Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 14 Juni 2018   14:40 WIB
Isran-Hadi Perjuangkan Segitiga Emas Pendidikan

Salah satu yang menarik dan menggugah dari pasangan Isran-Hadi adalah komitmennya pada pendidikan. Pasangan ini melihat bahwa pendidikan perlu mendapat tempat yang sungguh-sungguh dalam kebijakan pemerintah. Pendidikan adalah penguatan sumber daya manusia (SDM).

Pasangan ini berencana melakukan reformasi di bidang pendidikan. Dalam prosesnya, dia memunculkan apa yang mereka sebut sebagai ‘segitiga emas’ dalam meningkatkan pendidikan. Apa persisnya yang mereka maksud sebagai segitiga emas peningkatan pendidikan?

Pertama, pasangan ini hendak mencurahkan perhatiannya di dalam mereformasi pendidikan melalui peningkatan kualitas guru. Guru – dalam bahasa orang Jawa – adalah digugu dan ditiru. Segenap dari kepandaian dan kepribadiannya mendapat tempat di hati murid-muridnya. Maka segala apapun yang dilakukan oleh sang guru menjadi ‘sorotan’ yang dapat mempengaruhi tindakan-tindakan muridnya.

Kualitas guru berarti mencakup segenap kecakapan sang guru untuk mentransfer ilmu pengetahuannya sehingga sang anak mudah mengerti, sikap dan tindakan guru yang baik sehingga dapat memberi hal positif bagi murid dan kualitas keilmuan sang guru.

Kedua, pasangan ini hendak meningkatkan (pula) kesadaran dari masyarakat Kaltim tentang pendidikan. Targetnya adalah kian besarnya partisipasi dari masyarakat Kaltim. Makin besarnya masyarakat atas pendidikan dapat memberi iklim positif bagi kultur dan semangat pendidikan di Kaltim. Semangat pada pendidikan dapat memacu mereka untuk terus menguatkan SDM mereka.

Terutama bagi milenial Kaltim, tantangan mereka semakin besar menghadapi gempuran global. Maka bukan suatu hal yang tak penting kesadaran penguatan SDM mereka. Persaingan global menuntut mereka belajar yang baik sehingga dapat bersaing dengan warga dunia. Di sinilah relevansi dari ikhtiar pasangan Isran-Hadi dalam mereformasi pendidikan.

Segitiga emas terakhir dalam reformasi pendidikan yang dimaksudkan Isran-Hadi adalah intervensi pemerintah. Pemerintah perlu hadir dalam menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung proses pendidikan. Pemerintah perlu mendorong dan menyediakan masyarakat akses atas pendidikan. Persoalan masyarakat yang tidak mampu, pemerintah mesti mengambil kebijakan penting sehingga mereka mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan.

*

Selain segitiga emas reformasi pendidikan di Kaltim, pasangan Isran-Hadi juga menyiapkan gebrakan penting dalam pendidikan: yakni dengan ikhtiar mereka untuk membangu sekolah di pelosok-pelosok. Tanpa ada gebrakan ini, kesempatan pendidikan mungkin akan terus-menerus timpang. Pelosok-pelosok daerah selalu menjadi korban: mereka tak memperoleh kesempatan yang sama. Selalu ada ketimpangan dalam pendidikan.

Gebrakan ini adalah upaya menjawab persoalan ketimpangan di dalam pendidikan, antara pelosok dan kota, antara mereka yang mendapat akses pendidikan dengan mudah dan murah dan mereka yang kesulitan memperoleh pendidikan disebabkan kurangnya atau mahalnya fasilitas yang tersedia.

Maka mereka mengusung dengan tegas perlunya ‘infrastruktur pendidikan’ yang dapat menjangkau masyarakat desa yang (terutama) terisolir. Dalam hati yang dalam, kita harus jujur mengakui bahwa cita-cita bangsa Indonesia adalah mencerdaskan anak-anak bangsa. Maka mereka semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

Karya : Muda Kaltim