MUHARRAM MARYAM

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 September 2016
MUHARRAM MARYAM

MUHARRAM MARYAM

Muharam awal tahun, Saat pagi mulai menjelang saat itu cuaca cukup cerah dengan hembusan angin yang tidak seberapa kencang, uwais masih termenung di kursi kerjanya yang berada di tengah kampus, dengan segenap tugas yang belum terselesaikan uwais sangat tertekan dengan jadwal perkuliahan yang sangat padat, matanya yang bengkak dengan garis hitam melingkar menandakan dia belum tidur sedikitpun semalaman, karena ada sampel yang harus diambil dan waktu untuk pengambilannya hanya ada dimalam hari, sehingga membuat uwais harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melakukannya, dengan segenap kejenuhan dan kebosanan uwais masih tak bergeming dari tempat duduknya.

Uwais berencana berontak dengan semua yang dihadapinya pada saat itu, dia tidak mau lagi berurusan dengan hal-hal yang membuatnya selalu tertekan, rasanya semua yang dilakukannya tidak akan membuat uwais bahagia, tapi waktu berkata lain uwais masih duduk dengan wajah tertunduk lesu dan kehampaan yang dirasakannya, dia merasa tidak ada gunanya lagi melanjutkan kuliah, uang habis, waktu dan kesehatan tersita dan tidak ada yang dia dapatkan selain kebosanan.

Jam dinding yang menemani uwais diruangannya terus berdetak kencang, semakin berpacu dengan lamunan uwais yang semakin menjadi-jadi, jam dinding menunjukan pukul 12.00 wib, uwais belum juga beranjak dari lamunannya, dan tanpa sadar uwais mendengar suara yang sangat lembut dan enak didengar oleh telinga, Uwais masih merasa berada didalam lamunan saat sebuah suaara lembut menyapanya “bang ma’af menganggu, kalau tidak salah nama abang uwais kan ?, boleh kami konsultasi bang, Profesor menyuruh kami konsultasi dengan abang menyangkut persiapan paper nasional besok bang ?” sapa seorang wanita kepada uwais. Uwais masih terpana dengan waktu, sambil merapikan rambutnya yang berantakan ia hanya bisa tersenyum sambil berkata “ohh Boleh, lagipula saya juga sedang tidak sibuk”.

            Peristiwa itu terjadi secara tidak sengaja, Uwais muda terdaftar sebagai salah seorang konsultan profesor untuk menyeleksi paper yang akan diterbitkan secara nasional, memang setiap tahunnya Universitas yang ditempati uwais selalu mengirimkan paper terbaik untuk diterbitkan secara nasional bersaing dengan Universitas lainnya.

            Pagi menjelang dan mentari mulai menyinari kampus yang selangkah demi selangkah mulai ditelusuri uwais, ada satu hal yang membuat pandangan mata uwais mulai tidak berkedip dan susah untuk dialihkan, uwais melihat pemberitahuan yang keluar dari mading elektronik kampus ada serentetan tulisan yang tidak familiar yang dilihat uwais.

Informasi ini penting bagi uwais karena informasi ini berhubungan dengan anak bimbingan yang menjadi tanggung jawab uwais dalam mempersiapkan paper nasional, setelah memeperhatikan dengan seksama dan berulang-ulang hati Uwais merasa tak percaya bahwa nama itu yang tertulis disana, Maryam Azzahra nama itu serasa membuat jantung uwais berhenti berdetak sembari melihat kesekitar serasa masih tak percaya uwais pun melangkah menjauh dengan senyuman di hati, uwais tak sadar ada sesuatu yang mulai hangat dihatinya dia merasakan kembali satu hal yang selama ini tak pernah dirsakannya.

            Sore menjelang malam, lampu jalanan kota mulai berpijar dengan sedikit rintik hujan membasahi dedaunan pohon taman, uwais bergegas untuk pulang berjalan kaki dari kampus ke apartement terdekatnya, jalanan sedikit basah dengan sinar lampu jalanan yang memantul ke wajah uwais, Bunyi nada email dari smartphone uwais serasa membangunkan alam, senja itu Uwais membaca sebuah email yang belum pernah diterimanya sebelumnya, “Asslamualaikum bang uwais ini maryam, maryam mau konsultasi paper nasional bang, bang uwais ada waktu tidak untuk konsultasi, besok maryam mau bertemu profesor juga “? uwais lama terpana dengan email yang dibacanya, seiring memalingkan pandangannya ke langit senja itu, hanya bunyi gemericik sisa-sisa hujan yang tersisa, seakan tak percaya orang yang selama ini didambanya mengirimkan email kepadanya dan isinyapun untuk segera bertemu dengannya.

            Uwais tidak kuasa untuk membalasnya, hanya perasaan campur aduk dikepalanya, bertemu dengannya ? bahkan untuk menatapnya dari jauh saja uwais selama ini tidak sanggup, uwais berada pada dua sisi yang harus ditempuhnya, uwais memang harus bersikap profesional dengan karirnya sebagai konsultan profesor, tapi perasaan uwais yang terlanjur mekar membuatnya lupa akan hal yang sepatutnya tidak dilakukannya.  

Sedikit langkah demi langkah, uwais mulai mendekati apartementnya, bangunan kokoh delapan belas lantai ini menjadi saksi perjuangan uwais untuk melanjutkan kehidupan, banyak cerita yang telah uwais lalui bersama sibeton besar ini, memang walau dia hanya diam membisu tapi di hati uwais dia selalu berharga karena dengannya uwais selalu merasa selalu bahagia.

Uwais mulai menelusuri lorong pintu bangunan delapan belas lantai ini, ada dua tangga yang harus dilewati uwais, memang dipojok pintu ada sebuah lift tapi cepatnya waktu berlalu membuatnya tak kuasa untuk bekerja sepenjang waktu, mungkin hari ini sudah saatnya dia untuk menikmati masa tuanya dengan label pensiun.

Uwais masih memikirkan email yang diterimanya ditaman kota, belum ada niatan dari uwais untuk membalas email tersebut, entah apa yang menghalangi uwais untuk membalasnya tapi seketika saja tangan uwais menjadi kaku ketika harus memberikan jawaban dari pertanyaan yang sangat sederhana, permasalahannya bukan terletak pada pertanyaannya tapi pada seseorang dibalik itu, uwais hanya diam menatap jauh keluar jendela.

  “Kenapa harus dia, kenapa harus orang yang bahkan untuk melihatnya dari kejauhan saja aku tak sanggup”, hal ini selalu membayang difikiran uwais yang semakin hari semakin membuatnya bingung. Malam semakin larut uwais kembali kepada rutinitasnya menyelesaikan terbitan jurnal nasional yang akan di publish besok pagi, dengan lampu penerangan seadanya karena malam ini ada pemadaman listrik, membuat uwais harus bekerja dengan ekstra hati-hati, jangan sampai jurnal yang akan diterbitkan besok menjadi tidak maksimal.

Uwais melihat daya laptopnya masih empat puluh persen, ini rasanya cukup untuk terbitan satu jurnal untuk esok hari. Sesekali uwais memalingkan wajahnya keluar jendela meski gelap yang terlihat tapi, sepertinya gelapnya malam tak mengalahkan hati uwais yang semakin mekar sejak kejadian tadi senja, hati yang membuat uwais semakin bingung dan tak tau harus berbuat apa dan bagaimana.

Malam semakin larut, hanya suara angin yang masih terdengar oleh uwais sesekali masih melintas mobil van putih lengkap dengan sirine kemilaunya, uwais masih belum menyelesaikan jurnalnya, sepertinya kejadian tadi senja membuatnya hilang fokus dan efektifitasnya kerjanya seakan menurun.

Ketika hening mulai menyapa, dan uwais masih belum bisa menyelesaikan jurnalnya, dan ternyata memang tidak bisa diselesaikan akhirnya uwaispun menyerah ada apa ini..., kenapa dengan diri uwais, “aku sepertinya bukan seperti biasanya”. Uwais hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatinya.

Adzan shubuh membangunkan tidur uwais, dengan cahaya laptop yang masih berkedip-kedip dan charger otomatis yang di pasangkan uwais, membuat uwais tersadar ternyata dia ketiduran diatas meja kerjanya dengan lampu penerangan yang masih menyala, uwais melihat keluar jendela lampu jalanan masih seperti biasanya, terang menyilaukan dan membekas cahaya di pelupuk mata uwais.

Dengan langkah gontai uwais membuka pintu keluar apartement, angin shubuh membuat uwais mendekapkan tangannya, memang sekarang adalah musim gugur udara dingin seakan menembus tulang jemari uwais, tapi hal ini tak menyurutkan langkahnya untuk tatap melangkah ke halaman masjid kota.

“Bang uwais”, suara dari balik tembok masjid mengejutkan uwais ketika akan melangkahkan kaki pulang ke apartement setelah menunaikan sholat shubuh, “bang uwais tinggal didekat sini ?”. Uwais masih belum sepenuhnya sadar dengan suara yang didengarnya, “ma’af siapa ya “, tanya uwais seolah tak mengenali wanita itu. “Ini saya bang...”?, “abang ingat mukena ini, coba lihat baik-baik bang...”. Uwais seolah tersadar dari lamunannya, uwais ingat mukena yang dikenakan wanita itu, tapi tak ingat sedikitpun wanita yang sedang berbicara didepannya.

“Ma’af bang kalau bang uwais masih belum ingat, yang jelas saya sangat senang bisa bertemu abang disini, saya juga tinggal didekat sini bang, memang saya tau susah bagi abang untuk mengingat saya, setelah kejadian itu”. Wanita itupun berlalu dengan kepala tertunduk dan sedikit terisak, uwais masih berdiri terpaku melihat wanita yang mengenakan mukena yang sangat dikenalinya pergi.

Uwais ingat mukena itu adalah hadiah ulang tahun yang dibelikannya untuk adik perempuan satu-satunya, ketika malam pulang dari berbelanja uwais yang menyetir mobil sambil bercanda dengan adik semata wayangnya harus mengalami benturan keras dari sebuah truk pos, yang hilang kendali karena menghindari sebuah van putih bersirine. Uwais tidak bisa mengingat sepenuhnya akan kejadian itu, bahkan untuk mengingat wajah adik semata wayangnya uwais harus dibantu dengan foto yang selalu terpajang didompetnya, walau sudah berkali-kali untuk mengingat wajah yang ada didalam foto tersebut uwais masih merasa tidak pernah mengenal wajah yang ada di dalam foto tersebut.

Jalanan sudah semakin ramai, lalu lalang para penuntut ilmu seakan berlomba dengan waktu menyusuri jalan menuju Universitas yang terletak ditengah peradaban kota, uwais kali ini menaiki sepeda tuanya untuk kembali ke kampus, udara pagi masih dirasakan uwais seakan membuat uwais terbang melintasi pepohonan disekitaran taman kota.

“Halo pak”, uwais melemparkan senyuman kepada penjaga gerbang kampus, sudah lama sekali uwais mengenal bapak ini rasanya. Bapak yang selalu tersenyum baik kepada semua mahasiswa yang ada atau juga kepada jajaran para petinggi kampus, bapak itu bernama Fateh, Abdullah Fateh nama lengkapnya.

Uwais ingat ketika tengah malam sewaktu uwais terjebak dengan lebatnya hujan badai yang menerjang kampus, uwais yang kedinginan terpaksa memutuskan untuk menginap di ruangan kerjanya sendirian, karena untuk berjalan kaki di tengah malam dengan hujan badai dan udara enam belas derjat celcius, sangat  tidak memungkinkan, pak Fateh dengan sigapnya segera menghampiri uwais yang kedinginan, karena diruangan itu cuman ada meja dan perkakas lainnya.

Bahkan pak fateh harus meminjam mobil tetangganya yang bekerja di perusahan listrik untuk menjemput uwais, entah siapa yang memberitahukan kepada pak fateh tentang hal yang dialami uwais, uwais malam itu terselamatkan untuk sampai di apartementnya dengan selamat.

Rhamadan pertengahan tahun, Muhammad Uwais Al Fatih itulah namanya, pemuda inspirasiku yang menjadi teladanku selama hidupnya, beliau sekarang telah hilang aku tak tau lagi keberadaannya dimana, padahal tiada yang menyangka dan mengira beliau akan pergi secepat itu, tanpa ada pamit sedikitpun dan tanpa ada pertanda.

Hari ini aku kembali bercerita tentang dia kepada maryam, yang seolah tak kuasa menahan tangis karena mengingat sosok sang teladan uwais, aku tau maryam juga mempunyai rasa yang sama kepada uwais, aku tau semuanya setelah maryam mencurahkan semua perasaannya ketika uwais terbaring kaku dirumah sakit. Entah bagaimana yang dirasakan maryam, aku tak mengira sahabat sejatiku, tempat aku berkeluh kesah selama ini, dengan cepatnya hilang ditelan waktu.

Suatu sore ketika aku dan uwais akan memberikan suatu materi pelajaran kepada para mahasiswa, kami berdua berboncengan dengan satu sepeda motor, hembusan angin sore membuat uwais sepertinya ingin bercerita panjang lebar denganku, dia memulai pembicaraan dengan bertanya “kalau menurutmu, kalau kita menyukai seseorang boleh tidak” ?, pertanyaan ini membuatku sedikit tertegun, ini baru pertama kalinya beliau menanyakan hal seperti ini. “saya ga bisa jawab mas, kayaknya boleh-boleh aja... memangnya kenapa mas “? balasku kembali bertanya. Uwais hanya terdiam sebentar dan kembali bercerita, kali ini dia menceritakan perihal maryam, yang entah mengapa selalu muncul didalam fikirannya, entah karena maryam merupakan sosok wanita yang selama ini diidam-idamkannya aku juga tidak tahu yang jelas, aku baru mengetahui kalaulah ternyata beliau telah menaruh hati pada seseorang dan orang tersebut adalah maryam.

Memang maryam merupakan wanita idaman banyak pria, wanita sholeha, cantik, pintar, selalu terdepan dalam hal akademik dikelas, bahkan ketika mengikuti oliempiade biasanya aku sudah menyerah duluan karena sainganku untuk diutus keluar kampus adalah maryam. Maryam adalah teman satu angkatan denganku untuk studi magister, meski sholeha tapi dalam hal pergaulan maryam tidak kaku dan sedikit longgar, bahkan maryam tidak canggung untuk sekedar menyapa duluan ketika aku sedang bingung dikelas dengan tugas, paper dan hal lainnya. Aku selalu berprasangka baik, mungkin ini caranya agar bisa mengajak orang untuk bisa berada pada jalan kebaikan.

Rajab tahun lalu, Pada suatu masjid setelah melaksanakan sholat ashar, uwais kembali bercerita kepadaku bahwa adik perempuannya hari ini ulang tahun, dan hari ini juga dia ingin mengajak adiknya untuk berbelanja hadiah ualng tahun, dan hadiah utamanya adalah mukena, mesin mobil uwais mulai menyala dan sambil menunggu adik perempuannya keluar dari rumah, “udah siap dek “?, tanya uwais kepada adeknya yang sudah berada didalam mobil. “Insya Allah siap bang uwais, hati-hati ya bang nyetir mobilnya”. Uwaispun mengangguk sambil melaju dengan mobil mininya, uwais sangat bahagia hari ini karena ini kali pertamanya uwais bisa mengajak jalan-jalan adeknya dengan mobil, walaupun untuk kekampus uwais sering berjalan kaki dan bersepeda karena apartement tempat uwais tinggal lumayan dekat, dan mobil selalu dipinjamkan untuk sepupu uwais yang serumah dengan adik perempuannya.

Ketika berada di pusat perbelanjaan di jantung kota, uwais mulai membeli semua yang disukai adiknya termasuk mukena abu-abu yang menjadi kado utama pemberian uwais, uwais sangat berharap kalau adeknya selalu memakai mukena itu untuk setiap sholatnya.

Tapi takdir medahului harapan uwais, sebelum menemui sholat pertamanya setelah mendapat mukena baru, mobil uwais terlibat kecelakan dengan sebuah truk pos berwarna orange, mobil uwais terbalik dan tak sanggup menahan benturan yang sangat keras dari truk yang berlapiskan baja, mobil uwais remuk seremuk hatinya yang hancur berderai ketika menyaksikan adik semata wayangnya harus bersimbahkan darah mendekap kado pemberiannya, uwais tak mampu berkata-kata, pandangan uwais gelap segelap harapannya yang telah sirna.

Kemilau cahaya lampu langit-langit rumah sakit mulai menyinari mata uwais, uwais tersadar dari tidur panjangnya, samar-samar uwais mencoba melihat tapi hanya bayangan samar-samar yang dilihatnya, dalam hati uwais hanya ada bayangan adiknya, uwais kembali menggigau dan menyebut nyebut nama adiknya tersebut, “mas, jangan bicara dulu... mas harus istirahat”, sebuah suara terdengar ditelinga uwais dan uwaispun kembali koma.

Aku ingat ketika saat itu, ketika uwais terbaring koma cukup lama seakan akan uwais tidak akan pernah bangun untuk selamanya, tapi kehendak sang pencipta uwais akhirnya tersadar dari komanya, dan hal pertama yang disebutnya adalah kembali nama adiknya.

Uwais mulai membuka mata, seakan uwais tidak sadar apa yang sedang terjadi pada dirinya, uwais sekarang hanya diam seribu bahasa, tak ada lagi nama itu, tak ada lagi nama yang selalu disebut-sebutnya ketika sedang mengalami koma, uwais mencoba untuk bangun, tapi tidak bisa tubuhnya belum sanggup untuk menopang keinginannya, maryam yang ketika itu berada disamping uwais, maryamlah yang saat itu pertama kali dilihatnya, dengan sedikit tergesa-gesa maryam berlari mencari dokter untuk memberitahu kalu uwais telah sadarkan diri, dalam hati uwais timbul sejuta pertanyaan, apa yang terjadi pada dirinya dan siapa wanita yang berada disampingnya.

Maryam nampak cemas dan sedikit lega setelah dokter memberitahukan bahwa uwais kondisinya sudah mulai membaik, maryam tau kalaulah bukan dirinya yang berada pada saat uwais tersadar tentu lain halnya.

Maryam Azzahra itulah nama lengkapnya aku kenal beliau dari Syifa Al Fatih, Syifa merupakan teman sekelasku dulu sewaktu berjuang untuk meraih gelar sarjana, syifa dan keluarganya sudah kuanggap seperti keluarga sendiri termasuk abangnya uwais, hampir setiap waktu aku menghabiskan waktu dengan abangnya syifa setelah ternyata beliau menjadi seniorku sewaktu mengambil magister disalah satu Universitas terkemuka di negara ini.

Maryam ternyata teman syifa semasa kecil di pelataran kota, tapi maryam harus pindah ketempat lain untuk mengikuti orangtuanya yang pindah kerja, hal ini yang mungkin membuat uwais tidak pernah mengenal maryam, karena uwais dulu tidak tinggal dengan keluarga, uwais telah terbiasa untuk madiri sejak lama.

Perkenalkan namaku Haris, aku pecandu musik hip hop dan penyuka tren terkini, banyak waktu kuhabiskan untuk menghafalkan lirik-lirik lagu-lagu terkenal bermain gitar dengan fokus, serta menciptakan lagu kesukaan sesuka hati, aku punya kebiasaan setiap pagi untuk meyetel musik keras-keras sampai-sampai tetangga apartementku harus pindah hanya gara-gara tak sanggup untuk mendengarkan alunan musik yang sepertinya tidak disukainya.

Hari ini seperti biasanya dalam dua minggu terakhir ini adalah hari kampanye para calon pemimpin baru kota ini, banyak janji yang mereka lontarkan banyak omongan yang mereka jual, yang jelas setiap perkataan yang mereka lontarkan semakin membuatku bersemangat untuk lebih menambah volume musik yang ada di kamar apartementku, aku muak dengan mereka semua, terserah mereka mau bilang apa saja, rasanya tidak ada perubahan sedikitpun yang mereka lakukan untuk kota ini.

Pukul 09.00 pagi rasanya ini waktu yang tepat untuk memulai rutinitas untuk pergi ke universitas, apalagi sekarang waktunya untuk bertemu sarah, ya dia gadis yang sedang dekat denganku lebih tepatnya dia adalah gadis yang menyukaiku setidaknya aku mengetahuinya dari gerak geriknya yang selalu saja memperhatikan aktifitasku, juga dia yang selalu sering mnegirimkan email tidak jelas kepadaku, entah kenapa sepertinya setiap hari selalu saja ada email yang dikirimkan kepadaku mulai dari menanyakan hal-hal yang sepertinya tidak perlu sampai dengan mengeluarkan semua curahan hatinya tentang kehidupan kepadaku.

Awalnya biasa saja, aku tak terlalu terganggu dengan semua perhatiannya tapi lama kelamaan malah aku yang terbawa suasana, aku tau sarah merupakan anak orang kaya, orang-orang penting di kota ini bahkan salah satu kandidat pemimpin kota ini adalah ayahnya.

Perkenalanku dengan sarah belum cukup lama hanya berjalan beberapa bulan belakangan, saat sarah pindah dari kota yang terletak di sebelah timur kekota tempatku menuntut ilmu ini, sarah awalnya tak mengenaliku karena sarah merupakan gadis pendiam dan tak banyak bicara, wajar saja sebagai mahasiswa baru yang baru pindah dari tempat lain membuat sarah bersikap seolah-olah semuanya asing bagi dirinya, dan tanpa sengaja orang pertama yang peduli dengannya adalah aku.

Sebenarnya tidak ada maksud apa-apa bagiku saat pertama kalinya menyapa sarah, hanya saja pribadiku yang tidak tega melihat seseorang dalam kebingungan karena kesendirian, akupun memberanikan diri untuk menyapanya dan sekedar berbagi informasi bagaimana perkuliahan di Universitas ini, dan hal ini mungkin yang menjadikan diriku menjadi spesial dimatanya.

Aku mulai menelusuri jalanan ke Universitas, masih saja sepi sepertinya hanya aku seorang diri yang memulai untuk beraktifitas sepagi ini, pagi ini seperti biasanya email masuk dari sarah “ hai haris, kamu lagi jalan ke Universitas kampus kan ? aku tadi lihat kamu berjalan sendirian, hati hati dijalan ya”. Sedikit bergumam dalam hati aku selalu bertanya, kenapa dengan gadis ini, kenapa seolah-olah kemana saja aku pergi dia mengetahuinya, entah dia telah menghafalkan semua jadwal rutinitasku atau entahlah aku tidak tau, yang jelas yang kutahu pasti untuk pagi ini sepertinya dia melihatku berjalan dari gedung apartementnya, jelas saja dia tau karena apartementnya berada disamping jalan yang aku lalui.

Seperti biasa email yang dikirimkan sarah hanya sempat kubaca tak ada waktu bagiku untuk membalasnya, entah karena sudah terbiasa untuk mengabaikan semua email-email tidak jelas yang masuk di ponselku, atau karena kesibukan keseharianku dengan rutinitas kampus, tapi kali ini berbeda aku seperti ingin sekali bercerita panjang lebar dengan sarah tentang hidupku tentang dia dan keluarganya dan tentang segala hal yang bisa membuat kami bisa bertukar suasana.

Aku si pria tangguhpun semakin hari semakin goyah, semakin hari semakin menjadi-jadi aku lupa kenapa aku bisa seperti ini aku sekarang siapa dan kenapa ada apa dan bagaimana, awan mendung menghiasi langit kota malam itu, aku baru saja menyelesaikan rutinitas harianku di Universitas dan mulai berjalan melangkahkan kaki untuk pulang ke apartement, “nampaknya akan segera turun hujan”, gumamku didalam hati. Lampu jalan menjadi salah satu temanku untuk berjalan pulang malam ini, fikiranku masih melayang kearah yang sama kearah sebuah bangunan tua bewarna putih dengan tingkatan paling atas menjadi penyangganya, bangunan itu masih saja kuperhatikan dari jauh dan seolah semakin aku mendekatinya detak jantungku semakin cepat dan semakin mendesak didada.

Aku memberanikan diri untuk berdiri dihadapan bangunan putih itu, tidak terlalu lama seorang bapak tuapun muncul dari ruangan paling bawah,”kamu...tidak datang seperti biasanya, kenapa seorang diri ?”, pertanyaannya seolah menghempaskan semua kegalauanku, apa yang aku takutkan akhirnya terjadi pertanyaan itu muncul dengan derasnya, aku hanya diam dengan kepala tertunduk tak bisa berkata apa-apa, aku tak tau harus menjawabnya bahkan untuk berfikir sejenakpun aku tak mampu, aku terlalu kaku untuk bisa mengedipkan mata dan melihat paras bapak tua.

Bapak tua mempersilahkan aku masuk, sambil menyuruh aku duduk di kursi dekat dengan sebuah pajangan foto sepertinya foto ini adalah foto semasa bapak tua masih segar dan muda, nampak senyum manisnya masih sama seperti sekarang, hanya saja sekarang dia hanya tinggal sendirian tidak seperti saat berada didalam foto, sekarang beliau sepi, tak ada canda bahagia beliau sekarang lebih sibuk untuk berdiam diri daripada hanya sekedar bertanya ini dan itu.

“Bagimana kabar kuliahmu nak”, bapak tua memulai pembicaraan dan sambil menuangkan air panas kedalam gelas yang telah diisi dengan sedikit bubuk kopi dan jahe, wajar saja malam ini rintik hujan mulai turun membuat hembusan angin malam semakin terasa, dan aku hanya bisa semakin merapatkan kaki ke senderan kursi berharap hawa dingin malam ini tidak membuat tubuhku kembali kambuh, bapak tua sudah tau aku penderita penyakit langka penyakit yang hanya bisa disembuhkan dengan jahe panas, hanya saja efek dari jahe hanya sebentar dan aku hanya berharap agar hawa dingin malam ini mau bersahabat denganku.       

 “Bapak masih ingat foto ini, ketika itu bapak sedang mengendarai sepeda dengan baju mantel biru. Rasanya baru kemarin ini foto ini diambil, ternyata sekarng sudah hampir tiga puluh tahun lamanya dan sampai sekarang bapak masih juga belum bertemu dengan dia”. Aku semakin tercekat, hawa dingin malam ini terasa semakin menjadi-jadi, aku hampir kehilangan kendali atas diriku, hatiku perih mendengarnya aku mulai menangis, menangis didalam hati dan berlinang air mata, aku tak sanggup kalau harus membayangkan ini semua harus terjadi, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa semuanya adalah kehendak yang kuasa, sedikit menyembunyikan bebanku yang semakin berat aku segera mendekatkan diri ke tungku perapian, hangatnya api kayu bakar tak bisa mengalahkan hatiku yang semakin membeku, dingin...dingin sekali rasanya malam ini.

 Aku membayangkan harus memulainya dari mana yang kutau aku tak sanggup untuk berkata-kata, aku tau jika saja aku pria yang keras hati pasti telah ku ungkapkan semua tanpa harus memikirkan ini dan itu, tapi aku berbeda sejak bertemu denga bapak tua sepertinya aku penuh dengan perasaan, diriku semakin melunak aku tak sanggup bahkan untuk sedikit mengeraskan suara didepannya aku malu, bapak tua telah mengubah hidupku, aku tak tau seandainya waktu itu, apabila aku tidak dipertemukan dengannya entah seperti apa rupaku yang jadi penghuni jalanan.

  Bapak tua mulai mengembangkan sejadahnya seperti biasanya bapak selalu sholat sunah sebelum beliau tidur, aku hanya bisa termenung dan memperhatikan bapak tua menyelesaikan sholatnya, khusyuk sekali rasanya melihat beliau yang wajahnya berseri, aku tau beliau sangat baik kepada semua orang apalagi kepada sarah. Biasanya aku mengunjungi beliau dengan sarah, beliau sepertinya akrab sekali dengan sarah entah karena beliau memiliki seorang putri yang seumuran dengan sarah, yang jelas aku tau pasti hal itu dari pembicaraan sarah dengan bapak tua, aku seolah melihat sebuah keluarga yang bahagia.

Sarah malam ini memang tak bisa ikut denganku, ayahnya yang memiliki banyak acara harus mengajaknya untuk perkenalan dengan tamu-tamu istimewanya dalam sebuah acara di tengah kota, sarah adalah gadis pintar dengan perawakan tenang, pantas saja dia selalu menjadi andalan bagi ayahnya untuk menyelesaikan beberapa tugas tugas harian kerja. 

Pagipun menjelang....suara nada dering handphone membangunkanku dari tidur sebentar setelah sholat shubuh, “selamat pagi, ma’af mengganggu saya dari HRD perusahaan yang anda apply kemarin sore, boleh saya bicara sebentar dengan anda ?”.

Suara wanita yang begitu tegas dan dalam ini membuyarkan lamunanku yang masih belum tersadar dari tidur panjangnya, “boleh mba silahkan, jawabku membolehkannya”. Setelah bicara panjang lebar dan sekian lama bertanya ini dan itu akhirnya dia memberitahukan akan segera mengakhiri pembicaraan ini dengan mengucapakan, “oke kami akan segera meneruskan lamaran anda ke kepala perusahaan kami dan jika perusahaan kami cocok dengan anda maka kami akan menghubungi anda kembali terimakasih”.

Aku yang belum pernah sebelumnya menerima panggilan dari perusahaan manapun agak sedikit kaget dengan pemberitahuan ini, agaknya perusahaan sudah membaca semua aplikasi lamaran yang sudah aku kirimkan, memang aku sedikit ingin banting stir dari studi magister yang terlihat sedikit melelahkan, aku rasanya ingin bekerja saja dulu daripada harus berkutat lagi dengan kehidupan kampus yang rasanya agak sedikit membosankan karena harus bergaul dengan orang yang memiliki latar belakang sama denganku.

Hujan dipagi ini sedikit membuatku kembali mengantuk, tapi kantuk yang tak kunjung pergi membuatku kembali mencoba untuk tidak memejamkan mata, ini tentang mas depanmu, ini tentang jalanku hidupku kedepannya, baik tentang pekerjaan yang akan kucari atau jalan hidup yang akan aku pilih untuk ditempuh.

Kalaulah hari ini memang hari yang baik buatku, mungkin perusahaan yang tadi menelpon akan segera menerimaku untuk sekedar menjadi pegawai atau admin dari dari perusahaan, sekedar untuk mencari pengalaman kerja atau untuk sekedar berbagi cerita dengan para sahabat tercinta yang sering bertanaya ini dan itu dan tak pernah puas dengan jawaban yang aku berikan, selalu saja mereka agak kurang puas dengan semua jawaban yang aku berikan, mungkin mereka berharap agar aku segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai denganku dan segera sukses dan berhasil dan berbagi cerita dengan mereka para pendengar yang hebat.

Matahari mulai mengalami teriknya, bunyi gedor pintu mulai sedikit mengganggu tidur panjangku dipagi yang dingin ini, terdengar suara dari luar  “haris kamu didalam, kami datang nih berdua mau memberikan informasi sesuatu”. Dua orang temanku datang mereka membawa banyak cerita untuk diceritakan, banyak informasi yang dibawanya, maklum mereka baru balik dari perantauan, dan sepertinya mereka telah menemukan sesuatu yang pas dan cocok untuk diceritakan sekarang.

Waktu berjalan... mereka memaksa walau aku agak sedikit sungkan untuk ikut dengannya, mereka kali ini menyeretku ke depan sebuah jalanan ramai, maklum disana biasanya para anak muda berkumpul dan menghabiskan waktu sore sampai magrib menjelang, mereka kali ini punya alasan jelas untuk mengundangku ya... mereka mau carita banyak sekali katanya menggebu-gebu kepadaku, walau sepertinya aku tau kalau cerita yang akan mereka ceritakan tak akan jauh berbeda dari cerita yang biasanya.

 Kali ini yang menjadi menu andalan dari cafe ini adalah makanan terfavorite disini, sate ayam kecap . Mereka mulai bercerita mulai dari saat pertama mereka keluar dari bandara negara tetangga sampai mereka harus kebingungan saat pulang kemalaman karena saat itu transportasi sudah tidak ada karena bukan lagi pada jam operasionalnya, aku hanya diam menikmati alunan melodi dari cerita mereka sambil menyuap satu demi satu dengan sendok tangan kuah sate, yang lumayan panas dan enak dimulut, satu demi satu rintik hujan mulai turun hawa dingin kembali menusuk ke bagian jiwaku, ingatanku kembali kepada bapak tua pada saat malam itu, masih terlihat jelas di pandangan mataku bagaimana beliau terlihat bahagianya menceritakan nostalgia didalam foto itu, sepertinya aku kembali bingung harus malakukan apa.

Sate panas yang aku makan perlahan kembali dingin, dingin sedingin hatiku saat harus menceritakan kepada sibapak apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang harus aku ungkapkan tanpa harus memikirkan ini dan itu, tapi sepertinya aku tak akan sanggup, perlahan tapi pasti aku habiskan juga makanan yang ada didepanku.

Aku berjalan sejenak keluar cafe kali ini aku ingin sedikit kembali menyegarkan ingatan tentang jalanan ini, ini pertama kalinya aku kesini setelah sekian lama dan sore ini lansung bersama dengan sahabat-sahabatku yang juga untuk pertama kalinya bertemu setelah sekian lama mereka pergi untuk merantau ke negara tetangga.

Meski disini hiruk pikuk kendaraan masih sama seperti dulu dengan tongkrongan anak-anak muda yang juga bermain game online disamping cafe, tapi tempat ini tetap saja menjadi kenangan bagiku, disini juga aku bertemu dengan wanita yang tak kukenal tapi seperti telah lama menjadi bagian dari hidupku, saat itu saat aku hendak menelphone sahabat untuk sekedar ngopi sore disekitaran kafe, aku melihat seseorang yang sepertinya telah lama aku melupakannya, seseorang tak lagi aku ingat wajahnya hanya saja semua kenangan yang pernah aku punya dengannya tak bisa memudar, seseorang yang ketika aku melintas hanya tertunduk, entah karena dia telah tau aku lewat atau memang dia sengaja untuk tidak melihatku.

Awalnya aku tidak sadar ada orang disampingku yang sedang dengan seksamanya memperhatikan aku, karena sibuk dengan handphone aku tak terlalu menghiraukannya, dia terlihat berbeda dari kebanyakan orang yang ada disini, jilbab lebar mulai menghiasi tubuhnya dengan baju kurung hitam yang terlihat sangat anggun, dulu rasanya aku tak mengenal adanya wanita seperti ini dulu rasanya semuanya banyak yang menipu dengan berjuta tampilan sehingga kita hanya bisa melihat tanpa tau arti yang sebenarnya.

Siang menjelang ada hal yang harus aku kerjakan yaitu menulis, “ bukan hanya ini tentang masa depan yang akan aku capai, tapi ini tentang semua orang yang mengharapkan dan menggantungkan pengharapannya kepadaku, dimanapun aku sekarang aku akan selalu mengingat mereka yang senantiasa membuat aku bisa berada pada kondisi dan saat seperti ini, bukan aku tak mau untuk meninggalkan mereka tapi semua ini berbeda dari yang aku fikirkan sebelumnya, sekarang lingkunganku berbeda tidak seperti biasanya yang hanya berkutat dengan perkuliahan dan semua hal yang membuang waktu sia-sia dan tanpa ada gunanya.

Sudah berbagai macam lamaran pekerjaan yang aku kirimkan baik kepada perusahan yang ada didalam negri maupun perusahaan yang ada diluar negri. Sepertinya ini sudah saatnya bagiku untuk segera meningalkan Universitas tercinta ini dengan segala kenangan yang dimilikinya maupun dengan semua kawan-kawanku yang telah terlebih dahulu pergi merantau.

Setelah pertemuan sebentar yang aku lakukan tadi pagi sepertinya aku agak sedikit lega karena bisa bertemu dengan teman-teman baru, walaupun itupun tidak cukup untuk mengobati rasa kegalauanku sekarang, sekarang sudah saatnya aku untuk bekerja dan mencari penghidupan yang cerah kedepannya, bukan saatnya lagi aku berada dikampus dan pura-pura kembali menjadi mahasiswa.

Aku ingat ketika perjalanan malam keluar kota dengan sahabat sahabat tercinta entah itu perjalanan terakhir bersama-sama yang aku lakukan atau itu hanya sekedar pelepas lara yang aku lakukan “. Akupun segera menutup buku dan mulai menyimpannya didalam tas, apa yang tadi aku tuliskan sedikit banyaknya adalah kagalauan ku tentang pekerjaan dan perkuliahan magister yang sedang aku jalani.

Awan putih bersih mulai perlahan berjalan dilangit kelam shubuh ini, ada cahaya samar dibalik putihnya yang menawan, sang rembulan dengan cahaya redup dan terang masih setia menemani dinginnya angin shubuh, meski sang fajar belum juga menyinsing dengan wangi cahaya orangenya, cahaya orange yang tidak disukai uwais karena harus kehilangan adik semata wayangnya.

Wanita yang menyapa uwais di masjid waktu itu masih saja terfikirkan olehnya, ia heran kenapa dia tidak bisa mengingat sedikitpun tentang wanita itu, yang terbayang diwajahnya hanyalah raut sedih, pandangan mata yang berkaca-kaca dan nafas yang terisak sedih melihat uwais tak mengenalinya sedikitpun, uwais waktu itu hanya bisa termenung dan terdiam disamping tiang masjid yang membisu, uwais memperhatikan bagaimana sosok wanita lembut itu hilang dibalik jalanan kota, dengan hawa sejuk yang berhembus menghembuskan kesedihan hati yang mendalam dari hati wanita tersebut ke perasaan uwais.

Siang ini aku kembali teringat dengan uwais, sosok yang menjadi panutan bagiku... perlahan kembali aku membuka buku tulisan yang biasa aku bawa sekedar untuk coretan-coretan...” dikampus ini... aku tak bisa mengatakan apa yang ingin aku lakukan kedepan, kampus ku yang sangat aku cintai, berjuta rasa telah aku lalui bersamamu aku ingat saat saat terkelam dalam hidupku, saat aku hendak terjun dari lantai 18 kampus ke aspal beton lantai dasar, hampir saja hidupku berakhir sia-sia kalaulah bukan karena beliau, mungkin saja aku tidak akan sampai seperti ini”.

Aku masih berfikir kenapa dia bisa menghilang begitu saja tanpa ada kabar sedikitpun, bahkan aku tak pernah tau kapan waktu terakhir aku bertemu dengannya, yang aku ingat adalah saat maryam dengan wajah sedihnya mulai bertanya-tanya kepadaku tentang hal yang aku saja tidak mengerti dengan keadaan ini, aku yang disalahkan karena hanya aku satu-satunya sahabat uwais yang mengetahui kesehariannya. Hari itu juga merupakan hari yang sangat tidak ingin aku ingat, saat malam mulai menyelimuti pelataran kota dalam lamunan tidurku yang panjang aku mendengar suara seorang wanita memanggil “Harisss...!..”... teriakan panjang yang seakan membangunkan semua penghuni apartement, aku yang terkejut dengan teriakan suara yang sudah sangat hafal ditelinga segera bangkit dari tidur dan mulai membuka jendela.

Maryam dengan payung hitam dan rok yang mulai basah terkena rintikan hujan terlihat kebingungan dan mata berkaca-kaca, “Hariss... tolong, hariss...”, aku yang baru terbangun dari tidur tengah malam, hanya bisa melihat dari lantai 13 apartement kejalanan tempat maryam berteduh dengan payungnya,  aku tak tahu apa-apa hanya bisa terpana dan bertanya-tanya ada apa dengannya..?, tanpa pikir panjang aku segera menyahut “Tunggu maryam”, tanpa menutup jendela aku mulai berlari dari kamar apartement ke lantai dasar, sepertinya suara langkah kakiku yang berserakan mulai membangunkan beberapa penghuni apartement. Aku segera menuju lantai dasar apartement, dan naasnya pintu utama apartement sudah terkunci dan petugas keamanannyapun tidak ada.

Aku sempat bingung harus bagaimana, terlihat maryam semakin kuyub dengan payung hitam yang dipegangnya, pintu utama apartement yang terbuat dari kaca agak sedikit buram karena rintikan hujan, tapi aku melihat jelas dimata maryam, mata yang mengatakan seolah dia telah kehilangan hal paling berharga didalam hidupnya, kehilangan permata hatinya yang sebelumnya tidak pernah dia miliki.

  Detik detik waktu terus berjalan, aku bingung harus bagaimana, mulai kutelusuri ruangan petugas keamanan, tidak terlihat siapa-siapa hanya ruangan kosong dengan pendingin ruangan yang masih hidup, dimana para petugasnya apa yang sedang mereka lakukan, untungnya remote pasword pintu gerbang berada disamping pintu dan tanpa pikir panjang aku mulai membuka pintu utama apartement, maryam yang menunggu diluar tanpa melihat kearahku dengan tatapan kosong seakan tidak bisa untuk diajak bicara.

Aku belum berani untuk mengajak maryam bicara, hanya saja kedatangannya seorang diri malam ini membuatku takut, hal apa yang sedang terjadi padanya.

Dengan suasana hujan gerimis yang sangat menusuk tulang, dia berani untuk datang berjalan kaki, dari penginapannya dan hanya menggenggam sebuah payung hitam ke apartementku.

Aku hanya diam berada disampingnya, aku sesegera mungkin ingin mengatakan, tidak baik datang seorang diri kesini dan kita juga tidak ada ikatan apa-apa, tapi aku takut untuk bicara kepadanya dan hanya bisa diam tak bergerak.

 

Maryam berdiri dibawah sebuah pohon teduh dengan jilbab hitam lebar, semua pakaiannya tampak hitam dan pandangan matanya pun seakan menggambarkan kekelaman malam, aku hanya bisa tertunduk melihatnya seperti ini, untunglah lamunannya segera usai dengan hembusan nafas panjang dia mulai menoleh kearahku, aku hanya bisa melemparkan sedikit senyuman terpaksa, menandakan aku punya sejuta pertanyaan yang harus aku tanyakan kepadanya.

Maryam mulai melangkahkan kakinya kearahku, hal yang membuatku gugup dan terkejut, kali ini aku benar-benar takut kepadanya, ada apa dengannya ada dengan dia yang sekarang. Maryam mulai melangkah kehadapanku dengan tatapan kosong dan tak tersenyum sedikitpun, wajahnya terlihat pucat dan raut wajah sedih semakin memancar diwajahnya.

 

   

               

  • view 451