Cerita Mahasiswa Ekstensi Part 2: Jadi Mahasiswa LJ S1 Teknik Fisika ITS

Mugi Nurdini
Karya Mugi Nurdini Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Desember 2017
Cerita Mahasiswa Ekstensi Part 2: Jadi Mahasiswa LJ S1 Teknik Fisika ITS

Dalam tulisan ini, aku akan fokus membahas tentang pilihan studi lanjutan (ekstensi)-ku, dan gambaran tentang ekstensi itu sendiri. Cerita tentang kehidupan perkuliahan dan kemahasiswaanku selama tiga tahun di ITB secara terpisah sudah dan akan ditulis pada artikel lainnya, begitu juga dengan dua tahun-ku di ITS.

Okay, jadi… singkat cerita aku pun lulus sebagai Ahli Madya (A.Md.) dari ITB. Inilah beberapa foto momen wisudaku pada Jumat, 20 Juni 2014, yang memorable bangeetttt:

Gambar 1. Foto Bareng Temen Seangkatan

 

Gambar 2. Foto Bareng Keluarga (Minus Zulfan, dia waktu itu masih kecil banget, terus nangis gak mau foto)


Gambar 3. Foto Bareng 5 Bidadari Surga

 

Jauh dari sebelum lulus D3, aku sudah mantap untuk langsung lanjut kuliah ke S1. Secara statistik, dari satu angkatan D3-ku, perbandingan antara mereka yang memilih melanjutkan pendidikan dan yang memilih untuk langsung bekerja adalah 1:2.

Beberapa alasan yang mendasari aku untuk mengambil ekstensi adalah:

  1. Lulus D3, aku sama sekali merasa belum siap untuk terjun ke dunia kerja, dan merasa masih ingin sekolah.
  2. Dengan melanjutkan studi ke S1, akan lebih banyak peluang karir maupun pilihan hidup lainnya yang nanti bisa aku rintis.
  3. Pengalaman dari segi hard skill maupun soft skill-ku masih sangat kurang. Aku ingin lulus S1 dengan Curriculum Vitae (CV) yang se-outstanding mungkin. Banyak sekali target selama menjadi mahasiswa D3 yang belum sukses dicapai (salah satunya adalah pengalaman student exchange atau international exposure lainnya, yang Alhamdulillah berhasil tercapai sebanyak tiga kali program pada saat menjadi mahasiswa S1).

Berbicara tentang ekstensi, ada beberapa poin penting yang terlebih dahulu harus dipahami. Dimulai dari jalur pendidikan itu sendiri, sebenarnya terbagi ke dalam jalur akademik dan jalur praktis. Jalur akademik itu ibaratnya dimulai dari SMA, lalu S1, S2, dan S3. Jalur praktis, atau disebut juga jalur profesi, itu dimulai dari SMK (setara SMA), D1, D2, D3, D4 (setara S1), Spesialis 1 (Sp 1, setara S2), dan Spesialis 2 (Sp 2, Setara S3). Kita ambil contoh pada profesi dokter. Seseorang yang ingin menjadi seorang dokter, harus terlebih dahulu menyelesaikan studi jalur akademiknya, yaitu S1 Pendidikan Dokter dengan gelar S. Ked. Selanjutnya, ia harus menambah masa studi profesi dokter yang pada akhirnya memberi ia gelar dr. Gelar dokter dalam hal ini merupakan gelar profesi untuk S1-nya si Sarjana Kedokteran tadi. Adapun saat ia akan melanjutkan pendidikan, ia bisa memilih mengambil jalur profesi (Spesialis 1, misalnya mau ambil profesi dokter spesialis bedah plastik dengan gelar Sp. BP.) maupun akademisi (Magister (S2), misalnya mau ambil ilmu Kesehatan Masyarakat dengan gelar M. Kes.). Kedua jalur pilihan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan bidang karir yang diambil oleh masing-masing individu. Contohnya, seorang lulusan Sarjana Teknik mengambil sekolah profesi insinyur (Ir.) dengan alasan ingin berkarir di industri, di mana gelar Ir. merupakan gelar profesi untuk S1-nya tadi. Sedangkan, lulusan Sarjana Teknik lainnya lebih memilih melanjutkan studi ke S2, bahkan S3, karena memilih berkarir di bidang penelitian maupun pendidikan (menjadi dosen), di mana dalam hal ini gelar professor (Prof.) merupakan gelar profesi, bukan gelar akademik. Sampai sini sudah paham kan, gambaran tentang jalur pendidikan akademis dan praktis?

Sayangnya, sistem jalur pendidikan di Indonesia masih belum terstruktur rapi dan terfasilitasi seperti demikian. Misalnya saja, pendidikan profesi Spesialis 1 dan Spesialis 2 itu baru ada untuk profesi dokter. Kemudian, jalur pendidikan seseorang pun menjadi tidak teratur karena perencanaan yang salah, yang juga diakibatkan oleh salah-paham itu sendiri. Contohnya, idealnya seorang lulusan SMA itu berada di jalur akademik, maka nantinya mereka akan meneruskan ke S1, S2, sampai S3. Ternyata, siswa SMA di Indonesia bisa mengambil studi D3/D4 sementara siswa SMK pun bisa diterima di S1 selepas lulus. Oke lah, mungkin tingkat pendidikan SMA/sederajat masih belum bicara ilmu terlalu dalam. Tapi setelah itu, ternyata seorang lulusan D3 yang tadinya SMA pun mau melanjutkan ke S1, kan lucu (seperti kisahku ini).

SMA-D3-S1 itu ibaratnya akademis-praktis-akademis. Ini adalah sistem yang salah, yang pada akhirnya mendasari semakin banyaknya universitas/institut di Indonesia yang menutup program ekstensinya (program lintas jalur dari D3 ke S1). Pada saat aku lulus D3 di tahun 2014, sudah semakin banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang nggak buka program ekstensi lagi. Untungnya, UI dan ITS masih buka, dan kebetulan jurusannya juga sesuai.

Oh iya, terkait ekstensi, di sini juga harus dipahami antara perbedaan istilah 'lanjut jenjang' dan 'lintas jalur'. Lanjut jenjang merupakan istilah untuk program ekstensi yang linier, baik dari akademisi ke akademisi, maupun dari profesi ke profesi. Sebaliknya, di saat tidak linier, itu diistilahkan ke dalam lintas jalur. Sebagai contoh, ekstensi dari D3 ke D4, itu namanya lanjut jenjang, sedangkan dari D3 ke S1, itu namanya lintas jalur. Hmmm... dari namanya aja udah kelihatan 'murtad' ya, melintas-melintas di bukan jalur yang seharusnya, hahaha.

Oke kita terusin ceritanya. Jadi, sejak lama aku sudah mantap untuk ambil ekstensi di S1 Teknik Industri UI. Tapi sayangnya, ada satu hal besar yang membuat aku ragu untuk ambil program ekstensi di UI: mahal!

Akhirnya, aku pun mengikuti dua seleksi program ekstensi: S1 Teknik Fisika ITS dan S1 Teknik Industri UI. Singkat cerita, waktu seleksinya lebih duluan ITS. Lalu tibalah saatnya pengumuman hasil seleksi. Alhamdulillah aku pun dinyatakan lolos seleksi jalur reguler, yang artinya bebas biaya masuk dan cuma kena biaya semesteran dengan angka minimal (ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan seperti sumber dana, profesi orang tua, tanggungan, dsb.).

Dasar memang (mungkin) disengaja, tiba-tiba jadwal pendaftaran ulang calon mahasiswa ITS bertepatan dengan hari seleksi ekstensi UI. Hmmm… Keputusan pun harus segera diambil. Dilema menyerang. Di satu sisi, Ibu udah seneng banget aku keterima jalur reguler di ITS (jalur yang baru banget ada di angkatan pas aku daftar), jadi nggak usah bayar 25 juta di awal dan nggak usah kena uang semesteran maksimal, di mana kalau akhirnya aku pilih UI, udah pasti harus bayar 33,5 juta di awal dan kena uang semesteran maksimal karena memang cuma ada satu jalur. Selain itu, terkait biaya hidup, sudah pasti juga hidup di Depok akan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hidup di Surabaya. Dan ternyata, yang bikin lebih mahal lagi, karena prodi ekstensi Teknik Industri di UI termasuk ke kelas paralel, durasi studi pun totalnya 2,5 bahkan 3 tahun. Beda dengan di ITS yang cukup 2 tahun atau 4 semester saja (FYI, untuk D3 ke D4 itu bisa cuma 1.5 tahun).

Hmmm… di satu sisi, aku memikirkan masa depanku. Aku tahu betul apa passion-ku, mau dibawa ke mana arah perjalananku dengan bermodalkan ilmu S1 Teknik Industri, bahkan sampai ke spesialisasi (bidang minat) apa yang akan aku ambil dan bidang karir apa yang ingin aku rintis. Tapi di sisi lain… tak sampai hatiku melihat hasil kalkulasi ‘biaya total sampai lulus’ (termasuk biaya hidup) jika aku mengambil opsi UI. Sungguh nggak tega minta uang sebanyak itu sama ibu, sebagai anak pertama aku malu rasanya. Apalagi kemarin D3 sekolahnya full gratis, tiba-tiba harus bayar mahal itu rasanya nggak lucu.

Dilema. Perang batin.

Ketika akhirnya ibu bilang, “Nggak apa-apa ambil UI kalau kamu memang ingin, uang itu bisa dicari, orang tua akan berusaha apapun buat anaknya,” JLEBBB!!! Aku pun luluh. Teringat bagaimana dulu waktu aku SMA, ibu yang belum paham tentang pentingnya memberi anak kebebasan dalam pilihan studi yang mereka ambil, lalu sekarang semua berbalik: ibu benar-benar percayakan semuanya padaku.

Bismillah… aku pun akhirnya, justru mantap mengambil opsi S1 Teknik Fisika ITS. Mengapa? Aku saat itu haqqul yaqin, setiap niatan baik dari seorang anak pada orang tuanya, sesederhana keikhlasan untuk tidak mau merepotkan mereka, InsyaAllah akan berbuah kebaikan di kemudian hari. Biarlah angan berencana untuk sebuah dalih yang kita sebut passion, tapi kuasa Allah Swt lebih besar. Entah kenapa pada saat keputusan itu dijatuhkan pun, di depan ibuku sendiri: “Ibu, aku mau ambil ITS,” aku haqqul yaqin bahwa ada rencana-rencana indah yang sedang disiapkan Allah Swt di waktu-waktu mendatang.

Dan Ia memang tidak pernah tidur.

Dan Ia bahkan selalu menepati janji-janji-Nya.

Alhamdulillah Wasyukurillah Wanikmatillah, perjalananku selama menjadi mahasiswa S1 Lintas Jalur (LJ) Teknik Fisika ITS pun luar biasa sukses sesuai rencana, semua yang belum tercapai selama D3 akhirnya tercapai, bahkan Allah Swt ngasih jauh… jauh lebih banyak lagi pencapaian-pencapaian di luar dugaanku sebelumnya. Semua cita-cita organisasi, lomba, student exchange, international exposure, dan banyak lagi lainnya, yang seandainya aku kemarin nggak di ITS, mungkin aku belum tentu dapet. Juga pada akhirnya, sampai aku sekarang Alhamdulillah diizinkan Allah Swt untuk berkarir di PT. Pertamina (Persero), perusahaan yang paling aku inginkan, itupun mungkin belum tentu akan aku dapatkan kalau aku nggak punya banyak prestasi dan pengalaman, dan lagi-lagi: kalau aku kemarin nggak kuliah di ITS.

Rasa syukurku bertambah lagi dan lagi, ketika Allah Swt pun, dengan kuasa-Nya, menakdirkan aku untuk InsyaAllah akan bekerja di bagian procurement refinery-nya Pertamina, which is… wow, Teknik Industri bangettt, bakal berurusan sama tender, production planning, inventory control, purchasing, cost, contract office. Bahkan, katanya kalau udah masuk procurement, nantinya career path-nya pun kalau lintas direktorat akan lebih ke integrated supply chain, human resource, dll yang terkait. Sesuai passion banget, bangetttt. Sungguh sesuai juga dengan kepribadian aku yang lebih suka ketemu orang daripada ngotak-atik alat, lebih suka kerja di office daripada field atau lab, juga lebih suka pekerjaan yang bersifat strategic dan banyak discussion-nya. Kesempatan buat nantinya ambil S2 di bidang-bidang ini pun InsyaAllah terbuka lebar dan sangat menunjang karir.

Alhamdulillah, Allah Swt Maha Besar. Kalau bukan karena kuasa Allah Swt, rasa-rasanya hampir mustahil seorang lulusan Teknik Fisika bisa tiba-tiba masuk ke ranahnya Teknik Industri (dan di Pertamina pula).

Begitulah ceritaku tentang keputusan mengambil program S1 LJ Teknik Fisika ITS. Seperti biasanya, cerita-cerita lengkap terkait pengalaman kemahasiswaan dan semua achievement-ku selama dua tahun di ITS, atau tentang program S1 LJ Teknik Fisika ITS itu sendiri, secara terpisah telah dan akan diceritakan di artikel lainnya, tetap di laman inspirasi(dot)co-ku yaa.

  • view 396