Isyarat

Rolyta Nur Utami
Karya Rolyta Nur Utami Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Biru Muda

Biru Muda


Cerpen-cerpen dalam biru muda ini ditulis oleh saya sendiri, cerita-cerita ringan yang ditulis oleh remaja rentang umur 15-17 tahun. Terlalu merah muda. Terlalu kanak-kanak memang; tetapi bukankah itu remaja kita? Selamat jatuh cinta yang meski receh. :)

Kategori Fiksi Remaja

310 Hak Cipta Terlindungi
Isyarat

Barangkali selamanya akan begitu. Kau tahu, ada begitu banyak hal ingin kusampaikan, tapi bagaimana caraku untuk menyampaikannya kepada sejurus bayangan yang setiap langkahnya selalu memunggungi? Ah, jangan pinta aku untuk maju menghadapnya, atau selamanya aku tidak akan pernah kembali sebab lenyap dihisap iris matanya yang gelap.

            Dan jangan pernah memberiku ide untuk menulis puisi untuknya. Aku tidak yakin ia memiliki mata yang dapat membaca aksaraku yang lebur dan cacat; Aku tidak tahu apakah ia memiliki kemampuan yang cukup untuk terjemahkan maksudku yang kosong.

            Jadi jangan bertanya lagi jika kau melihatku selamanya begini; satu-satunya caraku untuk memberitahunya bahwa aku ada hanyalah dengan isyarat.

            Angin yang melewatinya, hujan yang dilaluinya, ombak yang menerjangnya. Malam yang menjaganya, pagi yang menyambutnya, sore yang membersamainya. Langit yang menanunginya, bumi yang ia pijak. Dan terakhir, seuntai doa dari sepasang mata yang ia punggungi.

            Jadi aku tidak memerlukan puisi untuk memahami dan dipahami; sebab aku hanya seberkas harap yang tidak kasat mata untuknya. Jikalau aku cahaya, apakah aku akan diizinkan untuk menyinari bayang yang hitam dari punggung yang tegap itu? Tidak tahu, tapi tolong jangan berbalik, karena aku tahu bagimu aku hanya amoeba atau bakteri menjengkelkan yang selalu riuh dengan seruan-seruan norak mahluk astral di sekelilingku. Aku juga tidak tahu mengapa mereka jahil sekali, sumpah!

            Jadi kuharap kau masih tersenyum, isyarat ini akan selalu ada entah hingga kapan. Mungkin esok, atau mungkin hingga lusa, tahun depan barangkali, tetapi aku tidak pernah berharap ini akan selamanya. Karena suatu hari, aku berharap menemukan pencarian ini dan aku lemah, hingga memutuskan untuk berhenti menjadi sebuah isyarat untukmu.

 

 

*Kopi Hitam, Jakarta, ---- 2015, 22.36

  • view 26