Ayah... Ibu...

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Oktober 2016
Ayah... Ibu...

AYAH... IBU...

Keputusan yang lumayan besar telah aku putuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai Pebisnis, setidaknya ini bisa membantuku dalam mengisi waktu luang dan menambah wawasan dalam hal dunia bisnis dan  pergaulan dunia nyata. Walau tak sedikitpun aku membayangkan aku akan bisa bergelut didunia bisnis tapi menelusuri dari jejak keturunanku yang ternyata adalah seorang pebisnis, mulai dari ayah yang pada hakekatnya adalah seorang pengusaha kecil-kecilan dan juga nenek dari pihak ayah yang juga seorang pedagang.

            Aku juga pernah menanyakan sedikit pengalaman ayah dalam kehidupannya, beliau juga menceritakan bahwa kakekku juga merupakan seorang pedagang, lebih tepatnya pedagang daun enau yang digunakan untuk membuat lintingan rokok kresek yang terkenal dengan harga murah, ayah juga dulu sempat menjadi seorang pedagang rokok dalam waktu yang cukup lama, walau ayah sendiri bukanlah seorang perokok tapi dia dulu pernah menggantungkan hidupnya menjadi seorang pedagang rokok.

            Nenek merupakan seorang pengusaha beras pada jamannya tidak tanggung-tanggung lintas perdagangannya mulai dari pulau Sumatera sampai ke pulau Jawa, hal ini yang mungkin membuat ayahku menjadi seorang nomaden dalam masa sekolahnya beliau telah meninggalkan Sumatera Barat sejak kelas 3 Sekolah rakyat (SD) dan melanjutkan sekolahnya di Liwa Lampung. Dan tidak hanya itu beliau juga melanjutkan sekolahnya di Kota Jakarta dan Kota Bandung.

            Lain hal dari ayah Ibu adalah seorang PNS dengan garis keturunan yang sebenarnya juga adalah seorang pebisnis, nenek dari pihak ibu juga adalah seorang pedagang walau umur beliau relatif singkat karena menderita penyakit jantung dan hal itu mungkin membuat Ibu menjadi seorang wanita yang tangguh dalam hal kehidupan, wajar beliau telah hidup tanpa seorang ibu sejak kelas satu Sekolah Dasar (SD) dan mulai berjuang hidup hanya dengan ayah, beliau juga sempat menceritakan kalau kakek adalah seorang pejuang sejati beliau adalah seorang guru agama handal, Muhammad Isa itulah namanya atau lebih akrabnya dipanggil Buya Haji Isa.

            Meski tak dipungkiri kakek juga adalah seorang pebisnis lebih tepatnya bisnis transportasi dan lahan, beliau mulai menyewakan kereta kuda untuk transportasi pada zamannya kalau dihitung perkiraannya adalah sekitar tahun 1947. Memang untuk transportasi untuk daerah yang belum maju seperti Sumatera Barat pada waktu itu hanya ada beberapa bus dan kereta kuda (Bendi) dan untuk alat transportasi barang yang digunakan adalah Pedati (kereta yang ditarik oleh kerbau).

            Aku hanya bisa menghayalkan apa yang diceritakan ayah, maklum untuk perkiraan zaman sekarang satu kalipun aku tak pernah melihat kereta yang ditarik oleh kerbau atau yang mereka namakan pedati. Mungkin aku hanya pernah melihatnya disalah satu lukisan yang ada dimeja belajar waktu kelas 2 SD, dan juga hanya bisa melihat patung dari pedati itu sendiri.

            Perjuangan beliau berdua memang sangat membuatku antusias dan bersemangat, bagaimana tidak dengan keterbatasan yang begitu sulit mereka bisa berjuang dan hasilnya sangat sangat membuatku bangga, tak ada yang lebih aku banggakan setelah Allah dan rasulnya selain mereka berdua. Bagaimana mereka beredua tak henti hentinya membuatku terkejut dan tak menyangka banyak hal hal penting yang mereka ceritakan yang semakin membuatku merasa tidak ada apa apanya sama sekali.    

              Hingga aku sampai mendengarkan cerita ayah yang sempat menempuh perkuliahan di Universitas yang sama denganku, Universitas Andalas pada fakultas Hukum tepatnya. Beliau sempat kuliah tapi dengan lokasi yang berbeda dengan sekarang, beliau menjalani studinya didekat pantai kota. Dan untuk pengalaman bekerja adalah hal yang paling aku perhatikan dengan seksama, pekerjaan awal beliau adalah sebagai mekanik pada salah satu bengkel mobil, lanjut dengan menjadi seorang arsitek bangunan, ada beberapa bangunan yang sempat beliau tunjukan kepadaku untuk hasil karyanya, lanjut sebagai guru dan ini yang menjadi titik tolak ayah yang sebelumnya adalah seorang yang mudah emosian menjadi seorang yang sangat penyabar.

            Aku juga heran dengan cerita ibu yang mengatakan kalau ayah dulunya adalah seorang yang susah untuk mengontrol emosinya, maklum saja aku sempat tidak percaya dengan cerita itu karena aku belum pernah walau satu kalipun melihat ayah marah kepada siapapun, yang aku tau ayah adalah seorang yang humoris dan suka bercanda. Tapi entahlah mungkin itu dulu, setiap orang bisa berubah bukan.

            Beliau pernah mengajar mulai dari sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sampai sekolah menengah atas, mulai dari kota Medan, Padang, Jakarta, Bandung. Sampai satu kejadian yang membuat beliau harus kembali menjadi seorang yang ekstra sabar ketika semua berkas berkas penting harus hilang dibawa pencuri pada suatu malam, tidak hanya Ijazah penting yang hilang tetapi kenangan foto-foto semasa perkuliahan dan semasa mengajarpun raib ditelan zaman dan hanya tersisa dalam ingatan beliau yang semakin memudar, seiring dengan pertambahan usia yang semakin lanjut.

            Berbeda dengan ayah, kehilangan yang begitu mendalam yang dirasakan ibu karena harus rela orang yang sangat dicintainya pergi, membuat ibu bertekad untuk menjadi seorang dokter, tapi walau hal itu tidak kesampaian karir ibu menjadi seorang perawat, cukup mengobati luka ibu yang sempat susah untuk dihilangkan, waktu itu beliau harus melihat orang yang sangat dicintainya meregang nyawa karena tak ada satupun petugas kesehatan dilokasi.

            Sejak melihat dunia untuk pertama kalinya, yang ada difikiranku adalah kenapa lingkungan sekitarku seperti Rumah Sakit saja, melihat antrean begitu banyak orang dan dengan aroma obat bius, aroma obat obatan dan juga para petugas berbaju putih yang berlalu lalang. Luka disana sini, darah segar yang mengalir dilantai, perban yang berserakan dan kapas merah dengan gunting jahitan, serta botol-botol kecil obat bius.

            Sampai sekarang hal yang paling kubenci adalah rumah sakit jangankan untuk dirawat didalamnya, bahkan untuk membayangkan harus masuk kedalamnya saja aku harus berjuang sekuat tenaga, maklum aroma obat-obatan yang dulunya sempat familiar di hidungku membuat kenangan kenangan indah kembali muncul. Kenangan yang sepertinya tak akan pernah bisa untuk dilupakan, mungkin hal ini juga yang membuatku tidak mempan dengan obat-obatan, wajar saja kalau aku sakit jarang sekali aku mau untuk meminum obat, karena dosis obat-obatan yang tinggi sekalipun seperti tak mempan untuk membuat sakitku berkurang.

            Dulu umur 3 bulan tepatnya, aku sempat mengidap penyakit langka dan sepertiya tak akan bisa disembuhkan, berbagai dokter dari berbagai penjuru negeri telah turun tangan untuk mengatasi penyakitku, maklum sebagai petugas kesehatan yang punya banyak sahabat didunia kesehatan membuat ibu begitu mudahnya mendatangkan dokter dari sini dan situ, tapi ibu seperti kehilangan asa melihat diriku yang tak kunjung membaik, operasi bedahpun dilaksanakan berbagai macam obat-obatan silih berganti masuk ke pembuluh darah. Suntikan beberapa kali dikepala juga sempat dilakukan dan akhirnya semuanya sia-sia, dokter menyerah dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolong kehidupanku.

            Aku dibawa pulang kerumah, ayah hanya bisa menguatkan ibu dan sesekali mengingatkan kalau aku hanya salah satu titipan Allah, yang tak sepatutnya ibu mempunyai rasa memiliki yang begitu mendalam melebihi dari kecintaannya kepada Allah SWT. Ibu hanya bisa menangis melihat kondisiku yang tak kunjung sembuh, ingatannya tentang kepergian nenek yang harus pergi kerena serangan jantung kembali menggoreskan luka dihatinya.

Apa gunanya menjadi seorang ahli kesehatan kalau harus kembali kehilangan orang yang sangat dicintai lantaran penyakit yang tak kunjung sembuh, ibu sempat berputus asa sampai untuk mengingatkan ingatannya kepadaku beliau membawa semua keluarga untuk foto bersama, karena vonis dokter yang menyatakan kalau aku tak akan bertahan dalam 3 hari, kerana penyakit kronis yang semakin menggerogoti.

Larut dalam keputusasaan, aku hanya terlelap dipangkuannya ingatanku yang sekarang yang belum sampai pada saat kejadian itu membuatku sedikit menitikkan air mata, ibu hanya bisa memandang wajahku yang sepertinya tak ada beban sedikitpun, aku nyenyak sekali tidur, tanpa merasakan sakit sedikitpun dan lain hal dengan ibu yang semakin hari semakin cemas dengan keadaanku yang tak kunjung mengalami kemajuan.

Hari terakhir vonis kematianku, ibu bertekad tak akan pernah berputus asa lagi, semua kehidupannya hanya bergantung kepada Allah SWT bukan dari vonis dokter yang hanya manusia biasa, kata kata itu selalu beliau lukiskan dihatinya. Malam silih berganti dengan tahajjud ibu ditengah malam, aliran air matanya tak terbendung ketika melihat kembali kewajahku yang seakan tersenyum melihatnya, sampai pada rakaat terakhir sholatnya akupun mengalami kejang-kejang dan panas yang sangat tinggi, ibu yang tak sempat menyelesaikan rakaat terakhirnya segera berlari menuju ayah yang sedang membaca ayat ayat Al Qur’an.

Satu demi satu sahabat ibupun datang, semua peralatan medis yang memang telah tersedia dirumahpun dikeluarkan tak ada yang bisa mereka lakukan seperti halnya pada saat dokter menyerah dan memvonis kematianku, dan terakhir hanya ada satu yang bisa dilakukan ibu, yaitu berdo’a kepada Allah SWT. Sahabat ibu yang merupakan seorang Ustadz mulai membacakan ayat-ayat suci yang biasa dihafalkannya, beliau mulai melakukan metode Ruqyah Syar’iyah, dan alhamdulillah keadaanku pun  semakin membaik, kondisiku yang semula panas tinggi mulai berangsur normal suhu tubuhku yang semakin turun dan satu sendok air putihpun mulai dimasukan kedalam tenggorokanku.

Ingatan pertamaku tentang masa kecil adalah ketika aku berada dipangkuan ibu yang sedang makan malam, entah kenapa aku seperti tidak mau beranjak dari pangkuan ibu dan memperhatikan beliau makan dengan lahapnya membuat aku tersenyum dan bahagia. Beliau hanya sesekali menyodorkan suapan nasinya kemulutku yang tak mau aku buka dan dengan isyarat penolakan.

Aku juga ingat ketika ibu harus pergi mengobati warga yang tertimpa kecelakaan pada pukul dua dinihari, dan ayah selalu siap untuk mengantarkan kemanapun tempat ibu menunaikan tugasnya, dan sampai sekarangpun rasanya aku tak mempan dengan obat-obatan kimia dengan berbagai dosis, dan tubuhku yang dulunya sudah dimasuki berbagai obat-obatan kimia membuat tubuhku menjadi kebal. Ibu merupakan petugas kesehatan dengan resiko harus berpindah-pindah tugas, berbagai penjuru negri pernah dijelajahinya dan tempat aku melihat dunia untuk pertama kalinya, adalah tempat kesekian kalinya yang ibu tempati lantaran harus pindah tugas.

Hal ini juga yang membuat diriku mengecap pendidikan di berbagai tempat, banyak pengalaman yang aku dapatkan dalam dunia pendidikan terutama sekali dalam hal pergaulan, karena teman-teman yang aku kenal pada masing-masing tempat aku bersekolah mempunyai karakter yang berbeda-beda, dan itu sepertinya membuat aku lebih leluasa dalam bersikap dan memandang orang yang baru dikenal.

Biasanya dari perkenalan pertama dengan seseorang, aku sudah bisa menebak karakter dari seseorang dan bagaimana harus bersikap kepadanya, maklum pengalaman dari berbagai tempat dengan kultur dan kultur budaya yang berbeda membuat aku berusaha untuk cepat belajar beradaptasi dan mendapatkan teman secepat mungkin, dan hal ini juga membuat orang susah untuk menebak karakter yang aku miliki banyak yang mengatakan aku seorang yang misterius dan tidak mudah ditebak tapi entahlah, aku hanya merasa bersikap seperti biasa saja dan tidak berlaku untuk berpura-pura menjadi orang lain, dan hanya berusaha untuk menjadi diri sendiri dan tidak terpengaruh dengan sikap orang lain.

Pertemuan ayah dengan ibu memang tidak disangka-sangka, waktu itu beliau telah mendapatkan pekerjaan tetap sebagai seorang guru sekolah dikota medan sedangkan ibu hanya menjadi seorang perawat disalah satu rumah sakit di Kota yang berada di Sumatera Barat. Entah hal apa yang membuat ayah merasa tidak betah untuk bekerja di Kota medan, dan membuat beliau memutuskan untuk pulang kerumah, dirumahpun ayah hanya bekerja menjadi seorang guru honorer lantaran setelah peristiwa pencurian beliau tidak bisa melamar pekerjaan secara resmi lagi.

Ayah kembali kerumah tempat beliau mengecap pendidikan sewaktu sekolah rakyat dulu, ayah punya beberapa pengalaman pahit didaerah ini, maklum zaman pendudukan jepang yang belum usai membuat ayah sempat melihat lansung bagaimana perlakuan dari para penjajah kepada penduduk pribumi, tidak jarang ayah dengan kakek harus bolak balik dari rumah bersembunyi ke hutan pegunungan untuk menghindari penangkapan yang dilakukan oleh tentara penjajah.

Ayah masih ingat betul bagaimana truk-truk perang memasuki pemukiman tempat ayah tinggal, dan saat yang bersamaan kumandang Adzan pun dikumandangkan dengan hikmat menjadi pertanda untuk para laki-laki yang ada di pemukiman itu untuk segera bersembunyi didalam hutan pegunungan agar tidak ditangkap dan tak akan pernah kembali. Untunglah ayah tidak pernah menjadi sasaran penangkapan dari para penjajah, ini juga yang membuat ayah menjadi seperti kesulitan tidur dimalam hari dan sering bangun pukul tiga dinihari dan tidak melanjutkan tidurnya, dulu beliau selalu bersiaga agar hal-hal buruk tidak terjadi pada keluarga.

Berbeda hal dengan ibu, menjadi anak seorang guru agama dan pengusaha menjadikan ibu seorang yang peduli dengan banyak kegiatan sosial, beliau tidak memiliki pengalaman pahit dengan penjajah karena pada masa beliau tinggal di rumah, Indonesia sudah menjadi negara yang berdaulat dan disegani. Ibu juga tidak pernah tau dengan yang namanya perlakuan kasar dari penjajah kepada pribumi dan bagaiman susahnya menjadi laki-laki pada masa penjajahan itu, ibu juga tidak pernah tau bagaimana suasana gempuran pesawat tempur yang berlalu lalang di atas pemukiman Ayah, dan bunyi ledakan disana sini menghancurkan beberapa bangunan penting yang ada di kota.

Perbedaan karakter antara Ayah dan Ibu sangat kentara sekali, tapi ini tidak menjadi halangan bagi mereka berdua untuk dipersatukan, karena sepertinya hal inilah yang menjadikan mereka untuk saling melengkapi. Kalau mendengar tentang cerita mereka berdua aku hanya duduk tersenyum sambil membayangkan apa yang bisa terlintas dalam cerita mereka berdua. Tak jarang sesekali aku juga menyanggahnya dan mencoba untuk meminta penjelasan yang lebih detail tentang kejadian yang menimpa mereka pada waktu itu.

Ayah kembali menceritakan perihal penjajah belanda yang sempat membawanya dengan mobil jib untuk patroli keliling pemukiman, ceritanya pada waktu itu adalah saat ayah keluar rumah untuk mencari kakek yang sedang berada dipasar dan ternyata ayah yang masih seumuran anak-anak tidak tau jalan pulang dan tersesat, ayah hanya berputar-putar ditengah pasar dan tidak juga menemukan kakek dan melihat kejadian itu salah satu serdadu belanda yang tergabung dalam tentara NICA menghampiri ayah dan menggendongnya dan menanyakan apa yang menjadi permasalahan ayah.

Ayah hanya terisak menangis, bertemu dengan orang asing yang belum pernah dilihatnya sebelumnya, ayah agak sedikit takut, rambut pirang dan hidung yang begitu mancung terasa aneh bagi ayah yang masih anak-anak. Ditambah lagi dengan bahasa yang diucapkan oleh serdadu Belanda tersebut, tidak jelas dan seperti orang yang berbicara dengan hidung tersumbat, tapi senyuman dari serdadu ini sepertinya sedikit meredakan tangisan ayah.

Ayah diajak untuk berkeliling pemukiman, pengalaman pertama bagi ayah menaiki benda besi yang bisa berjalan dan mengeluarkan suara yang cukup keras, ayah terlihat kegirangan dengan hembusan angin yang menerpa muka ayah, yang berpacu dengan mobil jeep. Ayah berteriak sesukanya, sampai kepada hadangan dari kakek yang takut terjadi apa apa pada ayah segera menghentikan laju mobil, dengan bahasa lembut kakek meminta izin untuk membawa ayah pulang kerumah.

Ayah hanya bisa melambaikan tangan pada orang-orang aneh yang baru dikenalnya, meski sangat senang saat menaiki benda yang bisa berjalan kencang itu, tapi duduk dipundak kakek sambil berjalan pulang lebih disukai ayah. Mungkin ini juga yang sering ayah lakukan padaku, dulu saat pergi dengan ayah aku selalu berada dipundak ayah, duduk dengan bahagianya, bahkan saat kami bersepedapun aku sering duduk dipundak ayah, hal yang sedikit membahayakan bukan, dan ini jugalah yang selalu membuat ibu jengkel dengan ayah, ibu sangat takut terjadi apa apa terhadapku.

Tak jarang aku tidak diperbolehkan untuk ikut pergi bersama dengan ayah, sepertinya rasa hampir kehilangan waktu itu, selalu membuat ibu memberikan perhatian lebih kepadaku, tapi karena sebagai anak laki-laki aku lebih memaksa untuk bisa ikut dengan ayah dibandingkan harus menemani ibu dirumah.

Kalau boleh dibilang sebenarnya aku merasa lebih dekat dengan ayah dibandingkan dengan ibu, mungkin karena sosok ayah yang menurutku sangat-sangat karismatik sekali, membuat aku selalu meniru keseharian ayah, mulai dari bangun pukul tiga dini hari untuk keluar rumah, dan mengambil air dengan ember-ember hitam untuk keperluan minum dari sumber air terdekat.

Pertama kali aku ikut dengan ayah untuk mengambil air adalah hal yang sangat menyenangkan, bagaimana tidak merasa bisa berjasa untuk ibu dengan mengambilkan air untuk dimasak nanti, sedikit membuatku bangga menjadi seorang anak laki-laki. Ditambah dengan nasehat ibu yang selalu mengatakan kalau jadi seorang laki-laki harus bisa bersabar, dan jangan mudah marah, karena ayah selalu sabar dalam menghadapi ibu yang terlalu mencemaskan segala sesuatu.

Sampai sekarang wajah kakek dan nenek tidak ada dalam ingatanku, karena memang aku tidak pernah bertemu dengan mereka, wajahnya hanya bisa aku lihat dari foto yang disodorkan ibu, dulu kakek sangat mendambakan punya anak laki-laki. Wajar saja semua anak kakek adalah perempuan termasuk ibu, ini juga yang mungkin membuat nenek tidak kuat menghadapi teror yang sering dilakukan para penjajah yang sering menindas perempuan, dan harus membuat nenek jadi tertekan dan mengidap penyakit jantung karena selalu dihantui rasa takut terhadap para penjajah.

Aku sangat takut sekali kalau melihat ibu cemas, karena cerita ibu tentang nenek membuatku harus bijak dalam bersikap, dan pada saat aku terluka cukup parah sekalipun aku tak pernah mau untuk bilang sama ibu, aku ingat saat aku berusaha untuk mengendap-endap untuk memasuki rumah untuk mencari obat merah, kapas, plaster dan perban untuk mengobati lukaku yang cukup parah karena terjatuh saat berlarian dengan teman-teman sejawatku.

Saat melihat keadaan rumah yang cukup sepi, dan sepertinya tidak ada siapa-siapa aku berusaha untuk masuk dan perlahan-lahan mulai mendekati lemari medis, tempat ibu menyimpan berbagi macam peralatan dan keperluan medis, tapi entah dari mana datangnya ibu sudah berada dihadapanku dengan wajah bertanya-tanya, memang luka yang terletak disikut kiriku tak kelihatan dan berusaha kusembunyikan.

Tapi darah yang menetes dilantai keramik, tidak bisa menutupi kebohonganku yang saat ditanya aku menjawabnya tidak kenapa-kenapa, ibu yang lansung cemas dan mulai menceramahiku, segera mengambil beberapa alat-alat medis dan seketika semua lukaku telah tertutup sempurna, ditambah dengan ceramah ibu yang memarahiku karena tidak mau bilang sama ibu saat terjatuh dan mengalami luka yang cukup serius, sampai sekarang aku hanya bisa tersenyum mengingat semua kenangan kenangan indah itu.  

Lain dengan ibu lain juga dengan ayah, ayah adalah orang yang tenang dan tidak mudah cemas seperti ibu, sebagai laki-laki membuat ayah sangat-sangat bijak dalam bersikap terutama saat menghadapi kelakuanku yang sangat nakal, termasuk saat ayah memperingatkan untuk tidak keluar rumah dengan tanpa alas kaki, tetapi karena manurutku tidak masalah aku tidak mengacuhkannya dan hasilnyapun kakiku robek disayat pecahan kaca yang terkubur ditanah, aku segera mengadukan kepada ayah, kalau kepada ayah aku sering mengadukan berbagai hal lain hal dengan ibu yang aku tak mau sedikitpun untuk mengadu, ayah dengan tenangnya untuk menyuruhku mengambil kapas basah dan meletakkannya ditempat yang terluka.

Aku yang baru pertama kali melakukan hal itu, merasa takjub melihat darah segar yang mengalir mulai berhenti dan rasa sakitnyapun semakin berkurang. Pribadi ayah yang tenang selalu membuatku bangga memiliki seorang pahlawan yang selalu ada saat aku membutuhkannya, terutama saat kami memperbaiki parabola televisi diatap rumah, pertama kali juga aku menginjakkan kaki diatas atap puncak tertinggi rumah, rasanya sangat indah sekali melihat sekeliling yang biasanya hanya terlihat dari bawah dan sekarang dan sekarang bisa leluasa untuk melihatnya dari atas.

Termasuk saat ayah menceritakan saat pertama kali beliau mencapai puncak tertinggi dari gunung berapi, mungkin apa yang ayah rasakan saat itu sama dengan yang aku rasakan sekarang saat berada di atas atap rumah. Dan juga saat ayah meceritakan kalau ibu tidak pandai berenang menjadi semangat motivasiku untuk segera dapat belajar berenang, tidak tanggung-tanggung aku mengajak seluruh teman-teman untuk belajar berenang disungai yang padahal belum pernah aku mencobanya.

Karena pertama kalinya berenang disungai, maka kami berinisiatif untuk memanfaatkan batang pisang untuk bisa dibuat sebagai sampan, untuk jaga-jaga saat kami tenggelang maka ada tempat untuk berpegangan, tiga batang pisangpun ditumbangkan dan kayu runcingpun mulai menyatukan ketiga batang pisang dan seketika telah berubah menjadi sampan alami, aku yang mencoba berenang untuk pertama kali berusaha untuk berpegangan kepada sampan alami kami, aku berusaha untuk sesegera mungkin untuk tidak tenggelam.

 

        

     

        

                   

 

              

  • view 353