Menunggu Hujan

m. shobri hanif
Karya m. shobri hanif Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 September 2016
Menunggu Hujan

Gemerlap cahaya mulai kelihatan saat sayup-sayup adzan magrib dengan merdunya memanggil, masih pukul 17.46 tapi suasana menjelang malam mulai terasa, langkah kakiku perlahan terhenti saat tetes demi tetes air mulai berjatuhan dari gelapnya langit, sejenak kuarahkan pandangan keatas sambil bergumam “ternyata disini bisa turun hujan juga” seketika gelapnya langit berubah cerah, cerah dan perlahan kembali gelap kilatan demi kilatan mulai menyambar sembari menambah derasnya hujan yang turun, mulai kelihatan mobil dan motor berlalu lalang dengan semangatnya.

            Pelan- pelan dan perlahan tapi tetap dan pasti mulai mengalir air cucuran atap perumahan warga, tumpah ke halaman yang beralaskan beton dan baja, hilir mudik manusia mulai berlalu lalang dihadapanku seakan hanya satu dalam fikiran mereka bagaimana caranya agar secepat mungkin untuk berada dirumah, deretan mobil mewah mulai berjejeran dengan rapi, layaknya sebuah parkiran tanpa bergerak sedikitpun, dengan semangatnya klakson mobil ini silih berganti, seakan sedang meluapkan  kemarahan akan kelakuan para pengendara motor yang menyalip seenaknya.

            Hujan masih belum berakhir anginpun tak mau kalah membasahi wajahku, membuat langkahku tak bisa beranjak dari tempat pijakan semula, hanya pandangan yang bisa dialihkan sesuka hati, perlahan mulai kuperhatikan menara tinggi itu lengkap dengan tulisan megah bercahayanya, seakan bergembira karena malam telah tiba dan saatnya dengan penuh bangga dia mulai menyinari sudut kota.

Banyak pejalan kaki yang menjadi pemujanya, entahlah... ada yang sedang berteduh dengan jaket coklat tebal, gadis berpayung yang takut sepatunya basah, dan seorang bapak penjual makanan yang dengan lantang menembus pelataran menara walau diguyur hujan, beliau terlihat santai saja dan seolah wajahnya tersenyum, sepertinya dagangannya laris manis hari ini, semanis poster coklat besar yang terpajang tepat diatas kepalaku.

Masih menunggu hujan reda, perlahan tak ada lagi penghuni kota yang dihadapanku, semua mulai menepi dan berteduh, terlihat sekilas ada pengendara sepeda berjalan dengan cepat kearah tempat pijakanku tadi, sedikit terkejut ternyata seorang pemuda dengan basah kuyubnya mengambil tempat sedikit disebelahku “misi ya mas, numpang berteduh” sapa sang pemuda, “iya ga pa pa mas silahkan” jawabku. Sambil tersenyum dan menghela nafas panjang dia kembali bicara “Susah mas kalau udah ujan gini, udah jalanan macet, banjir, eh kitanya juga lupa bawa jas hujan” sambil merapatkan sepedanya kearah tembok masjid, sedikit tersenyum, sambil memasukan tanganku kedalam saku celana, menahan hawa dingin yang semakin menusuk aku membalasnya “ya ga pa pa lah mas, turun hujan sekali-sekali (dalam hati : ini aja udah berkali kali aku do’a minta hujan, panas yang tidak tertahankan disini).

Masih di gerbang masjid 18.32, hujan semakin lebatnya dan kilatan petir semakin menyambar-nyambar, sesekali terlihat para penyeberang jalan saling berebut kesempatan dengan para pengendara untuk bisa melewati jalanan yang nampaknya semakin sempit, ada seorang bapak tua dengan payung hijaunya terlihat kesusahan menyeberang, sepatunya yang hitam legam tak mampu lagi melindungi kakinya dari rembesan air hujan yang semakin menjadi-jadi, basah... beliau terlihat kesusahan  kerena tak satupun pengendara memperlambat laju kendaraannya, raut muka cemas terlihat jelas diwajahnya, detikpun berlalu, sesosok pemuda dengan jas hujan hijau bewarnanya segera sigap menghentikan laju kendaraan, tangan kanannya memegang pencahayaan (simbol kurangi laju kendaraan) logo Bhayangkara terlihat gagah didadanya, ya... polisi muda ini memang cekatan siap dengan berbagai macam rintangan, seketika kendaraanpun terhenti dan dengan sopannya sang polisi muda mempersilahkan si bapak untuk melintas, ada sedikit senyuman keluar dari bibir bapak tua ini, sepertinya dia mulai mengerti ternyata masih banyak orang-orang baik di kota sejuta penghuni ini.

Jalanan panjang lengkap dengan jembatan dan persimpangannya, cahaya demi cahaya susul menyusul muncul dari balik persimpangan melewati jembatan, dan sesekali terdengar suara kereta yang berlalu lalang dibawah jembatan, seakan tak kenal lelah mengantarkan para pendambanya kembali ke rumah yang dicintai masing-masing, terbayang sambutan hangat keluarga dengan teh panas dan senyum bahagia, gerbong demi gerbong kereta berlalu menembus derasnya hujan, sekilas terlihat sosok pemuda dengan headset ditelinga sambil berdiri dan membaca sebuah buku kecil berwarna kuning, sejenak pandangannya tertuju kepada kami dan hilang dibalik tembok jalanan yang kokoh.

Larut dalam perbincangan terlihat didepan kami ada beberapa anak paruh baya membawa beberapa buah payung, “ mas ada ojek payung tuh, mau ga “? pemuda bersepeda tadi mulai menawarkan.  Dan akupun menolaknya dengan tersenyum “Ga usah deh mas, mas aja... saya deket kok”. (padahal maunya emang berlama-lama disini liatin pemandangan sudut kota). “ya udah mas ane duluan ya” timpalnya lagi. “Oke mas hati hati” sahutku sedikit keras... dengan payung ditangan kiri pemuda tadi sigap mengayuh sepedanya sekencang mungkin, aku tidak tau bagaimana cara dia mengembalikan payung itu nantinya..

Hujan mulai berubah gerimis dengan angin kencang masih berhembus, aku masih belum beranjak dari gerbang masjid ini, sepertinya gemerlap kota membuat mata seakan-akan betah berlama-lama disini, 18.58 adzan isya pun mulai berkumandang,, sahut menyahut bergemuruh mengalahkan angkuhnya suara dari kendaraan-kendaraan yang melintas dan sepertinya ini akhir dari StreetWatching ku kali ini, beberapa saatpun berlalu...

Didepan masjid, terlihat ada gadis-gadis kecil sedang berbincang dan bercanda, dan ada suara tawaran dari salah satunya “eh kamu mau ga, kita larian aja kesono” terdengar sahutan ceria dari anak-anak perempuan dengan mukena warna-warninya, “ayuk, siapa takut” jawab beberapa temannya penuh semangat dan saling tatap dengan senyum lebar, satu...tiga... lansung mereka berhamburan dibawah siraman hujan yang kembali lebat, mereka menerobos jalanan tanpa beban tapi penuh dengan keceriaan, mukenanya sesekali diletakan dikepala, sambil tertawa merekapun berlalu.

Aku kembali mematung, kali ini dekat tiang menara masjid, tepat didepan mata ada sebuah bangunan yang sepertinya menjadi tumpuan hidup dari warga kota ini, penasaran dengan bangunan ini aku mulai menyelidiki, hanya dua tingkatan...tapi ada sesuatu hal yang membuat mataku tertarik untuk membacanya, meski tidak jelas karena jauh dan tulisannya hanya tulisan kecil.

Seperti kata iman pada bagian akhirnya, kembali aku bertanya-tanya dalam hati, kira-kira ini bangunan apa dan itu tulisannya bacaannya apa ?, pagar terali besi bewarna hitam, cat dinding berwarna hijau daun menghiasi temboknya, dan ada lambang yang tidak familiar yang lagi-lagi tidak jelas karena letaknya lumayan jauh dari pandangan mata, penasaran dengan bangunan sederhana ini aku berusaha menfokuskan penglihatan, tapi apalah daya, memang susah untuk diketahui karena tak terjangkau pandangan, andai saat ini ada teropong tentu lain cerita, ah sudahlah bukan saatnya sekarang aku berandai-andai...

BERSAMBUNG...      

  • view 219