SYTDT - Senja

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Februari 2016
SYTDT - Senja

?Ah pencuri kau!? Rutukku memberudal tatkata sosoknya mulai menjelma di kejauhan.

?

Lalu, aku mulai berdiri di depan pintu, masih sama seperti biasanya. Kedua tangan, aku letakkan di belakang pinggul. Lamat-lamat, pandanganku mulai kabur menatap kejauhan. Sementara itu, sepoy angin pukul lima sore telah sedikit mengusik ketenangan rambut bagian depanku. Mataku menyipit penuh tatkata daun dan ranting-ranting pohon mulai menyingkap ke kiri dan ke kanan. Terang saja, cahayanya begitu menyilaukan semesta.

?

Ah, Senja...

?

Sebuah penutupan, namun sekaligus sebagai pusat keindahan. Sebuah jembatan antara dua keadaan, siang dan malam, terang menuju kegelapan. Bergerak secara perlahan dan tak bersuara. Tak pernah berubah peran, apalagi alpa barang sejenak. Bagiku, sebagian besar keindahan semesta adalah hasil pancaran dari pesonanya.

?

?Ah pencuri kau!? Lagi-lagi aku harus terus-menerus mengatakan hal yang sama.

?

Entahlah,

?

Sejak aku bekerja, entah bagaimana caranya aku begitu tergila-gila pada senja. Bisa dibilang, senja adalah satu-satunya alasan kenapa aku betah dan merasa nyaman bekerja di tempat itu. Betapa tidak... Tak ada hal yang menyenangkan menjalani hidup sebagai seorang pelayan. Tak ada yang menyenangkan ketika mata kita tak pernah ditatap oleh lawan bicara kita, kan?

?

Aku seperti seorang laki-laki yang jatuh hati pada senja. Tedengar aneh, memang! Sebab, tak ada lagi yang perlu dikagumi dari sebuah mall yang belum lama diresmikan pembukaannya. Sunyi, bahkan senyap. Aku rasa, siapapun tak akan pernah bisa terbayangkan kondisi sebuah mall yang begitu tenang tanpa pengunjung. Jangankan pengunjung, tenant-tenant pengisi mall pun hanya bebarapa saja yang sudah benar-benar buka dan siap beroperasi. Bahkan, aku masih bisa menghitungnya dengan hitungan jari. Selebihnya, masih terbungkus rapih dengan baliho besar bertuliskan ?coming soon?.

?

Di sana, baru ada sebuah supermarket, sebuah toko handphone android nomer satu dunia, sebuah restoran cepat saji yang menjual ayam goreng, tempat hiburan anak, dan sebuah optik ternama. Bayangkan saja betapa sepinya.

?

Hari terus berganti, menghadirkan perubahan yang membawa sedikit keramaian. Beberapa tenant lain mulai berdatangan untuk saling bersaing menjual barang dagangannya. Pemandangan mulai sedikit ada perubahan. ?Coming soon? telah berubah menjadi sebuah diskon pembukaan. Hingga tiba saatnya ketika sebuah toko sepatu dan perlengkapan olahraga mulai dibuka. Kurang lebih tiga bulan setelah restoran tempat kerjaku mulai beroperasi, toko itu menguntit untuk ikut mulai beroperasi. Berhadapan dengan tempat kerjaku, namun tak berjajar lurus.

?

Seperti kebanyakan tempat usaha pada umumnya, ketika pertama kali akan dibuka, akan ada semacam pengenalan toko dan acara bersih-bersih masal. Juga akan ada banyak penyusunan barang-barang yang nantinya akan digunakan. Maka, seluruh karyawannya akan ikut serta.

?

Waktu itu, tepat ketika aku kembali dari jam istirahat. Aku berjalan perlahan memasuki mall. Bersama kedua temanku, kami berjalan perlahan sembari membicarakan tentang toko tersebut yang tak lama lagi akan mulai beroperasi. Sesaat kemudian, kami mulai berjalan melintasi toko yang sedang kami bicarakan. Dan waktu itu, aku pertama kali melihatnya, dan biasa saja.

?

Seorang staff toko sepatu yang akan segera buka. Seperti kebanyakan wanita, namun Dia terlihat sedikit tomboy. Terlihat dari celana jeans yang Dia kenakan sedikit lusuh di bagian bawahnya. Sementara itu, sirkulasi udara yang kurang baik memaksa keringat merembes kaos oblong bagian punggungnya. Dia terlihat gagah bersandang jam tangan analog berwarna hitam, yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dan waktu itu, senyumnya masih biasa saja. Tak ada yang istimewa, tak ada perasaan asing sama sekali. Semuanya berjalan seperti biasanya, dan apa adanya.

?

Waktu itu aku masih baik-baik saja!

?

Waktu terus berlalu begitu cepat. Tak terasa, sudah lima bulan aku bekerja disana. Meneteskan bulir-bulir keringat dan harapan. Tempat itu benar-benar membosankan, sungguh. Kalau saja tak ada senja yang selalu nampak tepat didepan mata, aku sudah angkat kaki dari tempat itu. Tapi sudahlah, sebuah awalan memang selalu saja membosankan, kan?

?

bersambung...

  • view 143