Kimchi Nandaru

Rolyta Nur Utami
Karya Rolyta Nur Utami Kategori Project
dipublikasikan 06 November 2017
Biru Muda

Biru Muda


Cerpen-cerpen dalam biru muda ini ditulis oleh saya sendiri, cerita-cerita ringan yang ditulis oleh remaja rentang umur 15-17 tahun. Terlalu merah muda. Terlalu kanak-kanak memang; tetapi bukankah itu remaja kita? Selamat jatuh cinta yang meski receh. :)

Kategori Fiksi Remaja

290 Hak Cipta Terlindungi
Kimchi Nandaru

 

Kimchi Nandaru

          Malam-malam bagi seorang pecinta adalah malam-malam yang mestinya penuh rindu, sejuta kalimat yang terbingkai dalam bait-bait puisi barangkali akan tercipta dengan indah, tetapi apalah artinya puisi cinta jika tidak sampai kepada seseorang yang kita cinta? Satu dari sejuta kemungkinan paling tidak mengasyikan di dunia ini adalah memendam rindu, tetapi hal yang paling mengasyikan dari sesuatu yang tidak mengasyikan adalah mengirimkan sepaket rindu itu melalui doa. Lebih romantis nggak, sih?

            Orang bilang cinta masa muda adalah cinta monyet, seumur hidup gue, gue enggak pernah percaya dengan sepasang monyet yang jatuh cinta dan bagaimana kedua spesies itu saling mencinta. Gue sedang merasakan gejala-gejala jadi monyet.

            Eh, eh—maksud gue, tidak tahu mengapa dan bagaimana pastinya, tetapi ini telah berlalu satu tahun dan ini adalah serupa rindu yang sama.

Kata mama, gue masih kecil. Iya, beliau selalu kasih gue wejangan setiap habis makan bersama. Gue, semenjak naik kelas 3 SMA bahkan hapal mati wejangan logat sunda mama yang selalu menasehati gue dengan bunyi seperti, "Dede, ulah bobogohan heula, ulah kenal jeng awewe heula, nu penting mah balajar we heula amih pinteuuur"

             Atau kakak perempuan gue yang siriknya minta ampun. Meskipun gue sayang sama dia, ada satu hal yang membuat gue gondok setiap kali dia bilang, "Nandaru, kamu itu bukannya belajar malah sms-an nggak jelas! Ma.. Nandaru pacaran, nih, Ma!" Padahal ya, waktu itu gue lagi ngapus-ngapusin sms promosi dari operator yang tukarkan sms ini ke outlet-outlet terdekat.

            Dan ketika mama mendengar teriakan itu, mama gue akan menghampiri gue dan memberikan wejangan yang sama seperti yang diatas.

             Bete banget.

             Gue setuju sama lagunya Nikka Kosta yang berjudul 'My First Love'. Dimana, dalam salah satu lirik itu sedikit banyak punya arti buat gue, bunyinya..

            They all say im not the same, kid a us to be..

             Iya, artinya jangan buang sampah dikali ciliwung, dan berhentilah merokok. Bukan, bukan.. Artinya, mereka berpikir bahwa kita masih terlalu kecil untuk jatuh cinta. Kurang lebih seperti itu.

             Parah abis.

             “Keluarga gue emang kolot banget kayaknya..” cerita gue, kepada Atari, sahabat gue.

             Atari, dia adalah cowok yang lumayan ganteng, dia sabuk hitam taekwondo, dia selalu naro duit disepatunya. Tapi belakangan yang gue tahu, duitnya yang selalu dia selipin disepatunya lenyap! Seratus ribu, men! Kemudian akhir-akhir ini gue tahu, sepatunya itu jebol. Kasian, ngenes banget dia.

             Meski begitu, Atari ini sahabat gue. Dia mengerti banyak tentang gue. Terutama, tentang ihwal bagaimana seorang remaja lelaki biasa seperti gue menjadi luar biasa menjadi power rangers ultimate pujangga karena jatuh cinta kepada seorang Hawa dengan paras manis dan tentunya tidak mudah untuk dilupakan, dan semua itu dimiliki oleh seorang Mia. Dia adalah gadis yang sederhana dan sangat bersahabat.

             "Hmm, susah juga. Jadi kapan lo mau menyatakan ‘itu’ kalau keluarga lo aja masih ngelarang gitu?" tanya Atari, to the point.

             "Nggak, gue nggak berani. Masa iya gue nanti pacaran ngumpet-ngumpet"

             "Lho, kenapa? Kalian selama ini udah deket banget!"

             "Justru itu…."

             "Justru kenapa?"

            "Justru karena kita deket banget, gue jadi nggak tahu mana bedanya perhatian ke teman, atau perhatian yang mengandung perasaan"

             Atari hanya ber-hmm dengan takzim.

             Iya, gue memang sudah dekat banget dengan Mia. Kami satu angkatan, meski gue dan dia beda satu tahun. Gue satu tahun lebih tua, tetapi wajah gua tujuh tahun lebih muda. Kita juga sering jalan dan ngerjain tugas bareng. Sahabat banget.

             Gue dan Atari sama-sama terdiam.

             "Eh, Mia suka makanan apa?"

             "Makanan khas Korea, kimchi, kenapa?"

             "Gue punya ide!" Sebuah lampu petromax menyala diatas kepala Atari, "Gimana kalau lo bikin sendiri, apa tadi kesukaannya? Banchi?"

             "Kimchi, norak lo!"

            "Nah itulah, biar ada kesan spesialnya. Jarang-jarang, kan?"

             Gue berpikir sejenak. Bener juga, ya. Daripada gue beli diluaran, harganya bisa bikin gue puasa lima bulan setelah membeli itu satu porsi, mending gue bikin.

             "Lagian juga dia bakal mikir lo macho banget, berkorban buat dia"

             Gue berpikir lagi. Bener banget, ya.

             Kimchi, sebuah makanan khas dari Korea Selatan dimana sayur-sayuran seperti sawi dan kawan-kawannya dilumuri bumbu pedas dan difermentasikan selama enam bulan, ini yang digandrungi banget sama para kpopers di Indonesia nomor tiga setelah ramen, mungkin biar lebih berasa Korea dan Oppa-oppanya kali, ya?Rasanya yang khas membuat kimchi menjadi sangat spesial, banyak dari warga Indonesia yang cocok dengan rasanya yang pedas. Gue jadi mikir gimana kalau tukang gado-gado atau ketoprak bikin inovasi tentang sayur-sayuran yang selalu mereka racik, kan enggak jauh tuh bedanya. Eh, tapi kan waktu untuk memfermentasikan kimchi itu enam bulan, enggak kebayang juga sih kalau suatu hari lo mau beli ketoprak modifikasi kimchi di abang-abang lewat, terus lo disuruh nunggu enam bulan? Keburu tinggal tulang sama kentut.

             BAH?

             "BIKIN KIMCHI BUTUH WAKTU ENAM BULAN, BAKAAAAA!"

            Atari mengerlingkan matanya, "Enam bulan, perjuangan yang heroik, Nandaru"

            Hah, omong kosong! Gue? Seorang Nandaru harus menunggu selama enam bulan lamanya untuk menyatakan perasaan? Nggak! Idiot dan gila plus lama banget namanya. Terus heroik darimananya, coba?

             Oke, Atari pikir gue cowok apa? Dia pikir, gue cowok kaya dia yang nggak mau modal buat menggapai cintanya, gitu? Ih, kzl, kzl, kzl! Gue nggak level men, bikin kimchi sendiri, nunggu enam bulan lamanya. Mending juga gue beli diluaran, nggak papa mahal, demi cinta.

             "Oke Atari, gue mau buat kimchi sendiri" ucap gue mantap, menyanggupi.

            Atari memberikan tanda sip dengan jempolnya. Kemudian ia mulai browsing tata cara membuat kimchi yang baik dan benar.

             Kemudian gue dan Atari mulai menghitung enam bulan kedepan dimana kimchi itu mateng, alias telah selesai difermentasikan. Gue girang, karena pas banget, kimchi itu mateng saat Mia ulang tahun.

             Yeah!

             "Atari, gue takut" sekelebat rasa cemas menyembul diulu hati gue.

             "Takut kenapa?"

             "Takut kalau gue di terima, dan gue pacaran, mama gue bakalan marah nggak, ya?"

             "Nggak.. (Kampret nih bocah pede banget!)"

             "Tahu darimana, lo?"

             "Udah pokoknya mama lo nggak akan marah. (Koruptor digantung di monas kalau cinta lo beneran keterima"

"Oke!"        

             Gue percaya Atari. Hati gue tenang.

 

*

Enam bulan kemudian...

             "Gimana, lo udah siap?" Atari menepuk bahu gue mantap.

             Gue mengiyakan.

             Ditangan gue sudah tersedia kado spesial yang sudah gue siapkan semenjak enam bulan yang lalu, iya, kimchi. Dan malam ini, bertepatan dengan ulang tahunnya Mia, gue berencana akan memberinya kado ini dan menyatakan perasaan gue ke dia.

             Duh, gue nervous banget.

             Gue udah bolak-balik toilet tujuh kali selama lima menit tadi. Terakhir gue lupa cebok malah. Jorok, ya? Nggak papa, demi cinta.

             "Tar, gue nggak yakin, nih!" gue ragu.

             "No, Nandaru. Look your awesome kimchi!"

             Gue pun melihat kimchi gue seperti yang Atari instruksikan. Awesome kimchi katanya. Iya, mudah-mudahan, Mia suka.

             "Oke, samperin dia!"

            Gue, dengan sisa-sisa keberanian yang terkumpul memberanikan untuk melangkah kedepan. Menghampiri Mia yang malam ini cantik sekali.

             "Mia.." Sapa gue ragu.

             Mia membalikan badannya, "Hei, Nandaru! Akhirnya datang juga"

             "Happy Birthday, ya!" gue menyalaminya.

             And its begin.

            Tiba-tiba aja gue gugup tingkat dewa dan keluar keringat dingin dimana-mana, sialnya juga, gue kembali merasa ada kontraksi diperut gue.

            "Lho, Nan. Kamu kenapa?"

            "Nggak papa kok, Mia"

            Untung gue cuma kentut ringan.

            "Mia," lanjut gue, "Gue pengen ngomong sesuatu"

            "Apa? Ngomong aja.."

            Saat Mia mengintruksikan gue untuk bicara, gue membacakan puisi spesial untuk dia, gugup, tetapi selesai dengan sempurnya. Dan gue enggak sabar menanti ekspresi betapa bahagianya Mia. Jadi puisi itu gue pungkas dengan, “Wahai sebaik-baiknya perhiasan dunia, maukah engkau menjadi pemilik hati yang hampa ini?”

            Mia memadangi gue takjub, kemudian berkata…. "Oh, gitu"

            Lho, kok gini?

            Gue berusaha mengatur gaya, tetap gentel, "Iya, gitu.. Ehm, jadi Mia mau kan, jadi kekasih aku?"

            Yes! Gue lega! Akhirnyaaaa....

            "Nggak"

            Mampus gue.

            "Maaf ya, Nan. Tapi kata Ayah, aku masih kecil"

            Sial, jangan-jangan Ayahnya Mia temen arisan mama gue lagi.

            "Maaf, ya"

            Gue mengangguk dengan kepingan hati yang hancur, mengingat segala perjuangan gue, setidaknya dia mau menerima kimchi ini.

            "Maaf juga, Nan. Bukannya aku nggak mau kimchi kamu, tapi kata dokter, aku nggak boleh makan yang pedes-pedes dulu"

            Oh, man!

            Semuanya.

            Sia.

            Sia.

*

             Gue melangkah lemas. Menghampiri Atari yang sibuk nepokin nyamuk dikanan kirinya. Melihat gue datang, Atari segera bangkit dan memberondong gue dengan segenap pertanyaan yang nggak penting.

             Gila, hati gue sakit banget.

             Begini ya, rasanya ditolak? Tahu gitu, mah, mendingan gue tetap memendam perasaan sampai gue dibolehin pacaran sama mama gue, nyesel.

             "Terus, kimchinya juga nggak diterima?"

             Gue menggeleng.

             Atari berteriak kalap.

            "Kok bisa?"

             Gue menggeleng.

             Atari berteriak lagi.

             "Oke, Nan. Demi lo, gue akan habiskan kimchi ini"

             Atari merebut kimchi patah hati itu dengan gahar dan melahapnya dengan bahagia.

*

Besoknya, Atari koma.

            Gue lupa kasih tahu Atari kalau sebenarnya kimchi itu gagal dari tiga bulan yang lalu, kimchi itu sebenarnya sudah matang, dan gue memendam kebenaran itu selama satu minggu. Setelah satu minggu berlalu, ternyata kimchi itu malah basi. Karena ulang tahun Mia masih tiga bulan lagi dari tragedi kimchi basi itu, yaudah, mau nggak mau kimchinya gue akalin.

            Kimchinya gue kasih pijer, alias boraks. Enak sih, tapi gurih-gurih menyakitkan gitu. Semenyakitkan Mia yang kini justru malah menciptakan jarak, kenapa? Apa ada yang salah sama gue? Bukankah gue menyatakan perasaan itu dengan cara yang indah sebagai seorang lelaki?

            Atari masih melongo menatap langit-langit ruang rawat, lebay banget dia, orang diare ringan aja berasa lagi nunggu ajal. Tetapi bagaimanapun, Atari menjadi salah satu korban yang tersakiti juga disini. Gue bersyukur karena yang memakan kimchi itu bukan Mia, enggak kebayang kalau hari ini Mia yang justru terbaring lemah disini, gue nggak akan punya wajah lagi untuk menemui dia.

            Gue menatap Atari iba. “Bro, maafin gue ya, gara-gara gue, elo jadi—“

            “Nggak apa-apa, sebentaran juga sembuh” Atari memotong kalimat gue.

            “Tapi kenapa ya, Ri? Kok bisa-bisanya Mia nolak gue, padahal gue udah berusaha semaksimal mungkin untuk menyatakan perasaan itu seindah mungkin, segentle mungkin, dan dia masih nggak bisa terima? Kurang indah apa sih gue, Ri?”

            Atari menghela nafasnya panjang. “Lo tahu, malam dihari ulang tahun Mia itu gue tersadarkan akan sesuatu, tentang lo, tentang cinta, tentang sebuah perasaan. Atau tentang apapun itu”

            “Apa?”

            “Seindah apapun puisi yang lo bacakan, senikmat atau semematikan apapun kimchi yang lo suguhkan, pernyataan cinta yang paling indah adalah ketika lo bicara empat mata dengan ayah Mia dan bilang, bolehkan saya mempersunting putri Anda?

            “Jadi maksud lo gue mesti nunggu lebih lama? Gue nggak mungkin nikah diumur segini kali!”

            “Berarti mama lo itu nggak kolot, tetapi perkataan beliau seluruhnya benar”

            Gue bengong. Tidak tahu iya atau tidak, tetapi gue mulai merasa separuh kalimat Atari melekat dihati gue. Benarkah?

 

*Kopi Boraks -_-, 09/08/2014 11:03 PM


  • view 21