Bagaimana Kalau Status Facebook Saya Dijiplak Orang Lain? Plagiatkah?

Mohammad Aliman Syahmi
Karya Mohammad Aliman Syahmi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Juni 2017
Bagaimana Kalau  Status Facebook Saya Dijiplak Orang Lain? Plagiatkah?

Ketika awal-awal bersemangat saat mengunggah tulisan di beranda facebook dulu, saya sempat bertanya, jika tulisan yang saya buat ini benar-benar bagus dan bermanfaat untuk orang lain. Lantas, apa yang bisa saya lakukan jika suatu ketika ada yang tiba-tiba menjiplaknya dengan sesuka hati? Apakah saya bisa menuntut pihak tersebut dengan tuduhan plagiasi? 

Saya renungi hal tersebut secara mendalam, dan benar, jika saya yakin memiliki tulisan yang bagus, lantas untuk apa juga saya menuliskannya di beranda facebook. Bukankah ada media atau platform lain yang sebenarnya bisa menyelematkan buah pemikiran saya dari tindakan penjiplakan yang sebenarnya hal tersebut adalah yang biasa saja. Hmm, biasa karena itu hanya sebuah status facebook ya. Sebab, kembali kepada pernyataan saya tadi, jika tulisan saya bagus, maka saya tidak akan menuliskannya di facebook. 

Tentang plagiat ini, kita tentu perlu memahami secara mendasar terlebih dahulu apakah yang bisa dikategorikan sebagai tindakan plagiat. Tidak selalu hal yang  bentuknya penjiplakan itu dikatakan sebagai bentuk plagiasi. Sebagai contoh misalnya, ketika melakukan obrolan tentang  ekonomi di sebuah warung kopi, saya mencoba menjelaskan suatu perkara kepada masyarakat dengan berbagai macam sudut pandang dan pemahaman teoritis yang saya pelajari selama ini. Dan, para penghuni warung duduk termangu dan mengiyakan penjabaran saya, lantas kemudian menurutinya dan mempraktikkannya dalam kehidupannya.  Itu tanpa saya sebutkan referensi dan bahkan akan terdengar absurd jika ada yang tiba-tiba menyela saya untuk mempertanyakan tentang referensi lengkap yang saya gunakan, biar nggak plagiat

Contoh lain, misalnya dalam menulis sebuah diary tentang cinta sejati, saya tidak perlu menuliskan nama Halimah Asy-Sya'diah ketika saya mengawali tulisan saya dengan pemikiran tentang cinta yang termaktub di dalam ajaran mahabbah.  Apakah saya melakukan tindakan plagiasi? 

Sebelum itu, kita perlu memahami lagi bahwa ada beberapa produk karya tulis ilmiah seperti jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi.  Ada juga produk karya jurnalistik seperti artikel, essay, feature, dan berita. Semua produk tulisan tersebut, sebelum dilemparkan ke publik, perlu melewati tahapan-tahapan tertentu terlebih dahulu. Agar tidak terdapat unsur pelanggaran yang bisa menyebabkan tulisan tersebut dituntut oleh masyarakat. Sebut saja artikel lepas. Sebelum artikel dipublikasikan oleh sebuah media, ia harus melewati tahapan moderasi terlebih dahulu oleh dewan redaksi. Setelah diketahui tidak terdapat unsur pelanggaran, seperti unsur plagiat misalnya, barulah kemudian ia layak untuk diterbitkan di media tersebut. 

Yang lebih ketat lagi, seperti skripsi. Di samping harus melalui tahapan bimbingan yang cukup panjang dan alot, tulisan tersebut harus benar-benar mutakhir dan sistematika penulisannya harus benar. Sehingga, ketika seorang sarjana telah berhasil menyelesaikan skripsinya, di kemudian hari tidak ada yang menuntut tulisannya dan tulisannya tidak akan dijiplak secara sembarangan. 

Jadi, persoalan plagiat ini perlu kita fahami secara mendasar, agar kita tidak terlalu cepat menuding seseorang telah melakukan plagiat lantaran ia diketahui menggunakan tulisan orang lain di dalam tulisannya. Lihatlah terlebih dahulu, apa bentuk tulisan yang ia buat. Jurnal kah? artikel, atau bahkan hanya sebuah diary yang ia tulis secara terbuka. 

Nah,   kembali pertanyaan awal,"Bagaimana jika status facebook saya dijiplak orang lain?". Maka, dapat saya simpulkan bahwa jika ada yang menjiplak tulisan saya di facebook, saya harus merelakannya. Toh, status update di facebook bukanlah tergolong kepada sebuah karya tulis yang memiliki hak cipta. Jika saya meyakini memiliki tulisa yang bagus, maka lebih baik jika saya menuliskannya dalam bentuk artikel dan mengirimkannya ke media-media yang cukup ternama. (Kalau saya biasa mengirim tulisan ke qureta, idntimes, atau hipwee. Sebab, disamping moderasi dari redaksinya cepat, ada evaluasi jika tulisan saya belum layak). 

Kalau tulisan masih dalam bentuk status facebook. Itu sebenarnya akan semakin mematikan idealisme kita sendiri dan tulisan hanya akan menguap sia-sia. Mendingan nulis di diary tertutup, bukan? 

  • view 103