Dengan Ibu

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Maret 2018
Dengan Ibu

Malam... 

Entah kenapa malam ini begitu mempesona, mempesona dengan berbagai macam ingatan yang kembali muncul.

Kenangan-kenangan lama indah terbungkus dalam satu peristiwa yang tiba-tiba malam ini terlintas.

Ibu...apa benar nanti kita akan dikumpulkan kembali, malam ini aku teringat kembali dengan sosok ibu, entah beliau sedang merindukan aku sebagai anaknya atau entah sebaliknya aku tak tahu.

Yang jelas malam ini tiba-tiba saja banyak kenangan muncul, saat itu jelas terlihat ibu memegang tanganku yang masih mungil didekapannya.

Mencoba melindungi dari jalanan yang tidak bisa ditebak dan sedikit berbahaya, memang saat itu aku sedang dibawa entah kemana, yang masih kuingat daerahnya yang sangat indah dan memang pertama kalinya dalam hidup, aku dibawa kesini. 

Tanpa bertanya apa-apa sambil melihat genggaman tangan ibu yang cukup erat, aku hanya diam, memang sejak kecil aku tidak banyak bicara dan hanya memperhatikan sambil bergumam dalam hati.

Tentang hal ini dan itu sering aku hanya coba menerka-nerka sendiri didalam hati. 

Ibu masih terlihat jelas memakai baju dinas putih dan semua serba putih, seperti yang biasanya aku lihat sejak aku sadar bahwa aku berada didunia ini, memang aku terlahir dari seorang praktisi kesehatan.

Dan memang kali ini aku bisa menebak akan dibawa kemana, aku dibawa dengan sebuah bus yang lumayan besar bagiku saat itu, melewati suatu jalan yang cukup berliku dan banyak melewati lembah.

Jalanannya sempit dan tak jarang bus ini mengantri untuk dapat meneruskan perjalannya, banyak sekali penumpang didalamnya dan bagi ukuran tubuhku yang pada saat itu masih kecil mereka terlihat besar sekali. 

Dan akhirnya sampailah aku pada suatu daerah yang lumayan aneh bagiku, karena aku berada dipinggiran hutan yang dibawahnya ada kota cantik mempesona.

Negri ini seperti dikelilingi bukit dan ditengahnya dibangunlah suatu kota yang sangat besar sekali, lengkap dengan rel kereta api memebelah pusat kotanya. 

Aku turun dari tangga bus, satu per satu tanpa banyak bicara, tentu dibantu oleh ibu tersayang, setelah sampai di lantai dasar bus aku masih menggengam erat tangan ibu, tentu aku tidak mau tiba-tiba tangan itu terlepas dan aku tersesat dan kehilangan ibuku.

Kami berjalan mengikuti jalanan yang bagus, aku sambil berlari-lari kecil dan menendang beberapa kerikil, sampai disuatu ruangan aku melihat ibu seperti bertanya sesuatu kepada orang yang ada disana, aku hanya duduk dikursi sambil mengoyang goyangkan kaki dan bertanya-tanya aku ada dimana. 

Setelah sekian lama menunggu, aku melihat ada seorang wanita muncul nampaknya sebaya dengan ibu, sambil berlari kecil dan aku melihat senyum melingkar diwajahnya seperti tidak percaya melihat ibu.

Wanita itu pun memanggil ibu, tanpa sempat ibu menoleh wanita itu lansung memeluk ibu sambil matanya berkaca-kaca, aku melihat kerinduan yang sangat mendalam dan terpendam dipelupuk matanya.

Ibu membalas pelukannya seakan tak percaya bisa bertemu disini setelah sekian lama tak berjumpa, wanita itu menoleh kepadaku yang dari tadi memeperhatikannya, ini siapa katanya ?

Ibu menjelaskan dan sambil menyuruh aku menyalaminya, aku mencium tangannya dan dia mencium ubun-ubun kepalaku, memang itulah selayaknya yang dilakukan orang dewasa kepadaku yang masih kecil ini. 

Wanita tadi pun mulai bercerita banyak, ternyata beliau adalah sahabat ibu waktu dulu semasa sekolah, banyak cerita suka duka yang mereka bicarakan dan banyak sekali kenangan-kenangan indah yang mereka ingat.

Aku kembali dibimbing berjalan nampaknya menuruni anak tangga yang cukup banyak, yang membuat aku cukup bahagia karena aku paling suka untuk naik dan turun tangga pada saat itu.

Sesekali aku seluncuran di besi pegangan tangan dan ujung-ujungnya seperti biasa kena marah sama ibu, kami menyusuri gang-gang sempit didalam kota yang jalanannya tak pernah sepi oleh kendaraan berlalu lalang.

Aku tetap memegang tangan ibu sambil menggoyang-goyangkannya sambil berjalan dan benyanyi-nyanyi kecil, entah apa yang aku nyayikan pada saat itu aku juga lupa, mungkin lagunya haddad alwy yang sering diputar di televisi waktu itu. 

Dan akhirnya kami sampai pada suatu rumah, entah kenapa dari pertamakali aku disini semuanya terlihat sangat bagus, rumahnya bagus, hutannya indah, kotanya cantik dan ditambah sahabat ibu yang wajahnya begitu ceria.

Aku begitu bahagia nampaknya disini terlebih ada banyak tangga yang harus ditelusuri semakin membuat aku bersemangat. 

Kamipun masuk kedalamnya, aku seperti biasa lansung saja duduk tanpa dipersilahkan, duduk dan sambil menggoyang-goyangkan kaki, sambil mengamati botol makanan yang terletak diatas meja.

Aku hanya mengamati tidak berani untuk mengambilnya, bahkan kalau disuruhpun aku tidak akan melakukannya, aku hanya akan menunggu ibu mengambilnya dan memberikannya padaku. 

Wanita tadi sahabat ibu, keluar dari dapurnya dengan membawa beberapa gelas sirup bewarna, nah ini yang paling aku suka pada saat itu.

Gelas dengan berisi air yang bewarna, agaknya kebahagiaanku disini akan semakin bertambah, diujung dapur aku melihat seorang wanita paruh baya sedang memasak, ada yang aneh dengan wanita ini, aku sudah bisa menebak ini adalah anak dari sahabat ibu tadi. 

Wanita itu tidak bisa berjalan seperti aku berjalan, dia seperti berjalan dengan bantuan dua tongkat disisi kiri kanannya, sambil memasak dia kesana kemari dengan tongkatnya mengambil garam yang ada dilemari.

Memotong bawang dan menggoreng ikan, oh iya, dari tadi aku tidak menyebutkan bahwa ada ayah disana, sebenarnya kami pergi bertiga bukan berdua saja.

Tapi entah kenapa ingatanku sekarang sedang berada ditempat itu dan fokus pada ibu sampai aku lupa, bahwa tadi ketika aku lelah berjalan, ayah yang menggendong aku ditangannya hehe. 

Masih duduk dikursi itu dengan memperhatikan sana sini, aku mulai tak sabaran untuk mengambil minuman yang ada diatas meja, dan mengambil makan yang ada disana.

Dan sampai disini ingatanku mulai memudar dan bercampur dengan peristiwa lainnya, aku tak tau sampai sejauh mana kami disana, yang jelas ketika ingatan terakhirku adalah pada saat duduk dikursi itu. 

Dan maklum saat itu akupun belum bersekolah sehingga memori ingatankupun tak bertahan lama. 

Mungkinpada saat selanjutnya aku tertidur dikursi dan digendong oleh ayah sampai aku berada di tempat tidur dirumah.

Yang aku ingat ketika berada ditempat tidur dirumah, aku terbangun sebelum kembali melanjutkan tidur pulasku, karena terasa sedikit dingin untuk tempat tidur yang berada dirumah, dibandingkan tidur dalam dekapan ayah. 

Mungkin itu ayah dan ibu, sampai kapanpun dan sampai aku sudah berumur berapapun, engkau berdua akan tetap menjadi ayah dan ibuku tersayang.

Dan aku akan tetap sebagai anak dari engkau berdua ayah dan ibu, walau nanti ketika aku juga sudah mempunyai anak atau sudah menjadi seorang bapak-bapak. 

Mungkin cerita ini juga yang aku ceritakan kelak, selayaknya sebagaimana ketika engkau berdua dengan bersemangatnya menceritakan perihal kakek nenek yang tak pernah berjumpa denganku.

Karena ketika aku terlahir dan berada didunia ini mereka sudah dipanggil kehadapanNya. 

Sekarangpun apabila nanti anak-anakku bertanya, kakek dan neneknya dimana akan aku menjawabnya dengan senyuman.

Nanti kita akan dikumpulkan kembali di Surganya Allah nak, kita bisa bertemu dan berbahagia bersama, nanti kamu bisa menanyakan kenapa kakek dan nenek tidak ada waktu kami lahir, atau kenapa teman-temanmu punya kakek dan nenek tetapi kamu tidak. 

Dan kakek dan nenekmu akan menjawab dengan pelukan, itu tandanya Allah lebih sayang kepadamu nak.

Karena dengan begitu Allah melihat kamu lebih kuat daripada teman-temanmu yang lain, buktinya sekarang kita bertemu dan berbincang hangat. 

Sepertinya untuk sekarang, cukup kisah singkat ini saja yang diceritakan dalam beberapa lembar kertas, dan untuk kisah yang lainnya masih menunggu dan nantinya Insya Allah akan lebih baik dikemas menjadi satu buku utuh.

  • view 111