SYTDT - Gerimis

Nandang Muhammad
Karya Nandang Muhammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Desember 2016
SYTDT - Gerimis

Apa yang habis terbuang dari penantian seorang pengagum yang selalu secara diam-diam mencinta? Barangkali waktu...

***

Dira.

Mencintainya membuat waktu seolah beranjak begitu saja, lebih cepat melebihi kecepatan suara. Sama sekali tak memperdulikan detik, menit,  jam, bahkan hitungan hari dan bulan yang semakin membuat aku menjadi semakin tua. Tanpa tersadar, aku telah habis melewati musim panas, sementara Dia masih saja tak tahu apa-apa.

Di musim hujan, orang-orang selalu saja sibuk dengan payung dan jas hujan mereka masing-masing. Sebab, hampir setiap hari turun hujan. Tak melulu hujan besar, gerimis tak berkesudahan terkadang sering hadir di setiap sudut kota sampai hampir seharian. Pohon-pohon kembali siuman. Rumput kembali hijau seperti awal kelahirannya. Sementara itu, ibu-ibu rumah tangga selalu saja mengeluhkan jemuran pakaiannya.

Sore itu, aku masih duduk di kursi kantin bagian luar. Udara terasa begitu teduh dan terlihat nyinyir. Matahari bagaikan tawa seorang gadis desa yang malu-malu. Sementara angin masih saja egois, tak memperdulikan tubuh manusia yang sudah mulai menggigil. Dari kejauhan, beberapa orang terlihat berjalan santai menuruni anak tangga Masjid setelah selesai melaksanakan shalat ashar.

“Hahahahahaaaa.. Haaa... Haaa... Haaa...”  Terdengar dari arah belakang, seorang sales motor terawa terbahak-bahak, menertawakan sebuah cerita lawan bicaranya yang sebenarnya tidak terlalu lucu. Sementara itu, aku masih saja berkutat dengan telpon genggamku sembari sesekali melihat ke arah ujung jalan dimana Dira biasa muncul. Tapi sepertinya, Dira tidak akan ke kantin sore itu. Sebab, hari sudah larut sore. Sementara cuaca tidak sedang bersahabat dengan siapapun.

“Hei, kau dimana?”  Tanyaku dalam hati.

Tiba-tiba dalam benakku muncul semacam sebuah keyakinan yang entah datang dari arah mana. Lalu, keyakinan itu seperti berteriak di telingaku bahwa tidak lama lagi Dira akan segera hadir dihadapanku. Membuatku untuk tetep duduk di sana beberapa saat lagi.

Aku membenarkan posisi dudukku, kemudian meneguk es jeruk nipis pesananku yang masih tersisa setengah gelas. Angin masih saja berhembus, tapi pada ritme yang lebih pelan dari sebelumnya. Membuat daun-daun kering di dahan pohon sedikit merasa lega. Awan kelabu mulai menggumpal di angkasa. Burung-burung berkumpul pada sarangnya, membentuk sebuah lingkaran cinta dan kasih sayang.

Beberapa menit berselang, Dira muncul dari balik Masjid, terlihat samar dari kejauhan. Berjalan perlahan menuju kantin, masih bersama teman-temannya. Namun waktu itu Dia tidak menggunakan sweater hitam andalannya, tidak seperti biasanya.

Dua menit kemudian, Dia telah benar-benar hadir di hadapanku. Melintas di hadapanku seperti angin yang terus berlalu. Ah, rambutnya... Rambutnya yang terkuncung rapih terombang-ambing seraya mengikuti hentakan langkah-langkahnya. Bibirnya.. Aku selalu suka ketika memperhatikan bibirnya yang dibalut lipstick warna merah. Lalu, Dira masuk ke dalam kantin Cemara Udang, masih sama seperti hari-hari biasanya.

Beberapa menit berselang, Dira kembali keluar dari dalam kantin. Senyumnya masih menyertai raut wajahnya yang sendu. Aku sampai tak habis pikir, bagaimana caranya Dia bisa selalu terlihat ceria dan selalu melontarkan senyum kapanpun, dan dimanapun. Seolah tak memiliki masalah apa-apa. Entahlah, barangkali, itu adalah sebuah anugerah yang Tuhan titipkan kepadanya.

Aku terus memperhatikan langkah kakinya yang malu-malu. Melihat sepatu biru dongkernya. Kemudian tersenyum.

Belum lama setelah langkah terakhirnya meniggalkan lantai kantin, tiba-tiba gerimis mulai turun dari langit. Pertanda sebuah keberkahan mulai hadir menyirami bumi. Rumput-rumput bersuka cita menyambut kedatangan air dari langit. Orang-orang mulai berlarian kesana-kemari untuk mencari tempat berteduh.

“Onde mande... Kalau setiap hari seperti ini, bagimana daganganku mau habis?” Ucap seorang pria pemilik kantin Padang Wulan.

Aku sedikit menggeser posisi dudukku agar tidak terkena percikan air hujan.

Dari kejauhan, aku melihat Dira mendadak berlari. Barangkali, Dia tidak ingin seragam kerjanya basah terkena air hujan. Tangan kanannya memegang erat kantong plastik hitam berisi makanan. Sementara tangan kirinya berusaha melindungi kepalanya agar tidak terkena air hujan.

“Heiiii.. Tak usah lari, nanti kau terjatuh. Jika kau mau, aku bisa meminjamkan jaket kesayanganku agar air hujan tidak membasahi bajumu.” Teriakku dalam hati.

Aku segera menghabiskan minumanku, lalu membayar semua yang aku makan. Setelah itu, aku segera bergegas meninggalkan kantin untuk menjemput langkah kakinya. Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan bahwa Dira sampai di tempat tujuan dengan selamat. Itu saja.

Maka, aku berjalan tergesa, setengah berlari. Dari kejauhan, aku pun menyaksikan Dira yang sedang berjalan dengan sangat tergesa. Bahkan sesekali, dia belari kecil agar cepat sampai tempat tujuan.

Sesampainya di pintu Lobby, Dira dan teman-temannya berhenti sejenak, berusaha menarik nafas panjang sembari membersihkan beberapa bagian pakaian mereka masing-masing yang basah terkena air hujan. Dira terlihat kelelahan. Di dahinya timbul bercak keringat yang bercampur dengan air hujan. Nafasnya terengah dalam ritme yang cepat. Ada banyak senyuman yang terlontar di sana. Senyuman kelelahan, barangkali.

Sementara itu, aku terus memperhatikannya dari kejauhan, sembari memperlambat langkah kakiku. Sebab, aku tidak ingin tertangkap basah sedang mengikuti dan mengamati gerak-geriknya. Beberapa saat kemudian, Dira dan teman-temannya mulai kembali ke tempat kerja mereka. Aku juga.

***

Keesokan harinya, aku kembali mendapati situasi dan kejadiaan yang serupa dengan kemarin. Langit baru saja selesai menurunkan hujan. Sementara waktu istirahatku sudah hampir habis. Aku segera pergi meninggalkan kantin yang sebenarnya masih ingin aku singgahi untuk menunggu Dira datang. Tapi apa boleh buat, aku harus segera beranjak dari sana.

Lalu, aku mulai meninggalkan kantin dengan langkah perlahan. Tiba-tiba, handphoneku bergetar beberapa kali. Setelah aku cek, ternyata beberapa notifikasi dari berbagai sosial media yang aku punya. Asyik berkutat dengan handphone, aku jadi tidak fokus dengan kondisi jalan yang aku lalui. Mendadak, terlihat sekilas bahwa di depanku ada sebuah genangan air sisa hujan. Maka dengan refleks, aku segera melompat untuk menghindarinya, meskipun sedikit limbung tidak karuan. Aku hampir saja menghunus tanah.

Tiba-tiba dari jarak lima meter, tepat di depanku, aku kembali mendapati kehadiran Dira besama seorang teman perempuannya. Aku terkejut bukan main. Aku malu. Khawatir jika Dira melihat apa yang baru saja terjadi dengan diriku.

Aku malu-malu melihat ke arahnya, tentu saja. Sementara Dira dan temannya terlihat tersenyum, tapi bukan ke arahku. Mereka terlihat seperti sedang menahan sebuah tawa. Entahlah, aku tidak mengerti senyum mereka untuk apa, dan untuk siapa. Tapi, waktu itu Dira terlihat sangat berbeda dari hari kemarin. Dia kembali menggunakan sweater hitam kesayangannya. Dan bahkan, Dia sepayung berdua dengan temannya. Padahal, sudah tidak turun hujan.

Aku mendadak tersenyum melihat keanehan yang Dira dan temannya lakukan. Aku terus memperhatikannya, hingga Dia benar-benar berlalu dari hadapanku.

Dia datang saat hujan reda
Semerbak merekah namun sederhana
Dia bertingkah tiada bercela
Siapa kuasa 

Dia menunggu hingga ku jatuh
Terbawa suasana
Dia menghibur saat ku rapuh
Siapa kuasa 

Dia bagai suara hangat senja
Senandung tanpa kata
Dia mengaburkan gelap rindu
Siapa kuasa 

Dan kawan
Bawaku tersesat ke entah berantah
Tersaru antara nikmat atau lara
Berpeganglah erat, bersiap terhempas
Ke tanda tanya

Musk by Banda Neira

bersambung....

  • view 194