MENGEMBALIKAN FUNGSI KHUTBAH

MENGEMBALIKAN FUNGSI KHUTBAH

Mr WillShake
Karya Mr WillShake Kategori Agama
dipublikasikan 25 April 2018
MENGEMBALIKAN FUNGSI KHUTBAH


Khutbah secara terminologi adalah penyampaian ceramah atau pidato menggunakan data-data yang bersumber pendapat-pendapat agama sebagai bahan materinya. Khutbah juga merupakan metode paling efektif yang bertujuan untuk mengajak orang lain atau sekelompok orang kepada sesuatu yang bersifat spiritual-reliji atau apapun yang memiliki dan dikaitan dengan fenomenologi agama.

Khutbah sejatinya memiliki peran yang lebih konkret dan efektif lagi dibanding dengan apa yang disebutkan dalam pengertian di atas.

Dewasa ini, seiring dengan perkembangan dan suasana politik maupun sosial kemasyarakatan, khutbah bisa menjadi metode referensif yang efisien sebagai penyampai aspirasi serta solusi bagi setiap persoalan.

Terlepas dari kontroversi madzhab yang dianutnya, Irang dengan revolusinya pada tahun 1978-1979 menjadi salahsatu contoh berhasilnya pengembalian fungsi khutbah. Sebelumnya sejak kurun waktu berdirinya pemerintahan sekte Syiah hingga berakhirnya kekuasaan Pahlevi sekitar hampir 500 tahun, lembaga keagamaan Iran (Marjaiyah) hanya menjadi tempat bersarangnya kejumudan. Retorika agamawan hanya terbatas atau dibatasi pada persoalan-persoalan ritual fiqhy, bahkan seringkali fatwanya malah menjadi pendukung kebijakan atau setidaknya tak bersifat oposan terhadap kesewenangan rezim yang berkuasa.

Pada konsesi tembakau Iran kepada Inggris tahun 1891 perasaan gerah sebagian ulama tak bisa ditahan lagi. Maka saat itu beberapa ulama menjadikan khutbah dan mimbar ceramah agama sebagai penggerak rakyat Iran untuk turun ke jalanan guna memprotes kebijakan Shah. Hasilnya seluruh penjual dan petani tembakau menghentikan transaksi dengan pihak perusahaan Inggris yang diberikan konsesi oleh pemerintah Iran dan Shah membatalkan hak monopoli Inggris.

Bahkan atas nama Marjaiyah beberapa ulama mengultimatum jika dalam 48 jam hak monopoli Inggris tidak juga dihapuskan maka pada waktu mendatang seluruh rakyat Iran akan menggelar jihad dipimpin oleh para ulama.

Awal Revolusi Iran telah memberikan contoh bahwa khutbah memiliki fungsi lebih dari sekadar penyampaian pesan keagamaan yang sebatas meng-cover ritual-spiritual masyarakat beragama. Tetapi juga sebagai penggerak aspirasi masyarakat suatu wilayah (civil-region) hingga dapat sampai pada pemerintah.

Sebab keterkaitan pemerintahan dan rakyat dalam sistem terbuka sebenarnya adalah mutualistik, maka seharusnya segala aspek yang mendukung keterkaitan itu agar tetap berlanjut harus juga memiliki fungsi yang multi. Pada konteks ke-Indonesiaan, masyarakat agama Indonesia sebenarnya memiliki sejarah panjang pemaksimalan fungsi anasir agama sebagai alat inti atau bantu bagi penyelesaian masalah atau pemberi solusi mumpuni pada setiap persoalan bangsa.

Dewasa ini Indonesia sedang mengalami krisis sikap politik yang menjangkit dari pemerintah bahkan hingga pada akar rumput masyarakat. Pemerintah dan masyarakat memiliki kecenderungan yang berlawanan hingga menjadi konflik serius di berbagai ruang. Ruang publik media diisi dengan kritik-kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menindas hak-hak rakyat. Namun disisi lain pemerintah juga menggunakan hingga akhirnya sedikit demi sedikit sikap otoritarian dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dinilai serampangan, merugikan dan menjadi tampak antipati terhadap kritik.

Kembali pada fungsi Khutbah, umat beragama di Indonesia seharusnya dapat menjadikan khutbah sebagai alat yang menjembatani sudut pandang penguasa dan sudut pandang rakyat. Tentu bukan jenis khutbah provokatif juga yang tidak kita harapkan akhirnya yang keluar dari lidah para pengkhutbah. Tetapi khutbah yang lebih memiliki suara moderasi; yakni memahamkan pada masyarakat dan pemerintah sekaligus untuk sama-sama bersinergi.

Khutbah haruslah multi-guna. Pada konteks tertentu sebenarnya bisa menjadi metode penyelesaian apa saja persoalan yang terjadi. Jika memang khutbah diperlukan sebagai oposisi (dalam ini rakyat yang tertindas) terhadap pemerintah, maka jadilah seperti itu khutbah membela kepentingan rakyat.

Sebaliknya pemerintah bisa juga memfungsikan khutbah sebagai media untuk memahamkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada nilai berbangsa dan bernegara agar terbangunnya tatanan masyarakat sipil yang sehat dan seimbang.

  • view 109