Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 14 Januari 2018   07:36 WIB
Beberapa Sifat yang Dianjurkan untuk Dinikahi

Sekilas tentang yang berhubungan dengan menjalin ikatan keluarga dan menyempurnakan separuh agama.

Hadist dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِيْنِهْ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْ الشَّطْرِ الْبَاقِي

Artinya: "Siapa yang diberi karunia oleh Allah seorang istri yang solihah, berarti Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya. Karena itu, bertaqwalah kepada Allah disetengah sisanya." (HR. Baihaqi 1916).

Dalam riwayat lain, dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْدِيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْ الْنِصْفِ الْبَاقِي

Artinya: "Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya."

Ulama berbeda pendapat dalam menilai keabsahan hadis ini. Banyak yang menilai hadis ini sebagai hadis yang dhaif. Diantaranya Al-Haitsami, Ibnul Jauzi dan Al-'Iraqi. Sementara itu, ada juga ulama yang menilainya hasan li ghairihi, seperti syekh Al-bani yang disebutkan dalam kitabnya Shahih Targhib wa Tarhib ( 2/192).

Nikah adalah syariat islam yang sangat dianjurkan bagi yang ingin dan butuh untuk membangun keluarga dan keturunan, akan tetapi dengan ketentuan tertentu seperti mampu menafkahinya berupa sandang pangan. Dan tidak harus memiliki rumah serta pekerjaan tetap, yang terpenting mampu menafkahinya. Keluarga sakinah bukan karena kaya dan mewah melainkan menikmati  hidup hanya mengharapkan ridho-Nya.

Jika kurang mampu dalam menafkahinya maka Alloh akan memberinya dengan karunia-Nya, berdasarkan firman Alloh ta'ala:

وَاَنْكِحُوا الْاَيَامٰى مِنْكُمْ وَالصّٰلِحِيْنَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَاِمَآئِكُمْ اِنْ يَّكُوْنُوْا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِه وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: "Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An-Nur 24: Ayat 32).

Dan jika benar-benar tidak mampu tetapi ingin menikah maka harus menunda keinginannya lebih utama dibandingkan menikah tanpa bisa menafkahinya dan menahan syahwat dengan berpuasa. syahwat manusia dikendalikan oleh dua hal: perut dan kemaluannya.

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم: يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ 

Artinya: "Dari Abdulloh bin mas'ud bahwa Rosululloh shollallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada kami: "Wahai generasi muda, barang siapa diantara kalian mampu berkeluarga maka menikahlah, sesungguhnya itu menundukan pandangan dan kemaluan, dan barang siapa tidak mampu maka berpuasalah karena puasa menahan syahwat." (HR. Bukhari dan muslim)

Hadits ini termasuk hadits yang paling sahih secara takhrij dan sanad. Secara takhrij, karena hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, sedangkan secara sanad karena hadits tersebut melewati jalur yang paling valid secara mutlak (Ashah Al Asanid), yaitu Sulaiman bin Mihran Al A'masy dari Ibrahim An-Nakha'i dari 'Alqamah bin Qais An-Nakha'i dari Abdullah bin Mas'ud. (Fathul baari syarh shohih bukhari)

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim mengatakan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari kata Ba'ah dalam hadits tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud Ba'ah di sini adalah maknanya secara bahasa yaitu jima'. Jadi, bunyi hadits tersebut menjadi, "Barangsiapa di antara kalian telah mampu berjima', hendaklah ia menikah. Barangsiapa belum mampu berjima', hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwat dan air maninya, sebagaimana tameng yang menahan serangan."

Jika yang dimaksud Ba'ah adalah jima', maka objek dari hadits tersebut adalah para pemuda yang memiliki hasrat yang besar terhadap lawan jenisnya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud Ba'ah adalah kemampuan seseorang untuk memberikan nafkah dan keperluan pernikahan. Jadi, bunyi haditsnya menjadi, "Barangsiapa di antara kalian telah mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia menikah. Barangsiapa belum mampu memberikan nafkah dan keperluan pernikahan, hendaklah ia berpuasa untuk menahan syahwatnya".

Majid Al-Hamawy muhaqqiq kitab matan ghoyah wat taqrib karya Abu syuja' menjelaskan bahwa hukum nikah adalah mustahab jika ingin berjima' dan mampu menafkahi, nikah bisa makruh hukumnya jika mampu menahan syahwat dan tidak mampu menafkahi atau mampu menafkahi tapi mempunyai aib atau cacat seperti pikun dan apabila mampu menafkahi dan tidak mempunyai cacat maka melepaskan diri untuk beribadah lebih utama dari pada nikah jika itu semata karena Alloh, dan jika beribadah bukan semata karena Alloh maka nikah lebih utama untuk menjaga diri dari kemaksiatan dan perbuatan keji, nikah bisa jadi wajib jika takut pada dirinya untuk melakukan zina dan perbuatan keji, nikah bisa jadi haram jika suami tidak bisa memenuhi hak-hak istrinya.

Berikut ini beberapa sifat-sifat wanita yang sangat dianjurkan untuk dikhithbah (dilamar):

  • Masih gadis

Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam menganjurkan bagi laki-laki untuk menikahi seorang gadis, dengan dalil ketika beliau berkata kepada jabir rodhiyallohu 'anh yang pada waktu itu menikahi seorang janda maka Nabi bersabda padanya:

... هَلاً بِكْرًا، هِيَ تُلاَعِبُكَ وَتُلاَعِبُهَا، تُضَاحِكُكَ وَتُضَاحِكُهَا

Artinya: "Kenapa tidak gadis, dia bermain denganmu dan kamu bermain dengannya, dia tertawa denganmu dan kamu juga." (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan hadits tersebut, dalam kitab fathul baari syarh shohih bukhori bahwa Ibnu Hajar Al-Asqolany menyebutkan adanya tambahan "kamu tertawa dengannya dan dia tertawa denganmu" menguatkan bahwa maksud kalimat tersebut bermain-main. Berasal dari kata la'iba yg artinya bermain. Dalam riwayat lain bahwa kalimat tersebut berasal dari kata lu'ab yg artinya ludah, disini terdapat isyarat tentang menghisap lidah dan bibir Ibnu Hajar rohimahulloh membenarkannya.

Adapun hikmah memilih yang gadis karena janda terkadang hatinya masih terpaut dengan suami pertama dan tidak sempurna kecintaannya. Al-Mubakfury menukil dari kitab Syarh Sunan Tirmidzi yang dinukil juga dari At-Thiby manikahi seorang gadis gambaran rasa kasih sayang yang sempurna.

  • Baik kebiasaan dan akhlaknya

Banyak fakta mengatakan bahwa kebanyakan seorang istri susah untuk menyembunyikan aib atau kekurangan suaminya, disengaja maupun tidak, maka Rosulullah manganjurkan untuk memilih gadis yang baik kebiasaannya.

Hadits dari Ibnu Abbas rodhiyallohu 'anhu:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ مَا يُكْنَزُ؟ الْمَرْأَةُ الْصَالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْه

Artinya: "Maukah engkau aku kabari sebaik-baik simpanan? yaitu wanita sholihah, jika seseorang melihatnya maka dia menyembunyikannya, jika suaminya tidak ada dia bisa menjaganya, jika diperintah mentaatinya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

  • Lemah lembut (penyayang) dan subur

Berdasarkan hadits Nabi shollallohu 'alahi wa sallam

عَنْ أنس بن مالك قَالَ : كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَأْمُر بِالْبَاءَةِ , وَيَنْهَى عَنِ التَّبَتُّلِ نَهْيًا شَدِيدًا , وَيَقُولُ : تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

وَلَهُ شَاهِدٌ : عِنْدَ أَبِي دَاوُدَ , وَالنَّسَائِيِّ , وَابْنِ حِبَّانَ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ

Artinya: "Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: "Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." (HR. Ahmad, Hadits shahih menurut Ibnu Hibban).

Hadits itu mempunyai saksi menurut riwayat Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Hibban dari hadits Ma'qil Ibnu Yasar.

Dan masih banyak sifat-sifat yg sangat dianjurkan bagi lelaki untuk menikahinya seperti pemalu, sedikitnya mahar, bukan kerabat sendiri, tidak mempunyai anak dari orang lain, dan khususnya bukan anak hasil dari perbuatan keji atau zina, karena jika bapaknya tidak jelas yang seharusnya jadi wali ketika menikah dan tidak hadir sebagai wali maka nikah tersebut tidak sah dalam pandangan islam walaupun secara akad benar namun salah satu rukun nikah adalah wali, dan wali harus dari jalur ayah kandung tapi kalau semua itu tidak ada maka hakimlah yg menjadi wali, ayah angkat tidak mungkin menjadi wali dari pihak perempuan.

Sudah banyak kejadian seperti itu dizaman sekarang, anak pezina menikah tanpa wali maka anak keturunannya juga berzina karena dimulai dari nikah yang tidak sah. Na'udzu billah min dzalik.

  • Dayyinah (sholihah, baik agamanya)

Sudah diketahui  bersama, bahwa jika ada yang ingin menikah, baik ketika laki-laki ingin menikahi seorang perempuan, maka prioritaskanlah yang kuat agamanya dan kesholihahnya.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ: تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَابِها وجمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

 Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, kedudukannya, kecantikannya dan agamanya, maka dahulukanlah yang (kuat) agamanya, niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam An-Nawawi menjelaskan makna hadits tersebut:

الصحيح في معنى هذا الحديث أن النبي صلى الله عليه و سلم أخبر بما يفعله الناس  في العادة فإنهم يقصدون هذه الخصال الأربع وآخرها عندهم ذات الدين فاظفر أنت أيها المسترشد بذات الدين لا أنه أمر بذلك

Artinya: “Yang benar, makna hadits ini adalah bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan bahwa apa yang biasa dilakukan orang-orang, mereka (biasanya menikah) bertujuan empat perkara ini dan yang paling akhir menurut mereka adalah yang mempunyai agama, maka hendaklah Anda, wahai orang yang meminta petunjuk, dahulukan yang mempunyai agama, bukan berarti (urutan empat perkara ini) diperintahkan untuk didahulukan.” (Lihat kitab Al Minhaj Syarah Shahih Muslim pada penjelasan hadits ini)

Maksudnya adalah seorang menikahi wanita karena empat perkara ini, bukan empat perkara ini sebagai urutan yang dengannya seorang wanita dipilih untuk dinikahi.

Begitu juga seorang perempuan, ketika ingin dinikahi seorang lelaki maka lelaki yang dia pilih dan diutamakan adalah yang baik agamanya dan tingkah lakunya atau akhlaknya. 

عن أبي حَاتِمٍ الْمُزَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنْ كَانَ فِيهِ قَالَ : إِذَا جَاءَكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَأَنْكِحُوهُ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya: “Abu Hatim Al-Muzany radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian), jika tidak maka niscaya akan terjadi musibah dan kerusakan di bumi”. mereka bertanya: “Wahai Rasulallah, meskipun ia mempunyai sesuatu (aib), Beliau bersabda: “Jika telah datang kepada kalian siapa (lelaki) yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak perempuan kalian)”, beliau mengatakan itu tiga kali. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syekh Al Albani di dalam Shahih At Tirmidzi).

Al-Mubarakfury rahimahullah menjelaskan hadits ini:

قوله ( إذا خطب إليكم ) أي طلب منكم أن تزوجوه امرأة من أولادكم وأقاربكم ( من ترضون ) أي تستحسنون ( دينه ) أي ديانته ( وخلقه ) أي معاشرته ( فزوجوه ) أي إياها ( إلا تفعلوا ) أي إن لم تزوجوا من ترضون دينه وخلقه وترغبوا في مجرد الحسب والجمال أو المال ( وفساد عريض ) أي ذو عرض أي كبير وذلك لأنكم إن لم تزوجوها إلا من ذي مال أو جاه ربما يبقى أكثر نسائكم بلا أزواج وأكثر رجالكم بلا نساء فيكثر الافتتان بالزنى وربما يلحق الأولياء عار فتهيج الفتن والفساد ويترتب عليه قطع النسب وقلة الصلاح والعفة

Artinya: “Sabda Beliau "jika melamar kepada kalian", maksudnya jika ia meminta dari kalian untuk menikahkannya dengan seorang perempuan dari putri-putri kalian dan kerabat (perempuan) kalian,

Dan maksud dari "siapa yang kalian ridhai" adalah kalian anggap baik.

Dan maksud dari "agamanya" adalah keadaan beragamanya.

Dan maksud dari "akhlaknya" adalah hubungan sosialnya.

Dan maksud dari "nikahkanlah" adalah lelaki tersebut dengan perempuan tersebut.

Dan maksud dari "jika tidak" adalah jika tidak kalian nikahkan anak perempuan kalian dengan lelaki yang kalian ridhai agamanya dan tingkah lakunya, kalian hanya menginginkan kedudukan, harta atau kecantikan.

Dan maksud dari "kerusakan yang merata" adalah kerusakan yang luas yang demikian ini karena kalian tidak menikahkan kecuali kepada yang  mempunyai harta atau kedudukan, maka akhirnya tersisa para anak perempuan tanpa ada suami dan sebaliknya para anak lelaki kalian tanpa ada istri. Maka akhirnya bertambah banyak fitnah zina, bahkan terkadang aib didapatkan oleh para orang tua, lalu bertambah meluas musibah dan kerusakan yang berkonsekwensi pada terputusnya nasab keturunan, minimnya keshalihan dan kesucian.” (Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, pada syarah hadits di atas)

Barang siapa yang menginginkan wanita sholihah, beriman dan bertaqwa maka berusahalah menjadi orang yang sholih, beriman dan bertaqwa dahulu, begitu sebaliknya.

Ada seorang laki-laki bertanya kepada Hasan Al Bashri, "Kepada siapakah aku menikahkan putriku wahai syekh?" Maka Hasan Al Bashri menjawab:

لا تزوج ابنتك إلا من تقي إذا أحبها أكرمها وإذا كرهها لا يظلمها

Artinya:  "Jangan nikahkan putrimu kecuali kepada laki-laki yang bertaqwa, jika dia mencintainya maka akan memuliakannya dan jika membencinya tidak mendholiminya."

Allohu a'lam bis showab

Refrensi:

  1. Fathul Baari karya imam ibnu hajar Al Asqolany, juz 9 , hal. 107. Penerbit daarul ma'rifah di Bairut.
  2. Al-minhaj Syarh Shohih Muslim karya Abu Zakaria An Nawawi, juz 9. Penerbit daaru ihyai turost al-aroby.
  3. Matnul ghoyah wattaqrib fi fiqhi As Syafi'i karya Al-qodhi Abu syuja', muhaqqiq Majid Al Hamawy. Penerbit daaru ibnu hazm.
  4. Tuhfatul ahwadzi bi syarh jaami' At Tirmidzi karya Abu 'Ilaa Al Mubarakfury. Penerbit daarul kutub al-ilmiyah di Bairut.
  5. Shohihut targhib wattarhib karya syekh Muhamad Nashirudin Al Bani, 2/192 Penerbit maktabatul ma'arif di Riyadh.

 

Muchlisin ibn Zaenuri al-faqiir ilaa 'afwillah

Susukan, grabag, magelang

Karya : muchlisin ibn zaenuri