Istighfar

Rolyta Nur Utami
Karya Rolyta Nur Utami Kategori Project
dipublikasikan 07 November 2017
Biru Muda

Biru Muda


Cerpen-cerpen dalam biru muda ini ditulis oleh saya sendiri, cerita-cerita ringan yang ditulis oleh remaja rentang umur 15-17 tahun. Terlalu merah muda. Terlalu kanak-kanak memang; tetapi bukankah itu remaja kita? Selamat jatuh cinta yang meski receh. :)

Kategori Fiksi Remaja

1 K Hak Cipta Terlindungi
Istighfar

Istighfar

Semuanya begitu cepat terjadi, desing angin yang berpacu dengan sorot lampu yang tajam. Decitan ban, juga suara klakson yang memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya. Untuk semua orang, hari itu masih terlalu pagi jika mereka harus terbangun untuk menjadi saksi naas dari nasib seorang anak manusia.

Pemuda itu terpelanting jauh. Tubuhnya bergesekan dengan kasarnya aspal, kulit putih langsatnya lecet dimana-mana. Dan dibelakang punggungnya, mobil dari arah berlawanan melaju dengan kecepatan penuh. Silau. Mobil itu seakan terlihat terhuyun-huyun di pandangan pemuda itu.

            Tetapi pemuda itu masih tersadar, meskipun tidak lagi mampu berdiri. Ia bahkan kehilangan caranya untuk berteriak, dan satu-satunya yang bisa ia perbuat hanya memasrahkan diri. Dan penghujung hidupnya adalah berakhir dilindas mobil—

setelah sebelumnya—ditabrak oleh mobil pertama.

            TIN! TIN! TIIIN!                              

            Tidak ada yang sempat ia pikirkan lagi, hidup dan mati itu jaraknya hanya setipis untai tali. Cahaya lampu sorot memenuhi matanya, otaknya memerintahkan ia untuk segera bergerak dan bangun, tetapi raganya tidak lagi cukup mampu untuk melakukan itu. Tidak ada teriakan, tidak ada. Yang ada hanya desis sakit, rintihan lemah. Hingga mobil kedua itu benar-benar menghajar tubuhnya.

            Darah segar segera membanjir. Mengalir. Dan tidak perlu hitungan menit untuk menunggu, sekerumunan warga mengelilingi raga bersimbah darah pemuda bernasib sial malam itu. Dalam hati ia mengutuk dua mobil yang menabraknya.

            Gelap.

            Dan gelap itu membawa separuh jiwanya berkelana.

 

***

 

            "Sialaaan! Mobil sialaaan!!!” Teriakan putranya semakin terdengar pilu. Wanita setengah baya yang sejak dua hari lalu setia menemaninya hanya bisa terduduk pasrah. Kecelakaan itu tidak bisa ia hindari, siapa pula yang merencanakan? itu sudah jalan takdir anaknya. Wanita itu, meski paham betul sakit yang dirasakan hatinya tetap ingin berprasangka baik. Ia tidak tahu apakah ini pertanda buruk untuk anaknya, ataukah sebuah awalan dari sesuatu yang amat baik, wanita itu hanya ingin berprasangka baik kepada Tuhannya.

Mungkin, pemuda itu hanya perlu waktu untuk menerima semuanya. Belajar ikhlas, belajar menerima.

            "Ma, tuntut pengemudi tidak tahu diri itu. Ganti semuanya!" Wanita yang dipanggil Mama tadi rasanya ingin sekali pergi, namun mana mungkin ia tega? Tidak tahan dengan teriakan-teriakan yang semakin hari semakin menjadi. Dengan tertatih ia membuka pintu kamar anaknya. Mencoba mendekat meski ia tahu akhir-akhir ini putranya lebih suka berseru marah. Tuhan, mengapaKau membuatnya menjadi sangat menyedihkan? Batinnya merintih.

            "Hst.. Istighfar to, kamu harus ikhlas. Semua pasti ada hikmahnya" Wanita itu coba menenangkan anaknya, menyentuh halus pipinya, pelipisnya yang robek. "Mungkin semua ini cobaan buat kamu To, tobat, To. Jangan pernah main-main seperti kemarin lagi" lanjutnya.

            Tapi putranya bukan seorang yang mudah untuk dilunakan. Sedetik kemudian pemuda itu histeris. Teriak-teriak lagi.

            "Istighfar? Sabar? Omong kosong! Ernesto cuma minta semuanya seperti semula, bukan Istighfar! Bukan sabar!" Bentaknya. Wanita itu justru mulai mengucap Istighfar berkali-kali sambil memegang dadanya yang sesak.

            "Dua mobil terkutuk itu sudah merenggut semuanya, Ma! Karier, cinta, kesempurnaan, semuanya!"

            "Ernesto!"

            "Mama nggak pernah ngerti! Hidup ini nggak adil, saat Ernesto ada diatas, Ernesto tiba-tiba jatuh!"

            "Istighfar, To. Sudah dua minggu kamu begini. Kamu harus tahu, kamu harus mengerti kalau semua di dunia ini tidak abadi"

            Tetapi Ernesto, pemuda itu, ia tetap tidak mau mengerti dan perduli. Ernesto terus merapalkan caci maki, mengutuk kedua mobil beserta supir terkutuk malam itu. Di kepalanya hanya kata tanya, Mengapa? Mengapa semuanya begitu cepat berlalu? Mengapa? Bukankah, bukankah lusa lalu ia masih dengan bebas tertawa, berbangga diri. Lantas mengapa hanya dalam hitungan semalam semua miliknya habis terenggut?

Mamanya semakin tidak tahan, cepat-cepat memanggil dokter keluarganya. Ernesto direjang, sedetik kemudian jarum lentik dokter membius melalui nadinya.

            Gelap.

            Ernesto kehilangan karier, cinta. dan sempurna.

 

***

           

Malam semakin naik, sudut-sudut jalan semakin menyepi. Jalan-jalan raya mulai melengang, syahdu. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas, berderu cepat, melaju. Lampu-lampu kota meremang, jika melihatnya dari ketinggian, kau akan merasakan ketenangan. Kolaborasi antara sepi dan indahnya kota. Bulan sabit menggantung seperti tersenyum. Semuanya terasa tenang, semuanya terasa syahdu di malam yang beranjak itu.

            Kecuali di salah satu sudut kota, dimana manusia yang hidup disana menjadikan malam sebagai siangnya, dan siang sebagai malamnya. Sekilas, bangunan bergaya klasik itu terlihat biasa. Hanya jika kita masuk kedalamnya, barulah kita mengerti bagaimana kehidupan di dalamnya.

            "Good job, Ernesto!" Ucap seorang lelaki bertubuh tambun dan bewokan sambil menjabat tangan Ernesto. Ernesto hanya tersenyum. Malam ini adalah malam kemenangannya. Segepok uang ratusan ribu dengan cepat berpindah tangan menjadi miliknya. Dan karena berlembar-lembar lembaran berwarna merah itu satu dua wanita mulai bergelendotan manja, menggoda. Dengan lagat sombong Ernesto bersikap tidak perduli.

            "Gila, masih muda bakat judimu keren kali!" Puji salah satu peserta judi yang kehilangan berlembar-lembar uang ratusan ribunya. Orang itu menggelengkan kepalanya menatap Ernesto. Ada perasaan jengkel, namun perasaan kagum justru yang lebih banyak menyelimuti hati orang tua itu. Nggak nyangka, pikirnya.

            Ernesto menyeringai. Baginya, mudah saja untuk menaklukan meja bundar judi itu. Terlalu mudah bahkan, ia tidak perduli dengan puluhan pasang mata yang menganggapnya remeh. Ia tidak perduli dengan kata-kata merendahkan dan tawa yang menyindirnya. Malam ini, dirinya hanya perlu membuktikan bahwa ia tidak serendah dan seremeh itu.

            Dan malam itu, semua penghuni bar menatap Ernesto. Pemuda yang tadinya dipandang ingusan itu menang telak, bandar judi memandangnya penuh benci. Perhitungannya meremehkan anak bocah di meja bundar perjudian paling bergengsi di dunia malam meleset sempurna.

            Ernesto menyeringai, ia bukan pemuda bodoh, judi itu soal gampang. Apalagi jika sang bandar dengan licik akan mengirim centeng-centengnya untuk menghajar Ernesto saat pulang, lantas mengambil lagi uang judi tadi. Ernesto tahu bagaimana caranya, ia telah belajar banyak dengan hanya melihat orang yang menang judi lantas kerap kali kena rampas.

            "Salam, orang tua" Ernesto membungkukan tubuhnya, memberi salam hormat. “Bisa kau kirimkan saja kemenanganku itu lewat rekening ini? Kurasa, itu akan lebih praktis” menyeringai menang.

            "Bocah tengik!" Umpat bandar tadi. Rencana busuknya, otomatis, gagal.

            Ernesto kembali dalam riuhnya bar. Memesan bergelas-gelas bir mahal, merangkul lebih dari dua perempuan-perempuan berbaju kurang bahan. Wajah keturunanya ditimpa cahaya lampu yang berputar, sedikit memusingkan penglihatan. Ia terus minum, mentraktir siapa saja yang ada di sampingnya. Berseru bangga.

            Ernesto, wajahnya kalem, tidak ada guratan atau jejak wajah yang menegaskan bahwa anak mama ini pintar berjudi, suka keluar malam. Persepsi semua orang ketika pertama kali melihatnya adalah; ia anak baik-baik. Keturunan Jepang asli, darah asianya mengalir melalui sang ayah. Tampan, putih, mapan, aktor terkenal. Tapi siapa sangka, pemuda ingusan itu telah lama terlibat dalam dunia malam yang kelam? Judi, minuman keras, perempuan malam. Bagian dari hidup Ernesto dua tahun belakangan.

"Ganteng, malam ini mau chek in dihotel mana?" Goda salah satu perempuannya.

Ernesto mengerutkan dahinya, "Chek in?" Kelima perempuan itu menangguk penuh harap. Sedetik kemudian Ernesto hanya tertawa renyah, menyeringai. Perempuan-perempuan di rangkulannya sudah pede sekali akan disewa malam ini. "Chek in? Heh, sesuram-suramnya gue, gue itu nggak pernah mau maenin kaum kalian. Paling cuma sebatas rangkul doang"

            Kelima perempuan di kanan-kirinya lantas langsung saling bersitatap, mencoba mencerna kalimat Ernesto barusan, kemudian berseru jengkel. "Ah kampret!" Ucap perempuan dirangkulannya tiba-tiba galak. Ernesto tidak perduli.

            "Gila aja gue maenin kaum lu. Gue punya ibu, punya calon istri, dan calon anak. Takut karma!" Ernesto menyeringai. Menengguk segelas bir lagi.

            Maka, dalam hitungan detik, perempuan-perempuan tadi meninggalkan Ernesto dengan hati yang mengkal. "Dasar artis medit!" Umpat salah satu dari mereka.

            Malam semakin larut, tetapi suasana bar justru semakin ramai. Lampu warna-warni berputar semakin cepat, orang-orang di dalamnya semakin tidak sadar sedang berbuat apa. Ernesto risih, tapi mabuk berat. Kepalanya semakin terasa sakit saat ia mencoba untuk berdiri.

            "Tambah lagi mas, bir-nya?" Tawar seorang bartender.

Ernesto menatapnya sekilas, "Tidak, tapi kalau minuman penghilang efek bir ada nggak?" Tanya Ernesto.

Bartender itu menggeleng.                                                        

            Ernesto menyandarkan kepalanya lagi di sofa bar. Suasana semakin makin ramai, melihat nyala lampu yang berputar membuat kepalanya semakin terasa pusing dan mual. Tapi perlahan matanya terpejam, perlahan sepi, senyap.

            Ernesto dipeluk gelap.

 

***

 

                                                

            Berputar. Diterpa cahaya ratusan kandela. Terlempar jauh

Ernesto keluar dari bar, eh, tepatnya ia sudah ada di jalanan sekarang. Ia tidak ingat, tepatnya terlalu malas untuk mengingat sejak kapan dirinya sudah berada disini. Ernesto juga tidak paham mengapa dirinya begitu pulas terlelap di dalam bar tadi, begitu ia terbangun dan keluar, matahari hampir-hampir muncul di ufuk timur. Pukul empat dini hari. Ernesto terus melangkah, hingga akhirnya ia berhenti ketika sekerumunan warga ramai di depannya. Ada apa? Pikirnya. Awalnya ia tidak perduli, tetapi kemudian ia memutuskan untuk melihat sendiri apa yang sebenarnya tengah terjadi.

            Pemuda berwajah kalem itu penasaran. Mendekat. Belum kelihatan juga. Sedikit masuk kerumunan. Tidak ada yang perduli. Menerobos barisan paling depan.

            "Ya ampun, masih muda udah ditabrak" Prihatin Ernesto ketika melihat jasad pemuda bersimbah darah. Di depannya ada dua mobil yang di amankan polisi. Pasti itumobil yang nabrak, pikirnya.

            Ernesto berjalan lagi. Malam ini rasanya lelah sekali. Ia tidak tahu berapa gelas bir yang tandas habis ia tegak malam ini, kepalanya masih terasa berat. Tidak perduli, Ernesto kembali berjalan ke depan. Sepintas di ingatannya terlihat wajah bersimbah darah pemuda malang yang tergeletak di tengah-tengah kerumunan di belakangnya.

            Tetapi sejurus kemudian ia berhenti.

            "HAH?!" Ernesto kembali lagi dikerumunan warga, melihat jasad pemuda malang tadi, balik lagi, melihat lagi. Dan kemudian pingsan, tapi tidak bisa, Ernesto tidak bisa pingsan.

            "Tuhan… ini mimpi, kan? Boleh pingsan?"    Percuma, Ernesto tetap sadarkan diri. "Nggak, nggak mungkin! Ini pasti gue di kerjain nih! Woy, gue nggak lagi ulang tahun!" Cemasnya, berteriak kalap sendirian.

            Belum habis rasa tidak mengertinya, sirine ambulance berbunyi dari belakang. Ambulance yang melaju dengan kecepatan tinggi. Ernesto terpaku, kakinya membeku.

            Dzigh!

            Ambulance itu menembus Ernesto yang berteriak kalap. Heran, dan semakin heran karena ambulance yang melaju dengan kecepatan penuh dan melewatnya justru tidak membuatnya terluka.

            “Sejak kapan…” Ernesto menoleh ke arah ambulance yang barusan melewatinya tanpa celah tadi, meperhatikan dirinya sendiri dengan seksama. Apa yang sebenarnya terjadi? Kemudian ia kembali masuk dalam kerumunan, melihat pemuda naas itu di tandu oleh beberapa petugas. Darahnya berdesir, jantungnya berdegup.

            Wajah itu, raga bersimbah darah itu. "Gue mati?"

            Ernesto menjauh, menjauh dari kerumunan tadi. Ini pasti mimpi buruk! Pikirnya. Kemudian ia berlari menjauh, berlari hingga sebuah cahaya putih melesat dan membuatnya tersungkur hilang. Ernesto terperosok di lorong waktu..

 

***

 

Berpilin. Diterpa cahaya ratusan kandela. Ernesto terpental. Jauh.

 

            "Maa!!! Mama!!! Mobil itu menghancurkan semuanya! Supir-supir terkutuk itu, dimana merekaa!!!"

            Ernesto tersadar, memegang kepalanya. Pusing, itu yang dirasakannya. Suara berisik siapa tadi? Siapa yang terkutuk? Tanyanya lagi.

            Ernesto menajamkan penglihatannya, melihat sekeliling. Serba putih. Wangi khas orang sakit. Rumah sakit, sadarnya. Ia tidak terlalu suka suasana ini, baginya, suasana rumah sakit adalah suasana yang paling tidak bersahabat.

            "Terkutuk!!!!"

            Ernesto menutup erat telinganya akibat teriakan barusan. Ia mendongah. Sosok pemuda dengan wajah putih yang penuh luka, pelipisnya robek. Terus berteriak.

            "Lo kenapa sih? Berisik tau! Katak-kutuk-katak-kutuk! Lu kira lu siapa mau maen ngutuk-ngutuk? Sinting sih" Ernesto bangkit, lagi-lagi ia tidak tahu apa yang membuatnya ada di ruangan ini. Pikirannya mulai berspekulasi, tadi pagi ia mabuk berat, di sebuah jalan ada seorang pemuda yang naas tertabrak, otaknya yang tidak sepenuhnya tersadar membuat fungsi matanya melemah dan melihat pemuda tadi seperti dirinya sendiri, kemudian Ernesto pingsan dan seseorang membawanya ke rumah sakit ini. Ernesto menerima pikirannya.

            Tapi, kalau ada seseorang yang membawanya ke rumah sakit, mengapa ia harus tergeletak di lantai? Mengapa pula ia ada di kamar pasien lain? Pasien yang suka sekali berteriak pula, bah!

            "Sopir itu! Dua mobil itu!"

            "Yaudah kutuk aja merekanya, ngapain lu tereak-tereak pas dikuping gue? Pengang!" Ernesto memunggungi seseorang di belakangnya, membetulkan posisi kemejanya yang kusut masai.

            "Mama nggak ngerti"

            Ernesto berhenti ngedumel. Mama? Dalam senyap yang tercipta, Ernesto mendengar isak tangis seorang wanita. Suara yang ia hapal mati, tapi siapa? Dengan perasaan yang aneh ia berbalik ke arah pasien tadi.

            "Mama?" Gumam Ernesto hampir berbisik. Darahnya berdesir, mendidih malah. Kemudian matanya terbelalak saat ia melihat sosok pemuda yang pelipisnya robek itu. Pemuda yang berteriak-teriak itu.

            Dirinya sendiri.

            Ernesto limbung. Apa ini, sebenarnya ada apa? Jadi sebenarnya apa yang tadi pagi ia lihat? "Kalo gue udah mati. Kenapa.. Kenapa gue masih seberisik itu? Tuhan.. Kenapa? Ma.. Mama" Ernesto coba menyentuh, tapi tidak tersentuh. Keadaan semakin sulit untuk dimengerti.

            "Semuanya sudah hilang ma, bahkan Langit. Dia ninggalin Ernesto!" Ungkap dirinya sendiri.

            Langit? Ernesto makin tidak mengerti. Tubuhnya mulai limbung lagi.

            Tuhan.. Semua ini, betapa sulit untuk di mengerti.

 

***

 

            Berputar. Diterpa cahaya ratusan kandela. Tersungkur di ruang penuh cahaya warna-warni, cahaya berpendar. Tidak sama sekali bersahabat dengan pandangan.

 

            Dua lelaki berbadan kekar itu menghampiri bosnya. Dua menit lalu mereka dihubungi, disuruh menghampiri si bos. Maka menghadaplah dua lelaki itu.

            "Ada apa bos?" Tanya salah satunya. Tidak ada jawaban, tidak ada suara. Si bos hanya menyerahkan dua kunci mobil, masing-masing satu, sedetik kemudian menunjuk kearah seseorang.

            Dua lelaki bertubuh kekar itu mengangguk, mengerti. Sekejap melirik seorang yang ditunjuk bosnya tadi. Semua beres.

            Malam itu, Ernesto mabuk berat. Dalam keadaan mabuk itu ia lupa membawa mobil. Keluar dari bar. Jalannya sempoyongan, entah mau kemana. Yang ada di otaknya hanya segepok uang, uang, dan uang. Ernesto berjalan limbung. Tiba dipertigaan jalan, sebuah mercy tua melaju dengan cepat.

Ernesto mabuk. Salah siapa? Ia terserempet, jatuh tersungkur. Tetapi beberapa menit kemudian dari arah berlawanan, sebuah sedan tua melaju tanpa arah, terhuyun-huyun. Ernesto mencoba bangkit melihatnya, tapi tidak ada tenaga sama sekali.

            Pasrah. Tubuhnya terpental.

Dua kakinya terlindas.

            Ernesto memang pemuda cerdas. Dia tidak masuk jebakan centeng-centeng yang akan merampok paksa hasil judinya. Tapi bandar judi itu tetap lebih licik. Ia memanfaatkan kondisi mabuk berat Ernesto. Uang ratusan jutanya tidak kembali, tapi dendamnya, terbalaskan.

            "Kurang ajar! AAAA.." Teriak Ernesto frustasi. Melihat dirinya sendiri yang dijebak, melihat dirinya sendiri yang kepalang sombong hati. Ernesto frustasi, melihat dirinya sendiri yang tidak hebat sama sekali.

Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, semuanya berjalan maju mundur. Cahaya yang membawanya, teriakan-teriakan dirinya sendiri, rasa sakit itu, mamanya, centeng kurang ajar itu, dirinya yang kepalang membatu. Semua ini, betapa rumit untuk ia pahami!

            Dua lelaki berbadan kekar dengan lihai kabur tanpa jejak. Sedan tua itu, mobil rongsok si bos. Mercy tua itu milik Ernesto. Kuncinya? Itu perkara mudah bagi bandar judi licik itu.

            Ernesto menghampiri si bos tua bangka yang kini tengah berleha di atas kursi kebesarannya. Asap dari cerutu jati mengepul memenuhi ruangan yang pengap. Tinju tangan Ernesto menggapai-gapai, rasa kecewanya, emosinya memuncak. Kalau bisa, ia ingin sekali membunuh si bos tua bersama centeng-centengnya yang sialan itu.

            Tetapi bagaimanalah, yang ia gapai kini hanyalah udara.

 

***

 

Berputar. Diterpa cahaya ratusan kandela. Tersungkur jauh ke masa lalu.

 

            Mata Ernesto perlahan terbuka.

            Pagi itu, disebuah koridor sekolah. Ernesto berjalan sendiri menuju kelasnya, ia melihat dirinya sendiri dengan rona ceria yang sama sekali berbeda. Masa sekolah, dengan seragam putih abu-abu yang menawan.

Sepagi ini sekolah masih sepi. Ernesto memang murid yang rajin datang pagi. Tidak sampai limabelas menit Ernesto menunggu, suasana sekolah itu ramai layaknya seperi biasa. Ernesto yang semula diam mulai beraksi. Dia bukan cowok cool, bukan cowok populer, bukan, bukan. Ernesto cuma bagian dari sekelompok anak-anak gokil di sekolahnya. Meski begitu Ernesto dikenal, disegani, dicap anak paling asik disekolah.

Itu karena Ernesto adalah pribadi yang periang, sering membuat orang-orang tertawa entah karena perilakunya atau kata-katanya yang asal ceplos, tetapi tetap menghibur.

Teman Ernesto dimana-mana.

            Remaja perempuan tidak sedikit yang terpincut. Siapa yang tidak melt melihat cowok tampan darah Jepang yang asik, lucu, dan nggak so cool. Siapa? Tidak ada, deh.

            Ernesto terpaku. Ia mulai memandang ke seluruh penjuru sekolah, sekolahnya dulu. Dengan masih tidak percaya, Ernesto menghampiri dirinya sendiri yang sedang dikerumuni banyak kawannya yang lain. Ernesto punya banyak teman. Banyak teman yang setia berada di sisinya baik ketika ia ada maupun tidak, susah maupun senang. Diantara kesederhanaan itu, ada ketulusan yang tidak pernah bisa di tebus dengan apapun juga. Tiba-tiba, rasanya Ernesto benar-benar ingin kembali ke masa itu.

            "To, kalo ada pencarian bakat di tivi-tivi lu ikut aja To. Lu tuh, gokil!"

            "Setuju, To! Tapi, kalau udah beneran terkenal jangan sombong"

            Ernesto hanya tersenyum tipis. "Kalo gue jadi model, pantes nggak yah?” Khayalnya. Dua temannya tadi mulai ber-huuu disusul yang lainnya.

            Tapi Ernesto tidak main-main ternyata. Dua tahun kemudian ia merintis kariernya menjadi model. Semakin sukses, kemudian menjadi aktor. Tapi, Ernesto berubah. Bukan Ernesto yang disegani teman-teman sekolahnya dulu. Ernesto arogan. Bilangnya masa lalu biarlah berlalu. Padahal masa lalunya, tidak buruk, membahagiakan malah.

            Dan tour masa lalu ke sekolahnya yang dulu tiba-tiba harus berakhir ketika untuk kesekian kalinya sebuah cahaya ratusan kandela membawanya pergi. Pergi menjauh, jauh ketika Ernesto berhasil mewujudkan kata-katanya yang dulu disambut seruan dari dua teman baiknya.

            Berhenti di halaman depan sebuah gedung, tersungkur diantara gegap gempita remaja putri yang meneriakan namanya. Ernesto berdiri, dimana lagi ia sekarang?

            "To.. Ernesto! Gila man.. Gue nggak nyangka omongan lu dikelas dua tahun lalu itu serius. Liat, lu keren banget sekarang!"

            "Gue bangga punya temen kayak lo!"

            Eh, itu kan Ahmad dan Ikki! Dua teman masa SMA nya dulu. Ia ingin balas menyapa keduanya, tetapi urung ketika melihat dirinya sendiri berjalan dengan arogan di depan.

Ernesto hanya menyeringai. Seolah-olah tidak mengenal sambil basa-basi alakadarnya, ia berjalan meninggalkan sobat lamanya di masa sekolah, melambaikan tangan. Yang ditinggalkan merasa tidak percaya. Itu beneran Ernesto? Pikir mereka. Setahunya, Ernesto tidak begitu.

            Sementara remaja putri dibelakang, samping, kanan dan kiri terus meneriakan namanya, "Ernestooo!!!"

            Di detik teriakan itu bergema, kedua teman lama Ernesto tersadar. Ernesto bukan Ernesto yang dulu. Mereka melangkah gontai. Barangkali benar, popularitas yang tidak di bersamai dengan kerendahan hati akan membuat mata hati yang dulu mereka segani. Sayang sekali…

Ernesto mencengkram erat kepalanya, apa yang sebenarnya ia banggakan dari dirinya yang di kagumi segepok remaja putri? Apa yang seharusnya ia banggakan dari dirinya yang justru malah meninggalkan teman-teman terbaiknya?

Terbaik? Ya. Dua orang tadi itu teman-teman terbaiknya, mereka tidak pernah memperhitungkan siapa Ernesto, seberapa tinggi derajatnya, susah senang, mereka yang selalu ada. Ernesto Menjambak-jambak rambutnya sendiri, inginnya ia menjambak dirinya di masa itu, inginnya ia meninju dirinya yang dengan sombong berjalan menebar pesona itu! Betapa sombongnya ia dulu. Terisak. Ditengah kerumunan remaja putri yang histeris meneriakan namanya, ternyata Ernesto tidak sepenuhnya menjadi Ernesto. Ia berubah.

            Ernesto bangkit, mengejar dua sobat lamanya dimasa sekolah dulu. Dua pemuda yang menyesali pertemuan mereka dengan Ernesto.

            "Gue kangen Ernesto yang dulu. Ernesto yang humoris, yang rese, yang gokil. Bukan dia"

            "Lu pikir gue nggak kangen? Tapi, gue rasa kita udah kehilangan Ernesto. Sifatnya, cara dia cengengesan. Udahlah, mungkin itu jalan hidupnya.."

            Kedua pemuda tadi meneruskan langkahnya. Ernesto hanya bisa terdiam sambil ikut melangkah dibelakang keduanya. Berubah? Ya, sejak itu dirinya berubah. Ernesto coba menghadang langkah temannya, tapi ditembus. Ia lupa kalau ia sekarang Invisible Man yang sedang menjalani beragam tour masa lalu, entah apa maksudnya.

            "Ikki, Ahmad. Tolong dengerin gue, gue gatau sekarang gue itu manusia atau bentuk arwah. Tapi.. Tapi gue nggak ngerti kenapa gue… gue sebenernya suram banget!!!" Ernesto coba berteriak, tapi tidak. Kedua temannya terus berjalan, tidak mendengar. Bagaimanalah mau mendengar? Ernesto hanya sebentuk ruh yang bahkan tidak kasat mata.

            “Apa yang kalian lihat di tivi, senyuman gue, semuanya. Semuanya nggak lebih baik dari masa lalu. Mungkin, sebagian orang berpikir menjadi terkenal dan punya banyak uang itu hidup kita akan bahagia. Tapi nggak, kebahagiaan nggak diukur dari itu, semuanya bukan jaminan! Apa yang selama ini gue jalanin justru membuat gue jadi orang lain!” menangis, tersungkur. Tetapi siapalah yang dapat mendengarnya, dan mengapa dirinya baru menyesali semua saat tidak ada satu insan pun yang dapat mendengarnya kecuali Tuhan?

           

***

Untuk kesekian kalinya. Diterpa cahaya ratusan kandela. Tubuh Ernesto terhempas di keramik yang dingin.

 

            Mata Ernesto terbuka.

            Pandangannya menyapu ke sekeliling ruangan. Ah, ini kamarku, pikirnya. Ernesto bangkit, dilihatnya mama tertidur duduk di sisi kasur, sementara dirinya terlelap pulas. Sembab dimatanya sangat kentara. Dua hari terakhir Ernesto sering teriak-teriak, marah-marah, mengutuk kejadian malam itu, dan menangis.

            Ernesto mendekat kearah ranjang. "Habis ini mau dibawa kemana lagi? Gue capek banget" keluhnya sembari berbaring disamping dirinya sendiri.

            Ernesto menatap dirinya dengan sedih. Wajah itu, penuh luka, pelipisnya dijahit lantaran robek. Tiba-tiba seluruh ingatannya menajam, ini tempat kesekiankalinya saat Ernesto terhempas. Dia mendesah.

            "Sebenernya gue masih hidup atau nggak sih?" Tanyanya pada diri sendiri. Ernesto memejamkan matanya, semuanya teringat. Bandar judi, segepok uang, preman suruhan, mobil sialan, dirinya, teriakan-teriakannya, masa sekolahnya, dua sahabatnya, mama, Langit.

            Langit? Mata Ernesto terbuka. Mendesah lagi, "Gue putus sama Langit?" Kali ini dia bertanya sambil menatap wajah penuh luka disampingnya. Tapi senyap, tak ada jawaban.

            "To, kenapa sih gue.. Eh, maksud gue, kita, bisa sesuram ini? Gue sendiri nggak percaya, To" Ungkap Ernesto pada dirinya sendiri. "Lu merasa capek nggak sih, To? Gue capek banget. Kalo dikasih kesempatan jadi raga seutuhnya gue pengen berubah. Ngikutin kata-kata Mama untuk bilang apa itu...?" Terhenti. Sejenak Ernesto memandang wajah lelah Mamanya.

            "Istighfar.." Lirihnya berbisik. "Bahkan gue lupa gimana caranya ngucap istighfar" Ernesto menghela nafasnya panjang. Kini ia mulai merasa lelah, matanya terasa berat, pusing sekali rasanya.

            “To, pas lu bangun nanti, gue mohon banget sama lu untuk nggak teriak-teriak. Kasian mama, kasian gue, gue udah terlalu lelah untuk teriak-teriak” Mata Ernesto perlahan terpejam, nafasnya teratur. Pulas disamping dirinya sendiri.

            Tapi sekejap kemudian cahaya ratusan kandela menerpa ruang kamar Ernesto. Berputar-putar lagi, melayang-layang, menyatu.

            Kembali utuh.

 

***

 

            Mama sibuk dengan segala pekerjaannya di dapur. Pagi-pagi sekali ia telah bangun, beres-beres rumah, mengurus anak-anaknya, bahkan anak sulungnya sekarang. Sudah pukul tujuh, semua penghuni rumah sudah kembali keluar rumah melanjutkan aktivitasnya masing-masing, yang tersisa tinggal mama, satu pembantunya, dan Ernesto yang masih terlelap di kamarnya. Mama boleh berlega hati, sebab beberapa hari terakhir, Ernesto lebih tenang, meskipun masih banyak segerombolan wartawan iseng yang menyambangi kediamannya, Ernesto lebih banyak tidur.

            Tetapi tidak juga, sepagi itu ada yang kelopak matanya baru terbuka. Mengerjap-ngerjap, Ernesto terbangun. Dan bangun paginya kali ini seperti bangun pagi dari tidur panjang selama tujuh hari. Ia mencoba menguasai penglihatannya yang masih mengabur. Kemudian dengan lemah ia bergumam, ada yang harus ia panggil, ada yang perlu ia sampaikan. Entah apa, Ernesto hanya perlu untuk memanggil..

            "Ma.."

            Mama menoleh, memberhentikan segala aktivitasnya ketika suara yang begitu ia cinta memanggilnya. Segera ia mematikan kompor. Menanggalkan celemeknya. Lantas berjalan menuju sumber suara.

            "Maa.."                                                                                                     

            "Iya, To. Bentar"

            Mama membuka pintu kamar anaknya. Oh, Ernesto sudah bangun. Mama tersenyum, menghampiri anaknya yang dengan lemah bersandar di bantalan kasur.

            "Sarapan, To?" Tanyanya lembut. Ernesto menggeleng pelan, tersenyum. Mengamit tangan mamanya. Mamanya menatap Ernesto penuh tanda tanya.

            "Ma.. Ajarin Ernesto"

            “Ajarin apa?”

            Ernesto coba mengingat, memejamkan matanya. Apa ya, apa.. Sedari tadi dalam lelapnya, kata itu seperti selalu terdengar, mama juga pernah mengucapnya berkali-kali. Ernesto mencoba mengingat, hingga kata itu akhirnya teringat. Sesuatu itu, yang pagi ini harus ia sampaikan, dan Ernesto merasa harus mengucapkannya.

            “Ajarin Ernesto mengucap Istighfar”

            "Ernesto.." Mata mama sekejap berbinar, ia tidak percaya kalau sepagi ini pendengarannya akan menangkap sepotong kalimat yang bahkan ia tidak pernah pikir akan terucap lewat bibir anaknya.

            "Ajarin, ma" Ernesto mengerat jari sang Mama. Ia tidak tahu, semalam tadi rasa nya begitu panjang. Panjang sekali. Tidak berisi mimpi. Dalam gelap tidurnya, Ernesto hanya di perlihatkan gelap, bersama dirinya sendiri yang berusaha mengingat bagaimana caranya melapalkan Istighfar.

            Akhirnya, pagi itu, Ernesto mengerti, barangkali Tuhan ingin ia kembali pada-Nya. Adakalanya, apa yang kita anggap sesuatu itu adalah jaminan untuk kebahagiaan, terkadang meleset dengan sempurna. Kau tahu, ketika kita tengah berada di titik paling terang, di depan kita bisa saja terdapat ruang yang paling gelap. Ah, mungkin begitupun sebaliknya.

Pagi itu, dengan segenap rasa bersalah, Ernesto kembali mampu mengucap kata… Astaghfirrulahaladzim.

 

 

 

Jakarta, 12 Mei 2013

*Sudah Istighfar-kah kamu hari ini? ^^

 

  • view 138