SYTDT - Kerja

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Februari 2016
SYTDT - Kerja

Sejak lulus sekolah, aku merasakan sebuah kebebasan. Aku merasa bahwa hidupku telah kembali berada pada fase dimana telah benar-benar menjadi seorang manusia normal. Aku menemukan harapan-harapan baru yang barangkali bisa sedikit membuat hidupku lebih menarik lagi. Aku berharap bisa segera kuliah, kemudian lulus dengan nilai yang memuaskan, mendapat pekerjaan yang baik, lalu menjadi orang sukses dan banyak uang, yang pada akhirnya bisa membahagiakan kedua orang tua.

?

Aku rasa semua orang memiliki keinginan yang sama sepertiku. Tapi pada kenyataannya, hidup tidak semudah menggantungkan impian-impian. Hidup adalah selalu tentang ketidakpastian. Sebab, konon hidup yang pasti adalah hidup yang sudah tidak menarik untuk diteruskan lagi.

?

***

?

Beberapa minggu setelah hari kelulusan, Ayah dan Ibu tak henti-hentinya menyuruhku untuk daftar kuliah. Mereka menginginkanku segera merancang masa depan. Mereka berharap agar aku bisa menjadi anak yang membanggakan dan bisa diandalkan. Mereka pernah bilang, bahwa mereka menginginkan aku untuk menjadi seorang guru.

?

Sementara itu, aku masih saja bermalas-malasan di dalam kamar sembari mencari kesibukanku sendiri. Kadang-kadang, aku keluar rumah untuk bermain bersama teman-teman hingga larut malam. Pada dasarnya, aku belum siap untuk kuliah. Aku masih ingin beristirahat setelah selama 3 tahun lamanya berada pada tekanan-tekanan yang menyiksa emosi dan perasaanku.

?

Hari demi hari berlalu. Waktu terus berputar meninggalkan kesempatan-kesempatan yang aku sia-siakan. Hingga akhirnya Ibu jatuh sakit. Ibu adalah seorang penderita hypertensi. Dia sering jatuh sakit secara tiba-tiba. Tapi aku rasa, waktu itu sakitnya lumayan parah, sehingga dokter menganjurkan agar Ibu harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu.

?

Ayah... Pada saat itu, barangkali dia adalah sosok yang paling merasa kebingungan. Barangkali di dalam kepalanya berhamburan hitung-hitungan tentang banyak hal. Biaya rawat inap dan obat-obatan Ibu yang tidak murah menjadikan wajah Ayah semakin layu. Sementara tidak lama lagi, aku akan membutuhkan cukup banyak biaya untuk masuk kuliah. Maka selalu ada kecemasan di wajahnya. Jika aku berada di posisi Ayah, aku juga akan berada pada perasaan yang sama dengannya. Aku bisa mengerti tentang semua perasaannya.

?

***

?

Setelah beberapa minggu dirawat di rumah sakit, akhirnya kesehatan Ibu berangsur membaik. Dokter sudah mengizinkan Ibu untuk dapat pulang ke rumah. Tentunya dengan beberapa catatan penting yang harus Ibu ikuti. Aku senang melihat Ibu kembali tersenyum dan dapat kembali berada di rumah. Tapi, Ayah masih saja terlihat murung. Aku tahu jika uang tabungan Ayah sudah habis. Aku bisa mengerti semuanya.

?

?Kapan kau ingin daftar kuliah?? Tanya Ayah kepadaku di suatu malam. Wajahnya tenang, matanya menatap ke kajauhan.

?

Aku tersenyum. Kemudian diam beberapa saat.

?

?Aku ingin kerja saja.? Kataku.

?

Ayah menatap mataku secara penuh, kemudian tersenyum.

?

?Laki-laki memang harus bisa mengambil keputusan, tapi perlu kau ingat pula, bahwa laki-laki juga harus siap bertanggung jawab atas segala keputusannya. Ayah serahkan semuanya kepadamu, hidupmu adalah sepenuhnya milikmu.? Ucapnya. Tatapannya kosong.

?

?Tentu saja. Aku akan berusaha.? Kataku diiringi dengan senyuman.

?

***

?

Keesokan harinya, aku mulai mencari pekerjaan. Aku kirim beberapa lamaran pekerjaan pada perusahaan-perusahaan. Tidak butuh waktu lama, aku mulai mendapatkan beberapa panggilan interview. Aku pun selalu lolos pada fase ini. Tapi, ketika sudah diterima, dan dinyatakan sudah bisa bergabung untuk mulai bekerja, aku tidak pernah menggambil kesempatan itu karena beberapa alasan. Pada intinya, aku belum menemukan pekerjaan yang tepat.

?

Aku kembali pergi ke tempat fotocopy, membuat surat lamaran kerja, lalu berkeliling ke sudut kota sambil membawa-bawa berkas lamaran pekerjaan. Satu-persatu aku antrikan daftar riwayat hidup serta fotocopy ijazahku pada perusahan-perusahaan. Ada banyak harapan yang bercampur dengan doa-doa di dalam hati. Ada kegelisahan yang bercampur dengan bercak keringat di kulit kepala. Ada banyak kesabaran yang bercampur dengan rasa perampingan ego untuk menopang setiap langkah kaki yang aku lalui.

?

Aku baru mengenal rasa kekhawatiran yang berlebihan tentang sebuah masa depan. Tentang sebuah harapan yang entah masih berada dimana. Tentang kecemasan-kecemasan yang barangkali telah mengakar, hingga sulit untuk aku binasakan. Dan tentang cita-citaku yang ingin menjadi seorang Tentara, entahlah... Sudah aku buang kemana. Meskipun sesungguhnya, di kedalaman hatiku, ambisi itu masih tetap ada.

?

?Kemana lagi aku harus melangkah? Kemana lagi aku harus menuju pada peraduanku??

?

***

?

Hari demi hari berlalu. Waktu selalu saja berbaur dengan kegelisahan-kegelisahan Ibu dan Ayah tentang anaknya tak kunjung mendapat pekerjaan. Mereka terus menerus menilik perkembangan usahaku dalam mencari kerja. Aku kesal. Aku pun malu. Tentu saja. Laki-laki mana yang tak malu ketika berada pada posisi sepertiku? Seseorang yang batal kuliah. Lalu, mengganti haluan untuk mencoba peruntungan dalam dunia kerja. Namun, setelah sekian lama, tetap saja tak mendapatkan keduanya.

?

Namun tekadku belumlah usai. Toh, laki-laki harus bertekad baja, tak kenal kata lelah, apalagi menyerah. Maka, selalu ada semangat yang menyerupai bara. Langkah-langkah penuh harap kembali aku lakukan. Aku susuri mall-mall dan tempat hiburan. Terang saja, aku hanya berijazah SMK. Aku tak kuat hati untuk mengantrikan ijazah rendahanku pada kantor-kantor elit. Aku pun sadar diri untuk menitipkan lamaran pekerjaanku pada industri-industri otomotif, yang sebenarnya sejalur dengan program jurusan sekolahku. Tapi, apa yang bisa diandalkan dari seorang laki-laki berkacamata yang sama sekali belum mengenal pengalaman kerja. Entahlah, aku tak mengerti maksud Tuhan terhadap hidupku.

?

?Permisi Pak... Disini ada lowongan kerja?? Tanyaku pada seorang pria berdasi yang sedang berdiri di depan sebuah restoran. Wajahku lugu.

?

Sang pria berdasi terdiam sejenak. Matanya melihat penuh ke arahku, memperhatikan penampilanku mulai dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

?

?Besok, jam 10 pagi datang kembali. Bawa lamaran, kemudian langsung interview!? Katanya.

?

?Baiklah, aku akan datang. Terima kasih pak.? Kataku, bersemangat.

?

Sungguh, sejujurnya aku sama sekali tidak ingin berada pada posisi seperti itu. Aku sama sekali tidak ingin orang-orang menatapku dengan tatapan yang bersimpati, atau bahkan, mengasihani. Tapi sudahlah... Tak ada banyak waktu lagi untuk terus bersikap ego.

?

Keesokan harinya, aku kembali mendatangi tempat itu. Waktu menunjukkan pukul 09.42.

?

?Permisi Pak...? Kataku, perlahan.

?

Belum sempat selesai aku berbicara, seseorang langsung memotong ucapanku. ?Silahkan duduk. Serahkan berkas lamarannya. Kemudian tunggu.? Katanya.

?

Aku mengikuti segala petunjuknya. Di sana, ada sekitar 5 orang yang juga sedang duduk membanjar di sebuh kursi warna-warni. Masing-masing dari mereka mengenakan pakaian yang sama seperti-ku, kemeja putih, celana katun hitam, serta sepatu pantofel. Meskipun sedikit membosankan, kami tetap duduk dengan tenang menunggu antrian. Di pikiranku tak terlintas bayangan apapun, kecuali serangkaian harapan dan doa-doa agar aku bisa menjawab dengan benar pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan ketika proses interview.?

?

Menit-menit begitu cepat berlalu, menggugurkan satu-persatu para penunggu antrian. Hingga saatnya tiba giliranku.

?

Seperti sesi interview pada umumnya, sang pewawancara bertanya kepadaku tentang banyak hal. Mulai dari tempat tinggal, tinggi badan, gaji yang diinginkan, sampai alasan memilih bergabung ke perusahaan tersebut. Secara keseluruhan, aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik. Hingga akhirnya sang pewawancara membacakan hasil wawancaranya.

?

?Selamat! Mulai besok lusa, kau sudah bisa bergabung di perusahaan ini. Kau diterima. Kebetulan kami sedang mempersiapkan pembukaan cabang baru. Kau akan ditempatkan disana? Katanya, sembari menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak berjabat tangan denganku, seperti memberikan isyarat selamat datang.

?

?Terima kasih pak.? Kataku kemudian. Aku menyambut hangat tangannya dengan antusias.

?

Sepulang dari sana, aku segera memberitahukan kabar baik itu kepada Ayah dan Ibu. Aku rasa, mereka akan sangat senang mendengarnya. Sebab, hal yang mereka nanti-nantikan sudah terwujud. Dan benar saja, mereka begitu senang melihat anak laki-lakinya sudah mendapat pekerjaan. Meskipun aku hanya bekerja sebagai seorang pelayan resto, mereka tak pernah mempermasalahkannya. Aku senang melihat Ayah dan Ibu bisa menerima apapun tentangku.

?

Sungguh, itu adalah pekerjaan yang sama sekali tak pernah terlintas dipikiranku. Sebab, menjadi seorang pelayan resto memang bukanlah sebuah profesi yang dicita-citakan oleh siapapun. Tapi entahlah.. Barangkali ini adalah suratan Tuhan. Sesuatu yang Tuhan rencanakan untukku, agar aku bisa memulai kehidupan sebagai peran yang lain. Siapa yang tahu, kan?

?

bersambung....

  • view 131