Gadis Lugu Berhati Amat Mulia

Muafa R.
Karya Muafa R. Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 10 Juni 2016
Gadis Lugu Berhati Amat Mulia

Tak perlu kau tahu siapa namanya. Begitulah aku, kadang tak perlu tahu siapa namanya, cukup satu kejadian yang mengingatkan tentang dia, maka aku akan mengingatnya dengan kejadian tersebut. Tapi kali ini bukan tentang aku, tapi tentang gadis itu…

Beberapa hari lalu, aku mengantarkan Dia ke Sawangan, Depok. Kali ini tidak ada alasan bagiku menolak untuk mengantar, karena tujuannya pun mulia: Dia menggantikan temannya untuk mengajar. Bukan mengajar sekolah, TPA, ataupun TK, tapi mengajari sepasang Mu’alaf, membaca dan menulis huruf Hijaiyah. Kami berdua yang datang ke rumah mereka.

Di perjalanan, Dia memintaku untuk berhenti kalau-kalau di pinggir jalan ada toko buku atau tempat fotokopian. Untuk membeli Iqro’ katanya.  Dia hampir sangat khawatir, seandainya saja saat itu kami tidak menemukan toko yang menjual Iqro’. Untungnya, tidak jauh dari rumah tujuan, kami sudah menemukan tempat fotokopian. Aku memberhentikan motorku di sebelah kiri jalan. Karena toko ada di sebelah kanan, dia menyebrang jalan. Aku hanya memandanginya dari seberang, memastikan kalau di toko itu menjual Iqro’ yang Dia cari. Aku sudah memastikan dia mendapatkan apa yang dia mau, tapi pandanganku tidak juga lepas dari toko itu, kearah gadis itu tepatnya. Dia ternyata tidak hanya membeli Iqro’, tapi juga kertas HVS dan (mungkin) alat-alat tulis lain. Lalu seperti biasa, Dia selalu tersenyum kepada penjualnya dan penjualnya juga membalas senyumnya. Akhirnya aku tak lagi memandanginya, tepat setelah Dia tersenyum. Tapi, aku yang diam-diam tersenyum. Ah, kamu selalu begitu, senyumanmu selalu saja membahagiakan, teduh, menenangkan.

Setiba di rumah Mu’alaf tersebut, Dia lalu masuk kedalam untuk mulai mengajar. Aku izin tidak menemani di dalam karena mau mengganti oli motor. Jadi dia aku tinggal. Kurang dari sejam handphoneku berdering, padahal aku sedang pup waktu itu, celanaku aku gantung, dan tau sendiri lah, aku sedang jongkok manis di atas closet hehe. Setelah buru-buru cebok aku angkat telfonnnya. Dari seberang sana Dia minta di jemput. Sudah selesai ngajarnya, katanya. Untungnya, telfon hanya bisa mengirimkan suara tanpa baunya. Hoho.

Tidak lama setelah kami pamitan untuk pulang, gadis itu minta untuk mampir di toko yang menjual music box.

“Mau beli buat apa?” kataku heran. Kan udah ada hape, kenapa nggak pakai hape aja gitu dengerin lagunya.

“Buat Mu’alaf tadi, mereka pengen banget dengerin Murottal”

“Ooh.. Tapi.. Uangnya ada nih buat beli?”

“Ada kok, oke oke, mampir yak beli”

“Siapp deeh..”

Aku hanya bisa tersenyum, karena aku tahu gajinya tidak besar. Dia membelikan itu juga dengan uangnya sendiri. Aku hanya membantunya memilihkan music box yang menurutku bagus dan harganya tidak terlalu mahal. Selebihnya, aku hanya memandangi dia yang sedang tersenyum, kadang pada penjualnya, kadang padaku. Memperhatikan dia saat memindahkan murottal dari laptopnya kemicro sd, atau mendengarkan dia bercerita ini itu sambil memutar salah satu murottal kesukannya.

Usai memberikan barang tersebut pada mu’alaf tadi, kami pamit untuk kedua kalinya. Aku ingat Ibu itu bilang kami berdua mirip, dan dia tertawa. Di perjalanan pulang Dia gembira sekali..

“Aku seneng banget, Ibunya seneng aku kasih music box dan aku pun jadi ikut seneng”

“Iyaa..” kataku, “Memberi memang selalu membahagiakan, membahagiakan yang diberi, juga membahagiakan pemberi, selalu begitu”

Lalu aku tersenyum kembali. Hai, mulia sekali hatimu.

Sebenarnya ada banyak kejadian yang akhirnya aku simpulkan dia mempunya hati yang berbeda. Tapi cukup satu kejadian saja untuk aku selalu mengingatnya.. selamat berbahagia, jangan lupa niat puasa, untuk hari ke empat besok.

  • view 122