Mari Kita Luruskan Kembali Pemahaman Mengenai “Agama Warisan”

Mohammad Aliman Syahmi
Karya Mohammad Aliman Syahmi Kategori Agama
dipublikasikan 23 Mei 2017
Mari Kita Luruskan Kembali Pemahaman Mengenai “Agama Warisan”

Hadirnya Afi Nihaya bersama pemikirannya yang kritis tentu sangat membanggakan kita semua. Di saat remaja di usianya tengah sibuk dengan hal-hal menyenangkan bagi seorang remaja, ia malah tampil beda dengan berbagai pandangan yang cukup menakjubkan. Ia memang pantas dijadikan panutan bagi remaja saat ini.

Salah satu pemikirannya yang cukup mengagumkan adalah pandangannya tentang kehidupan beragama masyarakat saat ini. Pemikiran yang tertuang di dalam sebuah tulisan bertajuk “warisan” seperti menjadi sebuah kritikan kepada beberapa oknum yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan karena keliru dalam memahami beragama yang sebenarnya. Afi seperti mewakili keresahan masyarakat yang sudah jengah dengan beberapa konflik yang mengatasnamakan agama. Kita hendaknya bisa mengambil i’tibar dari apa yang disampaikan oleh Afi dan kembali menyadari, selama ini kita ngapain aja? Mengapa perkara yang begitu krusial di tengah masyarakat ini malah disampaikan oleh seorang remaja belia.

Kendatipun demikian, jika difahami secara mendalam. Pemikiran yang diutarakan Afi dalam “Warisan” ini tentu tidak serta merta kita benarkan seluruhnya. Ada beberapa perkara yang cukup krusial yang dalam tulisan tersebut,Afi keliru dalam menyampaikannya. Dan kekeliruan inilah yang membuat ia ditegur hingga dibenci oleh sebagian orang karena menyampaikan sesuatu yang tidak benar. Dan kabarnya, akun facebooknya dilaporkan secara massal oleh netizen hingga akunnya tidak bisa dibuka sementara waktu. Nah, apakah sebenarnya menjadi kekeliruan bagi tersebut?

Tentang pandangannya mengenai “agama warisan” ini bisa dikatakan sebagai pemikiran yang belum matang. Afi perlu memahaminya lebih mendalam bagaimana substansi beragama yang sesungguhnya dan tentu ia harus melihatnya pada sudut pandang yang tepat.

Ketika agama yang kita anut saat ini adalah agama yang sama dengan apa yang dianut oleh orang tua kita. Itu tidak bisa dinilai sebagai sebuah warisan belaka. Karena orang tua disamping mengenalkan agama, mereka juga memberikan pendidikan agama dasar yang akan mendasari keyakinan kita sebagai manusia yang ber-Tuhan.

Mungkin, di antara kita pernah berfikir bahwa kita tidak meminta untuk dilahirkan seperti apa dan sebagai apa. Kita menganggap bahwa kita menjadi muslim itu karena kita lahir di keluarga yang muslim, belum tentu kita akan menjadi muslim jika kita lahir di keluarga Nasrani, Yahudi, ataupu agama lainnya. Namun, realita yang kita lihat saat inil adalah banyak manusia yang pada akhirnya memilih keyakinan yang berbeda dengan orang tuanya di saat ia benar-benar menggunakan akal dan pikirannya secara matang. Bahkan, hal tersebut banyak terjadi pada orang yang berasal dari latar belakang keluarga yang sangat taat beragama.

Kita mengenal Hj.Irene Handono, seorang biarawati yang akhirnya memutuskan untuk menjadi muslim dan saat ini menjadi pendakwah. Jauh sebelum itu, kita juga mengenal seorang tokoh bernama Willy Amrul atau Abdul Wadud Karim Amrullah, ia seorang pendeta yang awalnya merupakan seorang muslim yang taat, beliau juga merupakan adik dari Tokoh Islam terkemuka, Buya Hamka. (sumber:Balada Anak Surau Bertukar Kiblat). Dan masih banyak lagi tokoh yang memutuskan untuk menganut agama yang berbeda dari orang tuanya.

Di samping itu, ada juga yang menjadi manusia yang lebih taat dalam beragama daripada orang tuanya atau sebaliknya. Jadi, Penilaian bahwa agama yang kita anut saat ini adalah sebuah doktrinisasi dari orang tidaklah tepat, karena pada saat kita dikenalkan dengan agama, kita tidak menerima agama yang telah difahami secara utuh. Pada hakikatnya orang tua kita hanya mengenalkan tentang keyakinan yang mereka yakini sebagai kebenaran yang mutlak dan kita diberi kebebasan untuk mempelajari dan memahaminya secara mendalam. Jika kita menggunakannya sebaik mungkin dan memahami agama dengan benar, kita tentu akan menjadi penganut agama yang sejati. Namun, jika ita hanya berdiam diri dan mengabaikan agama, agama yang dianut hanyalah sebagai “label”, tidak berarti apa-apa.

Jadi, rasanya Afi perlu memahami hal ini secara mendalam dan baru kemudian melontarkan pemikiran yang tajam tentang agama yang sebenarnya. Kita perlu melihat suatu permasalahan dalam sudut pandang yang benar, agar kita tidak keliru dalam memutuskan suatu perkara.

  • view 356