Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 47388
            [type_id] => 1
            [user_id] => 19673
            [status_id] => 1
            [category_id] => 76
            [project_id] => 0
            [title] => Melamarmu; Sebuah Catatan Pendek
            [content] => "Sebenarnya aku masih tak yakin dengan apa yang akan kuucapkan ini. Tapi begitulah Tuhan menggerak hati hamba-Nya, ditumbuhkan pada si hamba intuisi untuk berani"

..Adalah fase sebelum dirimu utuh bagiku,

Di sela bibir yang lamat-lamat menggumam doa 'kemudahan', mata pemuda itu basah. Di hatinya lirih berkata, "Tuhan, terima kasih atas rasa cinta.." pipinya sebam syahdu "..dan karena Engkau telah mudahkan juga bagiku untuk sampaikan cita suci ini".

Di hadapan si pemuda, lelaki yang terlihat lebih tua darinya membuka suasana. Menanya kesana-kemari mencairkan ruang yang sekian lama membeku, sebab si pemuda tak juga memulai bicara. Beberapa menit lelaki yang lebih tua itu berbicara basa-basi, hingga sampailah pada sebuah nama disebut.

Nama itu, membuat darah si pemuda seakan berhenti, mungkin hanya sepersekian detik saja, perutnya agak limbung. Ada rasa bahagia setiap kali mendengar nama itu, tapi sulit untuk digambarkan dengan kosa kata. Seperti semilir angin yang tetiba menyejukkan saat terik menyengat sekian lamanya.

"Yakin dengan pilihanmu pada putriku, anak muda?" Tanya lelaki tua tajam. Sorot matanya meminta konfirmasi lebih dari sekedar jawaban suara.

Sejenak, keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar halus, hampir saja jika anak muda itu tak menahannya; gigi-giginya mungkin bergemeretak. Si pemuda sebenarnya telah menyiapkan jawaban atas pertanyaan itu jauh hari. Tapi tetiba semua kata dan diksi yang telah dipilihnya hilang entah kemana. Seperti semuanya berubah menjadi sekedar huruf-huruf vokal, atau jika sumbang bisa jadi juga hanya sebagai konsonan. Buyar!

"Perlu saya ulang?" Tanya lelaki tua itu lagi.

Kali ini si pemuda seperti dijatuhi batu-batu besar dari atas bukit, ia harus segera menghindar.

"Tidak perlu, pak. Benar, saya yakin dengan pilihan saya" jawab anak muda itu tegas, matanya yakin menatap lelaki tua, meski masih tersirat gugup.

_______________________________________
Selamat mencoba nanti saat "Melamarmu"
[slug] => melamarmu-sebuah-catatan-pendek [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1524557473.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 73 [issued] => 0 [author] => Ahmad Bawazir [username] => AhmadBawazir118 [avatar] => avatar.png [status_name] => published [category_name] => Catatan Harian [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2018-04-24T15:11:13+07:00 [updated_at] => 2018-10-03T20:07:57+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.845514ms [status] => 200 )