Merasa Cinta Dengan Sederhana

Rolyta Nur Utami
Karya Rolyta Nur Utami Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 November 2017
Biru Muda

Biru Muda


Cerpen-cerpen dalam biru muda ini ditulis oleh saya sendiri, cerita-cerita ringan yang ditulis oleh remaja rentang umur 15-17 tahun. Terlalu merah muda. Terlalu kanak-kanak memang; tetapi bukankah itu remaja kita? Selamat jatuh cinta yang meski receh. :)

Kategori Fiksi Remaja

315 Hak Cipta Terlindungi
Merasa Cinta Dengan Sederhana

Kita memang tidak pernah dianjurkan untuk berharap kepada mahluk kan?

Tidak ada yang menjamin kebahagiaan di sana, karena sebaik-baiknya tempat berharap adalah Allah. Satu. Kita tahu kita tidak bisa memilih dengan siapa kita menjatuhkan fitrah kita sebagai manusia, terlebih jika itu adalah rasa cinta. Tapi kita bisa memilih untuk jatuh atau bangun. Dua padan kondisi serupa dengan keberlanjutan yang berbeda.

Siapalah saya? Bukan sesiapa. Hanya perempuan yang masih berbenah dan berusaha untuk konsisten di jalan hijrah. Tidak mudah, tidak sama sekali, tetapi saya berusaha, dan pada perjalanan ini banyak saya temukan remah-remah hikmah. Hal-hal kecil yang membuat saya berpikir bahwa detik demi detik yang Allah anugerahkan dalam hidup ini adalah pembelajaran, setiap milisekon adalah dzikir, sesadar akal adalah tafakur, dan sepanjang hembus nafas adalah muhasabah.

Hari ini pada cinta.

Tidak ada yang pernah menjamin kebahagiaan jika kita bergantung kepada mahluk, tidak ada. Kalimat itu terus terulang di benak seba’da rasa kecewa hilang begitu lama. Asap yang masih mengepul tebal bersebab api yang sama--api yang saya sulut sendiri. Tetapi rasa sakit di masa lalu adalah nasihat, pengingat, dan permintaan maaf karena pernah menuding salah sebelah pihak. Permintaan maaf karena pernah mengandung ekspetasi dan usaha yang tidak sepadan, mencipta angan-angan, memintal harapan.

Tetapi akan saya pastikan bahwa itu adalah dulu. Lembar-lembar berlalu yang akan saya buka ketika saya alpa, rasa sakit yang menjadi bookmark, sekelumit perih yang sekali waktu harus kembali dibaca; bahwa cinta tidak melulu soal tergapainya semua cita.

Ada badai dalam diri saya ketika saya tahu bahwa saya tidak bisa mengelak atas fitrah saya untuk kembali kepada cinta. Saya tidak tahu apakah saya tengan terbangun, atau terjatuh. Saya cuma tahu bahwa saya bukan lagi tergugah kepada rupa, karena menatap kesederhaannya adalah teduh, akhlaknya adalah kesejukan. Benar juga kata Sherlock Holmes dalam salah satu serinya, “… yang misterius dan sulit diterka adalah yang biasa-biasa saja pada akhirnya, sementara yang sederhana ini yang sebenarnya sulit untuk dipelajari.”

Tetapi saya tidak ingin membuatnya rumit.

Mengetahui bahwa segalanya baik-baik saja adalah kebahagiaan tersendiri, pun ketika saya masih dalam satu lingkaran yang terhubung meski sungguh sangat tipis. Itu lebih dari cukup. Juga, tidak ada yang lebih menyenangkan ketika Allah izinkan saya untuk memiliki momen-momen tertentu yang tidak pernah saya duga meski itu hanya sepersekian detik setiap satu minggu. Sepersekian detik tadi, nantinya adalah serupa ingatan yang lekat dan saya akan kembali memohon agar saya dapat melupakannya. Manis itu akan mematikan kalau berlebihan, betul atau benar?

Saya sadar, mencintai mahluk dengan sederhana ternyata tidak sesederhana itu. Di zaman yang serba mudah untuk tahu akan segala hal, saya telah berkali-kali menyuarakan kata ‘tidak perlu’ untuk saling terkait pada maya, tetapi toh akhirnya saya kalah.

Merasa fitrah dengan sederhana. Itu yang tengah saya ikrarkan pada diri dan hati saya. Karena ketika saya kembali untuk merasakannya, saya merasa bahagia karena ini nikmat, tetapi saya khawatir jika nikmat ini terlampau, maka ini akan serupa ujian. Ujian yang membawa setiap insan untuk mengalahkan komponen dirinya sendiri; hawa nafsu. Sementara fitrah cinta terlalu suci untuk dikalahkan oleh hawa nafsu, dan saya adalah selemah-lemah manusia yang kerap kali dikalahkannya.

Sulit memang, tetapi saya terus berusaha.

Allah maha pembolak-balik hati. Pada kesempatan merasa yang diberikan-Nya detik ini, saya merasa beruntung karena saya diizinkan untuk menempatkan perasaan kepada kesederhanaan yang tengah meniti jalan ketaatan. Allah tahu, Allah melihat, saya tengah berusaha. Berusaha sabar karena saya belum memiliki keberanian untuk memproses dan berproses sebuah perasaan, berusaha mengalahkan setiap pengharapan dan angan-angan yang iseng muncul, belajar mensyukuri hari ke enam di mana segala hal bisa terjadi walau hanya dalam jangka sepersekian detik, menahan diri dari begitu banyak hal.

Kalau ada bagian dari diri saya yang bertanya kepada bagian lainnya tentang bagaimana selanjutnya, bagian diri saya yang lain juga tidak tahu. Di satu sisi, saya memiliki cita-cita untuk membangun bahkan jika harus dari angka minus sebuah nafas baru. Satu nafas yang lahir dari dua nafas yang satu. Namun bagian diri saya yang lain tidak tahu bagaimana cara menyampaikan bahwa saya ingin membangun segala bermula dengan pemilik sepasang mata sayu.

Ha ha, sama sekali tidak ada ide selain menitip banyak rasa berwarna biru muda yang membenak dalam hati di sela doa, di hening malam yang sepertiga. Allah Maha Tahu, Allah Tahu yang terbaik. Jikapun kelak kenyataannya tidak seperti yang saya sebut-sebut dalam doa, setidaknya segala harap itu saya gantungkan kepada Allah. Sebab menggantung harap kepada manusia akan mengena luka jika harap tidak jadi nyata, dan saya tidak ingin mengecewakan diri sendiri.

Membuat fitrah cinta ini menjadi sesederhana. Walaupun saya sadar betul bahwa bahagia yang kerap kali Allah beri tidak sesederhana sepesekian detik yang berlalu, atau mungkin memang saya yang terlampau bahagia. Meskipun saya tahu betul bahwa saya menunggu orang lain yang tengah menunggu orang lain yang juga menunggu orang yang menunggu orang lain.

Tidak apa, saya akan bersabar. Tetapi tidak tahu untuk menunggu, atau sambil berjalan melanjutkan. Kita tahu bagaimana masyur dan romantisnya Qais dan Laila, tetapi cinta mereka berakhir dengan Qais yang majnun pada cintanya dan Laila yang masih memendam cinta pada Qais meskipun ia telah bersuamikan seseorang. Ending yang tidak etis, tidak sama sekali romantis, dan hal-hal seperti itu yang kelak akan saya enyahkan di masa depan jika Allah menakdirkan saya dengan yang terduga; sehingga saya bisa sepenuhnya mencintai Adam yang ditakdirkan memiliki tulang rusuk saya tanpa harus terikat atau tersangkut hal-hal lain.

Perasaan yang sederhana, dan rindu yang sewajarnya.

Saya merasa lega karena telah berhasil menuliskannya dengan tidak menyebutkan kronologi apapun. Tetapi izinkan saya untuk bilang; kurang-kurangi rokok, saya tidak siap jika harus bersebelahan dengan paru-paru sesak jika kelak saya (benar-benar) menjadi bagian dari detak jantungmu.

Semoga Allah selalu beri kesehatan dan kebahagiaan.

 

 

 

*Lyta’s note,

Rabu, 18 Oktober 2017, 23.05

  • view 40