Dua Hujan

Rolyta Nur Utami
Karya Rolyta Nur Utami Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Biru Muda

Biru Muda


Cerpen-cerpen dalam biru muda ini ditulis oleh saya sendiri, cerita-cerita ringan yang ditulis oleh remaja rentang umur 15-17 tahun. Terlalu merah muda. Terlalu kanak-kanak memang; tetapi bukankah itu remaja kita? Selamat jatuh cinta yang meski receh. :)

Kategori Fiksi Remaja

302 Hak Cipta Terlindungi
Dua Hujan


Aroma tanah, tampias air yang sejuk, atau irama air yang tidak beraturan. Bagaimanapun, kau tahu dan aku juga tahu kalau kita sama-sama menyembunyikan sesuatu. Tidak perduli sekelabu apa langit sore ini, puisi itu masih sama.


*


Hai, dari sini hujan terlihat menyenangkan. Meski aku masih harus merasa terheran-heran, karena kebanyakan orang lebih memilih meringkuk hangat diranjangnya, padahal sama-sama kita tahu, hujan pagi adalah hujan yang paling.. paling.. dan paling indah. Ya, anggap saja itu menurutku. Subuh tadi aku terjaga, dipanggil seruan untuk menghadap zat yang Maha Esa, gemeletuk air yang menimpa atap membuatku urung untuk terlelap.


Maka pelan-pelan aku melangkah keluar, melihat pagiku yang terbungkus abu-abu pekat. Aroma tanah menguar dari segala penjuru, angin berhembus dingin. Tetapi tetap saja pemandangan itu menjadi lebih menakjubkan jika kita menikmatinya dari lantai duapuluh rusun ini.


Aku ingin masuk kembali ke kamarku, karena hujan ini kurasa cukup. Tetapi diseberang sana sebuah pintu terbuka. Seseorang membawa secangkir entah yang mengepulkan uap, tatapan matanya tenang menatap hujan. Segera aku terpaku, untuk kemudian tersipu malu karena ia menangkap basah tatapan mataku. Kikuk, aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Dari sini, hujan masih terdengar merdu, dingin masih terasa syahdu. Dan saat aku menyibak tirai jendelaku, seseorang itu masih diseberang sana, harapan untuk berada disamping bahunya yang tegap segera kuenyahkan dan aku pergi.


*


Hai, tidak ada yang lebih membosankan selain menunggu. Dan menunggu.
Saya menunggu, terbangun dari tidur panjang seperti biasanya, ingin segera pergi, namun diluar basah dan jutaan air itu turun tiada henti. Tidak tahu harus melakukan apa, jadi saya membuka laptop. Menonton ulang serial Detektif kesukaan, satu serial, dua serial, sampai saya merasa bosan dengan semua jalan cerita, hujan itu masih juga bertahan.
Butuh sesuatu yang hangat.


Sebenarnya, masih terlalu pagi, tapi semuanya tidak dapat dipungkiri, saya seharusnya sudah pergi. Pekerjaan menanti, tidak mudah menjadi pemuda yang bertahan hidup dikota besar seperti ini, maka nasib seperti saya gantungkan ditepi. Hidup dirusun padat, riang canda bocah berlarian, menyenangkan melihat mereka meski lusuh. Heboh mendengar ibu-ibu arisan, selalu saja seru karena disela arisan itu selalu ada gosip paling baru, yang entah apa.


Tetapi pagi ini hening. Hari dibungkus pekat, hitam, lusuh, bergemuruh. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dimulai dilantai ini, semua pintu tertutup rapat, hanya sederet jemuran yang melambai kanan dan kiri tertiup hembusan angin yang cukup kencang. Saya membuka pintu, sambil membawa secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul, hati-hati saya lindungi, takut kalau tampiasnya mengenai bibir kopi. Tapi… diseberang sana… saya menemukan sepasang mata yang ingin tahu untuk apa pemalas ini pagi-pagi seduh kopi.


Saya menatap sepasang mata itu kembali, atau mungkin saya memberanikan diri? Entahlah, tetapi wajah seteduh hujan itu justru berpaling dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Bermimpi untuk mengatakan, “Selamat pagi, apa harimu baik?” Saya singkirkan bersama air comberan yang berebut jatuh kebawah.
Ah, dasar hujan!


*


Aku seperti biasa, pulang dari restoran sore hari, biasanya matahari terlihat melemah dan senja menggurat indah. Tapi nyatanya ramalan cuaca hari ini benar, sepanjang hari hanya abu-abu, desau angin yang lebih beku, dan rintik-rintik hujan yang tiada henti. Nah, sore ini hujan malah deras seperti tadi pagi. Diseparuh jalan menuju rusun, hujan datang dengan gemuruh, menggeletar, lalu byar! Aku bahkan tidak sempat mengambil payung lipat ditasku ketika aku sadar kalau separuh tubuhku telah kuyup. Jadi, mau apa lagi?


Lagipula, kira-kira, sudah berapa tahun aku tidak hujan-hujanan seperti ini? Seorang bocah yang kukenali menawarkanku ojek payung. Aku memberinya selembaran uang dan bilang aku lebih baik hujan-hujanan, bocah itu heran.


Meski asyik sekali rasanya, aku tahu aku tidak bisa berlama-lama menikmati hujan ini. Tidak semenyenangkan yang terlihat di sinetron-sinetron saat hujan, kehujanan sebentar saja justru membuatku menggigil dan biru. Tetapi saat itulah, saat aku berpikir untuk menepi sebentar, sebuah payung tiba-tiba ada di atas kepalaku, tidak kurasakan lagi rintik rusuh mengenai ubun-ubun dan bahu.

“Terimaka—“ aku terpaku.

Tuhan, matanya indah sekali.

*


Cih, hujan lagi.
Saya bahkan tidak punya payung satupun dirumah, saya juga tidak punya niat untuk membeli satu. Jadi saya disini, berdesakan dengan para pejalan kaki lain yang sama-sama berteduh dibawah halte sumpek yang ugh… aromanya berkolaborasi, berantakan! Sebenarnya jarak halte dan rusun tidak seberapa jauh, tetapi saya terlalu malas untuk berbasah kuyup, menaiki anak tangga sampai lantai duapuluh dengan tubuh menggigil dan bibir biru, mengundang perhatian para penghuni lain yang seharusnya tidak perlu.


Angkutan kota hilir mudik, berhenti seenaknya membuat klakson-klakson berderu tidak sabar, menurunkan penumpang, menaikkan penumpang. Para bocah lalu-lalang membawa payung-payung besar, memberikan jasa sewa yang sama sekali tidak menarik… Tidak menarik… kecuali saya melihat gadis itu berlari-lari kecil menerobos hujan, basah kuyup sendirian.


Saya tidak berpikir lama, melihat satu dari sekian banyak bocah yang hilir mudik, saya segera meloncat, menerabas para pejalan kaki lain dan merebut salah satu payung. “Sewa berapa dek?”
“Sepuluh ribu, bang”
“Mahal, ya?”
“Soalnya hujannya dari tadi bang”


Tidak ada urusannya, sih. Tapi ya sudah lah. Saya segera mengambil kesepakatan dengan bocah itu, kemudian berlari-lari menerabas hujan sambil berusaha untuk mengembangkan payung yang ternyata sudah karatan. Sedikit sulit untuk dibuka, dan saya mulai merasa kalau sepuluh ribu adalah sebuah bentuk pemerasan yang nyata. Bocah itu masih berlari-lari dibelakang saya, sementara punggung gadis itu hanya tinggal beberapa langkah lagi.


Satu.. dua.. hap! Payung itu bernaung diatasnya, gadis itu berhenti dan mendongah. Barangkali terkejut melihat sebuah payung tiba-tiba menaunginya tubuhnya yang lumayan mungil.
Gadis itu menoleh, “Terimaka—“
Saya tersenyum. “Sama-sama”
“Terimakasih” ucapnya—sekali lagi—karena sebelumnya malah terkejut.
Gadis itu mensejajari langkah saya, kami berada dibawah naungan yang sama. Ia tersenyum, dan astaga…

*


Pagi-pagi tadi, hujan.
Itu hujan pertama, aku termanggu. Nggak bisa pergi ke sekolah. Dirumah, ibu kerjaannya nyuruh melulu, ke lantai duabelas, disuruh nganterin jahitannya bu Odah, baru pulang, disuruh lagi jalan ke warung, beli gula, beras, segala macam. Lagi main sebentaran sama Anto, lagi-lagi dipanggil, katanya, “Yudh, angkatin jemuran ya, sebentar lagi hujan!”
Aku bosan bukan main. Nggak sekolah, karena jalanan dikanal barat pasti terendam banjir. Hujannya dari semalam, sih. Tadi saja, bang Togar dan teman-temannya yang lain sibuk merakit gerobak menjadi bentuk yang.. keren, tapi nggak keren. Ya, biasa aja, tapi keren. Eh, nggak deh, pokoknya gerobaknya beda, keren sih, tapi kayaknya nggak keren. Ah, nggak tahu ah! Intinya, gerobak itu dipakai buat jasa angkut orang-orang yang mau nyebrang dari kanal barat. Keren, sih. Lumayan, lah.


Dan, dari seharian capek disuruh-suruh melulu sama Ibu, sore ini mungkin akan jadi suruhan yang terakhir. Langit mendung bukan main, mendung banget. Kayaknya bakalan hujan lagi, nih, hmm..
“Yudh, udah diangkatin belom jemuran?”
Aku menoleh ke arah suara, “Belon, bentar bu bentar”
Sambil mengangkati jemuran Ibu, aku memerhatikan lapangan dibawah. Benar saja, Anto dan yang lain segera muncul dibawah sana, dipunggung mereka tersampir payung-payung besar. Mereka pasti mau ngojek ke dekat pangkalan, atau halte, atau di depan sekolah SMA sana. Anto melambaik-lambaikan tangannya, memberi kode sambil menggerak-gerakan payungnya. Aku menunjukkan ibu jariku. Oke, aku ikut.
Selesai dengan pekerjaan terakhir, aku mengendap-endap keluar. Ibu tidak sedang di dalam rumah, pasti sedang mengantarkan jahitan ke lantai-lantai yang lain. Aku melihat ke arah kanan rak sepatu. Wah, ada payung tuh. Jalan, ah!

*


Bawa-bawa payung, bukan berarti nggak kehujanan. Justru aku bakalan jadi orang yang paling basah. Tapi, dari tadi baru dua orang yang pakai payung ini, disuruh bayar ceban malah dikasih dua ribu doang, kenapa orang-orang dewasa pada pelit semua? Anto sudah nggak tahu dimana, dia sudah ahli, jadi lebih tahu dimana tempat-tempat yang bukan sekedar ramai, tapi juga banyak peminat ojek payungnya. Oke, aku berasa jadi Um-jek. Umberellaaah Ojek.
Seorang kakak-kakak—aku mengenalnya—dia, tinggal satu lantai di atas rumahku. Kakak itu berlari-lari menerabas hujan, sesekali berjalan cepat. Aku mengejarnya, siapa tahu kan dia mau pakai jasa payungku.
“Kakak!” sapaku hangat, kemudian mengusap wajah yang tampias oleh hujan. “Mau pakai payung saya? Murah loh, cuma sepuluh ribu”
Kakak itu berhenti, kemudian mengusap wajah yang tampias juga karena hujan. “Oh, kamu?”
Ia mengenaliku, aku tersenyum.
Tetapi tidak, kakak itu justru merogoh kantong celananya, kemudian menyodorkan uang sepuluhribuan untukku. “Nih”
Mataku hijau berkilauan, tidak mengatakan apa-apa, langsung saja kusorongkan payung itu ke arahnya.
“Payungnya simpan saja”
“Lho, kok?” Aku heran. “Tapi kan, kakak bayar saya?”
“Nggak apa-apa, kakak mau hujan-hujanan saja”
Aneh.
Tapi nggak apa-apa, sering-sering saja bertemu orang macam kakak itu. Aku berjalan kembali, kali ini menunggu didekat halte saja. Kakak baik hati itu masih diseberang sana membetulkan tali sepatunya, kemudian ia kembali berjalan cepat, setengah berlari. Aku hilir mudik diantara kerumunan angkot, kerumunan orang, kerumunan bau ketek! Uwehhhh…
“Dek!”
Seseorang menggenggam payungku, aku menoleh. Lelaki ini, seperti aku pernah melihatnya. Tapi dimana, ya?
“Sewa berapa dek?”
Aku menyebutkan harganya, sepuluh ribu. Lelaki itu mengeluh dan bilang kalau itu mahal, tapi itu tidak lama, karena kemudian laki-laki itu menyetujuinya. Ia segera mengambil payungku dan membawanya lari! Hei! Aku berpikir, apakah lelaki ini pencuri payung? Dia belum kasih uang sepuluh ribu itu. Di tengah-tengah usahanya berlari, ia juga berusaha membuka payung itu, sulit, karena sudah rada karatan, hehe..
Aku berlari dibelakangnya, lelaki ini larinya lumayan cepat juga. Tapi tiba-tiba, ia berhenti. Payung itu terbuka, dan tiba-tiba lelaki itu sudah bersama dengan kakak baik hati tadi. Saling menatap, saling tersenyum. Aku melongo.
Aku masih mengikuti dua orang yang terus-menerus tersenyum ini, menunggu uang sepuluh ribu dari laki-laki itu.Tadi pagi hujan. Sore ini hujan. Ada dua hujan, aku cuma mau uang jajan.


*


A.. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana. Kau, yang tengah membaca ini, apakah kau bisa membantuku menjelaskannya? Err.. dia tetanggaku, ya, ternyata. Hanya saja baik aku dan ia sama-sama sibuk, kami bahkan tidak pernah punya waktu untuk sekedar berkata, “Hai”
Namanya Ardika, matanya indah seperti telaga. Bangunkan aku, bangunkan aku, ia bisa memberikan payung itu kepada siapapun, ia bisa melindungi siapapun dari hujan deras itu, tapi…? Oh, enyahlah. Berharap baik aku, hatiku, otakku, tidak sama-sama lemah dan merajut sebentuk harapan.
Tadi pagi hujan, sore ini juga hujan. Ada dua hujan, diantara dua hujan itu aku menemukan kenangan.


*


Saya masuk angin. Betapapun indahnya hujan, saya tahu saya tidak akan bisa tahan. Tetapi senyum gadis itu lebih hangat dari wadang jahe, lebih sejuk dari obat cair, lebih mujarab dari kerokan merah melintang. Uhm, dia baik dan menyenangkan, dia seorang asisten koki di restoran yang tidak begitu mewah, namun tidak juga berkelas rendah.
“Saya Alia”


Katanya tadi, senyumnya membuat sekeping waktu berhenti. Jangan gila, jangan gila, dia pasti tercipta untuk memiliki senyum semenawan itu, dan berjuta orang sebelum saya pernah melihatnya dan sama-sama terpesona. Argh, lenyap lah! Berharap ia disini dan menghirup teh jahe bersama-sama.
Tadi pagi hujan, saya mengutuk langit karena sore juga ikut-ikutan menurunkan hujan. Ada dua hujan, diantara dua hujan itu saya tahu akhirnya ada rindu yang menemukan sebuah pelabuhan.


*Jakarta, 07 February 2016, 22.20

  • view 32