Apapun Profesimu

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2017
Apapun Profesimu

Kamis, 10 Agustus 2017

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh Alhamdulillah semoga Allah selalu menyertai kita dalam setiap langkah yang kita jalani didalam kehidupan ini, dan semoga hanya dengan pertolongannyalah kita bisa berjuang sepenuh tenaga untuk tegaknya izzah islam dimuka bumi ini.

Setelah empat bulan lebih menyandang status sebagai seorang karyawan swasta pada salah satu perusahaan di Indonesia, nampaknya banyak perubahan yang telah aku alami baik dari segi pergaulan maupun dari segi pengetahuan dan terkhusus untuk mengenai pembelajaran kehidupan.

Sedikit berbagi cerita tentang profesi yang aku jalani, pada dasarnya aku adalah seorang pebisnis yang harus mengerti tentang seluk beluk penjualan, pangsa pasar dan dibebani dengan target penjualan yang ditentukan, didalam dunia bisnis kita harus mengerti tentang skala prioritas mana yang lebih penting antara satu pihak dengan pihak lain, mana yang harus diprioritaskan antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lain.

Didalam dunia bisnis kita diajarkan untuk bisa meraup untung yang sebesar-besarnya dengan berbagai cara dan metoda, dan tujuannya tentu untuk membuat perusahaan semakin berkembang dengan pesat, dan tidak mungkin tujuan perusahaan didirikan kecuali untuk memeperoleh keuntungan.

Dan sayangnya aku bukan hanya seorang pebisnis, tetapi merangkap menjadi seperti (seorang analis kesehatan) yang harus tau dengan seputar permasalahan kesehatan, baik mengenai suatu penyakit dan diagnosa penyakit, analisa untuk pemeriksaan laboratorium, dan harus mengimbangi pengetahuan seorang dokter agar bisa nyambung dalam hal komunikasi.

Dan tidak jarang sering miss komunikasi dengan dokter, karena belum semua yang dokter ketahui itu aku juga paham, dan disinilah letak permasalahannya, pernah suatu ketika ketika seorang dokter menanyakan suatu hal bukan karena dokternya mau menguji atau kenapa, tapi dokternya benar-benar ga tau tentang hal ini, dan aku apalagi jauh lebih ga tau, akhirnya ya kita sama-sama ga tau.

Dan dalam pengetahuan alat laboratorium yang super canggih ini, aku dituntut harus paham mengenai metoda pembacaan pemeriksaan alat, hafal semua jenis reagen (Zat), reagen itu adalah zat untuk pemeriksaan dirumah sakit contohnya adalah glukosa (zat untuk menganalisa kadar gula darah didalam serum darah). Harus tau pemeriksaan apa yang harus dilakukan untuk berbagai jenis penyakit seperti contoh pemeriksaan pada penyakit diabetes, maka pemeriksaan yang dilakukan adalah glukosa, Hba1c, dan lain-lain.

Dan ternyata aku juga merangkap menjadi (seperti seorang psikolog) yang harus mengerti tentang ilmu jiwa, dan gestur tubuh seseorang, paham akan suasana hati seseorang dan paham cara menyelesaikan permasalahan secepat mungkin, dan tentunya harus bisa memberikan solusi untuk semua permasalahan yang orang keluhkan, dan yang paling mantapnya aku paling senang mendengarkan permasalahan orang dibanding menceritakan permasalahanku pada orang lain.

Dan entahlah apapun nama profesinya yang terpenting adalah ini semua dalam rangka dakwah dijalan Allah, seandainya profesi ini semakin meningkatkan kualitas diri dan mempermudah dakwah maka akan aku jalani dengan sepenuh hati dan seikhlas hati, karena ladang dakwah itu terbentang luas dan menggarapnya tidak akan mampu kecuali dengan kesungguhan dan perbekalan ilmu yang banyak, dan menjalani profesi ini adalah salah satu metoda menimba ilmu secara praktis.

Didalam berdakwah yang harus dipunyai pertama kali adalah perbekalan ilmu, semakin sedikit perbekalan ilmu yang dimiliki tentu semakin sedikit pula ilmu yang bisa disampaikan, dan salah satu cara menimba ilmu adalah terjun lansung berhadapan dengan target dakwah atau sebutan umumnya adalah masyarakat banyak.

Hal yang membuat kehidupanku jauh berbeda setelah menyelesaikan studi adalah, sekarang aku berhadapan dengan masyarakat yang masing-masing orang mempunyai karakter berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, cara mengahadapi dan mendekatinyapun juga berbeda-beda.

Pernah suatu kali aku sempat teringat dengan dakwah Rasulullah, memang sebegini beratkah jalan dakwah ini, harus menyampaikan kepada masing-masing manusia yang sangat-sangat banyak jumlahnya, dan pertentangan demi pertentangan silih berganti datang, setelah menjalaninya bahkan secuilpun tidak dari dakwah para orang-orang sholeh, sungguh ini harus dijalani dengan hanya mengharapkan ridho Allah subhanawata’ala.

Dan apapun itu profesi yang paling mulia adalah menjadi seorang pendakwah, dan semoga saja jalan untuk kesana menjadi lebih mudah kedepannya, bersama dengan para sahabat-sahabat sholeh untuk pengingat diri yang semakin rapuh.

  • view 60