Sebuah Catatan Hidup : Sikap Kritis Atau Hanya Ingin Tampak Manis Dan Bengis?

Mohammad Aliman Syahmi
Karya Mohammad Aliman Syahmi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Juni 2017
Sebuah Catatan Hidup : Sikap Kritis Atau Hanya Ingin Tampak Manis Dan Bengis?

Sejenak saya berfikir tentang sikap kritis yang saya miliki terhadap segala permasalahan yang ada belakangan ini.  Sejauh ini, apakah saya benar mengkritisi suatu permasalahan dengan benar atau hanya mengikuti rasa suka/tidak suka saya terhadap permasalahan tersebut. Sehingga, saya lebih cenderung melontarkan umpatan yang disampaikan secara sistematis, bukan mengkritik dengan benar. 

Saya masih ingat dengan beberapa obrolan masyarakat di media sosial yang masih berputar dari perkara yang itu-itu saja. Perkara toleransi-keberagaman-Pancasila- dan berbagai teori-teori konspirasi yang keberadaannya hanyalah untuk menggiring opini masyarakat serta kemudian menciptakan kekacauan yang baru. Setiap mereka berdalih jika mereka menunjukkan sikap yang kritis dan memiliki landasan sikap yang kuat. Padahal, semuanya hanyalah perbualan yang tidak ada hasilnya. 

Orang-orang tua terdahulu sering berpetuah melalui pepatah yang menjadi pegangan secara turun-temurun. Salah satunya adalah " Tiba di perut dikempiskan, tiba dimata dipicingkan", Yang bermakna tiadanya keadilan dalam bersikap, mengkritisi, serta memiliki pemikiran. Atau lebih kerennya, hidup dalam "idealisme karet". 

Saya bawakan sikap yang demikian kepada badan diri. Sudah benarkan saya selama ini mengkritisi suatu permasalahan? apakah sudah mengedepankan sikap yang objektif atau masih mengedepankan rasa suka/tidak suka, rasa hormat atau benci? Jika saya tidak bisa memiliki sikap kritis pada setiap permasalahan, alangkah malu rasanya jika saya berani melantangkan kepada orang banyak bahwa saya adalah manusia yang memiliki sikap yang kritis. 

Berbeda dalam sikap itu adalah perkara yang lumrah, asalkan memiiliki pijakan yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan. Namun, jika itu hanya bentuk pemaksaan sikap karena merasa memiliki perbedaan sendiri, maka itu hanyalah sikap egois yang akan membawa diri pada kenistaan.

Semoga catatan harian terbuka ini bisa menjadi renungan, terutama yang akhir-akhir ini begitu heroik dalam mengomentari sesuatu, namun tidak melihat substansi permasalahan dengan benar. 

 

  • view 93