir mengepel lantai mall dengan raut wajah yang kelelahan. Seorang pria bertubuh tambun sedang meneguk secangkir kopi luwak seharga 80 ribu. Aroma terasi di bakar yang berasal dari restoran khas sunda masih menginvasi mall. Sementara itu, beberapa orang berdasi sedang berjalan secara perlahan sambil melakukan beberapa perbincangan yang diiringi tawa berlebihan di dekat pintu lift.

?

***

?

Sudah giliranku untuk istirahat kerja. Aku segera mengenakan jaket abu-abu tua kesukaanku. Kemudian keluar toko sembari menilik jam tangan digital yang selalu aku kenakan di tangan kiri. Waktu telah mengabarkan pukul 15.48. Aku segera beranjak menuju masjid untuk menunaikan Ashar. Waktu itu, aku keluar isirahat seorang diri. Sebab, teman-temanku yang lain sudah istirahat terlebih dulu beberapa menit yang lalu.

?

Aku berjalan tergesah sembari memegang telpon genggamku di tangan kanan. Keramaian mall telah menyamarkan suara sepatu pantofelku yang saling berbenturan dengan lantai. Aku melihat seorang anak kecil menangis histeris setelah terjatuh di ujung jalan. Sementara itu, suara musik dari masing-masing tenant menimbulkan keramaian yang beriringan.

?

Aku terus berjalan menuju masjid. Dan seperti biasa, aku selalu menemukan pemandangan yang selalu sama di setiap harinya. Seorang security wanita selalu berdiri dengan posisi tegak di belakang pintu Lobby dengan make up yang tidak terlalu mencolok. Sedangkan dua wanita petugas informasi selalu terlihat sedang duduk dan mengobrol sembari menebalkan liptick dan alisnya. Ah, jujur saja, aku selalu salah fokus ketika melihat kedua petugas informasi itu. Sebab, aku rasa penampilan mereka terlihat begitu menggoda.

?

Ada sebuah kebiasaan aneh yang entah kenapa selalu aku lakukan. Ketika beberapa meter lagi akan tiba di pintu Lobby, entah bagaimana caranya, dengan spontan aku selalu menoleh 40 derajat ke arah kanan. Aku sama sekali tidak tahu sebab dari kebiasaan yang selalu aku lakukan itu. Tapi yang jelas, sore itu aku kembali melakukannya.

?

Aku kembali melihat kehadiran Dia. Seorang staff tenant toko sepatu yang sedikit tomboy. Namun, entah bagaimana caranya kali ini Dia berubah wujud sebagai sosok yang telihat begitu anggun. Celana katun hitam dan kaos polo biru tua yang Dia kenakan begitu pas melekat tubuhnya. Matanya putih bersih dengan retina hitam pekat di tengah-tengahnya, mata yang puitis. Alisnya tebal dan simetris. Wajahnya putih bersih dengan tai lalat kecil di bawah kelopak mata kanannya, nyaris tak terlihat. Sementara itu, tamparan cahaya matahari telah menyamarkan warna rambutnya menjadi kuning keemasan; waktu tu Dia menguncungnya.

?

Aku memperhatikannya. Dia terlihat sedang tersenyum ramah ke arah seorang Ibu yang sedang memilih beberapa model sepatu di tokonya. Di sana, aku melihat ada sedikit perbincangan diantara mereka. Namun, ada banyak sekali senyuman yang Dia lontarkan. Ah, senyumnya manis sekali. Aku jadi semakin fokus memperhatikannya. Lalu, dia sedikit membenarkan posisi poninya yang miring ke kanan.

?

Langkahku mendadak melambat dengan sendirinya. Aku seolah tersihir oleh senyumnya yang manis. Lalu, aku menatapnya setengah melamun, sambil terus merekam senyumnya. Dan tanpa diduga, seperti tersadar bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya, tiba-tiba Dia juga balik menatapku dengan senyuman yang masih menggantung. Mata kami bertemu, dan nafasku mendadak tertahan beberapa saat. Sepi mendadak hadir dan menguasai lamunanku. Dan barangkali, baru kali ini waktu telah benar-benar menghianati takdirnya untuk terus berputar. Ada semacam jeda ketika mataku bertatapan dengan matanya. Ada seperti sebuah rasa yang tidak jelas, seperti salah tingkah. Aku ingin tersenyum ke arahnya, tapi aku malu. Entahlah, waktu itu rasanya seluruh keberanianku sebagai seorang laki-laki mendadak hilang entah kemana.

?

Kemudian, setelah beberapa saat saling bertatapan mata, masing-masing diantara kami saling memalingkan tatapannya. Secara spontan, aku langsung pura-pura memainkan telpon genggamku. Sementara Dia seolah-olah sedang melihat orang di kejauhan. Dan barangkali, waktu telah kembali berputar secara normal. Menggugurkan detik-detik dengan tanpa perasaan besalah sedikitpun.

?

Aku segera beranjak meninggalkan senyumnya yang masih tersisa. Kembali mempercepat langkah kakiku sembari sesekali tetap mencuri-curi waktu untuk melirik ke arahnya. Sementara itu, Dia kembali fokus melayani pembelinya. Dan aku segara pergi dari hadapannya.

?

***

?

Setelah selesai istirahat, aku kembali pada aktivitas seperti biasanya. Melunasi sisa-sisa jam kerja yang masih berada di depan mata. Tapi, entah kenapa senyuman itu selalu hadir dalam bayanganku. Otak kananku mendadak bekerja lebih keras dari sebelumnya. Dalam kepalaku terus-menerus timbul pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk diungkapkan. Jujur saja, ini membuat fokus pekerjaanku menjadi sedikit berantakan. Ini benar-benar aneh.

?

Ada semacam kehadiran sebuah rasa yang berbeda, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dan entah kenapa, sore itu senja terasa lebih hangat dari biasanya. Senja terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Aku berusaha keras untuk melupakan semuanya. Tapi, semakin aku berusaha melupakannya, justru segalanya semakin kental hadir dalam angan-angan. Sungguh, ini begitu aneh.

?

Tapi... Tidak! Ini bukan cinta. Ini hanya efek dari momentum pembiasan cahaya. Aku tidak boleh jatuh cinta cuma gara-gara sebuah peristiwa yang sederhana. Bagiku, cinta harus jatuh pada orang yang sudah aku kenal dan dalam proses yang relatif lama. Aku tidak setuju dengan istilah ?Cinta Pada Pandangan Pertama?. Jujur saja, aku bukan tipe laki-laki yang mudah untuk jatuh cinta. Dan tentu saja aku sangat yakin bahwa itu semua hanyalah sebuah perasaan biasa yang tidak ada sangkut-pautnya dengan cinta. Bagiku, cinta tidak sesederhana itu.

?

bersambung...

  • view 251