SEJARAH DIBALIK KEPINGAN SYURGA YANG TAK TERJAMAH

Muchlis Ar-Rasyid
Karya Muchlis Ar-Rasyid Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 April 2017
SEJARAH DIBALIK KEPINGAN SYURGA YANG TAK TERJAMAH

"Sesungguhnya pada kejadian semua langit dan bumi dan perubahan malam dan siang d an kapal yang berlayar di lautan membawa barang yang bermanfaat bagi manusia, dan apa yang diturunkan Allah dari langit dari ada air, maka dihidupkanNya dengan (air) itu bumi, sesudah matinya , seraya disebarkanNya padanya dari tiap-tiap jenis binatang, dan peredaran angin, dan awan yang diperintah di antara langit dan bumi; adalah semua­nya itu tanda-tanda bagi kaum yang berakal" (Al-Baqarah : 164)

 Sore itu kami beranjak meninggalkan kota bulukumba sambil mengantar senja kembali keperaduannya, kami menuju ke sebuah Desa disebelah selatan kota bulukumba, sekitar 28 KM dari keramaian kota. tepatnya Desa Ara (Lembanna). penamaan Ara itu sendiri di ambil karena dikala itu kerajaan Gowa memberikan janji otonom kerajaan yang ternyata tak terpenuhi, sehingga membuat penduduk setempat merasa jenuh dan menyatakan "A'raja" yang artinya tak mau lagi menanti. Olehnya itu desa ini dinamakan Desa Ara.

Menurut berita angin yang kudengar dari rekan-rekan bahwa Desa tersebut menyimpan Fosil-fosil sejarah perlawanan Tau Ogi' melawan Penjajah belanda kala itu. Dan sejarah mencatat bahwa Desa tersebut merupakan saksi bisu pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda dibawah pimpinan Ahmad Tohir. Dalam proses pembebasannya, Ahmad Tohir diberi mandat oleh pemerintah pusat untuk membuat 40 buah kapal dalam 40 hari dan 40 malam yang diselesaikan di sekitar pesisir pantai Mandala untuk digunakan dalam proses penyerangan pembebasan Irian Barat  yang dimana pasukannya dijuluki Armada Semut, karena ukuran kapal yang kecil-kecil namun mampu mendepak mundur pasukan Belanda serta menduduki Irian Barat meski sempat kewalahan karena pasukan Belanda menggunakan alat yang terbilang Modern di kala itu.

Disekitaran pesisir yang menyimpan banyak kemolekan dan keindahan bibir pantainya, ada hal yang menarik tentang pantai tersebut, yakni nama yang memiliki kesamaan dengan nama Monumen di Kota Makassar yang juga menjadi prasasti sejarah dalam proses pembebasan Irian Barat. Penamaan mandala pada pantai tersebut berawal dari sebuah rapat paripurna yang di pimpin oleh H. Musytari pada tahun 1989, atau 24 tahun silam.

 Dalam perjalanan, meski terik mentari senja menyayat namun terasa sejuk karena tepisan angin sepoi-sepoi yang manampar dari depan karena kita berangkat hanya menggunakan Sepeda Motor, maklumlah Santri Sekolah Sastra tak ada yang bermobil. Dalam perjalanan pun mata kami tak berhenti terbelalak oleh karena desain-desain indah ciptaan tuhan. Tepat di Tanah Beru Kec. Bonto Bahari kami disambut oleh barisan Perahu Phinisi yang sementara dalam penyelesaian, ibarat pagar ayu yang menyambut tamu undangan dalam pesta perkawinan. hehehe...

Sudah hampir dua jam kita menapakki jalan, Barisan batu gunung layaknya prajurit yang menyambut arak-arakan raja romawi melengkapi keindahan desain-desain Tuhan di bumi iniSelain melewati jalan yang terjal kami pun disuguhi dengan jalan yang berkerikil bahkan berdebu.

 Sesampai di tempat tujuan kubiarkan diri ini menerawang jauh disudut pantai mandala, Subhanallah 

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban"(Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan).Namun ada hal yang menyayat hati yang menjadi pertanyaan dalam benakku "Apakah Pemerintah kita seorang Tuna Netra?". Kondisi alam yang indah namun terlihat kotor oleh sampah-sampah disekitarnya. Tapi sudahlah, bukan pemerintah yang jadi tokoh utama dalam cerita ini, tapi saya sendiri. heheehe...

Ternyata kami duluan sampai dibanding senja yang masih dalam perjalanan untuk kembali keperaduannya, Kuhabiskan waktu senjaku dengan berjalan meniti lembutnya sapaan pasir putih, dan gemuruh shimponi ombak dan sang bayu. Tak ada panggilan bilal, karena jauh dari pemukiman. kami hanya merasakan suara alam yang bertasbih ketika maghrib menyapa, Air laut pun jadi penyejuk hati dibalik basuhan air wudhu. kami pun Sholat di Balai bawah pohon secara berjamaah. Dalam doaku kusampaikan curhatan hati tentang luka yang dialami pantai ini kepada Tuhan.

 

"Sebenarnya Pantai ini memiliki banyak potensi Alam, misalnya disebelah timur pantai mandala terdapat taman syurga bawah laut, yang memiliki biota-biota yang masih natural tak kalah indah dengan panorama bawah laut di Bunaken. kemudian, juga terdapat muara yang mempertemukan air laut dan air danau dari Gowa Passohra. dan letak gowa ini tak jauh dari bibir pantai mandala, dan disebelah utara Desa Lembanna terdapat Gowa purbakala yang penduduk setempat menamakan "Gowa Passea" yang dalam bahasa Makassar disebut "Pacce" yang merupakan tempat perlindungan orang Serang,  karena kondisi Gowa yang tak memungkinkan membuat orang Serang tersebut banyak yang meninggal dan sebagai bukti kebenarannya bahwa sampai sekarang didalam gowa tersebut terdapat keranda mayat. Kemudian, disebelah barat terdapat lagi gowa yang dinamakan gowa billia sebuah gowa yang menjadi basis perlindungan, bahkan masih banyak gowa-gowa yang lain yang terdapat di Desa kami ini." Ujar Pak H.Syafruddin (Kepala Desa Lembanna) sewaktu menyambut kami sore itu.

 Tak terasa malam pun menghampiri dengan gemerlap cahaya rembulannya dan kerlap-kerlip bintang gemintangnya, saya pun sempat menyapanya dengan sajak puisi pertamaku yang ku buat malam itu.

Oh Indah Sekali............Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban"(Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan).Namun, keindahan itu terbingkis bersama satu pertanyaan yang membuatku gelisah bahkan sampai saat ini masih tersimpan disatu tempat dalam benakku "APAKAH PEMERINTAH ADALAH SEORANG TUNA NETRA? ATAU BAHKAN SEORANG TUNA RUNGU?"Wallahu A'lam BissawabInilah PR kita bersama..........

 Mandala Ria, 10 Nopember 2013

  • view 74