Sajak Bunga Mawar(mu)

Sajak Bunga Mawar(mu)

Anonim (Sementara)
Karya Anonim (Sementara) Kategori Puisi
dipublikasikan 26 Desember 2017
Sajak Bunga Mawar(mu)

Bunga mawar merah ini cantik.
Kau tentu senang memandanginya.
Barang sebentar ataupun lama, itu sama saja.
Ia akan tetap terlihat cantik.
Memesona mata siapapun yang mencuri pandang atasnya.

Lalu kau petik ia dari singgasananya.
Kau 'ambil' dia, dan dia menjadi milikmu.
Ya, kau telah memilihnya.
Di antara bunga-bunga lain yang diam-diam merona merah, mencuri perhatian atasmu.
Tapi hati telah memilih.
Hatimu yang menuntunmu memilih.
Dia bungamu sekarang, dia bahagiamu sekarang.
Kau pandangi ia sesukamu, kau tersenyum karenanya, dan kau jatuh cinta kepadanya.

Cinta. Ketulusan, katamu.

Lalu kau coba untuk menyentuhnya, kelopak-kelopak indah yang menjadi mahkotanya.
Ternyata, mereka begitu rapuh... rapuh sekali.
Belum lagi duri-duri itu... mereka begitu buruk, terlihat menyeramkan, bisa menusuk kapanpun, dan menjadi perusak kesempurnaan Maha Indah yang tak terlihat sebelumnya.
Oh, lihatlah. Dia tak sempurna.
Dan kelopak-kelopak itu... akankah mereka selamanya seindah dan sesegar itu?
Ternyata juga tidak. Mereka akan menua, layu, hingga mati.
Fana sekali.

Hai, Sang Pemetik.
Bisakah kau cukup mencintai bungamu saja setiap hari?

Ah, mungkin seharusnya cinta itu tidak perlu diminta, apalagi dipaksakan.
Kau boleh pergi sekarang, atau kapanpun kau ingin pergi karena sesuatu.
Sungguh melepasmu pergi bagaikan bait klimaks pada syair-syair puisi senja lalu.
Karena melepasmu pergi adalah bentuk ketulusan yang harus dilakukan oleh bungamu.
Ya. Bunga-bunga itu telah diajarkan makna ketulusan oleh Para Pemetik.
Bukankah dulu saat memilih bunganya sendiri, Sang Pemetik melakukannya dengan ketulusan? Dengan cinta dan hati yang diciptakan-Nya teramat suci?

Akhirnya, bunga-bunga dan Para Pemetik itu akan diajarkan alam tentang cinta sejati.
Ada bunga-bunga yang masih menanti dipertemukan dengan Pemetik Sejati-nya di waktu yang tepat.
Ada bunga-bunga yang pernah dipilih oleh Para Pemetik, namun belum dengan Pemetik Sejati-nya.
Ada Para Pemetik yang masih mempersiapkan diri untuk kelak memilih Bunga Sejati mereka.
Juga ada Para Pemetik yang pernah mencintai bunganya, namun takdir memisahkan mereka.

Tapi satu hal: Cinta sejati itu ada.


  • view 306