Cerita Mahasiswa Ekstensi Part 1: Jadi Mahasiswa D3 Metrologi-Instrumentasi ITB

Anonim (Sementara)
Karya Anonim (Sementara) Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Desember 2017
Cerita Mahasiswa Ekstensi Part 1: Jadi Mahasiswa D3 Metrologi-Instrumentasi ITB

Ada yang bilang, katanya di dalam hidup ini ada tiga keputusan besar yang paling krusial, yang boleh jadi ketiganya sangat mempengaruhi keseluruhan hidup kita pada akhirnya: pendidikan, karir, dan pasangan hidup. Biasanya, linimasa dari ketiganya juga terjadi secara berurutan, diawali dengan kebingungan pertama, yaitu saat harus menentukan bidang studi dan perguruan tinggi mana yang akan kita ambil. Setelah lulus, kebingungan yang lebih besar kemudian terjadi, di mana kita akan terombang-ambing dalam pilihan-pilihan karir yang ada di depan mata. Yaa, masih mending kalau dalam fase ini kita merasa sudah puas dengan hasil studi dan kompetensi yang telah didapatkan. Tapi sayangnya, justru lebih banyak di antara kita yang merasa salah jurusan, lulus dengan terpaksa, atau merasa tidak punya skill sama sekali selepas lulus kuliah. Keadaan-keadaan tersebut membuat kebingungan tahap kedua menjadi lebih bervariasi pilihannya, entah ada yang lebih memilih berkarir di luar latar belakang pendidikan, mengulang kuliah atau melanjutkan kuliah di bidang lain yang lebih disukai, menjadi freelancer (self-employed) atau mendirikan bisnis di bidang sesuai passion, atau sekadar mengikuti kursus-kursus terlebih dahulu. Lalu, pada saat karir dirasa masih merangkak, atau bahkan masih meraba-raba dalam gelap, kebingungan tahap tiga datang, dan biasanya hal yang satu ini lebih tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Ialah tentang memilih pasangan hidup, yang drama-nya bisa lebih seru, karena melibatkan hati.

Oke, kali ini aku akan fokus bercerita tentang aspek pilihan hidup krusial-ku yang pertama: pendidikan. Lika-liku masa studi ini berawal dari latar belakang profesi kedua orang tuaku yang sama-sama berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ya, sudah menjadi rahasia umum (atau lebih tepatnya, kesepakatan umum) bahwa menjadi PNS seolah merupakan goals terbaik dalam pencapaian karir di mata generasi seangkatan orang tua kita. Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), aku sudah di-setting sedemikian rupa oleh ibuku agar selepas lulus SMA nanti harus masuk ke Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Saat itu, aku menurut saja apa yang diinginkan orang tuaku: kuliah gratis di instansi kedinasan, mendapat uang saku dari negara selama studi, lalu lulus pun langsung diangkat menjadi PNS di Kementerian Keuangan dengan gaji fantastis tanpa harus melewati tes CPNS. Padahal, sebenarnya jauh di dalam hati, aku juga memiliki cita-cita sendiri: FTI ITB.

Setting-an tersebut membuat aku berfokus pada persiapan seleksi STAN, STAN, dan STAN!!! Selama SMA saja, entah sudah berapa buah jumlah buku pedoman persiapan seleksi STAN yang sengaja dibeli, hingga dua kali mengikuti bimbingan belajar khusus program masuk STAN di dua instansi yang berbeda (inget banget salah satunya ada yang ber-tagline “Gagal Masuk STAN, Uang Kembali 100%”). Yaa, sampai segitunya setting-an yang dulu kujalani, hingga aku pun sama sekali tidak mempedulikan persiapan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) seperti teman-teman lainnya kala itu. Bahkan, SNMPTN pun tetap aku ikuti seleksinya hanya sebagai cadangan peluang untuk menjadi PNS di bidang lain, yang tentunya juga hasil setting-an orang tua. Pada SNMPTN tulis, aku mengambil jalur Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC) supaya bisa pilih 2 jurusan IPA dan 1 jurusan IPS, atau sebaliknya. Pilihan jurusan dan universitas akhirnya lagi-lagi di-setting orang tua. Ibuku memberi opsi agar aku menjatuhkan ketiga pilihan tersebut di kampus yang sama: Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dengan harapan agar aku kelak bisa menjadi PNS guru, seperti beliau. Pilihan pertama pun jatuh pada Pendidikan Fisika UPI, disusul Pendidikan Kimia UPI, dan terakhir Pendidikan Bahasa Inggris UPI.

Selepas Ujian Nasional, aku tetap mengikuti bimbingan belajar reguler alakadarnya. Tidak ada effort khusus untuk SNMPTN pada saat itu, karena tanpa belajar sama sekali pun, hasil-hasil try out berkala-ku sudah menunjukkan prediksi Passing Grade yang selalu jauh lebih dari cukup untuk sekadar lolos di ‘pilihan pertama’. Passing Grade-ku bahkan sudah cukup untuk masuk ke Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB. Padahal kalau aku mau (dan didukung, tentunya) jika saat itu aku sengaja belajar untuk SNMPTN, mungkin Passing Grade-ku akan naik 12-15% hingga bisa lolos setara Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB atau Fakultas Kedokteran (FK) Unpad. Tapi yaa begitulah, seluruh waktuku mau nggak mau diinvestasikan untuk persiapan STAN, STAN, dan STAN!!!

Sambil menyelam minum air, sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, selain tes SNMPTN dan sambil nunggu USM STAN (yang saat itu entah kapan akan dibuka lagi, malah ada isu katanya udah nggak buka), aku pun ikut seleksi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) dan seleksi program D3 Metrologi dan Instrumentasi ITB (penjelasan tentang program studi ini akan dijelaskan pada tulisan lain, coming soon!). Tentang Poltekkes, lagi-lagi disuruh orang tua dengan alasan biar cepat dapat pekerjaan atau syukur-syukur bisa jadi PNS di bidang kesehatan. Kalau tentang program D3 Metrologi dan Instrumentasi ITB, awalnya dikasih info dari tetangga yang kerja di laboratorium workshop Teknik Fisika ITB. Orang tua pun setuju karena program tersebut adalah program beasiswa kuliah full (gratis sampai lulus) dari Kementerian Perdagangan RI (yang bekerja sama dengan Teknik Fisika, FTI ITB), sehingga pada awalnya berspekulasi bahwa ini adalah sekolah kedinasan yang nantinya lulusannya akan langsung menjadi PNS di bidang kemetrologian, sebagai penera terampil (yang pada akhirnya Alhamdulillah ternyata ini bukan program ikatan dinas). Jujur aku pun langsung excited sama tes yang satu ini, karena itu artinya masih ada peluang bagi aku untuk bisa kuliah di ITB dan dengan restu orang tua pula.

Hari-hari perjuangan ikut seleksi pun berlalu (kecuali USM STAN yang entah pembukaan pendaftarannya saja kapan), tibalah pada masa-masa galau menentukan pilihan setelah hasil tes keluar semua. Saat itu, jelas di website nggak ada namaku terpampang pada tabel berisi 50 orang kandidat yang sukses pada seleksi D3 Metrologi dan Instrumentasi ITB. Hiks, sedih sekali, padahal aku berharap banget bisa lolos di sini. Untungnya, aku masih lolos pilihan 1 SNMPTN (S1 Pendidikan Fisika UPI) dan D3 Analis Kesehatan Poltekkes. Kenapa galau? Ya karena dua-duanya memang nggak minat. Aku pun mencoba sholat istikhoroh agar diberi petunjuk terbaik dari Allah Swt. Berhari-hari tenggelam dalam kegalauan, anehnya, entah kenapa mimpi yang singgah di tidurku adalah tentang aku yang sedang berkuliah di kampus ITB, dan selalu saja ada energi positif yang berbisik kalau ITB itu yang terbaik untukku. Padahal, sudah jelas-jelas nggak lolos dan tujuan istikhoroh itu biar aku bisa milih antara UPI atau Poltekkes. Karena semakin dekat dengan deadline registrasi ulang, aku pun akhirnya memantapkan pilihan untuk berkuliah di S1 Pendidikan Fisika UPI.

Tibalah hari di mana calon mahasiswa harus membayarkan uang pangkal yang sudah termasuk SPP semester 1. Pagi itu, ibuku pergi ke bank untuk membayar uang sejumlah Rp 12.000.000,00 ke rekening UPI (hmmm, bukan nominal yang sedikit…). Kegalauan menentukan pilihan pun tampaknya sudah berakhir, siang harinya aku memutuskan untuk jalan-jalan ke toko buku. Saat sedang asyik melihat-lihat judul buku, tiba-tiba HP-ku berdering tanda telepon masuk. Kulihat di layar, itu adalah nomor telepon rumah/kantor yang tidak dikenal. Entah… tiba-tiba ada energi aneh yang menyerangku, membuat lemas seketika, padahal aku belum tahu sama sekali apa yang akan terjadi. Tapi feeling-ku ternyata memang sangat… sangat kuat, seolah sudah dibisikkan sesuatu sebelum teleponnya diangkat. Aku pun akhirnya mengangkat telepon, “Halo, selamat siang…” seseorang di kejauhan menjawab, “Selamat siang, ini dari ITB, apakah benar ini dengan Mugi Nurdini…” DEG! Feeling-ku makin nggak enak. “Iya… benar, saya sendiri.” Orang di balik telepon melanjutkan “Oke Mugi, kemarin kamu ada di daftar lulus cadangan untuk program D3 Metrologi dan Instrumentasi ITB. Kemudian, ada beberapa peserta lulus utama yang mengundurkan diri, akhirnya peringkat kamu naik dan lolos untuk program ini. Apa mau diambil?” JLEEEBBBB!!!

Drama macam apa ini??? OMG, baru beberapa jam yang lalu biaya registrasi ulang yang nggak sedikit itu melayang ke rekening UPI. Mungkin inilah salah satu momen hidup langka di mana kamu merasakan perasaan sangat bahagia dan sangat sedih dalam satu waktu. Air mata bahagia sekaligus kesedihan pun tak kuasa terbendung. Dengan bijaknya, ibuku berkata, “Ya udah nggak apa-apa, anggap aja uang dua belas juta yang tadi bukan rejeki atau itung-itung biaya masuk ke ITB-nya. Lagian kan sekarang enak, ke depannya nggak usah bayar semesteran lagi sampai lulus. Alhamdulillah, disyukuri aja,”

Terharu. Alhamdulillah, D3 Metrologi dan Instrumentasi, FTI ITB. Akhirnya bisa lolos di tempat yang diinginkan tanpa terhalang restu orang tua. Dan di sinilah cerita seorang mahasiswi ITB dengan segala lika-likunya dimulai… (yang ternyata kehidupan kemahasiswaan di kampus besar itu sungguh menyenangkan dan sayang untuk tidak diabadikan, jadi simak cerita-cerita lainnya tetap di laman inspirasi(dot)co-ku yaa).

  • view 368