Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 48639
            [type_id] => 1
            [user_id] => 22984
            [status_id] => 1
            [category_id] => 80
            [project_id] => 0
            [title] => STUDI ISLAM NORMATIVITAS DAN HISTORISITASNYA
            [content] => 

STUDI ISLAM NORMATIVITAS DAN HISTORISITASNYA

Islam adalah sebuah agama yang mempunyai dimensi kompleks.Ia dapat dilihat dan ditelaah dari berbagai sudut pandang, fenomena, dan disiplin ilmu. Dengan demikian di dalam mempelajari dan menelaah diharapkan ekstra hati-hati sehingga tidak akan menimbulkan pemahaman yang keliru dan kurang pas. 
 
Supaya tidak terjadi hal demikian, untuk saling bersinergi, saling memperkaya wawasan, dan agar tidak merasa ada ancaman dari satu terhadap yang lain maka konsep tasamuh atau toleransi mutlak di kedepankan.

Kajian keislaman adalah salah satu studi yang mendapat perhatian yang serius di kalangan ilmuan. Dengan demikian Islam dapat dipandang sebagai sebuah kajian keilmuan yang tak terelakkan.

Dari perspektif filasafat ilmu, setiap ilmu baik itu ilmu alam, sosial, agama atau ilmu-ilmu keislaman, harus diformulasikan dan dibangun di atas teori-teori yang berdasarkan pada kerangka metodologi yang jelas.
 
Dalam kaidah ini, teori-teori sebagai wujud ekspresi intelektual yang seharusnya tidak boleh disakralkan dan dogmatik. Bertitik tolak dari pemahaman yang demikian, maka timbulah sudut pandang yang berbeda dalam menjelaskan Islam itu sendiri.
 
Ketika Islam dilihat dari sisi normatifitas, Islam merupakan agama yang di dalamnya berisi ajaran Tuhan yang berkaitan dengan urusan akidah dan mu’amalah. Sedangkan ketika Islam dilihat dari sisi historisitas atau sebagaimana yang tampak alam masyarakat, Islam tampil sebagai sebuah disiplin ilmu atau ilmu keislaman.

Fenomena keberagaman manusia dapat dilihat dari berbagai sudut pendekatan.Tidak lagi hanya dapat dilihat dari sudut dan semata-mata terkait dengan normativitas ajaran wahyu, meskipun fenomena ini sampai kapan pun adalah ciri daripada agama-agama yang ada.
 
Tetapi juga dapat dilihat dari sudut dan terikat erat dengan historisitas pemahaman dan interpretasi orang-perorang atau kelompok-perkelompok terhadap norma-norma ajaran agama yang dipeluknya, serta model-model amalan dan praktek-praktek ajaran agama yang dilakukanya dalam kehidupan sehari-hari. 
 
Pada umumnya, normativitas ajaran wahyu dibangun, diramu, dibakukan dan ditelaah lewat pendekatan doktrinal-teologis, sedang historisitas keberagaman manusia ditelaah lewat berbagai sudut pendekatan keilmuwan sosial-keagamaan yang bersifat multi dan inter disipliner, baik lewat pendekatan historis, filosofis, psikologis, sosiologis, kultural maupun antropologis.

Pendekatan dan pemahaman terhadap fenomena keberagaman yang bercorak normatif dan historis tidak selamanya akur dan seirama. Hubungan antara keduanya seringkali diwarnai dengan tension atau ketegangan, baik yang bersifat kreatif maupun destruktif. 
 
Pendapatan yang pertama, lantaran ia berangkat dari teks sudah tertulis dalam kitab suci masing-masing agama, sampai batas-batas tertentu adalah bercorak literalis, tekstualis, atau skriptualis. 
 
Pendekatan terhadap fenomena keberagaman yang kedua dituduh oleh yang pertama sebagai pendekatan dan pemahaman keagamaan yang bersifat “reduksionis”, yakni pemahaman keagamaan yang hanya terbatas pada aspek eksternal-lahiriah dari keberagaman manusia dan kurang begitu memahami, menyelami dan menyentuh aspek batiniah-eksoteris serta makna terdalam dan moralitas yang terkandung oleh ajaran agama-agama itu sendiri. 
 
Sedang pendekatan studi agama yang kedua, yang lebih bersifat historis balik menuduh corak pendekatan yang pertama sebagai jenis pendekatan dan pemahaman keagamaan yang cenderung bersifat “absolutis”, lantaran pendekatan pertama ini cenderung mengabsolutkan teks yang sudah tertulis, tanpa berusaha memehami lebih dahulu apa sesungguhnya yang melatarbelakangi berbagai teks keagamaan yang ada.

Hubungan antara keduanya tidaklah harus dibuat tegang dan kaku seperti itu.Kontroversi antara absolutis dan relativis dalam arti reduksionis kurang begitu relevan untuk melihat realitas konkret fenomena keberagaman manusia secara utuh.
 
Menentukan bentuk hubungan yang pas antara keduanya adalah merupakan separoh jalan untuk mengurangi ketegangan hubungan antara kedua corak pendekatan tersebut.

Menurut ijtihad penulis, hubungan antara keduanya adalah ibarat sebuah koin (mata uang) dengan dua permukaan. Hubungan antara kedua permukaan koin tidak dapat dipisahkan, tetapi secara tegas dan jelas dapat dibedakan.

Pemahaman terhadap keIslaman selama ini dipahami sebagai dogma yang baku dan menjadi suatu norma yang tidak dapat dikritik, dan dijadikan sebagai pedoman mutlak yang tidak saja mengatur tingkah laku manusia, melainkan sebagai pedoman untuk menilai dogmatika yang dimiliki orang lain, meskipun demikian dogmatika tersebut tidak dapat dilepaskan dari segi sejarah pembentukan dogma itu sendiri.

Dalam suatu penelitian, peneliti menemukan bentuk pemikiran Amin Abdullah tentang pendekatan historisitas dan normativitas. Sisi historisitas merupakan bentuk sejarah bagaimana dogmatika itu muncul, sedangkan normativitas adalah aturan baku itu sendiri, yang mana tidak dapat dilepaskan dari pemikiran tentangnya. 
 
Dimana penafsiran tentang dogmatika tersebut, tidak hanya ditentukan oleh teks tunggal, melainkan juga kepentingan, kondisi, maupun prejudice yang mendasari penafsiran juga muncul dalam pemikiran keIslaman, yang kini telah dibakukan dan dijadikan pedoman mutlak.[1]

Baca Selengkapnya di Wkyes
[slug] => studi-islam-normativitas-dan-historisitasnya [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1527153362.PNG [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 98 [issued] => 0 [author] => Much Nasih Amin [username] => muchnasihamin [avatar] => avatar.png [status_name] => published [category_name] => Sejarah [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-05-24T16:16:02+07:00 [updated_at] => 2018-10-04T05:05:05+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.264585ms [status] => 200 )