Jeda (Untuk Senjaku)

Mugi Nurdini
Karya Mugi Nurdini Kategori Puisi
dipublikasikan 26 Desember 2017
Jeda (Untuk Senjaku)

Bernapas. Mencari jeda.

Untuk cerita-cerita yang belum selesai.
Untuk rasa-rasa yang belum terungkapkan.
Untuk kata-kata yang belum tersampaikan.
Untuk lelah-lelah yang belum terbayarkan.
Untuk angan-angan yang masih harus menggantung.
Untuk keajaiban-keajaiban yang masih harus menunggu waktu.
Untuk peran-peran yang masih harus menunggu untuk dilakonkan.

Aku terjebak!
Nyaris tak terlihat benang merahnya lagi untuk selesaikan segalanya.

Tapi aku harus mencari celah!
Karena segalanya memang harus selesai.
Segalanya harus selesai.
Segalanya harus selesai.

Selesai.
Dengan sebaik-baiknya.

Karena diri yang paling tahu, bahwa diri adalah yang paling resah bila sesuatu belum (benar-benar) selesai.

Bila setiap tanya pasti ada jawabnya, maka mendiamkannya tak akan mengubah apapun.
Bila setiap kebaikan-kebaikan hidup pasti kelak didapat, maka mendiamkannya tak akan menjemput apapun.

Salam hangat untuk senjaku.
"Semoga senja-senjaku esok hari adalah senja yang penuh makna dan kepuasan, karena berhasil melewati hari demi hari dengan lebih baik lagi..."

 

***Sajak ini telah dipublikasikan di laman Instagram saya pada 11 Februari 2016 dengan URL:

https://www.instagram.com/p/BBpsHqGLIWbWI5yJrsVoXj57RNn_57DxgUJRt40/?taken-by=mugypink

  • view 97