Bagi siapapun yang menulis tentang beasiswa

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Motivasi
dipublikasikan 02 April 2017
Bagi siapapun yang menulis tentang beasiswa

Bagi siapapun yang menulis tentang Beasiswa.

Saya sangat apresiasi dengan yang namanya penulis yang mau berbagi pengalaman nya, saya baca semua tulisan anda.

Terutama tentang masalah perkuliahan dan lanjut studi S2, karena saya sadari betul apa yang Anda dapatkan sekarang adalah hasil dari kerja keras Anda selama ini.

Berbeda dengan saya, yang sampai sekarang saya belum melakukan sedikit pun kerja keras itu, memang typical pribadi orang berbeda-beda, saya salah satu yang menyenangi melakukan sesuatu by proses, ga terlalu terburu-buru.

Karena yang paling utama disini adalah agama, agama itu adalah sumber dari segala sumber ilmu, dan menurut saya siapa yang paling pintar di dunia ini adalah mereka yang mengetahui, akan jadi apa dia setelah dia mengalami kematian, dan itu tidak lain adalah orang yang berilmu, atau arabnya Ulama.

Nah saya mau cerita sedikit mengenai dulu sewaktu masih zaman-zamannya belajar, tepat nya semester pertama dan semester kedua, ini zaman dimana saya masih tidak mau tau dengan yang namanya tujuan hidup.

Yang jelas apa yang menurut orang kebanyakan adalah baik, maka itupun baik bagi saya, apa yang menjadi tranding pada masanya, maka saya harus ikuti.

Termasuk dalam hal akademik, apapun dilakukan agar bisa mendapatkan nilai tinggi, dan termasuk ini dosa terbesar saya dalam perkuliahan, mencontek.

Mencontek adalah salah satu yang biasa menurut saya pada masa itu, entahlah yang saya lihat kebanyakan orang melakukannya, berarti tidak ada salahnya kita melakukan nya juga, kan rame-rame to.

Nah ini adalah senjata paling efektif, didalam perkuliahan karena mengambil jalan pintas, tapi sangat mempengaruhi psikologis, dan ini sangat-sangat berbahaya.

Dulu waktu zaman-zamannya, saya ga terlalu acuh dengan yang namanya akademik, oke gue datang kuliah, abis ujian dapet nilai tinggi udah selesai.

Nah disini saya tekankan peranan agama itu penting, karena akan merubah semuanya, ketika mulai belajar sedikit demi sedikit perlahan, dan terus.

Saya mulai tau, ini sebenarnya tujuan saya kuliah untuk apa, saya mulai berfikir, merenung panjang, mulai saya mencari tau, apakah hanya sekedar nilai akademik, karena siapa yang mendapatkan nilai akademik tinggi, berarti adalah orang baik, menurut kebanyakan orang.

Tanpa mempertimbangkan apakah didapatkan melalui cara yang benar atau salah itu tidak penting, yang penting adalah nilai akhir nya, sampai sekarang pun, karakter seperti saya dulu itu masih ada kayaknya sama mahasiswa yang sekarang.

Ketika tujuan hidup itu mulai terlihat jelas, saya mulai sadar diri, mencontek adalah salah satu dosa yang sangat-sangat akan mencelakai diri sendiri.

Dari sisi psikologis, saya menjadi orang yang sangat-sangat down, bagaimana tidak sewaktu menjelang ujian, tidak belajar sama sekali malah maen PES.

Pas ujian, tidak tau mau melakukan apa, ha-ha-ha, saya ingat masa-masa itu, masa dimana masa depan masih blur.

Ketika saya mencoba untuk tidak akan pernah mencontek lagi seumur hidup, dan masa percobaan pertama adalah masa yang paling saya ingat, bagaimana tidak. Mulai dari tulisan bahan mata ajaran kuliah paling awal, sampai dengan yang paling akhir, saya baca dan saya hafalkan.

Tidak tanggung-tanggung, kursi paling depan saya boking, serius saya jadi orang rileks, nyantai, dan penuh percaya diri, kayak reborn again, wah ini kesempatan buat membuktikan siapa saya sebenarnya, jeng jeng...

Dan hasil ujian pun dikeluarkan, dan akhirnya nilai yang keluar..... Hancur semua...

Nah ini, inilah saya yang sebenarnya, ini muka saya yang sebenarnya ancurr kayak gini. Dan percobaan pertama ini adalah awal menyadarkan saya untuk, tidak melakukan dosa yang sama lagi.

Oke, satu yang membuat masalah psikologis jadi kacau, sudah terobati, seumur hidup katakan tidak pada mencontek.

Dan apa hasilnya pada percobaan kedua, ketiga, dan seterusnya sampai dengan sekarang, saya tarik kesimpulan hasilnya sangat-sangat jauh lebih memuaskan daripada mencontek, udah dosa, dan nilai juga pas-pasan.

Semester demi semester saya menuai hasil, yang sesuai dengan usaha yang saya lakukan, jadi biasanya pas di akhir-akhir semester saya sudah bisa nebak, nilai saya akan seperti apa.

Misalnya ini, mata kuliah yang saya habis-habisan buat belajar, terus, datang paling pagi, ujian jam 13.00 jam 08.00 udah di kampus, duduk di mushola mengeluarkan energi terakhir, meski banyak yang bilang ketika menjelang ujian jangan belajar, tapi belajarlah jauh-jauh hari.

Nah ini saya agak berbeda, belajar lah jauh jauh hari, sampai dengan detik-detik terakhir, nah itulah saya.

Dan hasilnya memang sesuai dengan apa yang saya perkirakan "A" , nah lanjut cerita ke mata kuliah, yg ga tau aja ketika itu sedang agak kurang bersemangat untuk belajar, ya udahlah hasilnya akan kayak gini nantinya, dan itupun benar.

Nah itu kuncinya disini, agama, agama merubah segalanya, agama tau segalanya yang baik buat kita, nah kita mah sok tau...

Balik ke permasalahan beasiswa, bagaimanapun belum ada satu beasiswa pun yang saya apply, dan saya pelajari dari awal untuk apply beasiswa itu sangat-sangat tidaklah mudah.

Nah perbedaan nya antara saya dengan mereka, saya lihat ada si A... Pengen banget kuliah di UK, atau si B pengen banget kuliah di US...

Nah saya, kok bisa ya... Saya masih bertanya-tanya..., Kok saya ga pingin apa-apa ya, gitu... Hehe

Setelah saya pelajari dari awal, ini adalah permasalahan niat, kalau ada niat pasti orang akan melakukan sesuai dengan niatnya, nah itu tadi Agama, jadi ga boleh di tinggal ya masalah Agama dan Islam tentunya.

Nah untuk beasiswa ini saya masih gimana ya, separuh hati untuk melakukan nya, ini saya rasakan karena niatnya saya itu yang belum ada, dan mulai dari sekarang niatnya itu yang harus diluruskan dulu.

Saya jujur ga tau ya, ketika ada orang-orang bilang pengen kuliah ke Jepang, kok saya engga ya, sampai2 dilaptopnya nonton filmnya Jepang, anime, baca komik Jepang, liatin huruf-huruf jepang setiap hari, hehe

Atau ada yang pengen kuliah di Korea, tontonan nya drama Korea melulu, nah saya saya pengennya apa ya, kayaknya ga pengen apa-apa deh... Waduh... Ini kelemahan saya letaknya disini, kurang mempunyai keinginan, dan ini mestinya harus-harus diperbaiki.

Harusnya saya tuh, pengen sekali kuliah di Australia, nah tontonan harus Chanel Australia, terus... Ngomong pake bahasa Inggris terus, dimana pun, kapanpun, dengan siapapun, ribet juga ya kalau kayak gini.

Atau harus nya saya tuh, pengen nya kuliah di US, jalan-jalan ke studio Hollywood, liat2 bule sana sini.

Saya tau masalah nya dimana, saya tidak ingin seperti itu karena saya belum pernah kesana, saya mah orang nya gitu. Kalau seandainya belum merasakan langsung, dengan mata kepala sendiri masih belum bisa menggambarkan segitu inginnya saya kesana.

Contoh kecilnya nih, waktu pertama kali naik gunung, nah saya mulai tuh cari2 Susana digunung itu seperti apa, buat yang belum pernah naik gunung, ini buat kalian.

Ternyata dan ternyata, apa yang saya pikirkan selama ini, dan apa yang saya baca, Masya Allah, Jaaaauuuuuhhhh berbeda...

Ketika saya pikir di puncak gunung itu seperti ini, ternyata tidak, tidak sama sekali, Masya Allah, indah luar biasa, bagaimana pun saya nulisinnya disini, ga akan sama dengan gambaran nya, dibandingkan dengan saya ajak kalian langsung kesana, dan disana baru bilang, nah rasanya naik gunung, atau berada dipuncak gunung tuh kayak gini. Jadi kapan kita nanjak bareng...? :-Dhehe

Oke, tapi kalau udah satu kali nanjak, udah akan berkelanjutan dan berulang-ulang. Sorry bahasa nya campur aduk.

Oke, saya memperhatikan betul, setiap orang terdekat, lumayan dekat, agak dekat dan katanya sih dekat, dan yang lain-lain, yang mau pengen banget kuliah keluar negeri, mereka melakukan apa ya...?

Dan ternyata mereka itu Subhanallah, giatnya minta ampun, rajinnya, kerja keras nya, latihan nya tiap hari, Allahuakbar ini saya yakin, karena niat yang sangat-sangat kuat didalam hatinya yang paling dalam.

Kalau saya baca tulisan, itu saya masih agak susah menggambarkan kerja keras dari orang-orang yang berhasil itu, ini saya melihatnya langsung, dan ternyata benar melihat langsung itu berbeda sama sekali dengan apa yang kita pikirkan.

Nah balik lagi ke topik yang diatas, kesimpulan nya semua diawali dengan niat, nampaknya saya harus belajar banyak dari mereka, dan itu hendaknya harus secara langsung, dan itulah mengapa saya lebih suka dunia Nyata, Real Life, ga didepan laptop, ga didepan Handphone, kayak sekarang.

Saya pinginnya, keluar... Pergi kesana sini, kebelahan bumi sana, sini Utara Selatan, dan itulah kenapa setelah lebih satu tahun menyelesaikan kan studi S1, saya merasa saya tetap belajar seperti biasanya, ga ada yang berubah saya tetap belajar, cuman bedanya kalau sebelumnya ada faktor pendorong, nilai akademik, dosen, kawan-kawan, dan sekarang harus karena kesadaran sendiri.

Nah pesan buat yang sudah mendapatkan beasiswa, atau yang udah berada diluar negeri, sering-seringlah menulis agar kami-kami ini yang belum ada kesempatan, bisa sedikit terpacu semangat nya, karena bagaimanapun, kalau belum mengalami secara langsung, saya pribadi agak susah juga untuk menancapkan keinginan, hehe.

Oke saya sekarang, sampai seterusnya akan tetap belajar, dan jangan lupa bagi-bagi semangat nya ya, suatu saat dan itu belum sekarang kayaknya, saya juga harus punya keinginan untuk belajar, menempuh ilmu ke belahan bumi lain, dan itu tadi yang terpenting Ilmu Agama, karena akan berguna untuk hidup sesudah hidup kita yang sekarang.

Wallahu a'lam bissawab.

 

 

 

  • view 92