KAMU...

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Oktober 2016
KAMU...

Daun daun mengalir lembut... membelai angin berhawa senja, puncak nampak hijau dan kemerahan, berhias lampu pemukiman dan jejeran sang mega. Asap menusuk hidung... berbau khas yang membekas dalam ingatan, sunyi... senyap dalam lamunan dan pandangan, tak terhenti yang luas seluas bumi.

            Malam gelap... tapak langkah demi langkah, bersimbah peluh dan basah.  Berpacu dengan erangan nafas menggebu, niat membara... tekad sejuta asa sampai kepada tanah basah dan rinai hujan. Mengalir dipelipis mata, bening... sebening kilau cahaya titik titik harapan. Dingin menghempaskan tubuh lemah, lunglai dan membeku, retak tulang sekeras lolongan malam sendu.

            Minuman panas, harapan jiwa yang kosong... satu demi satu sosok dikhayalkan, mulai menelusuri berkas berkas cahaya. Sisa sisa peradaban zaman pertengahan, warna putih abu-abu dan melayang layang menghampiri pendengaran, dingin kembali menggebu.... menusuk tulang belakang dan langkah mulai terhenti. Tetes demi tetes peluh kembali menghalau dingin dan menyiram tanah gelap bumi cahaya.

            Menjulang tinggi.... besar.... dan keras berwarna, hijau kering dan basah butiran salju yang telah berembun.  Suara alam mencoba menyapa. Awan tipis melayang menyusuri kaki sang kokoh menjulang, mencoba terbang sekuat hembusan menuju puncak tertinggi, melewati tubuh... terhenti beridiri bersimbah peluh, menyejukkan hati pandangan dan pengharapan.

            Rembulan bulat sempurna bak lampu taman kota, jauh terbang... sejauh mata bisa memandang. Cahayanya tenang... tidak menyilaukan, sejuk dan dingin tanah gersang berpasir. Batu batu kokoh berjejer perkasa, aliran air terhenti habis sehabisnya... mentari menyilau pucuk daun pohon cemara, menara kecil tersisih dan hilang di pelupuk sorot mata.

            Langkah kakimu mulai lemah, haus akan harapan... letih terlihat menggenggam tanah. Angin malam senyap tetap berbisik... berisik... berkicau merdu, menggoda menjatuhkan bara semangat satu persatu... asamu padam, warna hijau tetap kokoh menjulang tinggi... tinggi memijak awan putih, hitam legam dan bertanah gersang berbatu. Gores aliran air sejuk melihat malam.

Puncak puncak menghias awan.... kelam berlari, sembunyi dibalik cahaya pagi.  Bersimbah embun, peluh hilang... terbang mengangkasa, dingin memegang raga yg berdiam sunyi. Duduk hadap mentari,  halau angin berhawa sejuk...Ranting ranting tua berteman suara pagi, sendiri tapi hati bersama ILLAHI.   

 

  • view 227