Owie

Rolyta Nur Utami
Karya Rolyta Nur Utami Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Biru Muda

Biru Muda


Cerpen-cerpen dalam biru muda ini ditulis oleh saya sendiri, cerita-cerita ringan yang ditulis oleh remaja rentang umur 15-17 tahun. Terlalu merah muda. Terlalu kanak-kanak memang; tetapi bukankah itu remaja kita? Selamat jatuh cinta yang meski receh. :)

Kategori Fiksi Remaja

296 Hak Cipta Terlindungi
Owie

Aku Owie, si kucing kampung. Tidak, aku memang kucing kampung, tapi bukan berarti aku adalah seekor kucing dekil kumal yang bau apek seperti kebanyakan kucing dijalanan. Dan ya, jangan coba-coba menerka bahwa makanan kesukaanku adalah tulang ikan, atau kepala ikan, ataupun sejulur ikan asin seperti yang banyak televisi gambarkan. Karena perlu aku beritahu satu hal kepada kalian, bahwa manusia telah melakukan banyak konspirasi untuk kaum kucing, mereka—manusia—beranggapan bahwa selama ini kami hanya cukup dengan ikan sebagai santapannya, ya, itu tidak salah. Tetapi mereka benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya kami mau.

Bukan tulang ikan, bukan pula ikan asin, dan bukan juga ikan kalengan. Ah, apa kalian tahu ikan tuna? Dori-dori? Sushi, memang bukan ikan, tapi apakah kalian tahu sushi? Bukan, sushi itu bukan siomay. Tetapi makanan sekelas itulah yang kami harapkan. Perlu manusia catat bahwa kami bangsa kucing tidak melulu mengkonsumsi tulang-tulangan, kami juga butuh gizi yang penuh, layaknya kalian.

Aku Owie, si kucing kampung. Aku hidup disebuah rumah sederhana, tidur beralaskan karpet hijau yang sudah sedikit kusam, dan lembab. Jatah makanku dua kali sehari, dan apakah kalian tahu? Di dua tahun terakhir ini, aku hampir tidak pernah mengkonsumsi ikan. Gadis yang menemukanku dua tahun lalu tidak bisa memberiku itu, dan juga, ia tidak bisa mengkonsumsinya. Seperti ada perjanjian sendiri antara mekanisme tubuhnya dengan segenap zat dan nutrisi yang setiap ikan miliki, jika mengkonsumsi ikan, sekujur tubuhnya akan memerah—alergi, begitu manusia menyebutnya. Jadi semenjak tinggal bersamanya, aku mulai terbiasa mengkonsumsi nasi bercampur sayuran, umbi-umbian, atau jika beruntung potongan paha ayam sesekali. Dua tahun tinggal dan dipelihara, aku cenderung menjadi herbivora.

Aku Owie, dan segala kisah dimulai sejak..

*

Dua tahun yang lalu.

“Bagaimana jika namamu… Owie?” dulu, saat gadis itu mengusul sebuah nama untukku. Ia berpikir sekali lagi, meyakinkan dirinya tentang sebuah nama yang terdengar lucu barusan.

Jika gadis itu bisa mendengar dan mengerti, maka saat itu aku menjawab, “Miaw.. Miawmeow, miawmeeow meow (Aku kucing kampung, Nona. Dulu, orang tuaku memanggilku Cho Kha Sep)”

“Ahya, Owie. Nama yang bagus!” Gadis itu akhirnya sepakat dengan keputusannya sendiri, lantas menimangku sayang, mengelus lembut bulu-buluku yang rontok.

Aku bertanya, “Miaw? Mi Owie, miawmiaw? (Apa? Apa benar nama Owie bagus untukku?)” Apa aku harus memakai nama baru dan meninggalkan marga Cho?

Namun gadis itu tidak menjawab. Hanya terus menimangku manja. Aku jadi ingin mengajarinya bahasa kucing, suatu hari yang entah kapan. Hhh..

*

Dua tahun berlalu.

Gadis itu memilikiku seperti aku satu-satunya yang pernah ia temukan. Seekor kucing kampung kumal—ralat, aku tidak kumal, hanya mungkin sedikit ya.. bau—yang coba dengan susah payah ia mandikan, meski aku tanpa sengaja nenebuat tangan halusnya terluka karena kuku-kuku tajamku yang menggoresnya.

Aku ingat, bahkan hapal mati. Musim penghujan tahun 2013, aku memutuskan untuk pergi dari kediaman ayah, seminggu setelah wafatnya ibu. Ibuku adalah betina yang renta, sering sakit-sakitan. Dulu kami telah bertanya banyak kepada semut, berkonsultasi kepada capung yang banyak tahu, tetapi jawaban mereka semua sama; penyakit ibu kronis, dan harapannya untuk sembuh sangat kecil sekali.

Hal yang paling menyedihkan untukku adalah melihat ibu melewati hari-hari terakhirnya dengan rasa sakit, sampai akhirnya beliau menghembuskan nafas terakhir di samping ayah. Aku tidak akan pernah melupakan wajah ibu yang damai. Tidak pernah bahkan hingga saat ini. Tapi, apakah kau tahu hal yang paling menyakitkan setelah itu? Dua hari sepeninggal ibu, ayahku pulang sore hari. Ayah pulang bersama seekor betina, dan ayah memintaku untuk memanggilnya ibu.

Ibu? Ibu yang mana? Ibuku baru saja pergi ke tempat yang tidak terjangkau oleh siapapun, dan itu bukan mimpi. Ibuku telah pergi, dan aku tahu itu. Aku marah, tidak mengerti mengapa ayah mengambil keputusan itu. Jadi aku pergi tanpa mengatakan sepatah katapun, dan ayah menyaksikan kepergianku tanpa bisa membantah barang satu kalimatpun. Rasa marah itu terbingkai dalam bisu.

“Ketika kau mengira itu cinta, percayalah.. Kau, bukan satu-satunya untuk cinta yang kau kenal” Nasihat capung, saat aku menceritakan ketidakmengertianku akan ayah.

“Tetapi ayah mencintai ibu, dan ibu mencintai ayah. Itu yang aku tahu, dan seharusnya hanya itu yang terjadi” aku, masih tidak mau mengerti.

“Tidak ada yang pernah mengerti apalagi tahu kedalaman hati. Bahkan seekor kucing sekalipun. Kau, aku, mereka, punya sisi yang tidak bisa diperhitungkan. Kecuali Tuhan, Ia mengetahui segalanya” Pungkas capung, nasehat-nasehatnya terkadang selalu masuk akal dan sama sekali tidak dapat aku jawab, dan bantah.

Suatu waktu, aku menceritakan kegamangan yang sama kepada semut. Tapi apa kata mahluk kecil itu? “Bagi logika, satu ditambah satu sama dengan dua. Tapi bagi hatimu, satu tambah satu bisa jadi tujuh, mungkin”

Tahu apa si semut soal hitung menghitung? Harusnya ia tidak memberi jawaban seperti itu karena justru akulah yang tidak akan mengerti.

Aku melangkah gontai, memutuskan untuk pergi dan meninggalkan kehidupan di kampung. Betina itu bukan ibuku, selamanya bukan ibuku. Tidak ada penjelasan yang dapat mengobati setitik saja rasa hancur, luka, dan perih ini. Mengucapkan selamat tinggal kepada capung yang sekali lagi membekaliku dengan nasehat-nasehat bijak, pamit dengan semut yang membekaliku dengan sebuah gula Kristal yang rasa manisnya cuma sekelebatan, lalu tidak pamit kepada siapa-siapa lagi. Lagipula, aku tidak berharap kucing-kucing lain akan mencari dan bertanya tentang kepergianku.

Sampai ditengah terpaan hujan deras, seorang gadis coba mendekat, melindungiku, Aku tidak segera menghindar, manik matanya cokelat cerah, teduh. Gadis itu mengeluarkan sebuah sapu tangan, mengusapkan benda itu ke seluruh bagian tubuhku yang basah kuyup. Lalu membawaku pulang.

Dan segalanya berubah semenjak gadis itu memutuskan untuk hidup bersamaku.

*

Namaku Owie, dulu, aku kucing kampung.

Dua tahun bernaung dibawah lindungan gadis itu, aku merasa hidupku penuh cinta, dan setiap detiknya adalah bahagia. Aku mulai bisa melupakan rasa sakit itu, rasa sakit yang aku tinggal dikampung dulu. Aku pernah bermimpi, suatu hari aku diizinkan untuk menjadi seorang manusia dan dapat menyapa gadis itu, menjabat tangannya sambil dengan bangga memperkenalkan diri, “Aku Owie, dulu aku pangeran kampung”.

Dua tahun, dan cinta itu hanya milikku, sampai aku tahu bahwa mekanisme cinta yang anak manusia punya tidak sesederhanya mekanisme cinta yang seekor kucing mengerti. Sebab yang aku tahu, akhir-akhir ini gadis itu tengah jatuh; tidak tahu kemana, tapi gadis itu selalu saja mengungkit satu nama yang tidak aku kenali, menyebut namanya, diharap pada setiap simpuhnya, selalu dengan doa yang sama, dan nama yang sama. Aku heran, mengapa ia tidak menyebut namaku?

Aku tidak tahu. Tapi dulu, capung pernah bercerita kepadaku bahwa setiap anak manusia itu pasti merasakan jatuh. Jatuh yang tidak tahu dimana ujungnya, jatuh yang justru jadi candu, jatuh yang indah? Dan mereka mengenalnya dengan jatuh cinta. Mekanisme yang aneh.

Lalu, apakah seekor kucing juga boleh jatuh cinta? Apakah seekor kucing dapat mengerti bagaimana rasanya? Apakah itu satu ditambah satu sama dengan tujuh? Aku lepas dari semua ketidakmengertian itu. Aku ingin bilang kalau, akhir-akhir ini gadis itu sering sekali pulang larut malam. Sedikit berubah, ia menjadi lebih diam, jarang menyapaku, atau hanya sekedar mengelus bulu-buluku. Tapi aku yakin betul bahwa gadis itu masih menyayangiku sama seperti dulu, dia tidak pernah alpa untuk memberiku makan.

Tapi, andaikan dapat aku bertanya, aku ingin tahu mengapa akhir-akhir ini wajahnya terlihat lelah, lingkaran hitam dimatanya sedikit melebar, dan ia menjadi lebih pendiam. Malah, pernah pada suatu malam, aku hanya melihatnya duduk berjam-jam, tatapannya nanar ke depan, menatap kosong.

Tetapi tidak butuh waktu lama untukku mengerti. Tatapan di matanya yang bening itu bukan sekedar tatapan kosong belaka. Ada rasa sakit yang entah dimatanya, ada mendung disana, betapa kini aku tahu bahwa gadis itu menyimpan banyak luka.

“Apakah kau merasakan sesuatu?”

Gadis itu diam.

“Ceritakan saja pada Owie!”

Gadis itu membelakangiku.

“Aku memang hanya seekor kucing, tapi, seberapa lama kau ingin bercerita, aku akan mendengarkannya”

Ah, betapa bodohnya aku. Gadis itu mana mungkin mengerti, saat sedang asyik kutanya, gadis itu malah menyodorkan dua potong biskuit susu ditempat makanku. Hei, aku tidak sedang meminta kudapan!

Tetapi kemudian gadis itu turun dari ranjangnya, menghampiriku. Seperti biasa, ia mengelus halus bulu-buluku, sedikit tersenyum. Tapi senyum itu bukan senyum secerah mentari yang selalu kulihat. Itu senyum kelabu, aku bisa merasakan mendung yang mengandung hujan, itu senyumnya. Dan untuk pertamakali, aku tidak suka melihatnya tersenyum seperti itu.

“Kau tahu, Owie?” Eh, eh.. gadis itu bicara! Aku pura-pura mengendus biskuit itu, mencicipinya sedikit. “Aku cukup bodoh jika aku berpikir bahwa aku satu-satunya”

Aku tidak mengerti. Aku ingin ia mengulanginya sekali lagi.

“Aku cukup bodoh, karena aku pikir aku satu-satunya”

Dan gadis itu tersenyum. Senyum mendung yang akhirnya melahirkan hujan. Aku tidak perlu mengerti, aku terlalu mampu merasakan perih pada setiap kata-katanya. Tidak berselera menghabiskan biskuit susu itu, karena tiba-tiba saja aku teringat kata-kata capung, dan entah mengapa aku merindukannya.

*

Seminggu berlalu…

Terakhir kali aku melihat gadis itu adalah dua hari yang lalu. Ia membereskan seisi kamarnya, berkemas. Aku tahu ia akan pergi, jauh, untuk waktu yang lama. Gadis itu membawa tas besar yang entah berisi apa. Untuk terakhir kali aku melihat sendiri bagaimana dengan tulus ia menuangkan makanan untukku, merapihkan bulu-buluku, dan yang terakhir, mengucapkan selamat tinggal. Gadis itu tidak memberi tahu kapan ia akan kembali.

Rumah kini di jaga oleh seorang ibu tua yang datang tiga hari sekali untuk sekedar membersihkan rumah, dan memeriksa bahwa aku masih hidup. Sesekali aku mengikuti ibu tua itu, memperhatikan caranya yang cekatan dalam mengurus sebuah rumah. Sampai akhirnya aku berada pada saat ibu tua akan membersihkan kamar utama, kamar gadis itu.

Aku mengikutinya, memasuki kamarnya membuatku berpikir bahwa gadis itu masih disini, tidak kemana-mana, hanya disini. Tetapi tidak banyak yang aku temukan di kamar gadis itu, hanya secarik kertas terkepal, kusut, berisi empat bait sajak yang membuat seekor kucing ingin muntah!

Tetapi meski begitu, aku tahu betul bahwa gadis itu sangat mencintai sajak yang telah rusak ini. Dan sebagai seekor kucing, aku tidak mengerti mengapa manusia sangat mencintai puisi yang untuk bangsa kami hanyalah sederet kata-kata yang membuat perut mual.

Ya, kucing benci puisi, dan sajak, dan apapun yang berbau seperti itu. Bagi manusia, kalimat-kalimat puisi itu indah, tetapi bagi kucing, puisi hanyalah omong kosong. Gadis itu membuang sajak indah ini, apakah ia mulai berpikir sama? Eh, tunggu… sajak ini bukan ciptaan gadis itu. Tertanda, dari seseorang, ditujukan untuknya.

Sekejap, aku menahan mual, memaksakan diri untuk membaca sajak kusut itu. Sekuat tenaga, aku membaca bait demi bait, dan semuanya seketika terhenti. Tiba-tiba, aku mengerti.

Bayangan ibuku, bagaimana ibu mencintai ayah dan bagaimana ayah mencintai ibu. Betina jelek yang tiba-tiba harus kuakui sebagai ibuku. Capung, dan kalimat-kalimatnya. Semut dengan teori satu ditambah satu sama dengan tujuh. Gadis itu, senyumnya yang kelabu, segenap lukanya, puisi-puisi indah miliknya. Juga aku..

Ya. Apakah cinta pernah membuatmu berpikir bahwa kau satu-satunya?

*

Namaku Owie, setengah kucing kampung, setengah kucing kota. Aku hanya ingin tahu lelaki mana yang dengan tidak tahu diri menciptakan sajak sejelek itu. Setelah membacanya aku terserang diare akut, dan aku tidak tahu, barangkali aku tidak akan bertahan hidup lebih dari tiga.. dua.. satu…

 

 

*Kopi Hitam, 04 September 2015, 23.35 WIB


  • view 100

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 hari yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Setelah memilih beberapa calon yang sama-sama bermutu bagus maka kami memilih “Owie” mewakili pilihan redaksi sebab ide tulisan ini unik. “Jika Kucing Bisa Ngomong”.. mungkin kira-kira begitulah judul alternatifnya, LOL. Kucing salah satu binatang piaraan favorit manusia memang banyak dijadikan teman curhat oleh si pemeliharanya. Selain menerima banyak perlakuan istimewa, kucing juga mempunyai empati dan rasa sayang kepada manusia.

    Rolyta Nur Utami pun menuangkan hubungan sayang manusia dengan kucing secara apik dalam “Owie” ini. Pelan dari asal muasal si Owie, Rolyta menyibak kisah yang menyedihkan di belakang si kucing baik ini. Dari kehidupannya yang ditinggal sang ibu lalu punya ibu tiri yang tidak ia sukai. Kemudian, dari situ dia pun ‘’ditinggal” oleh sang gadis yang sebab patah hati menelantarkannya secara emosional. Kekuatan karya ini terletak pada cara penyampaian yang pas sehingga perubahan emosi sang kucing dari terlihat jujur, apa adanya lalu bahagia sejak bertemu sang gadis baik hati. Kemudian emosinya berubah jadi marah dan muak terkait ayahnya lalu ikut patah hati seiring dengan masalah sang gadis. Di akhir cerita, Owie pun benar-benar marah dalam patah hatinya.


  • Dinan 
    Dinan 
    7 hari yang lalu.
    Cerpennya bagus...