Terlalu Sering Mengkritik: Kita Sudah Berbuat Apa?

Mohammad Aliman Syahmi
Karya Mohammad Aliman Syahmi Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Juni 2017
Terlalu Sering Mengkritik: Kita Sudah Berbuat Apa?

Selama ini, kita cukup rajin mengkritisi segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kita tampil sebagai pengamat yang sangat jeli dan  peka terhadap permasalahan yang terjadi. Ada yang mengkrtisi dengan pengetahuan yang ia miliki, ada juga yang mengkritisi dengan dasar perasaan kemanusiaan yang tentunya ingin menunjukkan bahwa permasalahan tersebut adalah sesuatu yang sangat melukai nilai-nilai yang dianut. 

Kita cukup berbahagia. Adanya kritikan ini menandakan bahwa masyarakat memiliki kepedulian yang amat tinggi terhadap setiap persoalan yang terjadi. Segala kritikan yang disampaikan adalah bentuk keresahan yang amat mendalam terhadap pihak-pihak yang tidak menunaikan tugasnya dengan sempurna. 

Namun, dari sekian bentuk kritikan yang kita lontarkan. Pernahkah kita sesekali memikirkan tentang bagaimana kita bisa keluar dari persoalan tersebut. Misalnya saja, ketika kita mengkritisi kebijakan pemerintah terkait kenaikan tarf listrik. Pernahkah kita berfikir untuk keluar dari persoalan tersebut dan menawarkan solusi yang efektif?

Salah satu guru saya pernah menasehati saya ketika mengkritik kebijakan pemerintah tentang harga pupuk yang saya nilai cukup mahal. Lantas, ketika itu beliau berkata " Jika memang engkau merasa terbebani dengan kenaikan harga pupuk, mengapa tidak kau pikirkan saja bagaimana mengatasi kebutuhan pupuk itu dengan cara lain? tidak hanya bergantung dengan pupuk di pasar saja. Ada banyak metode-metode dalam pembuatan pupuk organik, mengapa kau tidak melakukannya?"

Saya cukup tertegun dengan nasehat guru saya itu. Beliau seolah-olah "menampar" saya yang hanya bisa mengkritik namun, enggan memikirkan solusi.Padahal, hakikatnya orang mampu mengkrtik adalah orang yang mengetahui tentang solusi terhadap permasalahan tersebut. Ketika ia mengkritik sesuatu, ia sudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk keluar dari permasalahan tersebut. 

Selama ini kita terbilang cukup malas dan terkesan selalu mencari pihak untuk dipersalahkan. Kritikan yang kita lakukan tak ubahnya hanyalah untuk menyudutkan pihak tertentu, tanpa memiliki niat untuk memperbaiki keadaan. Tentang persoalan ekonomi ini misalnya, meskipun kita  tidak memiliki latar belakang pengetahuan ekonomi yang cukup. Dalam menghadapi persoalan ekonomi yang kita pandang adalah kekeliruan dari kebijakan pemerintah.  Kita sebenarnya bisa membantu  pemerintah dengan melakukan pendekatan secara mikro atau membenahi perekonomian individu ataupun rumah tangga. Seperti persoalan kenaikan tarif listrik tadi. Kita bisa melakukan efisiensi atau penghematan, sembari meningatkan pendapatan. 

Namun, solusi yang ditawarkan seperti ini hanya dinilai sebagai retorika kosong, tidak memahami permasalahan dan tidak memahami penderitaan masyarakat. Meskipun yang mengatakan demikian, ia juga tetap manyalingkik atau berdesak-desakan di pusat perbelanjaan saat beberapa hari menjelang Lebaran, atau ia masih rajin menggunakan kuota internetnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. 

Masih banyak lagi contoh yang mengambarkan bagaimana kita yang rajin melontarkan kritik, namun malas untuk keluar dari permasalahan yang dikritisi. Hanya menyalahkan pihak lain, berharap pihak tersebut mengeluarkannya dari persoalan tersebut. Memang benar, pihak-pihak yang kita kritisi ini memiliki tanggung jawab terhadap segala persoalan yang terjadi. Namun, kita juga harus menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab yang penuh terhadap diri kita sendiri. Segala persoalan yang kita rasakan, kita-lah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. 

Nah, mari kita barengi sikap kritis tersebut dengan pemikiran yang cukup matang. Jika rasanya kita belum memiliki pemikiran yang cukup matang, alangkah lebih baiknya jika kita mencoba untuk menahan diri terlebih dahulu.  Jangan hanya mengkritik, jika hanya untuk menyalahkan, bukan mencoba untuk menyelesaikan. 

  • view 51